Orangtua Membully –ku Di Rumah


Monday, 20 Aug 2018


Saya terlahir dari keluarga Chinese dan untuk anak perempuan keluarga Chinese saya itu dirasa agak janggal karena: semestinya kalem dan banyak dirumah saya itu malah energik banget dan temannya banyak. Semestinya memilih-milih teman yah yang samalah ya ras-nya tapi dari kecil teman saya itu dari berbagai macam ras. Dan saya itu suka dandan tapi lebih ke arah tomboy, bukan feminine.  Teman pria saya juga banyak bahkan waktu di universitas semua teman deket saya cowo!! (eh tapi seru loh…) dan ini teman baik beneran ya bukan teman tapi mesra (ttm) atau teman yang hubungannya tanpa status (hts).

Nah, karena saya dirasa beda sekali dengan tipe ideal anak perempuan chinese dari kecil saya sudah dianggap oleh keluarga “bibit yang kurang baik”, “bibit yang akan bisa hidup tapi tidak menjadi apa-apa” dan mungkin sebagian teman teman tahu ya banyak keluarga chinese itu maunya anaknya produktif, bisa menghasilkan ini itu, sehingga ya itu tadi dari kecil sudah dipilah pilah mana yang bisa’berhasil’ dan “tidak” atau “kurang”.

Akibatnya apa? Akibat penghakiman tersebut saya banyak mendapat perbedaan perlakuan dirumah, contoh kalau anggota keluarga kesal, boleh dilimpahkan ke saya dalam bentuk makian bahkan pukulan, karena kalau ke anak lain itu seperti “merusak bibit baik”, sayang….. Tapi kalau ke saya ngga apa apa karena memang “sudah tidak diandalkan”. Apa2 saya mengurus sendiri dari kecil sehingga saya cepat mandiri. Dan tiap kali saya selesai dandan atau mandi, ibuku sering bilang “Jangan terlalu berusaha, percuma saja, secantik-cantiknya kamu tidak akan bisa secantik adikmu” atau “ ya kamu sekolah tidak perlu terlalu berat karena memang kamu tidak sepintar yang lainnya” intinya saya itu percuma juga belajar karena tidak akan menjadi juara (untuk keluarga saya juara itu penting).

Mungkin karena saya sudah biasa diolok-olok dan dijadikan sasaran tinju keluarga maka pelarian saya itu saya menjadi seorang yang humoris, karena dengan humor hati saya yang sering sedih atau tawar itu bisa menjadi bahagia lagi, dan dengan humor saya bisa memilik banyak teman. Jadikan ngga lonely  dan punya moment bahagia.

Saya bahkan selalu sedih kalau waktu sekolah sudah selesai dan pulang ke rumah. Saya berusaha, kalau ada kesempatan, menginap dirumah teman, supaya saya bisa melanjutkan canda ria dengan teman saya, dan merasakan kehangatan rumah orang lain, walau hanya sebentar.

Dengan berjalannya waktu saya sadar, saya sering menghina diri saya sendiri karena saya percaya kata-kata orangtua saya sehingga saya sering tidak nyaman melihat kaca atau difoto. Saya itu minder sekali kalau  ketemu orang jadi walau saya senang ( saya extrovert) sering sekali tangan saya dingin bahkan agak gemetar. Dan hal yang paling saya kagetkan ternyata saya itu mengidap depresi yang berkepanjangan. Saya baru tahu setelah saya pergi konseling. Jadi proses konseling saya sampai saya pulih berjalan tahunan dan saya sempat pingsan mendadak dalam proses konseling tersebut.

Sampai saat ini ketika saya melihat kebelakang-an saya sudah sedih melihat diri kecil saya. Saya sampai kasihan sama diri saya sendiri. 

Namun memang ternyata Tuhan itu adil dan Tuhan itu memang orangtua kita yang terbaik. 

Selalu Ada Jalan Untuk Bangkit

Beranjak dewasa saya mulai satu per satu membuktikan diri bahwa saya pun bisa berprestasi dan ini membuat saya semakin percaya diri sehingga berani tampil “cantik”.  Saya nekat ke Eropa karena passion saya waktu itu adalah bidang kecantikan dan saya mengambil program dual master selama dua tahun dengan fokus bisnis dan ilmu kimia pembuatan make up. Puji Tuhan, dan saya sendiri tidak pernah menyangka bahwa saya ternyata juara 1 dari program internasional ini. Saya sampai nangis mengetahui hal ini, karena seumur hidup saya sudah biasa dihina, direndahkan, dan dianggap bukan apa apa.

Setelah saya lulus, saya jadi lebih pede, karena kan nggak mungkin ya bisa juara satu itu ketidaksengajaan. Saya mulai berpikir “tuh jangan-jangan saya memang sebenarnya pintar nggak seperti apa kata ibu saya, dan jangan-jangan saya bisa meraih apa yang saya mau. Lalu saya tes itu kata “jangan-jangan” saya.

Wih saya dapet loh pekerjaan yang saya ingin-inginkan. Saya dapat pekerjaan di Loreal. Nah mulai dari situ saya analisa lagi semua pendapat orangtua yang sudah masuk dalam otak saya dan saya tambahkan kata “jangan-jangan’ itu tadi.

Satu persatu saya tepis dan puji Tuhan apa yang saya perjuangkan biasanya saya dapatkan. Sehingga akhirnya saya sekarang bisa menjadi business woman yang cukup baik, juga mempunyai dan dapat membantu beberapa non profit, selain itu juga menurut saya penampilan saya menarik dan ngga kalah sama adik saya (bahkan ada yang bilang saya lebih cantik hihih, thank you).

Orang tua saya sampai pada saat ini masih menjatuhkan saya dan menghina-hina saya, serta tetap mencari kesempatan untuk mengabuse saya secara fisik kalau marah (mungkin sudah kebiasan kali ya). Tapi kali ini bisa saya diamkan saja (tidak masuk pikiran saya) dan pastinya saya bisa mengelak dari percobaan percobaan penganiayaan itu tadi.

Hidup saya menjadi tentram dan aman. Lalu untuk benar-benar membersihkan pola pikir saya, saya juga tidak lupa mengikuti test psikologis dan konseling sampai tuntas.

Sampai suatu saat orang tua saya minta maaf. Mereka kaget saya bisa menjadi saya yang sekarang ini, dan menurut mereka benar-benar keberhasilan saya tidak mereka prediksikan sama sekali. Mereka juga kaget saya anak yang paling mandiri, banyak teman, dan bisa menabung dengan baik.

“Nggak nyangka ya bisa jadi seperti ini” saya tersenyum tapi juga getir. Karena sedih yak menjadi anak kecil sudah diawali pikiran orang tuanya bahwa saya akan gagal. Tapi yah ngga apa apa saya maju terus.

Yang saya belajar dari sini adalah terkadang orang tua itu waktu menikahpun mungkin bisa jadi belum dewasa secara pribadi dan belum matang untuk menghadapi pernikahan sehinggga tindak tanduk dan kata-kata yang dipakai ke anaknya masih seperti orang lajang (bully, menjatuhkan, iri, dll). Pasti mereka ada perasaan sayang, namun karena belum matang bisa jadi mereka lebih fokus kepentingan dirinya dan masalah-masalah mereka sehingga dapat dengan mudah menghakimi anak-anaknya tidak menganalisa anak-anaknya dengan baik.

Jadi kalau orangtua bersalah kepada kita pastinya kita maafkan, tapi jangan pernah minder atau kecil hati karena perlakuan orang tua atau kata-kata mereka pada kita. Ingat kata-kata Tuhan buat kita. Bangun diri kita terus menurus dengan arah yang jelas dan prinsip yang baik. Dan…masukan orang tua boleh didengar tapi pada akhirnya semua orang harus memikirkan sendiri dan memilih apa yang terbaik untuk mereka sebagai anak.

Orang tua belum tentu selalu benar, sehingga mengikuti mereka tanpa berpikir juga tidak bijaksana. Tapi kalau mereka dengan segala kekurangannya beritikad baik itu saya setuju. (Tapi itikad belum tentu juga jadi aksi ya…).

Jadi kata penutup disini adalah Believe in yourself even if your family don’t. But if they do, it is a blessing. Do not let your life ruins by others opinion. Your life is yours.

 



Priscilla

No Comments Yet.