Menghadapi Pasangan Posesif


Tuesday, 20 Mar 2018


Ini cerita saya beberapa tahun silam sebelum saya menikah dengan pasangan saya saat ini. Saya pernah sempat menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Di awal hubungan semuanya terasa baik-baik saja seperti umumnya orang-orang berpacaran, ia pun belum memperlihatkan karakter dirinya pada saya, saya sendiri termasuk perempuan yang apa adanya, tulus dan lurus-lurus saja dalam menjalin hubungan, nggak mikir macam-macam namanya sama pacar sendiri yaaa...tulus aja. Saya tidak mau berpikir negatif atau nggak simple yang pada akhirnya nanti hanya akan membebani pikiran saya. Berawal dari persahabatan yang cukup mengenal satu sama lain, persahabatan kamipun berjalan sangat baik saat itu dan hubungan baik juga ia tunjukan pada semua teman-teman kami. Ini membuat saya percaya dan cukup yakin bahwa akan menjadi sebuah hubungan yang serius dan harmonis jika saya berpacaran dengannya, dengan alasan itulah saya mau menerima komitmen untuk pacaran.

Singkat cerita hari berlalu, kira-kira di tahun kedua perilaku lelaki ini makin terlihat, Ia bahkan tidak percaya dan selalu curiga terhadap saya. Dampak terburuknya adalah selalu melihat segala permasalahan dari sudut pandang "menang-kalah". Ketidakpercayaan terhadap saya menjadikan dirinya selalu berusaha mencari kekurangan diri saya dengan memasuki wilayah pribadi, seperti selalu mencuri-curi mengecek isi SMS dalam HP, melakukan pengintaian ketika saya beraktifitas bekerja di kantor dan ketika bertemu dengan kolega saya, meng-hack password email dan messanger untuk dapat masuk dan melakukan interaksi dengan kolega melalui Yahoo messeger.

Ia bersikap sepert ini bukan tanpa alasan, ia dulu memang pernah bercerita pada saya bahwa dia hidup dari budaya masa kecil yang sangat otoriter, dia mengatakan bahwa ia tidak pernah di apresiasi dengan baik oleh keluarganya, sehingga hal yang terjadi saat ini timbulah rasa tidak percaya diri yang mungkin tidak di sadarinya, reaksi yang muncul kini ia menjadi sangat posesif dan protektif yang berlebihan terhadap saya. Padahal saya tidak melakukan apa yang ia curigakan pada saya.

Hal itu berlangsung selama 12 tahun saya menjalani hubungan dengannya. Pada saat itu saya sadar bahwa itu adalah buruk untuk sebuah hubungan "pacaran" yang tujuannya adalah komitmen pernikahan buat saya. Menjadi lebih buruk lagi adalah selama menjalani hubungan tersebut tidak ada sedikitpun pembicaraan mengenai jenjang hubungan yang lebih dari sebuah pacaran. Meskipun saya juga sudah mengkomunikasikan padanya namun ia selalu menghindari obrolan yang berkaitan dengan “mau akan dibawa kemana hubungan ini ?”

Selama 5 tahun sebelum berakhirnya hubungan saya dengannya, banyak hal yang sangat buruk terjadi, salah satu yang terburuk adalah ketika pasangan saya berusaha melakukan pengintaian pada saat saya melakukan kegiatan mengajar di sebuah universitas, hubungan baik saya dengan anak didik saya dicurigai-nya. Belum lagi ketika tiba-tiba seorang kolega kerja saya mendapat SMS yang berisi caci maki dan tuduhan sebagai laki-laki yang selalu mengganggu hubungan orang, dalam SMS itu disebut beberapa nama perempuan termasuk nama saya. Hal ini saya ketahui belakangan karena beberapa sahabat yang mengetahui kondisi hubungan saya dengannya, mencoba melakukan perlindungan terhadap saya.

Dalam kondisi tertsebut saya masih sempat tetap  rasional dan memahaminya dengan melakukan usaha agar membuatnya percaya kalau saya sangat menyayanginya dan tidak berbuat aneh-aneh dengan rekan sejawat saya,  Saya tahu ia cemburu terhadap kolega dan semua partner pria yang berada di sekeliling saya, yang menjadi rekan kerja saya, oleh karenanya saya sempat jaga jarak dengan kolega dan beberapa rekan pria yang sedang kerja bareng dengan saya. Sayapun beberapa kali kerap melibatkan pacar saya juga untuk ikut bertemu atau sekedar kumpul bareng dengan kolega saya tersebut supaya mereka saling mengenal. Komunikasi secara baikdengannya pun untuk menjelaskan bahwa saya dan kolega saya tidak ada hubungan apapun juga tidak bisa meyakinkan dia kalau saya memang murni berurusan dengan mereka adalah sebatas urusan pekerjaan, tidak ada maksud lain. Namun, pacar saya tidak berubah ia tetap dengan sikapnya untuk terus berlaku over protectif terhadap diri saya dan rekan kerja saya.

Pengalaman tersebut adalah hubungan yang buruk yang saya alami, dan juga untuk semua orang di sekitar saya, tapi hal itu bukan sebuah hubungan yang mengecewakan, karena saya tidak merasa kecewa dengan pengalaman tersebut, dan tidak juga kecewa dengan pacar saya itu. Saya tidak berharap pacar saya berubah,  karena saya tahu bahwa kita tidak akan pernah bisa merubah orang lain. Ketika kita berharap pasangan berubah, rasanya seperti kita menolak keunikan sifat manusia yang Tuhan ciptakan. Yang saya harapkan ketika saya sadar akan hubungan buruk ini adalah dengan saya bisa menguatkan hati saya agar hubungan ini menjadi baik. Yang saya yakini pada saat itu adalah tidak ada pasangan yang akan menyakiti pasangannya, dan semua yang terjadi adalah dengan sebuah alasan, karena saya saat itu masih yakin kalau dia adalah laki-laki yang baik untuk saya. Di tiga tahun terakhir saya selalu mengambil moment tahun baru untuk bicara serius mengenai pernikahan, tapi selama 3 kali tahun berganti, tidak ada jawaban dan reaksi apapun mengenai hubungan saya ke jenjang yang lebih serius.

Hal tersebut memantapkan saya untuk menyelesaikan hubungan ini, ia memang belum mau membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius dan menurutnya cara ia memperlakukan saya selama 12 tahun tersebut adalah cara terbaiknya dalam menjalani relationship. Puncaknya adalah ketika ia makin getol mengintai saya lewat media sosial dan meneror beberapa rekan kerja saya karena dianggap sebagai perusak hubungan. Ok...its enough, segala usaha sudah saya lakukan saat itu dan ia masih menganggap bahwa apa yang dia lakukan adalah benar, Akhirnya hubungan tersebut yang sudah jalan 12 tahun harus saya akhiri.

Sejak perpisahan dengannya, terus terang saya lega. Karena sudah tidak harus merasakan batin yang tertekan karena di cemburi dan di curigai. Dari pengalaman bad relationship ini sayapun tidak lantas menyalahkan bahwa mantan pacar saya itu mutlak salah. TIDAK. Ia hanya korban dari sikap buruk dan budaya keluarganya yang otoriter dan kurang menghargai dia seadainya itu tidak terjadi saya yakin dia itu pria yang baik. Cara dia mencintai saya lah yang keliru.

Bagaimana cara mengelola reaksi emosional saya saat menghadapi bad relationship tersebut ?

Perasaan emosi, marah, bingung, ketakutan setiap saat, terpojok adalah reaksi yang selalu ada selama saya jalani hubungan tersebut. Tetapi perasaan pernah bahagia, senang dan tertawa bersama pasangan juga menjadi bagian dari hubungan buruk tersebut. Hal ini yang menjadi bagian dari proses awal ketika kita harus bertoleransi dengan emosi yang muncul. Menyadari keputusan saya pada saat  itu adalah cara saya mengelola emosi negatif yang ada. Karena menurut saya ketika kita sadar akan keputusan kita menerimanya sebagai pasangan, sadar akan memilih untuk tetap bersamya (tidak memutuskan hubungan), dan sadar bahwa kita tidak melukai siapapun, menjadi kunci utama saya dalam meredam emosi. Selain dengan keimanan yang sudah mengalir dalam diri saya, yang lahir dari budaya, keluarga, dan agama yang dijalani sejak kecil.

Pelajaran yang saya dapatkan

Ini pelajaran untuk saya juga agar bisa lebih memahami lagi emosi  tiap orang khususnya laki-laki bahwa diantara kita pasti ada keunikan tersendiri bagaimana cara mencintai dan menjaga komunikasi 2 arah ketika akan atau sedang menjalani relationship, agar tidak timbul pikiran-pikiran liar yang negatif dari pasangan terhadap diri kita. Dengan lebih awal mengenalkan mereka dunia kita (pekerjaan dan aktivitas) kita pada mereka, kalau perlu mengenalkan mereka pada kolega kita itu nggak ada salahnya kok, agar merekapun bisa mengenal dengan baik juga orang-orang yang ada di sekeliling kita begitupun sebaliknya. Jadi, tidak timbul curiga, cemburu yang tidak mendasar.

Lalu pelajaran lain dari pengalaman yang saya dapat ini adalah bahwa komitmen dari awal harus dibicarakan dengan pasangan kita “mau dibawa kemana hubungan ini?” jangan sampai ini tidak terkomunikasikan dengan baik seperti saya dulu, hingga akhirnya mengendap lama dan hanya pacaran sia-sia tanpa ujung dan kepastian. Jika memang tidak serius lebih baik di hentikan, berteman saja dulu dnegan sebanyak-banyaknya orang di sekitar kita, agar terfilterasi sendiri mana laki-laki yang paling baik yang akan menjadi punggawa dalam love relationship kita.

Dalam menghadapi permasalahan, pemikiran positif yang muncul adalah kita mampu untuk menyelesaikannya, karena kita percaya dengan quotes "Bahwa permasalahan yang datang tidak akan melebihi kemampuan kita" Setuju hal ini untuk meyakinkan kita sebagai mahluk ciptaan yang memiliki akal budi untuk mengelola emosi dan keputusan. Tetapi kadang dengan quotes tersebut kita sebagai manusia menjadi "merasa" terlalu kuat sehingga lupa untuk memohon pertolongan-Nya. Ada waktu dimana kita harus berjuang dengan segala upaya untuk mengambil keputusan yang tepat dalam keadaan bimbang dan ketakutan, tetapi ada waktu dimana kita harus meletakkan masalah dengan segala keputusan yang sudah kita ambil. bukan untuk menyerah tetapi untuk membiarkan semesta menyelesaikannya.

Karena, selain andil kita sebagai manusia yang penuh dengan karakter ini, setiap permasalahan adalah ciptaan Tuhan, sebuah ujian yang diberikan kepada kita, dan kita harus yakin bahwa Tuhan juga sudah menciptakan akhir dari permasalahn ini. 

Berkat atau hal positif apa yang saya dapatkan dari pengalaman ini

Saya jadi bisa mengelola emosi sengan baik, ketika kita sudah sangat mengenal diri kita seperti apa, kita tahu kelebihan dan kekurangan kita, sifat kita mana yang harus kita tutup dan sifat mana yang harus di sebarkan untuk orang lain. Dengan kita melakukan reaksi emosional yang kita miliki, kita lebih mengenal diri kita. Dalam setiap permasalah yang kita hadapi, kita akan terus mendapatkan sesuatu dari diri kita yang kita tidak ketahui sebelumnya dan itu akan menjadi hal baik untuk dapat mengelola emosi di setiap kondisi. Selalu berusaha mengetahui kekurangan dan kelebihan yang ada dalam diri dan jangan malu terhadap kritik yang masuk untuk diri kita, karena terkadang saya butuh orang lain untuk melihat diri saya yang sebenarnya agar sifat ke-AKU-an kita tidak berlebihan dan berjalan seimbang.

Well, kini saya sudah menikah dengan pria yang saya yakin Tuhan memang sudah persiapkan dan berikan di waktu yang tepat. Saya berharap ia bisa menjadi sandaran saya yang terakhir yang Tuhan titipkan pada saya meski datangnya sedikit terlambat dari usia saya, namun ia bisa membimbing saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk melangkah bersama di jalan Tuhan sesuai dengan keyakinan saya. Seperti kata quotes, “Kadang kita dipertemukan dulu dengan orang yang salah, sebelum akhirnya Tuhan memberikan orang yang tepat untuk mendampingi kita, karena disitulah Tuhan melihat cara dan usaha kita menyelesaikan masalah dengan mengandalkan Tuhan”. Saya percaya itu.

 



Sari Widuri

No Comments Yet.