Mencintai Diri Sendiri Dulu, Dicintai Kemudian


Tuesday, 30 Oct 2018


Sering kali kita bingung dengan tujuan hidup kita. Banyak orang terutama perempuan  apabila ditanya apa tujuan hidupnya, most of them mengatakan bahwa mereka ingin BAHAGIA. Well, bahagia seperti apa yang kebanyakan orang inginkan?

Kebanyakan dari mereka have no idea kenapa ingin bahagia dalam hidupnya. Salah satunya ketika ditanya mengapa ingin kebahagiaan dalam pernikahan? Kebanyakan wanita ketika ditanya jawaban mayoritas adalah karena ingin mengikuti ajaran agamanya, menikah dan punya keluarga (itulah ukuran kebahagiaan yang di stigmakan), menyempurnakan separuh agama, ingin terbebas dari masalah, tidak ingin sengsara lagi dan lain sebagainya. Kemudian apabila kita gali lagi, apakah dengan menikah mereka otomatis menjadi bahagia? Apakah dengan bertemu pria yang tepat, lalu berhasil menikah dengannya bisa membuat wanita otomatis memiliki kehidupan cinta yang membahagiakan? J

Lalu apa yang membuat kita benar-benar bahagia, jika ternyata hal diatas tidak membuat otomatis bahagia? Karena ketika semua hal tersebut sudah tercapai, kita akan bertanya-tanya kembali pada diri kita “lalu selanjutnya apa?”. Menikah dengan pria yang tepat sudah, lalu selanjutnya punya anak? Lalu mendidik dan membesarkannya, mengejar keadaan ekonomi tertentu agar bisa leluasa menghidupi keluarga, setelah mereka lulus sekolah dan dewasa, satu persatu pergi meninggalkan kita untuk membangun keluarganya sendiri, lalu apa?

IMHO, bahagia itu sederhana... bahagia adalah ketika kondisi hidup kita sesuai dengan ekspektasi kita. Bahagia adalah ketika kita dapat mencintai dan bersyukur dengan apa yang kita miliki. Bahagia adalah salah satunya dapat mencintai diri kita sendiri. Dengan mencintai diri kita sendiri, kita menjadi tahu apa yang menjadi ekspektasi kita dan bagaimana cara mewujudkannya. Misalnya, pekerjaan kita lancar, kita akan bahagia karena memang ekspektasi kita seperti itu. Kita tidak bahagia apabila pasangan kita selingkuh, karena itu memang bukan ekspektasi kita.

Pengalamanku Mencintai Diri Sendiri

Aku memiliki pengalaman tentang self love dan hingga saat ini aku dapat menjadi diriku sendiri dengan mimpi dan cita-cita disampingku. Aku adalah anak yang tumbuh di keluarga sederhana. Impian keluarga tidak tinggi, karena keluargaku cenderung “kalau tidak bisa ya sudah tidak perlu ngoyo”. Padahal, aku memiliki impian besar. Aku memiliki motto hidup GROW and GIVE. Aku bisa bertumbuh dan dengan bertumbuh aku bisa berbagi. Bagaimana aku dapat GROW jika keluargaku takut jika aku memiliki mimpi yang tinggi. Tepatnya takut mengambil resiko. Padahal kita tidak pernah tahu sesuatu yang baru kalau tidak kita coba.

Dalam perjalanan menuju impianku ini memang tidak mudah. Aku pernah bekerja di perusahaan Singapore (vendor company dengan Bank untuk pengisian uang ATM), aku mengambil kerja shift malam dari jam 7 malam hingga jam 7 pagi, dan pagi itu aku ada kuliah jam 9 yang membuat aku tidak boleh tidur dulu sebelum aku pulang kuliah. Rutinitas tersebut tidaklah mudah, tapi aku yakin, usaha tidak menghianati hasil. Banyak pengalaman yang aku dapat sebelum perusahaan tempatku bekerja pindah ke lokasi yang tidak dapat aku jangkau lagi. Akhirnya aku pindah bekerja di sebuah Perusahaan Indonesia – Jepang, dan kuliahku aku mutasi ke malam hari.

Jika ditanya lelah, pasti jawabanku lelah sekali. Tapi aku tahu batas diriku dimana. Aku mencintai aktifitasku dan aku sangat bersemangat menjalani itu. Ekspektasi aku adalah aku dapat membahagiakan orang tua ketika mereka sudah pensiun, dan membiayai sekolah adik-adikku. Aku tidak ingin adikku patah semangat karena dorongan orang tua yang ingin anaknya hidup biasa saja. Aku yakin setiap manusia memiliki hal yang luar biasa didalam dirinya. Hanya saja lingkungan tempat kita bertumbuh mendukung atau tidak dengan kelebihan yang kita miliki. Dan cara agar kita dapat menumbuhkannya adalah dengan berada di lingkungan yang tepat.

Dan sekarang aku masih tetap menjadi diriku yang bersemangat dengan mimpiku yang beberapa sudah terwujud. Adik pertamaku saat ini juga sudah berjalan sesuai dengan mimpinya yaitu menjadi abdi Negara di Indonesia. Dan aku juga mencintai orangtuaku dan memberikan apa yang mereka butuhkan termasuk perhatian dari anaknya.

Aku memang sudah lama mengenal diri dan tahu dimana letak bahagia yang bisa aku temukan menurut versiku sendiri bukan menurut apa kata orangtua, apa kata masyarakat tetapi aku sudah tahu bahwa dengan menjalani apa yang aku yakini baik dan benar adalah satu step dimana itu adalah bagian dari caraku mencintai diri sendiri. Aku pembangkang ? Aku katakan, BUKAN, aku hanya menjalankan apa yang aku yakini benar dan baik menurut versiku. Aku tidak mau punya aturan baku dengan mengikuti apa kata orang, apa kata leluhur atau apa kata kultur, aku kerap melakukan tindakan yang kadang orangtuaku pun menganggap bahwa aku menyimpang dari aturan keluarga, seperti aku tidak mengikuti sepenuhnya apa kata mama saat aku memilih jurusan kuliah atau pada saat orangtuaku mematok di usia sekian aku harus sudah menikah lalu mereka ambil ancang-ancang untuk menjodoh-jodohkan aku dengan pria pilihan mereka, aku menolak bukan karena aku bangkang melainkan karena aku ingin memilih sendiri pria yang memang pantas untuk menikah denganku dan memilih pasangan yang menurutku adalah baik untuk diriku dan bisa membuatku benar bahagia.

Setelah aku melakukan ini, apakah orangtuaku marah dan drama dengan tangisan dan kutukan padaku ? tentu saja aku pernah mengalami kondisi tersebut juga, namun pada saat itu aku berpikir jika aku ladeni dengan melakukan tindakan drama dan emosi balik pada mereka, itu hanya akan membuat diri orangtuaku semakin emosi dan tidak akan menemukan titik temu, karena pastinya mereka ingin membuat diriku merasa bersalah yang teramat dalam. Saat itu aku memilih untuk keep calm dalam diam. Aku tidak merespon mereka namun tidak juga berkata kasar yang akan menyinggung mereka. Karena api jika bertemu api pasti salah satu akan terbakar bukan ? oleh karenanya aku memilih menjadi air di hadapan orangtuaku yang kala itu kerap berbeda pandangan denganku. Di waktu berbeda saat dimana mereka sudah tidak dalam kondisi emosi dan lebih dingin kepalanya, saat itulah aku bisa dnegan lancar,tenang dan sejuk menjelaskan pada mereka tentang cara berpikirku, tentang kebutuhanku dan keinginanku bahwa aku tidak bisa mengikuti apa kata mereka. Karena letak kebahagiaanku bukan di tangan mereka nantinya ketika aku menikah, bahagia dan tidaknya pasti aku sendiri yang merasakan, makanya aku jelaskan pada mereka bahwa aku bukan ingin melawan mereka dengan tidak mengikuti keinginan mereka, melainkan ini adalah bagian dari caraku menunjukkan pada mereka bahwa aku sudah dewasa dan punya kehidupan sendiri yang bisa aku pilih sendiri dan pastinya aku bertanggung jawab atas pilihan yang akan aku ambil kelak nanti. Aku katakan pada mereka, bahwa mereka tidak perlu mengkhawatirkan tentang jodohku, karena aku yakin bahwa Tuhan pasti mempersiapkan yang terbaik untukku, dan saat ini aku hanya ingin memantaskan diri untuk mendapatkan yang sesuai dengan apa yang aku butuhkan untuk saling melengkapi dan mengisi.

Orangtuaku akhirnya terbuka pikirannya bahwa dengan memberikan kepercayaan anaknya untuk menjadi diri sendiri adalah pilihan yang tepat agar seorang anak tahu kemana arah yang sesuai dengan passion- dan pilihan dalam hidupnyanya.

Kini aku sedang menjalin hubungan serius dengan seorang pria, ia adalah teman sekolahku waktu SMP. Kami sudah menjalani kebersamaan ini hampir 5 tahun, dan berencana akan menikah di tahun depan, orangtuaku dan orangtua pasanganku sudah memberi lampu hijau untuk hubungan kami di bawa ke jenjang yang lebih serius, semoga dilancarkan.

So, loving your self first unconditionally, Ladies

 

 

 



Park Yoo Ahn

No Comments Yet.