Nge-Teh di Pantjoran Tea House


Wednesday, 14 Nov 2018


Urbanesse, kebiasaan minum teh orang Indonesia ternyata merupakan bawaan dari pemerintah Belanda. Abad 17, Andreas Cleyer, ahli botani dan Japanolog yang bekerja untuk VOC, mendatangkan teh dari Cina untuk ditanam di Indonesia. Pada 1629, dalam serangan kedua pasukan Mataram ke Batavia menyebabkan Sungai Ciliwung sebagai satu-satunya sumber air bersih tercemar. Banyak warga Batavia yang meninggal akibat wabah desentri dan kolera. Tetapi, jumlah korban dari warga Tionghoa justru sedikit. Usut punya usut, ternyata tradisi warga Tionghoa menyeduh teh dengan air panas telah menyelamatkan nyawa mereka (pantjoranteahouse.com).

Nah, buat kamu penggemar teh yang sedang di Jakarta, cobalah datang ke daerah Glodok, Jakarta Barat. Ada sebuah kedai teh unik yang berada di hook. Pantjoran Tea House, demikian namanya. Dulunya, kedai ini merupakan bekas Apotek Chung Hwa yang menjadi salah satu landmark di kawasan Glodok dan Kota Tua Jakarta. Pantjoran Tea House adalah sebuah kedai teh bernuansa Chinese Klasik. Terlihat dari desain interiornya, mulai dari pintu, kisi – kisi hingga lantai keramiknya. Bangunan yang awalnya memiliki luas 400m2 , saat ini hanya tersisa 218m2. Hal ini dikarenakan adanya pelebaran jalan.

Kedai teh ini terdiri dari 2 lantai. Lantai 2 lebih lapang dibandingkan lantai 1 dan dikhususkan untuk pengunjung saja. Lantai 1 terdapat gudang untuk merchandise, kasir dan gallery merchandise. Suasananya kedai ini tenang dan membawa kita ke jaman kuno. Dindingnya dihiasi potret – potret kuno dan sejarah Batavia tempo dulu.

Hari Minggu merupakan hari tersibuk di kedai ini, apalagi menjelang jam makan siang. Beberapa komunitas seperti komunitas motor maupun fotografi biasa menjadikan Pantjoran Tea House sebagai tempat pertemuan rutin mereka. Harga teh dan kudapan yang ditawarkan disini masih terjangkau range harga berkisar dari Rp 10.000 -100.000 sangat cocok untuk kantong kita yang menginginkankan suasana perpaduan Belanda, Oriental dan Vintage karena nge-teh disini kita seperti berada di suasana dalam rumah tempo dulu, cukup terbawa suasananya Urbanesse.

Uniknya, Pantjoran Tea House memiliki tradisi ‘patekoan’, artinya, pat adalah delapan, teko adalah tempat minum. Tradisi patekoan ini berasal dari seorang keturunan China bernama Gan Djie. Dia menyediakan delapan teko minuman gratis di depan kantornya untuk orang – orang yang lewat. Siapa pun bisa mengambilnya. Tradisi ini juga diadopsi oleh Pantjoran Tea House. Tepat di depan kedai (persimpangan jalan), ditempatkan delapan teko teh, mulai pukul 10.00 – 19.00 WIB. Teko – teko ini akan selalu dihiasi setiap kali habis.

Urbanesse, apa varian Teh favoritmu?

Jl. Pancoran Raya No.4-6, Glodok, Tamansari, RT.9/RW.5, Pinangsia, Tamansari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11120

Phone: (021) 6905904



Vincentia Archi Persita Wulan Ari

I am passionate traveler. Travel formed me as much as my formal education. (David Rockefeller)

No Comments Yet.