Menikah itu (Bukan) Tujuan Hidup ?


Wednesday, 05 Jul 2017


Hari Minggu kemarin saya pergi beribadah dan tema yang diangkat cukup menarik yaitu “Pilih Single atau Married?”. Tumben sekali tempat saya beribadah itu mengangkat tema ini dan jawaban dari tema itupun meneguhkan prinsip yang selama ini aku pegang.

 

Menikah memang sudah dituliskan baik di kitab suci kemudian cara penerapannya di masyarakat berbeda-beda khususnya di Indonesia dengan adat istiadat yang beraneka ragam. Ada yang bilang kalau perempuan harus menikah muda atau jangan kelamaan, jika tidak mereka akan dicap ‘perawan tua’. Atau tradisi yang menetapkan bahwa yang namanya perempuan yah harus menikah. Akibatnya tidak sedikit terjadi perjodohan yang keliru, rentang usia yang sangat jauh atau tidak ada rasa kasih sesama pasangan. Secara tidak langsung perempuan dituntut oleh tradisi yang ada untuk menurut jika tidak, akan dikucilkan atau jadi bahan gunjingan. Saya pikir, zaman dulu ya bisa saja tapi zaman sekarang sepertinya perlu ada penyesuaian.

 

Sampai saat ini saya masih single belum pernah pacaran. Kenapa? Karena sejak SMA saya tahu definisi pacaran adalah persiapan menuju pernikahan, jadi kalau belum mau dan siap menikah untuk apa saya pacaran. Simpel kan. Seiring saya bertumbuh, pemikiran dan hati saya juga berkembang, bahwa betapa pentingnya kita memiliki tujuan hidup, mengetahui untuk apa kita diciptakan. Jika kita sudah tahu maka hidup akan lebih mudah dijalani dan terfokus. Seperti contohnya dalam pekerjaan, tujuan hidup saya adalah bisa berdampak signifikan untuk orang lain, melalui talenta/bakat dan passion yang Tuhan telah berikan. Passion saya people dan creativity, jadi sejak awal saya bekerja di bidang sosial (yayasan/ngo) pergi ke pelosok daerah di seluruh Indonesia untuk membangun klinik murah, membantu perkembangan remaja, sampai ke kehidupan urban perempuan. Dalam bidang itu, saya bisa memberikan kreativitas saya di bidang fotografi/videografi, desain, membuat konsep acara, sampai kerajinan tangan.

 

Tujuan hidup itu membuat saya produktif dan saya menikmatinya, sehingga saya tidak pernah menghitung umur lagi. Namun di umur 32 saat ini tentu saja saya pun masuk ke lingkaran norma masyarakat bahwa saya, seorang perempuan harus menikah. Orang tua pun sempat bertanya, apakah kamu sudah punya pasangan atau belum. Ditambah lagi saat ini semua kakak-kakak saya telah menikah dan akan menikah tinggal menunggu hari, jadi otomatis perhatian mereka ke saya sekarang, si perempuan bungsu. Baik orang tua dan kakak-kakak saya bahkan teman dari mereka pun berusaha untuk mencarikan jodoh, dengan cara mereka masing-masing. Saya pernah terceplos mau pasangan hidup ‘bule’ karena gaya berpikirnya to the point tidak basa basi. Langsunglah keluarga saya menghubungi saudara atau teman yang tinggal di luar negeri, setidaknya yang saya tahu sudah ada 3 negara yang berbeda. LOL. Satu sisi ya saya merasa bersyukur mereka memperhatikan saya, di satu sisi yang lain saya berpikir itu tidaklah perlu.

 

Menikah itu adalah salah satu fase kehidupan bukan tujuan hidup. Jika Tuhan yang kita imani telah memiliki blueprint bahwa dalam mencapai tujuan hidup saya, tidak melalui fase pernikahan bagaimana? Itu bisa saja kan. Saya pun tidak kuatir jika memang begitu jalan hidup saya. Toh sudah 15 tahun saya memegang prinsip ini dan belum galau hehe, jika untuk seterusnya Tuhan memang mau saya single maka Dia pun akan memberikan saya segala macam kegiatan supaya saya terus produktif dan memberikan kekuatan motivasi yang mungkin bisa didapatkan jika kita memiliki pasangan. Jika saya perlu menempuh fase pernikahan maka prosesnya tetap sama mencapai tujuan hidup, bisa menjadi dampak bagi orang lain. Seperti matematika 1+1=2, maka saya+single (lebih produktif) = menjadi berkat/berdampak signifikan bagi orang lain,  atau saya+pasangan = juga bisa menjadi berkat lebih bagi banyak orang.

 

Di awal cerita ini saya sebutkan prinsip saya diteguhkan, bahwa di dalam kitab suci pun tertulis bukan masalah single  atau married nya tapi bagaimana kita memuliakan Tuhan yang kita sembah dengan apapun status kita dalam memenuhi tujuan DIA, untuk apa kita diciptakan sebagai perempuan di dunia ini.

 

Jadi, Urbanesse, ini adalah hidup saya, namun belum tentu sama dengan Urbanesse. Hanya marilah kita sama-sama fokus ke hal yang lebih besar dan lebih penting, bahwa hidup kita sudah dijamin oleh sang Pencipta. Kita akan baik-baik saja apa pun situasinya dan statusnya, yang penting percaya dan yakin kepada-Nya, supaya kita tidak terdesak dengan tuntutan masyarakat/manusia yang belum tentu tepat apalagi benar.

 

 

 

sumber gambar: Created by Creativeart - Freepik.com



Annie Claire

No Comments Yet.