Menghadapi Rekan Kerja Yang Menggunakan Jalan Pintas Untuk Tujuan Pribadinya


Tuesday, 29 Jan 2019


Sejak saya lulus S1, direktur tempat saya bekerja menawarkan posisi accounting di field. Saya tidak pernah tahu kalau posisi tersebut adalah posisi yang banyak di inginkan orang-orang karena termasuk lahan basahnya orang-orang project. Sejak kehadiran saya, banyak fitnah silih berganti yang harus saya hadapi. Awalnya saya ikut terbawa oleh emosi dengan sikap mereka, sampai akhirnya saya dirawat di rumah sakit Pertamina Prabumulih.

Disaat beristirahat di rumah sakit, saya memiliki banyak waktu untuk berpikir bagaimana mengontrol diri saya agar tidak terbawa emosi terus menerus yang tentunya akan merugikan saya sendiri. Singkat cerita setelah saya kembali sehat, saya dipercaya untuk kembali tugas ke luar kota. Beberapa tahun berlalu, keadaan perusahaan mulai goncang karena minyak dunia yg turun drastis dengan sengaja membuat manajemen konflik agar karyawan mengundurkan diri atau mencari-cari kesalahan karyawan. Saat itu juga GM saya yang selalu memuji saya di depan orang-orang proyek tapi berbanding terbalik saat dia berada di kantor pusat. Jalan pintas yang dia tempuh untuk merauk uang perusahaan namun selalu saya deteksi membuat dia selalu menyingkirkan saya secara halus ketika audit di kantor pusat dia buat saya ke lapangan dan ketika dia berhasil mencuci otak bos-bos saya, saya pun dipanggil ke kantor pusat.

Sementara saya di kantor pusat, dia membuat acara besar-besaran yang menghabiskan dana besar (saat itu perusahaan sedang melakukan efisiensi). Saat itu saya tersadar sengaja dia mengatur saya ke jakarta sementara dia foya-foya di lapangan. Case yang dia buat agar saya dipanggil ke kantor pusat. 

Mengambil jatah makan karyawan, Membuat laporan keuangan yang kacau karena saat saya dipanggil ke kantor pusat saya harus hand over ke orang yang sama sekali tidak mengerti tentang keuangan dan membuat banyak selisih uang dan menyalahkan selisih itu ke saya, Membuat gosip bahwa saya jalan dengan suami orang ke diskotik, Membuat semua orang di proyek membenci saya dan mereka benar-benar terpengaruh dengan gosip tersebut hingga dalam pekerjaan pun kebawa, mereka tidak melibatkan saya dalam berbagai meeting padahal itu bagian dari jobdesk saya.

Saya menceritakan hal ini ke Ayah saya, dengan bijaksana beliau mengatakan bahwa saya harus tetap stay kenapa ?  

Semua fitnahan mereka ke diri saya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya, jadi saya musti tetap jalan lurus mengerjakan pekerjaan yang emmang menjadi tanggung jawab saya. Meski mereka menjatuhkan mental saya dengan cara-cara jalan pintas (fitnah, dan gosip) tetapi orangtua saya meminta saya untuk tetap profesional. “Biarkan mereka seperti itu, jika itu tidak benar kamu tidak perlu bereaksi apapun karena fitnah dan gosip akan luntur dengan sendirinya. Di kantor tersebut reputasi pekerjaan dan tanggung jawab kamu lah yang dilihat, bukan urusan pribadimu” terang Ibu padaku. 

Menanggapi jika perlu di tanggapi, selebihnya kamu bekerja untuk perusahaan BUKAN untuk menyenangkan mereka. Biarkan mereka dengan caranya yang terpenting kamu sudah melakukan tanggung jawabmu dengan jujur, apa adanya dan memang itu bagian dari tugasmu. Jika mereka marah? Itu urusan mereka dengan kekeliruan yang mereka buat BUKAN lagi urusanmu. Urusanmu adalah mengerjakan tanggung jawab di kantor dengan jujur dan dengan cara-cara benar. Ingat kebaikan dan kejujuranmu tidak akan pernah salah” Ungkap Ayahku lagi.

Masukan dari Ayah membuatku berpikir, ini ada benarnya juga. Buat apa aku mengurusi mereka yang jelas-jelas menggunakan cara-cara tidak jujur hanya untuk kepentingan mereka. Kalau aku bereaksi negatif atas sikap mereka, nggak ubahnya aku dengan mereka dan itu memang tujuan mereka untuk membuatku tidak nyaman di kantor tersebut. Baiklah, sejak saat itu aku memutuskan untuk jalan lurus dengan caraku sesuai dengan kata-kata Ayahku. Aku mencoba praktekkan apa yang Ayah katakan. 

Aku bekerja sesuai tanggung jawabku, jika memang aku menemukan yang salah atau keliru ya aku katakan itu salah. Meskipun pada saat itu hantaman demi hantaman semakin menjadi-jadi aku dapatkan dari mereka. Anehnya para atasanku tidak ada yang menegurku, meminta konfirmasi apapun dariku padahal fitnah dan gosip terang-terangan aku dapatkan. Dari situ aku berpikir, berarti memang ini cara-cara mereka saja untuk menjatuhkan mentalku. Pada saat meeting, salah satu dari mereka mengatakan kalau perusahaan ini tidak bisa terus memaki orang yang kelewat jujur? Wooow...jujur salah nggak jujur makin salah, mereka menganggap aku terlalu jujur dalam bekerja jadi menyampaikan segala sesuatu memang apa adanya. Tetapi lagi-lagi aku tidak merespon selama para atasan tidak ada yang memanggiku dan menegurku aku tetap bekerja sesuai tanggung jawab. Logikanya kalau para atasanku nggak puas dengan kinerjaku pasti mereka langsung memanggilku bahkan memintaku resigne. Tetapi ini nggak terjadi, para atasan malah semakin baik sikapnya padaku.

Benar kata Ayah semua itu tergantung reaksiku pada mereka, ketika reaksi kita positif sesuai tanggung jawabnya maka kita akan mendapatkan hsil positif pula dan sebaliknya. Aku tetap baik pada mereka yang membuat fitnah dan gosip buruk tentangku, aku tetap stay di kantor tersebut tidak tergiur untuk resigne karena memang aku ya aku, kejaku ya seperti ini. Singkat cerita 2 tahun kemudian di kantor kami ada audit dari luar dan seperti prediksiku, mereka yang menggunakan cara-cara tidak jujur dalam mendapatkan tujuan untuk kepentingan tim mereka satu per satu resigne. Ada yang karena bermasalah ada juga karena hal lain. Sekarang aku percaya banget kalau apa yang aku tanam itulah yang akan aku tuai. Ketika aku tetap stay dikantor tersebut, tidak terpengaruh dan tidak mengabaikan tanggung jawabku dan melakukannya dengan cara-cara jujur dan benar dalam bekerja hasilnya aku tetap ada di kantor tersebut dan bahkan dipercaya untuk memgang tanggung jawab lebih besar lagi oleh atasanku hingga saat ini.

Yang saya dapat tangkap pelajaran dari kejadian ini adalah Bukan hal yang sulit untuk Tuhan merubah keadaan seperti yang kita mau. Namun, saat Tuhan melatih kita ketekunan dalam proses, kita akan bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dalam pelbagai cobaan kehidupan.

 

Pelajaran yang saya dapat dari orang yang melakukan jalan pintas. Tuhan ga akan tinggal diam melihat umatnya dipermainkan. Tetap tenang, lakukan bagian kita dan kerjakan tanggung jawab kita sesuai kemampuan yang kita miliki jangan goyah. Terkadang orang jahat datang dalam hidup kita, untuk mengajarkan kita bagaimana memperlakukan orang lain seharusnya. Saya sangat belajar banget tentang ini. Thank God atas pelajaran ini sehingga membuat saya lebih kuat lagi. Terimakasih Ayah buat masukan yang berharga ini, buat saya masukan dari Ayah adalah cara Tuhan menyampaikan hal yang sebelumnya tidak saya pahami. Saya percaya “Kebaikan akan menemukan jalannya”.

 



Nisa Hapsari

No Comments Yet.