Menjadi Baik Demi Menggaet Wanita


Thursday, 22 Jun 2017


Sering kali sejak saya pulang ke Jakarta ini saya bertemu dengan laki-laki yang kesannya “beragama” dan “ religius”.  Pada awalnya saya terkesima sekali dengan mereka. Sepertinya menarik , hidupnya bersih dan jauh dari dosa, lalu kata-katanya selalu mengutip hal-hal dari ayat-ayat kitab agama dan pokoknya semua yang keluar dari mulut mereka pada awalnya membuat saya benar-benar hormat dan suka sama mereka. Maklum saya suka sama seorang laki-laki yang menurut saya dewasa dan bisa mengarahkan saya dalam segi iman.

 

Tapi satu persatu laki-laki yang saya sukai itu tumbang karena ternyata perilaku mereka itu biasanya bukan didasarkan ketaatan kepada Tuhan tapi lebih karena dalam budaya kultur Indonesia orang mau dilihat baik. Jadi banyak praktek-praktek yang dulunya saya anggap merupakan praktek iman kepada Tuhan sebenarnya praktek untuk dianggap dan terlihat baik yang belum tentu ada hubungannya dengan tujuan dan perasaan dia pada saat itu.

 

Salah satu ex saya itu kalau di tempat umum, pintu untuk nenek-nenek bahkan ibu-ibu akan dibukakakan dengan secepatnya. Saya pada waktu pertemuan ke-2 benar-benar terkesima dengan tindakannya itu. Saya merasa dia mempraktekkan kebajikan. Tapi ketika dia membantu saya di dapur dia mulai mengatakan ke saya “Buat apa kamu membantu orang yang berkekurangan atau teman-teman kamu yang tidak terlalu pintar. Buang-buang waktu dan uang kamu aja. Lebih baik uang dan tenaga itu untuk kita”. Saya jadi bingung. Ini bukannya seorang pria yang pada awalnya hatinya baik sekali ya, yang saya pikir menghormati orang tua dan mau membantu kaum lanjut usia. Kalau memang dia begitu baiknya kenapa dia tidak mengerti maksud baik saya membantu orang lain?

 

Lalu ada lagi topik-topik yang kadang membuat saya merasa nyeri kepala. Saya kadang diminta untuk berlaku sebagai mana istri terhadap suaminya di dalam buku agama. Tapi yang menjadi pertimbangan saya adalah, saya kan belum menikah kenapa nilai-nilai yang terjadi di pernikahan seperti menurut, berkorban, dll sudah diminta dari saya selama masa dating?  Lagi2 saya bingung, ini kan bukan praktek yang benar?  Cuma memang kadang permintaan ini dibalur dengan kata-kata agama jadinya kalau saya sebagai wanita tidak kritis ya saya terbawa dengan permintaan sebagai istri yang soleh. Padahal ya menurut dan lain-lain itu memang kebiasaan di dalam kultur kita saja, terlepas apakah konteksnya benar atau salah.

 

Belum lagi kata-kata yang menginfokan “Iya kalau kamu tidur dengan sembarang orang itu memang dosa tapikan aku pacar kamu jadinya ya ngga masalah, kan kamu hanya milik aku dan sebaliknya”

 

Dari satu kejadian ke kejadian yang lain saya belajar, begitu banyak pria “baik” di Jakarta ini karena memang mereka dituntut terlihat “baik”, tapi kebaikan-kebaikan itu belum tentu berhubungan dengan sikap hati mereka maupun sikap iman mereka. Mereka ya hanya mau dibilang orang baik dan beriman.

 

Sebaliknya juga, banyak aturan-aturan agama yang didendangkan mereka kepada para perempuan sering juga bukan karena ingin membawa pacar menjadi orang yang lebih baik dalam iman tetapi terlebih mereka ingin para wanita menjadi lebih dekat dengan keinginan-keinginan pribadi dan masyarakat, cuma masukannnya dibalur dengan kata-kata dari buku suci.

 

Untung saya belum menikah dengan satu dari antara mereka, karena kalau saya tidak kritis perbedaan antara praktek iman dan praktek kultur ini, saya bisa jadi menikahi orang yang mungkin di KTP bergama sama tapi dalam praktek hidup sehari-harinya berbeda dan tidak benar-benar ingin menjadi umat beragama yang lebih baik.

 

Kalau memang dalam hubungan kita sudah tidak ada Tuhan. Siapakah nanti yang akan menyatukan kita berdua disaat duka dan susah?

 

Maka menjadi cerdik dalam menganalisa pasangan kita itu penting sebelum kita mengambil keputusan lain yang lebih serius dan besar. Orang baik secara hukum masyarakat belum tentu benar-benar baik hatinya dan baik di hadapan Tuhan. Lebih baik menunggu yang praktek kebaikan dan imannya memang benar-benar dari dasar hatinya.

 

 

sumber gambar: Created by Teksomolika - Freepik.com

 



Priscilla

No Comments Yet.