Ngga Kenal Maka Ngga Sayang


Thursday, 30 Mar 2017


Ngga kenal maka ngga sayang, pepatah lama yang sering Ibu saya katakan ketika anak perempuannya ini bercerita soal niat mengundurkan diri dari perusahaan yang sudah enam tahun terakhir menjadi tempatnya berkarya. Ibu saya yang pemikirannya sangat sederhana berulang kali mengatakan bahwa di pekerjaan manapun, pasti ada hambatan dan kesulitan yang ditemui, jadi jalanin aja dulu, jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk berhenti, terlebih ketika emosi yang menguasi pikiran, begitu katanya. Meski kadang sulit untuk menerima pendapatnya (karena sudah sangat ingin berhenti pada waktu itu), akhirnya saya mencoba untuk nurut  dan sampai hari ini nyatanya saya masih bertahan & berkarya di sini.

Pertengahan tahun 2015, ini terjadi perubahan cukup besar pada organisasi perusahaan dan saya masuk ke dalam bagian perubahan tersebut. Saya dipindah dari seorang Business Analyst menjadi seorang Product Manager  dengan supervisor & tim yang baru.  Perubahan ini membuat saya mengalami culture shock pada awalnya, selain karena tanggung jawab pekerjaan yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan tanggung jawab sebelumnya, saya memiliki atasan baru dengan karakter yang cukup unik. Kami juga memiliki cara pandang yang berbeda sehingga ada satu dua konflik yang muncul, yang akhirnya membuat saya merasa tidak nyaman bekerja bersamanya. Inilah awal drama kehidupan perkantoran yang membuat saya beberapa kali terpikirkan untuk mengundurkan diri pada waktu itu.

Saya pernah berada dalam kondisi serupa di awal tahun 2011, yaitu ketika pertama kali masuk ke perusahaan ini. Waktu itu usia saya baru menginjak 23 tahun, masih sangat muda dengan emosi yang meletup-letup. Saya masih belum bisa memisahkan antara perasaan pribadi dan bersikap profesional dalam bekerja. Akibatnya apa? Saya sering jutekin bos saya ini, bersikap kurang respect  terhadapnya dan selalu emosi jika berhadapan dengannya.

Pada waktu itu, saya sempat berpikir untuk mengundurkan diri namun keluarga dan sahabat saya selalu mengingatkan untuk tidak lari dari kondisi yang ada dan terus berjuang. Sahabat saya bilang, kalau saya mengundurkan diri karena alasan bos yang menyebalkan, maka saya 100% kalah. Ego anak muda yang meletup-letup mendorong saya untuk bertahan dan membuktikan diri pada atasan saya tersebut bahwa saya bisa lebih baik dari dirinya. Alhamdulilah, seiring berjalannya waktu saya bisa tetap bertahan bahkan mendapat kesempatan yang akhirnya membawa saya pada lingkungan kerja dengan atasan baru, yang keseluruhannya sangat menyenangkan.

Meskipun kejadian tidak menyenangkan dengan atasan lama sudah lewat, namun masih ada yang tertinggal, yaitu rasa menyesal. Setelah saya pikirkan kembali (beberapa tahun kemudian), ada kesadaran yang muncul bahwa mungkin atasan saya ini ngga ada maksud untuk bersikap tidak menyenangkan, namun kondisi yang ada mengharuskan dia bersikap seperti itu agar bisnis bisa berjalan dengan baik. Pada waktu itu saya cuma melihat dari satu sisi (yaitu dari sisi saya sendiri) tanpa mencoba melihat dari sisi yang lain. Saya keburu terbawa emosi sehingga sulit menerima. Saya menyesal karena pernah bersikap kurang profesional dan tidak respect  padanya padahal dirinyalah yang menumbuhkan motivasi saya untuk menjadi lebih baik dan akhirnya bisa berada di posisi saat ini. Pertengahan tahun 2014, saya memutuskan untuk menghubungi atasan saya tersebut dan memperbaiki hubungan dengannya kembali. Alhamdulilah, rasa marah yang dulu ada setiap bertemu dengannya, perlahan menghilang.

Belajar dari pengalaman di tahun 2011, saya ngga mau kejadian tersebut terulang kembali dengan atasan saya yang sekarang. Saya mengingatkan diri sendiri untuk tidak terbawa perasaan dan belajar untuk memisahkan antara urusan perasaan pribadi dengan urusan pekerjaan. Sebuah tahap awal untuk menerima atasan baru yang kalau boleh jujur bukanlah hal yang mudah. Setelah satu dua konflik muncul diantara kami, saya memutuskan untuk ngobrol dengannya dari hati ke hati, mencoba untuk menggali lebih dalam tentang visi & misinya dan juga sharing visi dan misi saya dalam organisasi ini, karena pada hakikatnya kami bekerja bersama untuk perusahaan bukan untuk memenangkan ego masing-masing.

Persis seperti apa yang disampaikan oleh Ibu saya, ngga kenal maka ngga sayang, proses pengenalan saya pada atasan saya ini perlahan membawa saya pada cara pandang yang berbeda terhadapnya. Lewat sharing dengannya, mencoba mendengarkannya tanpa pretensi dan emosi, perlahan saya bisa mengerti maksud dari sikap atasan saya tersebut. Hubungan kami menjadi lebih baik dan kami berdua menjadi lebih terbuka untuk menyampaikan pendapat demi kebaikan organisasi. Beruntungnya, atasan saya ini sangat open mind sehingga saya tidak perlu ragu untuk menyampaikan apa yang menurut saya perlu.

Dua tahun berlalu, dan Alhamdulilah kami bisa bersinergi bersama dalam sebuah tim, menjadi lebih solid dari waktu ke waktu, dan mendorong terciptanya produktivitas kerja yang lebih baik. Karier saya sebagai seorang Product Manager berkembang dengan baik berkat dukungan atasan saya tersebut.

Sampai hari ini, saya dan atasan tidak selalu memiliki cara pandang atau pendapat yang sama, namun kebebasan yang diberikannya untuk menyampaikan pendapat membuat saya dan tim lainnya menjadi lebih legowo dalam menerima segala keputusan yang diambil oleh beliau, paling tidak kami sudah menyampaikan pendapat yang semuanya bertujuan untuk kebaikan organisasi sehingga pilihan manapun yang diambil oleh atasan, akan kami dukung penuh.

Jum'at kemarin, sebelum pulang ke rumah, saya ngobrol banyak dengan atasan saya di kantor, mulai dari urusan kerjaan sampai urusan personal. Rasanya menyenangkan bisa bertukar pikiran dengannya. Saya jadi senyum sendiri mengingat awal pertemuan kami yang sepertinya ngga seiring berjalan. Kalau saja waktu itu saya tidak memutuskan untuk menemui beliau dan bicara dari hati ke hati, mungkin hari ini yang tersisa adalah perasaan kesal setiap bertemu dengannya atau saya yang sudah tidak lagi bekerja di perusahaan yang sama. :)

Saya jadi teringat dengan apa yang disampaikan oleh senior saya beberapa waktu lalu ketika dia menyadari saya kurang nyaman dengan atasan saya tersebut. Dia bilang begini, "Dalam 23 tahun kerja ini, gue banyak ketemu orang, Din! Orang dengan berbagai karakter, bos dengan berbagai karakter juga, dan sebagian dari mereka masih menjadi teman baik sampai dengan hari ini. Kita ga bisa memilih siapa yang akan jadi bos kita, anak buah kita, teman kerja kita, tapi kita bisa memilih bagaimana mengatasi beragam perubahan yang terjadi. Setiap orang baru akan memberi warna baru dalam lembar hidup kita, Din"

Ngga mudah memang untuk bisa menerima kehadiran atasan baru, terlebih jika atasan sebelumnya membawa kita pada zona nyaman. Tapi kalau saya tidak dipertemukan dengan atasan saya tersebut, mungkin saya hari ini masih sama dengan saya beberapa tahun yang lalu, dengan pola pikir yang jalan di tempat. Senior saya benar, bahwa setiap orang baru akan memberi warna baru dalam lembar hidup kita, tinggal bagaimana cara kita menyambut & menerima kehadiran mereka :).

 



Dini Anggiani

No Comments Yet.