Menjadi Perempuan Mandiri Namun Tetap Saling Membutuhkan


Friday, 16 Feb 2018


16 tahun lalu ketika pertama kali mengenal suami saya, saya berpikir mungkin saya tidak akan menjalin hubungan yang serius dengannya. Awalnya saya menganggap dirinya sebagai seorang kakak mengingat rentang usia kami yang terpaut jauh, 10 tahun. Let it flow, pikir saya kala itu. Tanpa ada paksaan dan beban dalam prosesnya. Ternyata kami memiliki beberapa kesamaan yang unik. Kami sama sama dalam satu rasi zodiac (Aquarius), penggemar mie yamin (versi mie ayam Bandung yang standar kelezatannya sulit diungkapkan dengan kata kata), mengagumi bentuk piramida Mesir dan beberapa hal kecil lainnya.

Satu pertanyaan yang masih saya ingat diajukan olehnya, apakah saya tidak keberatan jika suatu hari harus menjalani kehidupan yang berjauhan dengannya. Nampaknya hal itu adalah sinyal bahwa saya akan menjalani kehidupan long distance relationship (LDR) dengannya. Ya, sejak pertama kali menikah, saya tidak hidup dalam satu atap dengan suami saya. Saya harus menunggunya kembali dari dinas di offshore setiap dua bulan sekali untuk kemudian menghabiskan waktu berdua. Jarang sekali perempuan yang menjalani kehidupan LDR dalam pernikahan.

Tidak bisa dipungkiri, terkadang saya ingin merasakan hal yang dialami oleh perempuan dalam hubungan normal. Dijemput suami dari kantor setiap hari, diberikan satu buket bunga pada saat hari ulang tahun, atau hanya pergi berbelanja kebutuhan rumah tangga berdua setiap bulan. Sebagai perempuan, sangat normal jika ingin merasakan hal seperti itu. Terlebih lagi ketika ada suatu masalah yang saya alami dan saya membutuhkan sosoknya sebagai tempat sharing atau sekadar berkeluh kesah.

Namun saya selalu mengambil hikmah atas segalanya.  Hubungan LDR ini menjadikan saya sosok yang mandiri, dan tidak bergantung 100% dengan suami saya. Saya terbiasa pulang dan pergi kantor sendiri, bahkan ketika saya harus menjalani rawat inap karena terserang sakit yang mengharuskan saya bed rest saya tidak merasa harus menjadi manja. Saya percaya segala suatu yang saya alami akan menjadikan saya sosok yang lebih dewasa dan lebih kuat dalam menjadi kehidupan dan bahtera rumah tangga. Namun jika ada pertanyaan apakah dengan saya mandiri seperti ini saya menjadi sosok yang tidak membutuhkan laki-laki dalam kehidupan rumah tangga saya, bahkan kasarnya sampai ada yang pernah menyebut “sayang dong punya suami tapi tidak ada buat pasangannya?”

Siapa bilang? Saya dan suami masih sama-sama membutuhkan, buktinya kita berdua tidak pernah absen untuk saling berkomunikasi via skype. Dengan kita berjauhan bukan berarti kita tidak saling membutuhkan. Bahkan intensitas komunikasi buat saya yang berjauhan dengan pasangan ini cukup banyak saya masih bisa bersenda gurau denganya, ngobrol berjam-jam via skype hanya untuk bertukar pikiran dan saling memberi support jika salah satu dari kami moodnya sedang tidak bersahabat, kami malah intensitas komunikasinya bisa lebih-lebih dari seseorang yang pernikahannya tidak LDR-an, yang pasangannya dekat saja tidak mungkin komunikasinya bisa seintens dan sesering kami.

Ada saat saat dimana saya juga membutuhkan saran dan pertimbangan dari suami saya, misalnya keputusan untuk investasi, membeli mobil baru ataupun keputusan untuk melanjutkan program kehamilan. Karena pernikahan dibina dari pondasi dua orang yang berbeda, tidak akan mencapai tujuan apabila hanya satu pihak yang memberikan kontribusi. Kedua belah pihak harus sama sama memberikan sumbangsih untuk menciptakan tujuan yang ingin dicapai oleh pasangan tersebut. Contoh sederhana adalah kami berdua memutuskan ingin melaksanakan ibadah bersama tahun depan, berarti kami harus menyisihkan sejumlah dana yang angkanya sudah kami sepakati bersama setiap bulannya.

Menjadi perempuan mandiri dengan karir dan penghasilan yang baik, bukan berarti saya tidak lagi menghormati suami saya. Saya tetap menganggap dirinya sebagai kepala keluarga untuk sekarang dan selamanya. Dia ada untuk mengisi kekosongan saya ketika saya membutuhkan pemikiran-pemikiran brilian, karena jujur saja suami saya selalu memberikan ide-ide dan masukan terbaik dalam karir saya. Begitupun sebaliknya dia membutuhkan saya untuk memberi pandangan-pandangan positif, kasih sayang, kelembutan yang dia dapatkan dari saya tiap kali kita bertemu ketika ada kesempatan per 5 bulanan ia pulang ke Jakarta dan waktu itu kita habiskan bersama untuk saling berbagi kasih sayang dan melayani dirinya. Menurut saya Kita harus tetap bisa menempatkan diri dan porsi pada tujuan awal rumah tangga, jika tidak maka akan ada kemungkinan hal hal baru akan muncul yang dapat mengganggu keharmonisan. Tentunya hal ini tidak kami inginkan. Dalam sudut pandang saya, perempuan pasti membutuhkan sosok pelindung yang akan menjaga dan melindungi kita selalu, dalam hal ini tentunya saya tidak memungkiri memang membutuhkan sosok pria.

Lalu apa yang biasa saya lakukan untuk tetap menjaga hubungan tersebut. Salah satunya adalah secara berkala meminta sarannya untuk sesuatu yang akan menimbulkan impact bagi kami berdua. Misalnya keputusan untuk membeli rumah baru, yang nantinya akan menjadi investasi bagi calon anak kami. Suami sangat mendukung dalam keputusan tersebut. Selain itu saya selalu mengajak suami untuk bisa berkumpul dengan lingkup teman teman saya, baik teman kuliah dan teman kantor. Jadi kami sama sama memahami aktivitas yang dijalani. Begitupun sebaliknya. Satu hal yang mengejutkan adalah suami sangat mendukung aktivitas menulis saya, bahkan saya dihadiahi sarana teknologi baru supaya saya lebih mudah menuangkan ide ide dalam menulis.

Selebihnya, saya selalu mencoba untuk menempatkan diri saya sebagai sosok perempuan yang mandiri dan kuat dalam menjalani tugas saya sebagai seorang istri, putri dan seorang pemimpin dikantor. Jalani segala sesuatu yang dititipkan oleh Tuhan kepada kita dengan sebaik mungkin. Karena saya percaya, selalu ada hal baik yang akan menanti kita jika kita melakukan segalanya dengan ikhlas, tidak mengeluh dan tidak menyerah.

Saya menjalani LDR ini karena memang keadaan harus dijalani seperti ini. Kedepannya kami berdua sudah memiliki rencana untuk bersama-sama menjalani rumah tangga, Suami saya akan  menyelesaikan tugas Dinasnya dan bisa berkumpul bersama dengan saya dan keluarga.

Point pembelajaran yang saya dapat dari pengalaman cerita saya ini adalah :

  1. Saya bisa menjadi perempuan mandiri, namun tetap menempatkan pasangan saya sebagai kepala keluarga, orang pertama dalam mengambil keputusan, memberi pandangan dan support terhadap setiap keputusan yang ingin kita kerjakan/ambil.
  2. Saya jadi lebih kuat dalam menghadapi problematika kehidupan, tentunya karena diapun demikian.
  3. Tetap menumbuhkan rasa respect terhadap pasangan, karena semandirinya saya tetap dia kepala keluarga. Dia selalu memastikan di tiap harinya bahwa saya bahagia, begitupun dia. Dan kami pegang komitment itu hingga kini usia pernikahan kami sudah memasuki tahun ke-10.

Ingat satu hal Ladies, bergantung boleh saja namun jangan sampai jadi terlalu bergantung, karena sesuatu yang berlebihan pun juga tidak baik, bukan ? dari cerita saya ini saya ingin mengajak Urbanesse berpikiran bahwa dengan memilih tidak terlalu bergantung pada pria bukan berarti kita tidak membutuhkan atau tidak menghargai laki-laki, tetapi dengan kita membagi kebergantungan kita tersebut dengan hal atau kesibukan lain sendiri agar nantinya ketika kita dihadapkan pada sesuatu yang tidak kita inginkan dalam hubungan tersebut, tidak terlalu banyak perasaan kehilangan yang kita rasakan, karena kita sudah di tempa dengan kemandirian.

Jadi, Yuk Urbanesse, mari pikirkan lagi mulai hari ini apakah menjadi mandiri dan tidak terlalu bergantung sepenuhnya pada pria adalah juga bagian dari pilihan buat kamu ?

 



Risa

No Comments Yet.