Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Tangguh


Friday, 08 Sep 2017


Menjadi wanita tangguh menurut saya adalah wanita yang mandiri dan produktif. Produktif tidak hanya secara finansial namun dia mampu memposisikan dirinya sesuai kodratnya baik sebagai seorang ibu maupun istri namun tetap bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

 

Saat memilih untuk merantau dan tinggal mandiri di Jakarta yang ada dipikirin saya saat itu hanya mencari restu dari Tuhan. Belum terbayang bagaimana pahit manisnya. Ketika itu saya benar-benar harus bangun lebih pagi dari biasanya, lalu menyiapkan segala keperluan suami, anak dan diri saya. Lalu berangkat bekerja dari pukul 06.00 pagi hingga siang yang tidak tentu, biasanya pulang pukul 16.00. Sepulang dari bekerja harus melihat keadaan anak yang sudah rewel.  sebelum berangkat anak harus dititipkan pada tetangga dalam kondisi menangis. Setiap hari harus mengalami hal itu selama empat bulan.

 

Bayangkan, Mungkin bagi sebagian Ibu ini biasa dan nanti dengan sendirinya anak akan terbiasa dengan rutinitas kita. Namun peristiwa ini berbeda dengan saya. Sampai akhirnya anak saya tidak mau jauh dari saya, tidak mau dititipkan, seperti mengalami trauma. Bahkan saya pergi ke kamar mandi pun selalu diikuti. Kejadian ini membuat saya memutuskan untuk mengambil resiko dan fokus untuk mengurus anak di rumah.

 

Namun, keputusan ini tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai tekanan, komentar dari berbagai pihak, orang tua yang kecewa dan merasa saya tidak bersyukur sudah dapat pekerjaan justru memilih menjadi ibu rumah tangga, mertua, dan suami yang kadang masih mengeluh dengan pekerjaan di rumah yang kurang beres. Namun saya tidak bisa diam dan menerima begitu saja. Bagi saya rezeki itu pasti dan sudah di atur oleh yang Tuhan, untuk membuktikannya memang tidak mudah dan saya harus berjuang keras untuk membuktikan pada mereka bahwa dengan saya menjadi ibu rumah tangga, saya tetap bisa produktif.

 

Saya berpikir bagaimana caranya agar saya bisa menghasilkan sesuatu walaupun di dalam rumah. Saya pun mulai melakukan sesuatu untuk diri saya khususnya :

 

  1. Saya membaca kisah wanita-wanita yang sukses meskipun mereka hanya seorang ibu rumah tangga. Seperti Ibu Ainun Habibie, ibu Sepi Wulandani founder Institut Ibu profesional, mba Indari dan wanita lainnya.  Kalau mereka bisa sukses dan bermanfaat walaupun hanya di dalam rumah, maka saya juga pasti bisa.
  2. Saya memulai dengan mencari pekerjaan apa saja yang bisa dilakukan didalam rumah, ada beberapa pilihan yaitu dengan berjualan online dan menulis. Saya mencoba berjualan dengan mencari produsen termurah dan terdekat dari rumah. Uangnya lumayan untuk tambahan pemasukan saya membelikan susu untuk anak-anak heehee...
  3. Mengikuti wadah komunitas yang sesuai dengan passion saya yaitu menulis. Salah satunya dengan bergabung bersama Urban Women hiiihiii....Saya juga mulai mencari tahu dari mana para Blogger bisa produktif. Saya mencoba menjadi freelance Writter selain sebagai wadah saya berbagi pengalaman yang saya miliki juga bisa saya gunakan untuk menyalurkan passion saya.  
  4. Fokus dengan pendidikan homeschooling untuk anak saya dengan mengikuti kegiatan webinar pendidikan. Saya mencoba membuat portofolio anak saya agar semuanya tersusun rapi. Saya ingin mendidik anak saya dengan sungguh-sungguh.
  5. Membuat manajemen waktu bagi ibu rumah tangga, karena menurut saya ibu rumah tangga kerjanya bukan hanya memberi makan anak, nonton sinetron dan ngerumpi. Saya harus bisa mengelola waktu dengan baik, membuat kandang waktu untuk saya berproduksi, bermain bersama anak, mengurus rumah, melayani suami. Bagi ibu rumah tangga manajemen waktu ini sangat penting. Karena kalau kerjanya hanya online lalu berjalan-jalan di online Shop semua menjadi kacau.
  6. Menjadi makhluk Karena menjadi istri dan ibu tidak bisa memilih salah satu, apalagi saya bukan lah orang berada yang bisa menggunakan uang untuk membayar jasa, saya harus belajar menjadi ART, perawat, manajer keuangan, manajer rumah tangga yang handal, menjadi pendidik, partner hidup bersama suami, motivator bagi suami dan yang terpenting adalah menjadi Direktur utama untuk diri saya sendiri, supaya nggak stres me time saya dengan mendengarkan musik atau sekedar maskeran dirumah sambil baca buku ketika anak-anak saya sedang tidur siang. Heeheee...

 

Bagi saya, anak adalah yang pertama dan mengurusnya tidak boleh main-main atau sekedar mengasuh dengan memberi makan lalu memberikan video berjam-jam asalkan anak anteng. Anak adalah Titipan Tuhan yang harus di jaga dan dididik dengan baik sesuai kodratnya. Saat ini saya mulai menikmati peran saya menjadi ibu, saya tetap menjalankan peran sebagai ibu dan istri, memang melelahkan dan banyak komentar kurang enak, namun saat ini saya sedang berproses untuk membuktikan pada semua bahwa menjadi wanita harus mandiri, produktif tanpa memandang status, yang harus diingat bahwa menjadi wanita tangguh adalah tidak selalu mengandalkan suami.

 

Saya harus menjadi partner dunia akhirat untuknya, menjadi sahabat yang selalu mensuport dan berpikir positif. Tidak hanya minta diperhatikan dengan urusan rumah yang tidak ada habisnya. Bagi saya suami sudah lelah bekerja di luar, maka tugas saya saat dia didalam rumah bukan mengeluhkan kejadian yang terjadi dirumah, tapi berbagi kegembiraan dan aktifitas bersama anak. Emangnya bisa tetap gembira meski seharian sudah berkutat dengan segudang kerjaan rumah ? Tentu bisa, 5 step yang saya tulis diatas adalah energi recharge saya agar ketika suami pulang kerumah saya bisa tetap fresh.

 

Saling menuntut tidak akan ada solusinya. Tapi saling menuntun dan memahami peran masing-masing menurut saya ini solusi menciptakan kebahagiaan tersendiri, bahagia yang dimulai dari diri kita sendiri. Kalau kita belum bahagia bagaimana kita dapat menularkannya pada suami.

 

Saat ini saya sedang aktif menjadi pengurus di komunitas online seperti komunitas ibu mendongeng dan berkisah, menjadi freelance Writter di Urban Women. Menjadi wanita tangguh menurut saya adalah wanita yang meski memiliki segudang kesibukan baik sebagai seorang Istri, Ibu dan karirnya ia masih bisa mandiri dan produktif. Mandiri dalam artian mengerjakan sendiri apa yang menjadi tanggung jawabnya dengan sukacita tanpa mengeluh. Produktif tidak hanya secara finansial namun dia mampu memposisikan dirinya sesuai kodratnya baik sebagai seorang ibu maupun istri namun tetap bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Menjadi produktif tidak harus menghasilkan uang, bagi saya pribadi menjadi bermanfaat untuk lingkungan sudah termasuk produktif.

 

Ada satu pesan yang saya dapatkan dari seorang bapak yang saya temui beberapa waktu lalu di kereta, Dia mengatakan “Kalau hidup di Jakarta itu harus kerja keras, harus tangguh, jangan gengsi, harus berani lelah dan harus bisa beradaptasi dengan lingkungan dan satu lagi baik namun tetap cerdik agar tidak dipergunakan orang lain. Jadi kesimpulan dari cerita saya bahwa “Perempuan tangguh adalah perempuan yang meski memiliki segudang kesibukannya sebagai seorang Istri, Ibu dan mengejar karir/usahanya ia masih bisa mandiri dan bermanfaat untuk membantu untuk orang lain”

 

 

 

sumber gambar: Created by Freepik



iis istianah firmasari

No Comments Yet.