Mensyukuri Apapun Pilihan Profesimu


Wednesday, 18 Jul 2018


Sedari remaja saya menyukai dunia baca dan tulis menulis. Tak terhitung sudah berapa buku harian yang saya tuliskan sejak SMP sampai kuliah. Baik menulis dari buku sampai blog. Saya memang bercita-cita menjadi seorang penulis. Namun setelah lulus kuliah, mencari pekerjaan sesuai yang kita dambakan bukanlah hal yang mudah. Terlebih untuk seorang  fresh graduate. Belum lagi karena stereotipe orang-orang terdekat mengenai pekerjaan penulis bukanlah pekerjaan dengan penghasilan yang stabil. Beberapa pekerjaan yang saya minati berkaitan dengan dunia tulis menulis membutuhkan pengalaman yang tidak sebentar. Meski demikian, saya putuskan tetap mencoba melamar. Jika tidak dicoba sekarang, kapan lagi? Kita tidak akan pernah tau hasilnya jika tidak mencoba. Sembari menunggu, saya coba melirik pekerjaan lain. Orangtua sempat merekomendasikan bekerja di Bank namun saya dengan halus menolak, itu bukan jenis pekerjaan yang masuk dalam daftar yang saya inginkan. Penantian akan pekerjaan dambaan yang tak segera muncul dan desakan orangtua yang terus menerus membuat saya akhirnya mencoba melamar di sebuah Bank swasta sebagai Marketing.

Pada saat itu marketing bukanlah jenis pekerjaan yang saya inginkan (sampai sekarangpun masih demikian), sehingga ketika mendapatkan pekerjaan tersebut orientasi saya  saat itu hanya sebagai batu loncatan karena saya fresh graduate yang butuh pengalaman. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menemukan sisi menyenangkan dari pekerjaan tersebut. Waktu bekerja yang cukup fleksibel untuk saya, dan wawasan baru yang selalu saya dapatkan di setiap kesempatan. Hanya saja, rasanya bagi saya tidak cukup. Setiap hari saya merasa hanya menunggi gaji tanpa dibarengi dengan peningkatan kemampuan diri, merasa tidak berkembang dan seperti  terjebak di zona nyaman. Seakan keadaan hanya jalan di tempat. Bahkan saya tidak punya waktu untuk memikirkan mimpi dan keinginan saya. Setiap hari juga saya hanya merasa lelah, tidak ada semangat dan gairah kerja sejak  pagi hari. Saya hanya berharap hari itu segera berakhir.

Akhirnya saya kembali mengingat tujuan dan mimpi saya setelah memutuskan resign dari pekerjaan tersebut saya mengakhiri pekerjaan sebelum masa kontrak berakhir, karena saya merasa segalanya jalan di tempat. Saya tidak menyesal, karena bagi saya itu cukup sebagai pelajaran dan pengalaman. Jika saja diteruskan, mungkin saya tidak akan se-produktif menulis seperti saat ini. Setelah memutuskan resign, saya mecoba kembali melirik pekerjaan yang saya inginkan. Saya mencoba melamar dan mengikuti tes di salah satu penerbit populer yang ada di jakarta, namun sepertinya belum menjadi rezeki saya karena saya gagal tesnya. Hehe..

Pengalaman Sebelumnya Membuat Saya Belajar

Singkat cerita, setahun kemudian saya mendapat pekerjaan kembali di  lain kota, yaitu di tempat saya berkuliah dulu sebagai  Copy Writer di salah satu kantor periklanan. Dari pengalaman saya sebelumnya saya belajar tentang  rasa syukur dan memaknai bahwa apapun pekerjaan yang kita pilih pastikan pekerjaan tersebut memiliki dampak ke diri saya sehingga dapat berkembang lebih baik secara skill, pengalaman dan karakter apalagi jika pekerjaan tersebut juga pada akhirnya bisa di singkronkan dengan pekerjaan yang menjadi passion kita.

Walaupun pekerjaan yang sekarang ini bukanlah pekerjaan yang saya dambakan,  namun, disini saya mendapat pengalaman dan keahlian baru yang belum pernah saya dapat di kantor sebelumnya, sebagai seorang copy writer saya di latih untuk mampu berimajinasi dan mengasah kemampuan berpikir. Pekerjaan ini mengasah otak saya secara tidak langsung untuk bekerja kreatif tentang bagaimana menemukan ide-ide brilian yang nantinya bisa dipakai untuk client-client saya.  Lagipula bekerja sebagai Copy Writer masih dalam kategori bidang keilmuan saya juga dan tidak jauh berbeda dengan menulis, sama-sama menggunakan imajinasi yang kreatif. Sambil bekerja, sayapun masih menjadi penulis freelance di blog-blog media secara online. Sempat ada pertanyaan apakah saya mendapat upah dari pekerjaan sampingan sebagai penulis ? kadang iya kadang juga tidak. Karena yang terpenting bagi saya saat ini adalah saya bisa bekerja namun tetap bisa menyalurkan passion saya, di bayar atau tidak buat saya tidak masalah selama saya masih bisa menulis ide-ide, pandangan dan pengalaman saya mengapa tidak ?

Meski bukan pekerjaan yang saya dambakan, Namun pekerjaan tersebut membuat saya jadi senang mengamati sekitar, saya di ajak menjadi orang yang peka terhadap sekeliling saya karena pekerjaan ini mengarahkan saya untuk bisa mencari ide darimanapun sumbernya dan pekerjaan tersebut masih bisa saya handle secara keilmuan pastinya. Selain itu juga saya jadi lebih pandai mengatur waktu, karena profesi ini menuntut saya bekerja dnegan deadline penuh yang tidak bisa di abaikan. Merasa beban ? jujur awalnya iya, karena masih di hantui pikiran bahwa profesi ini bukan yang saya impikan, apakah saya mampu.  Seiring waktu berjalan, saya kini terbiasa dan mulai menikmati bagaimana mengatur segala sesuatu dengan timeline.

Dengan apa saya melewatinya ? lewat rasa syukur karena banyak teman saya  yang menginginkan profesi ini padahal itu jurusan kuliah mereka, tapi saya dengan bakat imajinasi saya meski bukan jurusan kuliah saya namun diberi kepercayaan menempati posisi tersebut.  Disinilah saya patut bahagia dan tidak perlu menyesali karena gagal menjadi Jurnalis heehee. Sayapun senang karena di kelilingi oleh rekan-rekan kantor yang saling mendukung. Sekali lagi saya bersyukur atas ini. 

karena di pekerjaan yang sekarang saya bisa berkembang setiap harinya dan tidak lagi merasa terjebak di zona nyaman. Selalu ada hal baru yang saya pelajari tiap hari. Tentang bagaimana berpikir kreatif dan  bagaimana menjadi pribadi yang peka serta mampu mengamati segala hal dan fenomena yang terjadi di sekitar saya yang mungkin saja bisa menjadi ide-ide baru yang memuaskan client nantinya.  Saya belum menyerah atas mimpi dan cita-cita saya mengenai pekerjaan impian. Saya selalu mensyukuri apa yang saya dapatkan saat ini dan masih berusaha untuk meraih yang belum saya dapatkan (mumpung saya masih muda).

Tuhan tidak pernah salah menempatkan saya dimanapun posisi saya saat ini, jika profesi menjadi seorang copy writer adalah baik untuk diri saya DIA akan terus menaruh saya disini karena disitulah saya terbentuk , lebih produktif dan bisa menjadi lebih baik.  Bersyukur karena Tuhan  masih memberi saya kepercayaan untuk memegang tanggung jawab ini.

Semua ini tentunya bergantung dari diri kita, mau belajar hal baru atau tidak dan bersedia berkembang menjadi lebih baik atau tidak. It’s our choice to change. Untuk saya, passion adalah sesuatu  yang membuat kita tetap bergerak maju. Gairah yang tidak pernah redup, meskipun kita tau akan ada banyak pengorbanan yang diperlukan untuk meraihnya.



Nesiana Yuko Argina

No Comments Yet.