Menikahlah Disaat Kamu Siap Bukan Disaat Kamu Ingin.


Friday, 22 Feb 2019


Apa sih yang ada dibenak kalian ketika mendengar kata menikah?. Hmm, bagi yang sudah memiliki pacar, bisa jadi menimbulkan perasaaan gembira, degdegan atau bahkan jadi galau mengingat sang pacar masih belum mengikrarkan janji bersamanya.

Pernikahan bagi saya adalah sesuatu yang sakral, sekali seumur hidup karena mengikrarkan janji dihadapan Tuhan. Ketika masih single, menikah juga berarti harus hidup bersama dalam satu atap. Selalu bersama dalam keadaan apapun, susah dan senang. Bisa menjaga saya dalam keadaan sakit, mengantar jemput setiap hari, dan aktivitas lainnya yang bisa dilakukan berdua.

Namun realita yang saya hadapi, saya harus menjalani hidup terpisah dengan suami saya dalam bentuk Long Distance Relationship  (LDR) selama bertahun tahun. Saya menjalani kehidupan di Jakarta, sementara suami harus bertugas di Offshore area Kalimantan.

Agak mengagetkan diawalnya dan diluar ekspektasi bentuk pernikahan, karena saya harus melakukan semuanya sendirian. Pergi ke kantor, kerumah sakit, service mobil dan memanggil tukang untuk memperbaiki rumah dan ledeng. Terlebih lagi jika melihat pasangan pasangan lain yang sibuk menghabiskan waktu berdua.

Tapi semua itu membangun jiwa mandiri dalam diri saya. Tidak ada kamus cengeng ketika ada  masalah dikantor maupun masalah sehari hari. Bersyukur atas semua hal tersebut, menjadikan mental sebagai istri yang tahan banting terstigma dalam diri.

Semuanya membutuhkan pembelajaran. Realita pernikahan yang saya jalani melatih kami menjadi pribadi yang saling menjaga baik menjaga kepercayaan, tanggung jawab, kejujuran, komunikasi dan komitmen.

Salah satu ekspektasi saya dalam pernikahan adalah bisa mendapatkan pasangan yang memahami impian saya dalam berkarir. Impian saya sudah pasti, ingin menjadi seorang CFO. Realitanya adalah saya  Bersyukur, suami saya mendukung setiap langkah perjalananan karir dan pendidikan saya. Dalam pernikahan pasti ada lika liku dan fluktuasi namun kami memutuskan untuk terus belajar dan memperbaiki diri, karena kami menyadari bahwa komitmen yang kami bangun adalah untuk seumur hidup.

Ini kunci dalam menjalani realita pernikahan saya

Kunci utama yang saya dan pasangan terapkan adalah dengan menurunkan ego dan tidak gengsi untuk saling memaafkan serta pastinya mau menerima kekurangan satu sama lain. Tidak ada manusia yang terlahir sempurna dan tidak ada juga hubungan pernikahan yang sempurna. Semua hanya ada dalam fairy tale dan opera sabun.

Dari sikap inilah tanpa kami sadari saya dan pasangan menjadi dewasa bahkan diusia pernikahan yang sudah memasuki tahun ke 11. Kami tetap terus belajar dan mengucapkan puji syukur pada Tuhan. Pernikahan adalah anugerah dan titipan dari Tuhan, butuh kedewasaan dan proses didalamnya untuk menyatukan dua sosok yang sangat berbeda.

Akhir kata dari saya untuk para Urbanese, menikahlah di saat kamu siap, bukan disaat kamu ingin.

 



Risa

No Comments Yet.