Mental Pemenang


Monday, 27 Feb 2017


Tahun 2016 adalah tahun yang sangat berat untukku.  Bukan karena kejadian-kejadian yang mengubah hidup, tetapi yang mengubah cara berpikir.  Mental dan emosi semua teruji, sehingga fisik pun menjadi korban.  Bahkan sejak bulan Januari, aku sudah merasa lelah, ingin rasanya cepat melarikan diri dari tahun 2016. Adanya perkelahian antara teman, saudara, dan keluarga… Meninggalnya teman sekolah dan anjing keluarga… Melihat pernikahan dari beberapa orang yang kusayangi gagal atau hampir gagal…  Setiap kali satu badai sudah dilewati, satu lagi datang tanpa ada selah untuk bernafas.  Tahun 2016 terasa seperti Korean Drama, dan aku hanya “survive”, atau bertahan untuk tidak ambruk.  Aku ingat, bahkan sampai beberapa hari sebelum tahun baru pun masih ada badai yang harus dilewati.  Memang, bila dilihat kembali, aku puas dengan caraku melewati badai-badai ini, karena tidak pernah aku menyimpang dari perilaku yang benar dan baik, tapi sedih karena sikapku saat melewatinya bukanlah seperti pemenang, tetapi seperti orang yang seakan rumahnya runtuh terbakar, habis-habisan dan mati-matian.

 

Misalnya, di tahun 2016 kemarin, aku banyak ditegur dalam hal persahabatan.  Paling tidak 3 orang teman yang aku anggap teman baik. Saat teman pertama melakukannya, aku shok, kenapa bisa begitu?  Saat teman kedua melakukannya, aku seperti di tampar – kok tahun ini banyak pertengkaran begini sih?  Sebelumnya tidak pernah aku menghadapai hal-hal seperti ini karena memang tidak pernah bertengkar begini sama teman disekeliling.  Saat teman ketiga melakukannya, aku mulai introspeksi diri: ketiga orang ini sifat, karakter dan wataknya mirip.

 

Apakah aku sedang diajari sesuatu supaya bisa level up menjadi teman baik untuk orang-orang yang tipe seperti ini? Aku terus berpikir  kejadian demi kejadian ini apakah memang letak kesalahan ini ada di aku? apa mungkin aku tidak sengaja menyakiti mereka dahulu dan bagaimana kedepannya aku bisa menjadi seorang teman yang lebih baik? Tanya itulah yang dipertengahan 2016 ada di kepalaku.  

 

Mendekati akhir 2016 aku coba membenahi diriku, melakukan proses Self Improvement untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Aku coba ubah cara berkomunikasi dan sikapku ke orang lain terutama teman dekat  dengan lebih lembut dan berusaha untuk menjaga ucapanku agar tidak menyakiti mereka, Kalaupun aku yang salah aku berusaha mengkomunikasikannya dengan bertanya, face to face dan mengajak bicara 4 mata agar jelas dimana letak kekeliruanku. Kalaupun aku salah, aku legowo untuk meminta maaf  pada mereka. Pokoknya di akhir 2016 aku berusaha menempatkan posisiku jika aku menjadi mereka dan ada di posisi tersebut.  Aku kesampingkan egoku agar tidak berbenturan pada mereka yang memiliki ego yang sama denganku. Aku menikmati prosesnya dan merasa tenang.

 

Tapi tahun ini adalah tahun kemenangan untukku.  Karena aku lelah dengan kekalahan, maka tahun ini aku memilih untuk menang.  Bukan berarti bahwa aku tidak menemui badai sama sekali.  Sesungguhnya, sejak tahun 2017 dimulai, banyak badai yang sudah kulewati, tetapi tahun ini aku bermaksud untuk melewatinya dengan mental seorang pemenang.  Bagaimana caraku melakukannya :

 

1.     Berjuang dengan mental Pemenang, Mental pemenang yang kumaksud itu seperti ini.  Di depan ada badai yang mau gak
mau harus dilewati dan tidak bisa dihindari, jadi saat melewatinya, jangan fokus di badainya, tapi di pemandangan setelah melewatinya.
 Apa yang mau kita lihat di pemandangan itu?  Berantakan karena pohon dan tanaman tercabut dan rusak, atau kita melihat pelangi?  Bagaimana kita melihat pemandangan itu akan menentukan bagaimana kita melewati badainya. 

2.     Dengan tidak hanya berfokus pada kepentingan egoku saja tapi memikirkan orang disekelilingku dengan berusaha untuk tidak menyakiti mereka dengan ucapanku yang mungkin menyinggung di hati.

3.     Tetap menjadi diriku sendiri dengan menjalankan aktivitas seperti biasa tanpa terpengaruh sekelilingku yang membuatku guilty.

4.     Tetap melakukan komunikasi baik dengan teman-temanku dan mengkomunikasikan dengan baik-baik pula ketika ada benturan di dalamnya.

5.     Berusaha untuk tidak mengecewakan dan menyakiti mereka

6.     Berpikir positif, Karena sebenarnya banyak dari peperangan kita terjadi di benak pikiran.  Aku sekarang mengerti betul apa artinya, selama kita masih ada harapan, kita tidak mungkin bisa dikalahkan.  Satu-satunya cara kita dikalahkan adalah di pikiran otak kita sendiri dan itu aku memahaminya betul tahun ini.  Karena pilihan itu ada di diri kita sendiri. 

 

Aku dapat melewati tahun 2016 karena banyak teman disamping yang seperti cheerleader, saat aku tak bisa jalan kecapaian, mereka bantu seret, bantu tarik, bantu pangku… Saat aku terluka, mereka bantu memberi kata-kata yang membawa ketenangan di hati.  Tahun ini, aku ingin menjadi orang itu untuk teman-teman disekitarku.  Dan aku juga ingat, saat aku di lembah yang kering, walaupun dengan tenaga yang sudah terkuras dan dititik penghabisan, ada kalanya aku di rentangkan dan aku mencoba membantu orang lain. 

 

Akhirnya, aku jadi tidak fokus kepada badai di hidupkudan itu membuatku sedikit lebih jarang memikirkan betapa sedihnya hidup ini.  Memindahkan fokus dari diri sendiri, self-pity dan sebagainya, dan mulai memikirkan orang lain pointnya telah membantuku melewati hari-hari yang gelap.  Mungkin saat itu sekedar pelarian dari masalah sendiri, tapi lama-lama sekarang ini malah sangat memberiku harapan dan membuatku tenang seolah aku dapat tenaga extra untuk melewati badai sendiri. 

Hasil dari self improvementku adalah...di awal tahun ini setidaknya aku mendapatkan teman-teman yang benar-benar mengerti tentang diriku dan sejalan dengan caraku berkomunikasi bila suatu saat menghadapi benturan-benturan dalam pertemanan, karena aku tahu namanya persahabatan/pertemanan  akan selalu ada gesekan-gesekan yang terjadi namanya aja beda kepala pastinya akan ada hal-hal seperti itu dan kita sepakat untuk bersama menanganinya”

 

Seorang yang telah menang tidak akan menghabiskan waktunya untuk mengelus diri karena takut kalah, tapi akan mempersiapkan dan melatih diri untuk pertarungan selanjutnya.  I want to choose to be a winner.

 

 

 



Cianna

No Comments Yet.