Mengelola Reaksi Emosi Pada Masa Pacaran


Saturday, 31 Mar 2018


Saat single itu buat saya adalah waktu yang tepat untuk melatih diri, mengelola reaksi emosi diri saya khususnya ketika menghadapi hubungan yang buruk dan rumit dan masa pacaran itu bisa kita jadikan sarana untuk belajar memahami emosi-emosi dan karakter kita dan karakter laki-laki. Kalau kata mama saya, hitung-hitung saja ini bisa jadi bahan latihan saya bagaimana memiliki dan mengelola emosi yang baik nantinya untuk saya terapkan ketika sudah menikah. Ketika kita sudah terbiasa bereaksi positif dan baik pada masa pacaran, kemungkinan besar karena terbiasa ini bisa menjadi bekal ketika saya sudah menikah  nanti. Karena kehidupan pernikahan itu bukan hanya fisik yang berperan tapi juga mental kita setiap hari akan diuji. Masa pacaranlah tempat kita latihan mengenali mental khususnya diri kita sendiri.  Itu kata Mama.

Saya pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang sempat saya sebut sebagai ‘pacar’ dengan status long distance relationship. Entahlah, sedikit aneh dengan hubungan seperti ini. Berpacaran hanya lewat telepon genggam tanpa pernah melalui cerita bersama seperti kisah kebanyakan pasangan kekasih. Merasa sedikit bodoh harus memaksakan diri waktu itu untuk menerimanya melalui sebuah sms.

Sebelum saya mengenal dia, saya sudah lebih dulu mengenal kakak perempuannya sebagai salah satu teman kakak laki-laki saya semasa kuliah. Karena hubungan hangat yang saya jalin dengan kakaknya, saya sering ‘hang out’ dengan kakaknya. Sampai suatu hari ketika saya mengunjungi kakaknya (sebut saja Mila), saya bertemu dengannya. Itulah awal pertemuan dan perkenalan saya dengannya.

Tidak ada yang spesial darinya, saya sama sekali tidak memiliki ketertarikan dengannya. Mungkin juga dikarenakan saya bukan tipe perempuan yang cepat akrab dengan sosok lelaki pada waktu itu. Semakin hari hubungan saya dengan kakak perempuannya semakin dekat, itu pula yang membuat saya semakin sering berkunjung ke rumahnya. Sikapnya pun kepada saya semakin terlihat ramah dan mulai mencoba akrab dengan saya.

Mulai ada perasaan bertanya-tanya ketika dia mulai mencari tahu lebih banyak tentang saya kepada adik saya yang sudah terlebih dahulu kenal dengannya. Saya mencoba menghempas pikiran-pikiran yang membuat saya sedikit aneh dengan sikapnya yang mulai menujukkan ketertarikan pada saya. Saya tidak ingin ‘GR’ meskipun saat itu intuisi saya mulai bermain.

Baru saja kami saling mengenal, kami harus berpisah dikarenakan saya harus melanjutkan studi ke luar provinsi. Jarak yang memisahkan kami justru semakin membuat dia ‘keukeuh’ untuk mendapatkan simpatik saya. Bukan saya luluh begitu saja, tapi saya berusaha menghargai bagaimana usahanya mendekati saya. Setahun sudah kedekatan kami terjalin dengan baik, dan benar dugaan saya, dia pun akhirnya mengungkapkan perasaannya yang telah dia pendam sejak pertama kali kami bertemu.

Hambar. Itu yang saya rasakan waktu itu. Dia bukan lelaki dalam daftar kategori saya. Sama sekali tidak. Awalnya saya berniat menolaknya karena saya tidak pernah mau menjalani suatu hubungan dengan orang yang tidak saya sukai dan memang sudah keinginan saya untuk tidak ‘berpacaran’. Namun entah kenapa, kali ini saya berpikir untuk meminta pendapat dari sahabat-sahabat saya mengenai apa yang harus saya putuskan, apakah menerimanya atau menolaknya.

Sampai suatu waktu, ketika dia kembali menanyakan perihal itu, saya pun memutuskan untuk menerimanya. Bukan karena saya memiliki rasa suka apalagi sayang. Saya hanya mencoba menerima masukan dari sahabat-sahabat saya untuk belajar membuka hati kepada lelaki yang memang mau berjuang untuk saya. Berat dan sedikit terpaksa waktu itu. Saya merasa telah melanggar prinsip saya.

Menjalani hubungan dengan keadaan terpaksa memang tidak mengenakkan. Dia bahagia, tapi tidak dengan saya. Setiap kali saya mulai merasa ‘ilfeel’ dengan perhatian yang diberikan, setiap kali itu pula saya berusaha mengingat kebaikan-kebaikannya. Berusaha berpikir positif dan mulai menerimanya bukan hal yang mudah bagi saya. Saya butuh waktu yang cukup lama untuk memunculkan perasaan ‘suka’ padanya.

Setahun menjalani sebuah hubungan yang menurut saya aneh ini pada akhirnya mulai membuat saya sedikit luluh. Saya mulai menerima dan mengakuinya sebagai pacar ldr saya. Ya, walaupun setelah jadian, kami tidak pernah bertemu. Hubungan kami yang hanya sebatas telepon, sms, dan chat cukup membuat kami semakin akrab dan semakin dekat.

Saya mulai sibuk dengan handphone, jam tidur mulai berantakan dan waktu saya mulai tidak terarah. Saya suka mencuri-curi waktu untuk bisa berkomunikasi dengannya di jam kuliah maupun saat kumpul dengan teman-teman. Saya berubah dan bukan seperti saya yang dulu. Ditambah perbincangan kami saat berbicara lewat telepon bukan lagi sekedar bertanya kabar dan aktivitas sehari-hari tapi sudah mengarah ke target pernikahan.

Konyol. Itu yang mulai terbersit dalam pikiran saya ketika saya mulai menyadari tidak ada motivasi yang saya dapatkan dari hubungan ini. Saya seperti menjalani hubungan cinta monyet layaknya anak ABG yang masih menggebu-gebu dan belum bisa menstabilkan emosi dan perasaan cinta yang sebenarnya. Saya merasa bosan dan mulai berontak dengan hubungan kami. Hubungan ini seolah mengarahkan saya untuk menjadi sosok lain yang bukan diri saya. Sikapnya menjadi berlebihan dengan melontarkan komentar-komentar yang berkaitan dengan penampilan saya. Saya memang bukan seorang perempuan feminine yang lembut dan berbicara saat itu. Saya cuek, sedikit kasar, dan selalu nyaman dengan penampilan saya. Dan ketika dia bersikap demikian, disitulah saya merasa dia sedang ingin mengubah saya. Tapi saya mencoba untuk bisa meredam dan memaafkan sikapnya.

Pernah saya bercerita tentang cita-cita dan meminta dukungan darinya sebagai seorang pacar. Namun apa yang saya terima, hanya sebuah sindiran yang membuat telinga saya panas dan membuat emosi saya naik berkali lipat. Saya merasa dia mematahkan semangat saya dengan alasan usia dan genre saya yang seorang perempuan  seolah tidak perlu berambisi untuk menjadi seorang perempuan yang sukses. Saya tidak mengerti apa yang ada dalam isi kepalanya waktu itu.

Banyak pertanyaan muncul dalam benak saya tentang hubungan yang sehat Itu seperti apa. Saya sama sekali tidak menemukan motivasi dengannya. Yang ada hanya kumpulan emosi-emosi yang siap meledak sewaktu-waktu dia melakukan kesalahan. Benar-benar bukan relationship yang saya impikan selama ini. Keputusan saya untuk menerima dia sebagai seorang pacar mengkategorikan saya dalam perempuan bodoh yang sudah melanggar prinsipnya. Saya menyesal. Namun saya sudah terjun dan ini adalah pilihan saya.

Keputusan saya sudah bulat. Setelah dua tahun bersama dalam status berpacaran, saya mengambil keputusan yang menurut saya sangat bijak. PUTUS. Tidak ada yang perlu saya pertimbangkan dalam memutuskan jalinan ini karena memang pada dasarnya saya tidak pernah memiliki rasa suka dengannya. Bagi saya ini hanyalah sebuah kekhilafan yang jika saya tetap survive disana, maka akan berdampak buruk pada diri saya. Dua tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk mengambil keputusan berpisah dengan pacar saya itu. Namun, saya pikir ini adalah proses yang memang harus saya lewati agar saya kedepannya dapat menjalani good relationship bukan lagi bad relationship. Dan dari pengalaman inilaj saya belajar tentang  bagaimana bereaksi terhadap emosi dalam keadaan bad relationship. Ini saya terapkan di dalam relationship saya berikutnya.

  1. Ketika saya sudah memutuskan berkomitmen (pacaran) saya tetap menjadi diri saya sendiri, saya tampilkan diri saya apa adanya saya. Saya tidak mau menjadi orang lain atau berpura-pura feminin seperti cerita cinta saya yang dulu namun tetap dibarengi dengan selalu menghargai masukan dari pasangan kita.
  2. Terima masukan dari pasangan kita dengan baik. Jika memang tidak sesuai dengan pribadi kita tanggapi/bereaksilah dengan baik dan positif. Cara saya menanggapi masukan yang tidak sesuai dengan diri saya adalah dengan cara bereaksi baik dan menanggapinya dengan candaan. Misalnya saat itu saya di kritik pacar yang mengatakan bahwa saya tidak pantas berambut pendek, pacar meminta saya rambutnya dipanjangin. Saya menanggapinya dengan candaan dan setelah saya pikir ulang, saya pun mencoba membiarkan rambut saya panjang. Dan benar saja reaksi yang saya dapat dari diapun malah jauh lebih fun dan tidak ada kesan bully di dalamnya. Saya pun mulai menikmati rambut panjang saya dan tersenyum tiap kali saya menatanya.
  3. Dalam suatu love relationship (pacaran) pasti akan selalu ada kalanya kita akan di hadapkan dalam situasi buruk seperti cerita saya yang dulu itu. Tetap tenang, jangan takut/cemas akan kemungkinan-kemungkinan yang belum pasti terjadi setelah kita putus dengan pacar kita nanti. Karena dulu saya sempat takut mutusin pacar saya, namun saya piki-pikir lagi untuk apa menjalani relationship dalam kondisi hubungan sudah lebih banyak membuat saya sakit hati dan nggak nyaman.
  4. Yakinlah bahwa keputusan yang kita ambil adalah yang terbaik, jangan pernah menyesalinya karena ini satu fase dimana harus saya lewati pengalaman-pengalaman yang menguras emosi saya selama berpacaran. Ingat ini masih tahap pacaran jadi santai dan realistis saja menjalaninya. Ini cukup bagus loh sebagai cara saya mengelola reaksi diri ketika sedang ada masalah dengan pacar.
  5. Bertanggung jawab atas pilihan saya, saya sadar setiap manusia pasti memiliki kekurangan begitupun pacar saya. Jika pacar saya bisa berbuat demikian pasti ada sebabnya dan saya selalu mengkomunikasikannya ke dia.
  6. Realistis saja. Sempat pernah mendapati pacar saya selingkuh dengan teman kuliahnya dulu. Saya tidak bereaksi berlebihan malah saya putusin pacar saya itu, dan menyerahkannya pada wanita tersebut dengan memberi senyuman tulus, karena saya merasa lega lepas dari pria yang salah. Berpikir positif bahwa perempuan yang menjadi selingkuhan pacar saya itu adalah memang pantas dan ini sudah pasti yang terbaik untuk saya. 3 bulan saja saya move on.

Sekarang saya memang belum menikah,  namun cerita pengalaman  bagaimana saya mengelola reaksi diri ketika emosi ini saya bagikan sebagai catatan bahwa mengelola reaksi diri ketika emosi tidak harus selalu bisa dilakukan dengan mereka yang sudah menikah saja, tetapi kitapun yang masih single dan ada di tahap pacaran sangat bisa kok mengelola reaksi diri yang baik ketika hubungan kita buruk atau mengecewakan. Karena kitalah yang memilih mau bereaksi emosi baik atau buruk. Kalau saya pilih yang baik saja untuk diri saya, karena kalau saya bereaksi buruk yang rugi pastinya diri saya sendiri, kan?

Dan ada perasaan lega ketika saya kembali menjalani hidup saya sendiri tanpa dia saat itu. Tidak berkomunikasi lagi dengannya adalah sebuah anugerah bagi saya. Saya tidak membencinya, saya anggap ini cara Tuhan memberi saya pelajaran bagaimana mengelola emosi yang baik dalam relationship yang baru nantinya. Bagaimanapun dia pernah berbuat baik pada saya. Saya mulai belajar mengintrospeksi diri, belajar untuk menghargai sebuah proses dan pengalaman buruk untuk mendewasakan saya dalam mengambil sebuah keputusan. Sehingga suatu hari nanti ketika saya kembali menjalin hubungan dengan seorang pria, saya bisa menyikapi setiap permasalahan yang muncul dengan jauh lebih bijak.

Saya Single, dan saya memilih bereaksi baik meski dalam kondisi yang nampak buruk dalam relationship saya.

Saya bisa, kamupun juga bisa Ladies.



Suqesy

Ada sisi terbaik yang perlu kau lihat di dalam dirimu saat berada pada titik terendah.

No Comments Yet.