Negatif Thinking ? No Way!


Sunday, 10 Jun 2018


Train your mind to see the good in everything, adalah quotes yang sering muncul di aplikasi meditasi saya setiap hari. Dan ungkapan ini juga yang menjadi reminder bagi saya untuk selalu berprasangka baik. 

Saya ingin mengaitkan tema artikel bulan ini dengan spiritualitas, konsep kesadaran yang sesudah setahun belakangan ini saya pelajari. Tapi benar lho, Urbanesse. hidup saya jadi jauh lebih positif. Sebelum saya melakukan konsep mindfulness ini beberapa kali saya kerap mengalami yang namanya analisa sepihak terhadap orang lain kemudian langsung mebuat djudgement bahwa orang ini begini dan begitu. Beberapa kali analisa saya tepat namun jika di hitung lebih banyak yang meleset. Bahkan saya sebelum melakukan konsep mindfulness ini saya kerap underestimate terhadap segala hal yang hanya baru saya lihat. Misalnya tiba-tiba rekan kerja saya diam tanpa sebab, saya pun berasumsi negatif dan langsung menghakimi kalau dia marah pada saya, tapi apa penyebabnya, sayapun bingung. Asumsi berikutnya pun muncul,  lagi-lagi negatif “ya sudah kalau dia marah saya pun enggan untuk menegurnya juga tanpa sebab kenapa tiba-tiba jadi marah dan diam pada saya seharusnya itu tidak dilakukannya pada saya” gumam saya saat itu.  Alhasil saya pun tidak berbicara selama beberapa hari padanya. Padahal seharusnya asumsi negatif tidak saya lakukan terburu-buru hanya karena saya menganggap diamnya rekan saya itu karena dia marah tiba-tiba tanpa sebab.

Di hari berikutnya pikiran saya semakin penuh dengan pertanyaan masih seputar “kenapa rekan saya seperti itu, mengapa dia diam tanpa sebab, marah tanpa sebab. Hati saya pun dipenuhi dengan rasa tidak nyaman. Ada seorang rekan saya lainnya bertanya pada saya “si Anu kenapa kok beberapa hari ini dia diam aja, sama saya nggak negur ditegur diam saja seprti sedang malas bicara”. Well ternyata hal yang sama bukan hanya dialami saya sendiri tetapi juga rekan saya lainnya. Barulah disini saya sedikit lega, asumsi positif coba saya munculkan saat itu kalau terus seperti ini akan membuat pikiran dan perasaan saya kurang nyaman. Daripada hanya berasumsi sayapun coba menyapanya mengajaknya duduk sambil ngopi bareng siapa tahu sebenarnya memang dia tidak ada maslaah apapun dengan saya dan lainnya. Saya jadi berpikir lagi jangan-jangan dia sedang memiliki masalah entah apa yang mungkin sulit untuk dia bagi.

Barulah setelah dia saya ajak duduk bareng, dia cerita semua. Ya Tuhan, ternyata beberapa minggu ini saya sudah berasumsi negatif sama rekan saya. Dia sebenarnya sedang ada masalah keluarga tapi saya menyangka dia marah. Sayapun menyampaikan padanya jika memang dia memiliki masalahseharusnya ia tidak juga bereaksi demikian, karena rekan saya ini biasanya selalu paling seru dan rame di kantor, semua berubah ketika ia tiba-tiba jadi diam. Jika memang di rsa berat masalah yang dialaminya, mungkin seharusnya ia bisa ambil cuti 1-2 hari untuk menenangkan pikiran atau bercerita dengan orang yang ia percaya. Dari kejadian ini saya belajar bahwa asumsi negatif akan bisa muncul dalam diri namun semua itu dapat dikelola agar reaksi kita terhadap asumsi negatif tersebut tidak menjadi djudgement/penghakiman terhadap apa yang baru kita lihat dan rasakan di hati.

Setelah kejadian tersebut sayapun mulai mengapilikasi konsep mindfulness dalam keseharian saya. Melatih diri untuk selalu positif thinking dan melihat segala sesuatu dari beragam sisi. Jangan hanya melihat dari satu sisi panca indera kita. Semua harus kita pakai mata, hati dan pikiran dibuat seimbang. Kok bisa, bagaimana caranya ?

Perbedaan, dalam dunia ini adalah sebuah fakta yang saling berkelindan dengan fenomena keseharian. Selalu saja ada hal - hal di luar kuasa kita yang kemudian bertolak belakang dengan pendapat dan pikiran kita. Tapi apakah benar, perbedaan itu harus selalu dipermasalahkan, lalu berujung pada bentuk pikiran negatif yang menghakimi?

Menurut saya, kuncinya ada pada diri sendiri. On how you can train your mind. 

Tentu saja saya juga pernah kerap banyak mengalami pertentangan dengan orang lain. Saya di judge negatif atas hal - hal yang saya lakukan? Tentu pernah. Tapi somehow, saya lebih fokus pada bagaimana reaksi diri dalam menghadapinya: POSITIF ! 

Berikut adalah hal - hal yang saya pelajari dari konsep mindfulness untuk selalu melatih pikiran saya agar tidak gampang berasumsi negatif, serta untuk mencapai tujuan positif dalam berpikir & bertindak:

  1. Duniawi bukan segalanya. Jika saya menyadari hal ini sepenuhnya dengan kesadaran utuh, maka konsentrasi dan pikiran saya pun tidak hanya akan berfokus pada konsep duniawi. Dengan sendirinya, otak akan berpikir lebih selektif untuk bereaksi terhadap sesuatu yang tidak lebih penting dari hidup yang bermanfaat untuk orang lain. Jadi, dengan memilah lagi mana yang lebih penting memikirkan teman saya yang saya asumsikan marah lalu hanya menambah asumsi-asumsi negatif lainnya tanpa saya menemukan jawabannya ATAU saya memilih bertanya /mengkonfirmasi langsung kepada teman saya yang pada akhirnya membuat perasaan saya lebih lega dan pikiran kembali lebih positif melihat satu masalah.

 2. Tujuan utama manusia dilahirkan adalah untuk saling menolong. Saya selalu katakan hal ini setiap pagi atau setiap kali saya sedang merasa tidak bisa berpikir positif. Katakan “It resonates your mind to see the good. Right?” kemudian lihat reaksinya di dalam pikiran kita Ladies. Kata-kata ini cukup ampuh buat saya sampai sekarang.

3. Selaras dengan alam. Alam memberikan energi positif; Tuhan menciptakan dunia beserta isinya untuk kita dapat hidup berdampingan dan selaras; mempelajari makna hidup yang sesungguhnya dari alam: Melepaskan energi positif.  Biasanya saya lakukan dengan traveling bersama keluarga. Ini yang di sebut netizen “orang yang selalu berpikiran negatif dan kerap melihat celah negatif di diri orang lain. Selalu melihat sisi buruk (ada aja kurangnya di diri orang lain), biasanya kurang piknik” Naah..mungkin konsep kembali ke alam untuk bertukar energi. Energi positif yang ada di di alam terbuka kita terima di diri kita dan membuang energi negatif, melepaskannya hingga yang ada di pikiran kita hanya sisi positif. Konsep ini yang paling saya sukai, karena dampaknya bisa langsung di rasakan. Bayangkan tiap pulang piknik/traveling pikiran kita pun lebih segar, bersih dan hal positif yang kita rasakan. Hmm...moment libur panjang nanti mungkin Urbanesse bisa juga mencobanya mendetoxifikasi pikiran yang ruwet karena kenegatifan dan mengubahnya menjadi enegrhi positif.

 Kemudian, saya pun melakukan ini juga dirumah, coba deh praktikkan meditasi selama minimal 15 menit setiap pagi, sebelum Urbanesse siap-siap berangkat kerja. Latihan ini akan membantu kita untuk lebih fokus pada pernapasan, dan menjaga kesadaran diri seutuhnya. Lama kelamaan, dengan latihan ini, kita akan terbiasa untuk dapat melihat segala seuatu dari sisi yang positif.  Saya sudah merasakannya dan cukup memberi dampak sangat baik ke diri saya.

Yuuk...kelola reaksi kita terhadap asumsi negatif menjadi positif, karena hidup ini indah Urbanesse. Enjoy and always be positive.

 



Nathalie Indri

No Comments Yet.