Mencurahkan Emosi Tidak Harus Dengan Kemarahan


Wednesday, 30 Aug 2017


Kebanyakan wanita lebih sering menggunakan perasaan atau emosi daripada logika dalam menghadapi masalah hidup. Terkadang hal tersebut bukan nya mengurangi masalah, seringnya malah membuat masalah menjadi lebih rumit. Sebagai wanita kita harus bisa mengontrol emosi atau perasaan, terutama jika sudah hidup dalam rumah tangga. Karena bagaimana mungkin kehidupan rumah tangga akan tenang, kalau diri sendiri saja tidak bisa tenang dan mengendalikan emosi. 

 

Saat awal menikah saya dan suami sering berselisih paham, yang tentu nya berakhir dengan pertengkaran. Maklum saja sebagai pasangan baru kami masih dalam tahap beradaptasi dengan sifat dan karakter masing-masing. Padahal masalah yang menjadi penyebab pertengkaran biasa nya hanya masalah sepele saja, yang membuat saya semakin kesal adalah suami saya biasanya hanya diam saja saat saya marah. Jadi biasanya pertengkaran berakhir bukan karena ada solusi, tapi karena saya sudah capek marah-marah. Hal seperti itu seperti nya menjadi bumerang untuk hubungan kami, segala masalah yang tidak selesai menjadi bertumpuk dan menimbulkan kemarahan yang lebih besar untuk saya. Beberapa kali saya pulang kerumah orangtua dan berpikir tidak mau kembali lagi, walaupun pada akhirnya setelah dibujuk keluarga saya tetap kembali lagi kerumah. Biasanya ibu saya yang selalu memberi nasehat agar saya belajar lebih sabar. 

 

Suatu hari di umur pernikahan hampir setahun, saya mulai berpikir apakah pernikahan ini akan selalu seperti ini? Saya selalu merasa tidak didengarkan dan seperti nya suami merasa saya terlalu gampang emosi dan marah karena masalah kecil. Akhirnya saya memutuskan menulis surat pada suami saya, saya menulis kan semua hal yang saya tidak suka dari sifat suami saya dan semua hal yang membuat saya menjadi marah-marah. Seperti saya kesal karena suami saya memilih menonton televisi setelah pulang kerja padahal saya mau nya kami mengobrol santai, atau saat suami tidak bisa menemani saya ke undangan karena ada pekerjaan di hari libur. Saya memberikan surat tersebut sebelum berangkat ke kantor, keesokan hari sebelum saya berangkat ke kantor saya melihat catatan yang ditinggalkan suami sebelum berangkat kerja. Ternyata suami saya membalas surat yang kemarin saya berikan, dalam surat tersebut dia meminta maaf kalau selama saya merasa tidak pernah didengarkan. Suami saya menjelaskan bahwa dia cuma bingung kalau saya kesal dan memilih untuk diam daripada salah ngomong, yang ternyata dia juga baru tahu justru hal itu yang membuat saya tambah kesal. Dia juga menulis beberapa hal yang tidak dia suka dari sifat saya. Setelah membaca surat tersebut pikiran saya jadi terbuka, selama ini yang kami ributkan hanyalah masalah-masalah kecil yang seharus nya bisa dibicarakan baik-baik. Tapi hal tersebut menjadi besar karena saya tidak bisa mengontrol emosi dan suami saya tidak bisa mencurahkan apa yang dia pikirkan atau rasakan. Suami saya adalah anak tunggal yang terbiasa hidup sendiri, karena itu dia terbiasa untuk menyimpan pikiran dan perasaan nya sendiri, dan sepertinya melalui tulisan dia jadi lebih mudah mencurahkan pikiran dan perasaan nya selama ini. 

 

Setelah itu setiap ada masalah kami akan saling menulis surat dan hal ini ternyata membuat keadaan menjadi lebih tenang. Kami jadi lebih mengerti sifat masing-masing dan kadang kami membahas isi surat tersebut sambil mengobrol santai. Kelihatannya sepele tapi ini berefek besar pada cara kami dalam belajar mengelola emosi. Sekarang di tahun ke 8 pernikahan kami hampir tidak pernah menulis surat kecuali kartu ucapan saat ulang tahun atau ucapan selamat lain nya, mungkin karena masing-masing sudah mengerti satu sama lain. Sekarang saya sudah bisa mengontrol emosi saat ada masalah dan suami saya sudah lebih bisa berkomunikasi dengan lebih terbuka. Saat ada masalah kami sudah tidak perlu saling menulis surat, karena kami sudah bisa membicarakan masalah tersebut dengan tenang atau sambil mengobrol santai sepulang kerja. 

 

Banyak hal yang saya pelajari selama 8 tahun pernikahan, dan pelajaran yang saya dapat dari awal-awal masa berumah tangga merupakan hal yang menurut saya menjadi pondasi hubungan kami sampai saat ini. Saya jadi menyadari bahwa sabar dan mengontrol emosi adalah hal yang sangat penting karena setiap masalah bisa diselesaikan lebih baik dengan kepala dingin. Banyak cara belajar mengontrol emosi, dan untuk saya ternyata mencurahkan pikiran dan isi hati melalui tulisan menjadi salah satu cara yang ampuh. Dengan menulis kan nya saya dan suami jadi bisa melihat masalah dengan lebih jelas, kami jadi bisa lebih mengerti diri dan perasaan masing-masing saat membaca surat yang kami tulis. Sehingga kami bisa mencari solusi untuk masalah tersebut bersama tanpa perlu bertengkar dan menambah masalah baru. Lagipula daripada curhat di sosmed dengan harapan suami membaca dan malah menjadi konsumsi public, lebih baik menulis surat ke orang nya langsung  kan J Kelihatannya sepele tapi ini berefek besar pada hubungan kami berdua

 

 



Rara

Mom of two adorable daughters. Love books, yoga and photography. Living life gratefully.

No Comments Yet.