Narsis Boleh Saja, Asal Tidak ‘NORAK’


Tuesday, 08 May 2018


Jujur saja, saya adalah orang yang sangat narsis.

Bahkan dulu saya pernah berpikir, saya adalah orang ternarsis. Tapi belakangan saya sadar ternyata masih banyak yang lebih narsis dari saya..haha...

 Sejak kecil dulu, saya sangat suka sekali foto-foto.

Sebelum era sosial media (sosmed) booming, saya punya album foto  yang berisi foto khusus diri saya sendiri, tanpa keluarga atau foto teman. Foto saya tersebut merupakan hasil jepretan foto studio (tentu saja sangat keren pada jaman itu karena hasilnya halus berkat filter dan editan staff studio). Foto saya juga banyak selfie-selfie diberbagai tempat seperti kebun, di depan pagar rumah atau tetangga, bahkan ada yang bergaya di depan becak (saking fakir tempat gaul). Tentu saja foto  diambil dengan menggunakan pocket camera. Maklum, saat itu masih tahun 1980-an dimana Camera SLR masih menjadi barang mewah dan  smartphone masih di awang-awang, entah dimana.

Selain narsis saya juga sangat cinta pada seni. Album foto tidak hanya berupa tempelan foto saja, tapi saya hias juga dengan berbagai potongan gambar seperti bunga, botol, Boneka juga berbagai frame yang saya dapat dari majalah. Dan seperti mimpi rasanya, puluhan tahun kemudian, semua itu dengan mudah didapat melalui aplikasi smartphone seperti  photo editor, pics art, dll.

Jadi, Itulah  sedikit sejarah kenarsisan saya yang merupakan cikal bakal activity saya “pamer di sosmed”. Lalu separah apakah rasa ingin pamer saya itu?

Jadi begini. Sebetulnya sosmed buat saya awalnya hanya menggantikan album photo dan menggantikan jurnal atau diary. Dengan kata lain,  Sosmed membantu saya “menyimpan” foto dan membuat catatan-catatan kecil di Blog dalam bentuk online.

 Sosmed saya pertama adalah Multiply (MP). Saat itu tahun 2006 dan belum ada Facebook tapi sudah ada Friendster. Multiply ini lengkap, bisa upload foto (itu yang penting), menulis unek-unek, puisi, sharing info perjalanan, bahkan resep masakan serta ada fasilitas reminder seperti membuat jadwal. Uniknya di situ juga dilengkapi semacam guest book. Jadi jika ada pemilik akun MP yang mampir untuk “ngintip” bisa menuliskan sesuatu disitu. Jadi, menurut saya MP adalah socmed yang cukup santun. Dan tentu saja setiap postingan apapun selalu ada kolom komentar. Dari kolom komentar dan saling balas itulah terjalin persahabatan yang dekat bahkan membawa kita dari hanya  berteman di dunia maya menjadi teman di dunia nyata.  Fasilitas tersebut tentunya juga ada di socmed yang masih exist saat ini, hanya beda design saja.

Dua tahun pertama join sosmed, saya merasakan banyak hal positive. Teman saya tambah banyak, wawasan dan ilmu juga bertambah.  Selain itu apresiasi saya terhadap seni dan fotografi juga  makin tinggi. Hal ini disebabkan para anggota MP tidak cuma upload foto narsis tapi juga karya, terutama hasil karya foto yang specta berupa Panorama, still live, nature, portrait dan juga fashion.

Setelah dua tahun menggunakan MP, ternyata banyak sekali yang berubah. Beberapa  pemilik akun tidak hanya upload foto diri tapi juga benda-benda yang mereka miliki lengkap dengan info merk, harga dan dimana mereka membeli benda tersebut.  Ada juga yang bercerita tentang pengalaman menginap di hotel mewah dan fasilitas apa yang mereka dapat dengan embel-embel info bahwa fasilitas itu didapat karena mereka memiliki kartu member dan sebagainya. Saya masih ingat ada yang memposting semua koleksi tas brandednya dan dengan agak sinis membuat notes, bahwa pantang buat dia beli tas KW. Yang mengerikan, ada juga yang dengan berani posting perhiasan miliknya dengan info bahwa itu warisan, beli ketika pergi ke Arab, dll. Waduh..!!  Saya bilang mengerikan karena itu berbahaya bukan?

Sejak MP di closed, saya berpindah menggunakan Facebook (tapi sudah 7 tahun lebih tidak login lagi), saya juga punya akun Instagram dan juga Path. Tapi saat ini saya hanya aktif di Instagram (IG) saja. Saya rasa semua socmed sama, yaitu sebagai ajang eksistensi dan yaa.. benar juga : Pamer!

Dalam tulisan ini saya ingin jujur. Di dalam perjalanan saya menggunakan sosial media, dimana sosmed yang masih aktif saya mainkan yaitu Instagram, ternyata banyak pembelajaran yang saya dapatkan di dalamnya. Sampai saat ini, saya tetap narsis  karena ini bagian dari pengahargaan terhadap diri saya sendiri. Saya bukan ingin diakui saya cantik atau saya pintar TETAPI saya hanya ingin menyimpan moment ditiap foto-foto yang saya bagikan di Instagram, karena buat saya instagram adalah satu-satunya sosial media yang mampu menyimpan moment foto dan video sebagai pengganti album foto terlengkap. Saya dapat memilih siapa yang saya izinkan melihat moment foto dan video yang saya bagikan dengan cara mengunci instagram dan hanya saya yang berhak memilih siapa yang saya percaya dan sukai untuk mengikuti instagram saya. Jika mereka ingin masuk, mereka harus menunggu dulu konfirmasi dari saya, jadi privacy masih tetap kita yang pegang kendalinya, Ini serunya IG buat saya.

Lalu ketika kita sudah mengizinkan mereka mengikuti IG dan melihat apapun yang kita bagikan, kitapun masih bisa untuk memfilternya lagi siapa saja orang-orang terdekat kita (closed friends) yang kita pilih   untuk diizinkan melihat postingan dengan versi diri kita. Jadi ada 2 versi diri kita di Instagram yaitu versi untuk semua orang dan versi diri kita untuk teman-teman terdekat kita saja yang memang kita anggap sudah tahu siapa diri saya dan kita percaya. Di IG pun kita juga bisa mengatur on off komentar jadi ketika kita posting foto atau video lalu kita tidak butuh komentar atau tidak ingin buang-buang waktu untuk membaca komentar yang akan menjadi drama dan panjang, maka kita bisa mengaturnya dengan cepat. Jadi kita hanya bisa melihat orang yang menyukai postingan kita tanpa harus kita tahu komentarnya. Buat saya ini lah enaknya main IG, kita bisa mengatur orang lain untuk menjauhkan mereka dari rasa iri dan berkomentar miring tentang kita. Jadi jika masih ada rekan kita yang menganggap kita pamer, suka memancing orang lain untuk iri hati, disitulah posisi kita sebagai tuan rumah IG berperan untuk mengatur agar mereka yang tidak suka dengan postingan kita bisa kita memilih untuk tidak melihatnya. Apa yang saya lakukan, sejauh ini cukup berhasil. Kitapun  bisa tetap menjadi diri sendiri tanpa dipusingkan dengan komentar mereka yang tidak senang dengan postingan yang kita bagikan. Karena sejatinya sosial media itu buat saya adalah penyimpan moment dan hiburan, jadi tidak perlu dibawa terlalu serius. Simple kaan..?

Apakah saya orang yang doyan  pamer? Dalam tulisan ini saya ingin jujur : IYA..! TAPI lebih kepada memamerkan hal yang memiliki faedah (manfaat) terlebih dahulu untuk diri saya. Jika   postingan saya bermanfaat juga untuk orang lain dan menyenangkan hati orang lain, bukankah  ini suatu pencapaian juga? Pengguna sosmed termasuk saya intinya ingin sharing sesuatu. Tentunya kita dapat membedakan antara yang berfaedah dan yang unfaedah. Nah..Yang unfaedah, postingan yang durasinya sering dengan caption menyombongkan diri inilah yang disebut pamer, karena posting sesuatu yang kurang manfaatnya untuk orang lain. Saya sebut “kurang bermanfaat” dan bukan “tidak bermanfaat” karena sebetulnya meski tidak bermanfaat bisa jadi merupakan hiburan untuk yang membaca. Apalagi untuk manusia yang selalu ingin tahu (kepo)  hidup orang lain dan kasak kusuk bertanya dalam hatinya, seperti : punya aktivitas apa sih dia, gaul ngga sih, kerja atau lantang luntung  sih, sudah punya posisi apa sih, dll. Jadi sebagian orang memanfaatkan untuk memenuhi ke-kepoan saja dan ujungnya pamer diri tentang :  “Ini lhooo… saya”.. hehehe…Namun saya selalu memastikan hal yang saya pamerkan adalah hal yang nyata buka hoax. Karena ada beberapa kasus memamerkan yang bukan diri mereka dan bukan milik mereka. Ini yang bahaya Urbanesse. Don’t Do That.

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, bahwa saya senang foto karena narsis. Jadi, pamer saya adalah seputar “kenarsisan”.

Saya lebih suka memotret diri sendiri ketimbang motret tas saya lalu bercerita soal bagaimana perjuangan saya membeli tas mahal tersebut (padahal memang ngga punya sih.. hehe). Berhubung saya suka traveling, maka uploadan foto tidak jauh dari foto diri  dengan latar belakang tempat yang Indah. Naah.. mungkin itulah bentuk pamer saya. Foto di depan icon suatu negara atau lambang Negara tertentu juga saya lakukan sebagai tanda saya pernah berada di situ. Belakangan saya baru ngeh, ketika posting foto ternyata orang juga memperhatikan baju yang saya pakai, Jam tangan, tas, sepatu dan juga model rambut. Tidak heran, ada komentar di belakang : pergi kemana-mana tapi bajunya itu-itu saja. Ada juga pertanyaan : ini foto kapan? karena rambut di foto beda dengan model rambut yang sekarang. Wohoooo… betapa jeli dan begitu seriusnya dengan postingan sosmed. Saya pikir sih wajar saja, karena dunia maya penuh tipu, jadi orang lain need to ensure that the picture we share is the latest one and not fake, kecuali ada hastag # Throw Back!.

Lari, snorkeling dan diving juga merupakan activity yang ingin saya share kepada follower saya. Saya tidak tahu apakah itu merupakan pamer atau tidak karena saya sendiri jika melihat pengguna IG yang “memamerkan” activitynya seperti ke gym, yoga, bersepeda, saya tidak melihat itu sebagai sesuatu yang negative  melainkan bentuk sharing dan tentu saja membuat saya terpicu untuk hidup sehat seperti orang tersebut.

Bagaimana dengan Pamer Prestasi?

Buat saya, ini menarik karena meng-influence orang lain untuk berprestasi juga.

Banyak contact saya yang sering upload foto penghargaan yang diterimanya karena menang kompetisi. Ada juga foto candid sedang memberikan training, posting foto di pesawat dengan caption on the way destination ini, itu untuk mengikuti seminar atau meeting. Buat saya pamer seperti itu, masih positif kok.

Apakah fenomena pamer ini hanya terjadi di kalangan perempuan?

Menurut saya tidak juga. Cowo juga banyak yang suka pamer, misal foto di depan mobil mewahnya, foto sedang main dengan gitar barunya, foto di puncak gunung sebagai bentuk achievement bahwa sudah berhasil mendaki sekian ribu mdpl, foto pegang ular untuk memberi info bahwa dia cowo berani, dll. Hanya saja, memang perempuan lebih banyak kadarnya serta pernak perniknya. Sehingga banyak sekali ide untuk capture object dan dirinya sendiri serta kreatif membuat caption. Dengan cara seperti itu, perempuan yang kebanyakan perasa, akan terpenuhi sebagian emosinya.

Jadi, kesimpulan saya, pamer activitas dan prestasi dalam kadar tertentu sah-sah saja. Tapi pastikan kita menggunakan cara yang “cantik” sehingga tidak terlalu kentara pamernya. Jika pamernya sudah mulai lebay, tentu jadi norak dan tidak menarik lagi. Itu cara saya heehee...

Intinya dari pengalaman saya ini point pembelajarannya adalah jika memang saya rasa saya nyaman dengan kenarsisan di sosmed, saya lakukan apa yang menurut saya adalah bagian dari diri saya. Saya tidak mau hanya karena tidak siap di cap buruk saya harus berpura-pura menjadi yang bukan diri saya (fake). Namun, lakukan tidak dengan cara-cara berlebihan, merugikan oranglain dan membuat tidak nyaman hati dan pikiran orang lain. Karena apa yang kita bagikan akan kembali ke diri kita. Saya sisipi hal bermanfaat juga di dalam tiap foto atau video yang saya share. Agar segala hal positif yang saya bagikan pun kembali ke diri saya”.

Banyak hal positif dan negatif dengan kita memainkan sosial media, namun pastikan kita menjadi pelopor hal positif. Kitalah pengatur dari apapun yang kita posting agar tiap hal yang kita dapatkan dari sosial media adalah hal yang positif. Ini saya,  Bagaimana dengan kamu Urbanesse ?

 



Shopia Aradhu

No Comments Yet.