Menghadapi Pacar Yang Kasar


Saturday, 31 Mar 2018


 

#1 Cerita Cinta Apa Adanya.

Pernah dengar teman curhat tentang pasangannya yang sering kasar? Pasangannya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar? atau, cerita temannya teman yang habis harinya dengan menangis karena pasangan? atau bahkan punya pasangan yang sering kasar, menghilang tanpa kabar sampai (sebenarnya) diri sendiri sudah kehilangan rasa sabar?

Satu kalimat yang selalu saya dengar setiap kasus-kasus mengenai pasangan tersebut tersebar, “Gue sayang dia. Mungkin dia nggak bermaksud untuk memperlakukan gue kayak gitu”. Sebesar apapun sayang kamu, sekuat apapun kamu bertahan, kalau hubungan yang kamu jalani dengan dia sudah tidak baik untuk kamu (dan mungkin untuk dia), rasa yang kamu punya hanya akan semakin menyakiti diri kamu sendiri (dan dia).

Satu hari saya kedatangan seorang teman yang lama menghilang (kurang lebih 2 tahun) sejak terakhir kami bertemu di masa libur setelah lulus SMA. Berbagai cerita kehidupan yang terlewatkan selama masa kami tidak bertemu menjadi bahan obrolan yang menyenangkan, sampai titik di mana dia menceritakan kelakuan pasangannya yang tidak terdengar seperti sesuatu yang sepantasnya dilakukan oleh seorang kekasih kepada orang yang dikasihinya: memukul, kekerasan secara verbal, bahkan melontarkan ancaman yang berkaitan dengan masa depan teman saya.

#2 Bukan Hanya Perempuan yang Menjadi Korban.

Berbicara bad relationship tentu tidak hanya kita (perempuan) yang mengalaminya. Bad Relationship sangat mungkin terjadi pada laki-laki dan perlakuan yang hampir sama tidak benarnya juga mereka alami.

Memutuskan untuk pergi dari segala drama dan kesibukan yang dihadapi, ternyata bukan pekerjaan yang menjadi persoalan hidup yang rumit bagi seorang teman saya, laki-laki, dengan pekerjaan mapan yang diinginkan oleh banyak orang. Pasangannya selingkuh dan bersikeras tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan teman saya. Kalau kamu pernah baca kalimat bahwa “Faktanya laki-laki lebih tidak bisa mentoleransi perselingkuhan”, itu benar. Teman saya, berdasarkan pengakuannya, mengatakan bahwa dia tidak bisa lagi menemukan alasan untuk tetap bertahan setelah perselingkuhan tersebut diketahuinya. Namun, pasangannya yang posesif tidak mau hubungan mereka berakhir dan mengancam bahwa dia akan menyakiti dirinya sendiri kalau sampai hubungan mereka berakhir dan hal tersebut akan berdampak pada pekerjaan teman saya, dan catatan perjalanan karirnya, karena mereka bekerja di satu kantor yang sama.

Rumit? Sangat. Ancaman dan tindakan yang dilakukan oleh pasangan teman saya bisa dibilang merupakan tindakan yang destruktif, dan keluar dari lingkaran hubungan tidak sehat seperti ini bukan sesuatu yang mudah, terlebih lagi karir pribadi yang menjadi ancamannya. Mau tidak mau, teman saya harus menjalani apa yang diinginkan oleh pasangannya, untuk menjaga karirnya dan menjaga keselamatan pasangannya.

 #3 Dia Berharga Untukmu? Ingat, Kebahagiaan Dirimu Adalah Satu-Satunya yang Ingin Kamu Jaga.

Menjalani hubungan dengan seseorang menurut saya sama seperti kamu menyerahkan nyawa. Kepercayaan, kekhawatiran, dan kesetiaan pasti menjadi pertimbangan utama dalam menjalani sebuah hubungan. Ingat, afeksi memang perlu dan menjadi kunci dalam menjalani hubungan dengan seseorang, tapi jangan sampai kamu lupa bahwa yang paling utama adalah bagaimana kamu menyayangi dirimu sendiri. Berharganya pasangan bagi hidup kamu harus kamu seimbangkan dengan bahagianya diri kamu saat sedang sendiri maupun saat sedang bersama pasangan. Jangan sampai karena terlalu sibuk menjaga hubungan dan perasaan pasanganmu, kamu sampai lupa untuk juga menjaga diri dan hatimu sendiri. Kebahagiaan kamu adalah satu-satunya hal yang ingin kamu jaga selain kebahagiaan hubunganmu. Kalau kamu sendiri tidak bahagia, bagaimana kamu bisa bahagia bersama pasanganmu?

#4 Tidak Perlu Pertimbangan, Tinggalkan.

Kekerasan secara fisik maupun verbal, tidak bisa saling menjaga dan memperlakukan satu sama lain dengan baik akan menjadikan hubungan yang tidak sehat untuk kamu jalani. Selain tidak baik untuk hatimu, hal-hal negatif yang terjadi diantara kamu dan pasangan bahkan sampai melibatkan kekerasan secara fisik juga tidak akan baik dampaknya bagi kesehatan psikologis.

Jadi, apa lagi yang kamu pertimbangkan?

Di sisi cerita lain, sahabat terdekat saya memilih untuk mengurung diri dan menyalahkan dirinya atas semua keadaan buruk yang terjadi antara dia dan seseorang yang (hanya) dekat dengan teman saya (saat dia membutuhkan teman saya). Konflik tersebut bahkan membuat teman saya berpikiran untuk melukai dirinya sendiri. Lalu apa yang dilakukan orang itu di dalam kehidupannya? Menikmati hari-hari indah dengan gebetan barunya.

 Pengalaman Saya Ketika Harus Menjalani Hubungan yang Buruk dan Tidak Sehat

Berbalik sedikit ke pengalaman pribadi, rasanya tenggelam dalam isi pikiran yang sibuk menyalahkan diri sendiri karena hubungan dengan seseorang yang sebenarnya sama sekali tidak menghargai saya juga pernah membuat saya berada dalam situasi yang tidak baik. “This thing between you and me, is just a probation to me”. Persis. Kalimat itu yang dikatakannya kepada saya.

Saat itu saya sempat menjalani relationship dengan seorang pria sebut saja namanya Aldo. Beda usia saya dengan aldo adalah 6 tahun. Ada benarnya kalau kata orang usia tidak menjamin kedewaan seseorang. Saat itu saya berekspektasi Aldo laki-laki yang dewasa dan pastinya jalan pikirannya pun bijak. Ternyata 1 tahun menjalani relationship tersebut Aldo mulai menunjukkan karakter dia sebenarnya. Salahnya saya juga dulu terlalu tinggi berangan-angan kalau Aldo adalah sosok laki-laki sempurna secara karakter untuk saya, maklum biasa kalau pacaran pasti awalnya manis dan wise dulu yang ditampilkan.

Pada saat itu saya terlalu menjaga perasaan aldo, ada ketakutan kalau dia nanti meninggalkan saya bagaimana, kalau dia mendua dengan perempuan lain dan pergi dari, lalu saya  saya bagaimana dan kekhawatiran lainnya. Sampai-sampai ketika Aldo berbuat tidak baik dengan berkata kasar dan memaki saya di depan umum hanya karena saya telat menemuinya ketika ia menjemput saya yang selalu meminta maaf padanya dan berusaha memperbaiki keadaan dan melembutkan hatinya lagi. Kalau di ingat-ingat lagi sikap saya ke Aldo sangat berlebihan, bagaimana ia bisa menghargai saya jika saya tidak menghargai diri saya sendiri dengan tetap menerima sikap dan perlakuan kasar darinya. Jika memang ada satu keadaan saya yang salah bukan berarti dapat dibenarkan jika ia mencaci maki saya di depan kantor saya . 

1 tahun saya mencoba menenangkan hati saya sendiri dan mencoba berdamai dnegan keadaan berharap ia akan berubah suatu hari nanti. Tapi sampai kapan ?. Pikiran saya berubah setelah saya mengikuti diskusi di satu komunitas tentang Healthy Relationship. Sepulang dari acara tersebut saya mendapat pencerahan tentang relayionship yang baik adalah bukan hanya yang sering bilang sayang, sering nanya sudah makan atau belum, sering nanya kabar dimana dan sebagainya, tapi love relationship yang baik adalah yang bisa membwa diri kita pada mental yang sehat juga. Tanpa kekerasan baik fisik maupun lisan dan tanpa membuly pasangannya sendiri.

 Saya pikir-pikir lagi buat apa saya mempertahankan seseorang yang sudah tidak bisa bersikap baik pada orang yang katanya ia “sayang”. Karena seseorang yang benar-benar menyayangi saya adalah ia yang tidak bersikap kasar pada pasangannya, jika pasangannya salah bukan dengan bersikap kasar yang harus ia tunjukan, bukan dengan mengontrol saya tetapi dengan mengarahkan, memberitahu mana yang kurang di dalam diri saya. Akhirnya saya coba menemui Aldo untuk berbicara dari hati ke hati padanya. Saya tanyakan padanya apakah ia masih tetap ingin menjalani hubungan ini dengan saya, saat itu saya memintanya untuk tidak bersikap kasar pada saya meski dalam hal kecil, saya minta ia untuk bisa menjaga emosinya karena jika ia berniat ingin membentuk saya bukan dengan bersikap kasar., itu tidak akan masuk dan sampai pesannya ke saya yang ada hanya ketakutan yang saya dapatkan. 

Aldo bilang ia masih ingin bersama saya, ia pun meminta maaf atas semua sikapnya pada saya dan memberitahu saya tentang kekurangan yang ada di dalam diri saya yang harus saya perbaiki. Ok, akhirnya hubungan kami saat itu masih terus berlanjut dan ia berubah jadi lebih nice dan wise, namun itu hanya 6 bulan saja sebelum akhirnya ia menduakan saya. Saya mendapati dia sedang berjalan dengan perempuan lain di satu mall, saya menegur Aldo dnegan cara baik-baik dan disitu si perempuan yang sedang bersama dia pun malah seakan memancing emosi saya untuk bereaksi dengan kata-kata yang cukup provokatif. Perempuan itu  mengaku kalau ia sudah menjalin hubungan dengan aldo hampir 1 tahun. Itu berarti aldo menduakan saya selama ini. Sudah bersikap kasar, posesif dan berselingkuh di belakang saya. Ok baiklah saat itu saya pikir hubungan ini memang harus di akhiri karena sudah tidak menyehatkan mental saya.

 Bagaimana Sikap Saya  Ketika Bertemu Aldo dengan Teman Wanitanya?

Apakah saya marah-marah sampai harus jambak-jambakan rambut dengan wanita tersebut seperti video-video di sosial media ? jelas tidak dong. Yang asaya lakukan adalah

  1. Berbicara pada Pasangan. Saya bicara pada Aldo sambil mengatakan padanya kalau mulai detik itu kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dan saya meminta dia untuk tidak lagi menghubungi saya. Pada perempuan itu ? saya tidak mengatakan apapun padanya karena untuk apa, saya tidak ada urusan dengan wanita itu. Urusan saya dengan Aldo.
  2. Selesaikan apa yang harus di selesaikan, jangn ditunda lagi jika memnag sudah tahap krisis relationship. Ketika kita sedang ada masalah dengan pasangan pastikan kita tidak menyerang dan menyalahkan orang lain meskipun kita tahu orang lain itu memiliki andil besar yang membuat hubungan kita menjadi buruk dengan pasangan, Selesaikan dengan pasangan kita karena ia yang sedang bermasalah dengan kita.
  3. Ambil dengan tegas segala keputusan jika memang kondisinya sudah buruk dan lebih banyak merugikan diri, berhenti memiliki perasaan takut atau khawatir dengan status single. Karena kalau dipikir-pikir lagi lebih baik single tapi happy daripada memiliki pasangan yang mendua, tempramen dan kerap menyakiti.

 Marah, sedih, kecewa namun saya bisa kuat menghadapinya karena ada perasaan lega di hati saya. Bersyukurnya karena ini masih tahap pacaran belum sampai menikah, saya tidak harus berlama-lama pacaran dengan laki-laki seperti Aldo jadi tidak harus membuang waktu dan energi saya hanya untuk meladeni sikap aldo yang tidak baik pada saya.

Setelah berpisah dari Aldo saya mengurung diri dikamar atau menangis meraung-raung meratapi diri saya yang sudah kehilangan Aldo? Tentu tidak, setelah berpisah dari Aldo saya malah lebih banyak kesibukan yang bisa saya lakukan, kata teman-teman muka saya lebih berseri  nggak kusut heehee.... Saya bisa lebih produktif dan malah bisa menyelesaikan kuliah saya dan saya kini jauh lebih bahagia.  Anugerah terindah bukan? 

 Saya juga jadi punya waktu berkumpul dengan sahabat-sahabat saya yang dulu ketika pacaran tuh saya selalu nggak ada waktu, karena waktu saya hanya untuk Aldo. Stupid ?memang tetapi dengan ke-stupid-tan ini bagian  dari proses bertumbuh diri dan emosi yang memang sudah seharusnya saya lalui. Coba kalau nggak stupid, nggak akan kebentuk diri saya seperti sekarang. Buat Urbanesse yang mungkin saat ini sedang menjalani situasi buruk dan tidak sehat dalam relationshipnya seperti yang pernah saya alami tetap tenang dalam mengelola emosi dan sellau ingat bahwa jalan kita masih panjang masih akan pasti dalam hidup kita akan dipertemukan dengan laki-laki yang lebih baik dengan pasangan kita yang sekarang. Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, lalui apa yang seharusnya kamu lalui namun tetap realistis. Lebih baik kita banyak menangis saat masih sendiri daripada kita banyak menangis ketika sudah menikah, ladies. Karena ”Healthy Relationship Will Enchance Your Life, Ladies”.



mutiah nabilla

tidak terbiasa menyuarakan isi kepala dan tulisan menjadi ruang untuk berteriak

No Comments Yet.