Merayakan Hari Raya Di Hati


Tuesday, 18 Dec 2018


Apa sih makna hari raya sebenarnya buat aku dan teman-teman di luar sana  ? aku sengaja menanyakan ini pada  beberapa teman dikantor berkaitan dengan tema bulan ini. Temanku Nenden mengatakan bahwa dirinya memaknai hari raya sebagai moment pulang kampung untuk membahagiakan keluarga setahun sekali, dia senang ketika hari raya dapat pulang kampung mendapat gaji sekaligus tunjangan hari raya (THR) karena menurutnya momen hari raya adalah musiman jadi nggak mau dilewatkannya meski ketika balik lagi ke Jakarta ia selalu mendapati saldo ATMnya hampir nol rupiah dan selama 1 bulan harus hidup dengan kesulitan uang setiap habis hari raya. Tapi menurutnya tidak masalah karena ada kebanggaan  tersendiri ketika hari raya dapat mudik dan liburan bareng keluarga di kampung halaman bahkan menurut Nenden dari kecil mindset dia sudah terbentuk “kalau nggak mudik berarti nggak sukses di Jakarta, makanya sebisa mungkin musti mudik biar tetap dibilang berhasil” terangnya.

Makna hari raya keagaamaan beberapa tahun yang lalu juga pernah tidak aku dapatkan maknanya. Seakan tiap tahun momen hari raya bisa berlalu begitu saja bahkan aku tidak mendapatkan rasa bahagia, damai dan kesyahduannya. Tidak seperti dulu ketika masih kecil hingga aku remaja usia belasan aku masih bisa mendapatkan makna hari raya yang penuh dengan sukacita di hati, ada moment berbagi dengan keluarga besar (beramal dan membantu nenek dan kakek membagikan sembako pada pada tetangga yang kurang mampu) dan saling berkunjung bertemu dengan saudara jauh, Jujur saat itu ada rasa bahagia di batin dan aku tahu bahwa makna hari raya ya dengan kesederhanaan seperti yang kakek nenek aku terapkan.  Kebetulan dari kecil aku tinggal dengan kakek dan nenek serta om dan tanteku. Kedua orangtuaku sudah meninggal dunia ketika aku masih bayi.

Sejak nenek dan kakek meninggal, juga sejak aku mulai bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit, tiap tahunnya aku tidak lagi mendapatkan makna hari raya seperti dulu. Awalnya sedih, karena tiap tahun nggak bisa merayakan hari raya bersama keluarga, nggak bisa seperti dulu bersama kakek dan nenek berbagi dengan tetangga yang berkekurangan, saling berkunjung dan memaknai kesyahduan, kesederhanaan, kedamaian, kemenangan dan kebahagiaan batin ketika hari raya. Ketika orang lain merayakannya, aku malah bekerja. Bekerja ya bekerja selain untuk mengalihkan pikiran dengan menyibukkan diri membuat aku nggak sedih karena tidak bisa merayakan hari raya seperti orang lain, seperti dulu saat masih ada Kakek dan Nenek juga memang panggilan pekerjaan tersebut yang mengharuskan aku tetap bekerja meski hari raya, karena pekerjaan aku ini berkaitan dengan jasa membantu orang lain di rumah sakit.

Sebenarnya kalau dipiki-pikir memang pendek jalan pikiranku saat itu, mengapa karena  hanya bekerja sampai aku tidak bisa menemukan makna hari raya lagi, padahal bukan hanya aku aja yang kerja di hari raya, banyak orang yang tetap bekerja di hari raya, tapi tetap bisa mendapatkan makna hari raya dan tetap punya kebahagiaan batin tersendiri ketika merayakannya. Saat itu sekitar tahun 2015 untuk hari raya kesekian kalinya aku bekerja, aku mendapatkan tugas untuk merawat seorang anak usia 15 tahun yang sedang sakit tipes, anak tersebut ditunggui oleh seorang ibu yang sudah nampak menua. Aku pikir itu ibu kandungnya ternyata anak itu di rawat oleh neneknya, sudah 2 minggu dia ada di bangsal perawatan, aku cukup mengenal si nenek aku dan temanku membantu pasien tersebut dan si nenek yang terlihat lelah namun berusaha tegar. Saat itu aku ingat sekali 2 hari menjelang hari raya, sambil di sela-sela membantu merapikan tempat tidur pasien dan membersikan badan si cucunya, si nenek sambil bercerita dimana dulu ketika suaminya masih hidup menjelang hari raya pasti si nenek sedang sibuk menyambutnya. Saat itu aku pikir merek menyambutnya dengan pulang ke kampung halaman seperti orang-orang, atau belanja ke pasar membeli bahan-bahan makanan (masak-masak besar dan membuat kue seperti orang-orang).  Ternyata si Nenek menyambut hari rayanya bukan dengan kebiasaan atau tradisi orang kebanyakan, masak sih pasti tapi tidak berlebihan katanya ada makanan hari raya bersyukur nggak ada pun menurutnya nggak apa-apa, karena baginya yang penting bukan pakaian/perlengkapan yang serba baru, bukan juga pulang kampungnya tetapi hari raya menurut nenek dan keluarganya adalah hari dimana Tuhan ingin melihat perilaku hidup hambanya sesuaika dengan perintanh-NYA ?.

Menurut keyakinan nenek itu Tuhan tidak menyukai sesuatu yang berlebihan dan mengutamakan segala hal yang bersifat keduniawian. Makna hari raya buat Nenek dan keluarganya adalah hari memenangkan dan mengawali diri untuk mengontrol hawa nafsu kemanusiaan, Hari yang menjadi titik kita untuk mulai lebih bersyukur lagi dari sebelumnya dan berbagi lebih banyak dengan yang kita miliki agar terlatih bukan hanya pada saat hari raya saja tetapi di terapkan setiap hari seumur hidup kita. Aku makin terkagum saat nenek cerita bawa ternyata setiap tahun sejak anak mereka sudah pada berkeluarga dan bekerja, si nenek dan suaminya hanya merayakannya berdua saja bersama cucu satu-satunya dari anak ketiganya yangs sedang menjadi TKI di Malaysia. Mereka merayakan dengan ritual berbagi bahan makanan untuk kebutuhan hari raya untuk tetangganya yang kurang mampu. Baju baru dan perlengkapan yang serba baru nggak nenek dan keluarganya biasa lakukan dari anak mereka kecil, karena bagi nenek inti dari hari raya adalah kesederhanaan dan bukan dari barang baru yang dilihat tetapi hati, pola pikir dan perilaku yang harus diperbarui yang tadinya lebih banyak fokus terhadap duniawi bisa lebih ditingkatkan lagi ibadahnya.

“Jika hari raya di artikan sebagai hari pembaharuan diri dengan kesederhanaan maka ketika saya sudah tidak bisa merayakan lagi dengan anak-anak yang sudah berkeluarga dan bekerja jauh dari saya kemudian mereka tidak bisa pulang kampung kerumah, ya saya sebgai ibu mereka nggak masalah., saya tidak akan merasa kehilangan dan tetap bisa mendapatkan  moment hari raya yang damai, sederhana seperti sebelum-sebelumnya. Karena hari raya itu dirasakannnya di hati karena ini bagian dari keimanan kita pada Tuhan” terang Nenek Fatma.

Kini Saya Lebih Memaknai Hari Raya Lebih Dari Sebelumnya

Kata-kata Nenek Fatma membuat saya jadi berpikir lagi. Buat apa saya sedih, buat apa saya merasa orang paling malang di dunia karena tidak bisa merayakan hari raya seperti dulu ketika masih ada nenek dan kakek saya dan harus bekerja saat hari raya. Sejak bertemu dengan Nenek Fatma mulai saat itu setiap tahun ketika jelang maupun pada saat hari raya, saya tidak mau memunafikkan diri  lagi bawa hari raya merupakan moment yang sepatutnya saya sambut dengan sukacita, tenang, syahdu dan penuh kedamaian di batin. Meski harus merayakannya sambil bekerja dan tanpa berkumpul dengan keluarga seperti saat masih anak-anak dahulu, namun saya merasakan kebagiaan yang batin yang luar biasa. Disaat orang merayakan moment hari raya bersama keluarga, saya pun nggak kala luar biasa merayakan moment hari raya bersama rekan-rekan sejawat di rumah sakit, bahkan hingga kini saya bisa berbagi kebahagiaan bersama para pasien dan keluarganya yang juga harus merayakan hari raya di rumah sakit, membuat mereka juga merasakan kebahagiaan batin, bahwa hari raya bukan berarti harus dirumah berkumpul dengan keluarga dalam merayakannya TETAPI mau dimanapun merayakannya tetap harus sukacita dan mendapat rasa damai di hati. Hari raya bukan berarti harus melulu memakai semua yang serba baru tetapi hati dan perilaku ibadah kita pada Tuhan yang paling penting yang harus diperbaharui.

Saya bersyukur, saya diberi nikmat sehat oleh Tuhan, saya masih bisa beribadah pagi hari saat hari raya, saya masih bisa berkumpul dengan keluarga baru saya, keluarga saya kini lebih banyak bukan cuma rekan sejawat melainkan para pasien dan keluarganya. Keluarga tidak harus sedarah dan seiman, tetapi keluarga adalah mereka yang mau membagi kebahagiaan hatinya dengan tulus bersama orang – orang yang tidak seiman dan sedarah dengan ucapan dan perilaku yang baik dan saling menghargai.

Kini saya sudah menikah dan memiliki 2 orang anak, tidak lupa pastinya saya terapkan apa yang dulu nenek saya dan nenek Fatma terapkan pada keluarga. Bahwa memaknai hari raya tidak selalu harus dengan berpakaian serba baru, Berkumpul dengan keluarga biasakan dilakukan kapanpun tidak harus hari raya. Dari pengalaman ini saya belajar dan merasakan bahwa hari raya itu sebenarnya adalah moment, yang effectnya bisa diterapkan setiap hari jadi bukan hanya pada saat hari raya saja. Moment meningkatkan lagi perilaku kita dalam beribadah dan berbagi (kebahagiaan, rezeki dan berbagi kasih), Moment pembaharuan diri mungkin sbeleum hari raya saya masih memiliki pemikiran negatif terhadap orang lain nah di moment hari raya bisa jadi ukuran saya memperbaharui lagi diri saya menjadi lebih positif dan terus bertumbuh dalam iman yang lebih baik lagi, Saya sudah terapkan selam 4 kali hari raya berasam suami dan anak-anak saya dan jujur saya lebih merasa tenang dan penuh keberkahan saya rasakan dalam melewatinya,

Pulang kampung bisa di tunda di hari berikutnya jika memang pada saat hari raya saya dan suami musti bekerja karena nggak ada yang perlu di buru-buru juga, semua akan berjalan sesuai porsinya tidak berlebihan dan tidak dipaksakan. Silaturahmi dan saling memaafkan bisa dilakukan kapanpun tidak musti menunggu saat hari raya dulu bukan ?.

Semoga pengalaman saya mampu menginspirasi Urbanesse dengan beragam keyakinan untuk tidak sedih dan merasa malang sendiri ketika hari raya harus bekerja atau tidak bisa bersama – sama lagi dengan keluarga secara utuh dalam merayakannya. Karena makna hari raya itu sejatinya adalah kedamaian dan kebahagiaan di hati. Ketika hati sudah merasa damai dan bahagia maka keinginan untuk meningkatkan keimananan dan pembaharuan perilaku serta karakter diri pun akan jalan beriringan. Itu sih yang saya rasakan.



Clara Marisa

No Comments Yet.