Menahan Diri untuk Tidak Berasumsi Negatif


Monday, 18 Jun 2018


Tema Urban Women kali ini cukup berat ya heeheee karena memang selama kita hidup isi hati dan kepala kita itu akan campur-campur, asumsi negatif dan positif terus akan bersama kita karena memang sejatinya manusia itu tidak lepas dari ketidaksempurnaanya yaitu memiliki prasangka-prasangka baik maupun buruk. Kita memang tidak bisa untuk tidak mengatakan bahwa kita tidak pernah punya pikiran jelek ke orang lain (saya hanya manusia biasa) pikiran negatif pun akan selalu muncul.  NAMUN, pikiran negatif yang muncul itu bisa kita kelola. Karena lagi-lagi semua itu pilihan, Memilih berprasangka baik sudah pasti mendatangkan kebaikan untuk diri kita begitupun jika kita berprasangka buruk, maka kebaikan akan menjauhi kita dan dari pengalaman saya memiliki asumsi negatif/ berprasangka buruk tidak membawa pengaruh positif ke diri saya, hati saya malah dipenuhi dengan kecurigaan tak beralasan, lelah hati dan cenderung melihat orang lain negatif saja.

Saya ingin cerita pengalaman saya tentang bagaimana akhirnya sampai sekarang bertumbuh menjadi pribadi yang bisa menahan diri untuk tidak mudah berasumsi negatif/berprasangka buruk terhadap sekeliling saya. Waktu SMP saya pernah di bully oleh teman-teman perempuan sekelas, hanya karena mereka anggap saya tidak pantas mendapat juara 1 di sekolah, saya dianggap curang. Padahal pyuur saya tidak meminta pada guru dan sekolah untuk menjadikan saya juara 1 lah mungkin memang saat itu saya sedang beruntung hingga harus berkali-kali semester hingga kelas 2 SMP saya selalu juara. Mungkin dari situlah awalnya saya jadi mudah berasumsi negatif /berprasangka buruk pada orang lain.

Bertambah parah ketika prasangka buruk ini saya hadirkan ketika saya masih kuliah maupun ditempat saya bekerja waktu itu.  Seperti misalnya ketika teman saya meminjam uang pada saya, lalu ketika saya menagihnya dia bilang akan bayar bulan depan saya langsung berasumsi negatif jangan-jangan dia mau kabur dan nggak akan bayar padahal kenyataannya teman saya membayar tepat waktu, tanpa saya tagih dan kejadian ini berulang pada teman saya yang lain ketika meminjam pengering rambut saya lalu saya berasumsi negatif sendiri “aduh nanti dibikin rusak deh kalau dipakai dia, aduh nanti nggak dibalikin dan gimana nanti kalau saya tagih takutnya dia marah dan bla bla bla...asumsi-asumsi negatif lainnya yang kerap saya munculkan sendiri (padahal apa yang saya pikirkan belum tentu terjadi tapi saya bisa sudah negatif duluan pada orang-orang tersebut).

Kemudian ketika ada seorang pria dekat dengan saya padahal pria itu sebenarnya biasa saja bukan ingin mendekati saya tapi dia hanya ingin berteman saja dengan saya, saya sudah berasumsi negatif sendiri “jangan-jangan nanti dia mau nembak saya, aduh nanti kalau pacaran sama dia saya kalau sampai putus saya bisa kehilangan sosok seorang teman, tapi apa dia benar cowok baik kan dia dekat sama semua perempuan mengapa hanya saya yang dia dekati?”.  Nggak tahunya ternyata, pria tersebut memang sudah punya pacar dan dia mendekati saya karena seperti teman-teman yang lainnya saja, karena pria tersebut memang dasarnya suple pada semua orang. Lagi-lagi asumsi negatif saya keliru. Memang asumsi negatif mungkin bisa diperlukan di beberapa kondisi dan situasi, tapi bukan berarti harus terus-terusan seperti saya, belum apa-apa asumsinya sudah berlebihan dan jujur saja saat itu sangat melelahkan.

Ditempat saya bekerja, saya bisa dengan mudahnya menyimpulkan kalau rekan saya pasti ada maunya ketika ia mendekati saya. Iya sih mungkin beberapa kali seperti itu kejadiannya, tapi saya keliru kalau saya mengetok rata bahwa teman-teman baik ke diri saya karena ada maunya, karena pada kenyataanya masih ada beberapa rekan saya yang memang benar baik dan tulus.  Kalau diingat kembali, mudahnya saya berasumsi negatif saat itu sepertinya sudah sampai pada tahap yang tidak membuat saya nyaman dan melelahkan karena kerap kali kenyataannya tidak pernah sama seperti yang saya asumsikan.

Semua berubah setelah Saya bertemu dengan kakak ipar saya namanya Kak Ingga yang kebetulan ia adalah seorang guru TK sekaligus psikolog anak. Saya lihat kakak ipar saya tersebut bisa tenang sekali menjalani hidupnya  meski suaminya tidak bekerja ia bisa tetap tenang berkarir sebagai seorang dokter di puskesmas sekaligus mengurus kedua putra putrinya, nggak kelihatan capek dan tetap bekerja, tapi dia bisa tetap menyeimbangkan diri tiap kali menemui masalah di kehidupannya dari mulai pernikahannya di tentang orangtuanya sampai ia pernah mengalami keguguran ketika mengandung anak pertama.  Tapi entah kenapa tiap saya ketemu dia bawaanya positif saja, semua kata-kata yang keluar dari mulutnya itu adalah kalimat baik dan menyemangati. Nggak pernah sedikitpun saya dengar ada kesan memojokkan, kasar dan menghakimi orang lain dan dari sikapnya tersebut orangtuanya yang tadinya nggak merestui akhirnya sudah baik lagi dengannya. Dia mampu memenangi hati kedua orangtuanya dengan sikap tenang dan positifnya.

Orangtua kak Ingga juga sama, kata-kata yang keluar dari mulutnya mereka tidak ada yang kesan nyinyir, sama seperti kak Ingga ketika kita ada dalam obrolan menjurus membicarakan orang lain misalnya, mereka lebih memilih diam atau meninggalkan obrolan sambil mengalihkan dengan melakukan pekerjaan lain. Seseorang yang auranya positif dan menyenangkan maka orang yang berada di dekatnya akan merasakannya, begitupun saya. Saya yang biasanya selalu mudah berasumsi negatif entah kenapa tiap kali bertemu dan ngobrol dengan keluarga Kak Ingga selalu mendapat pencerahan baru seakan hawa positif dan semangatnya menular ke diri saya.

Saya pun ngobrol dan bertanya pada kak Ingga mengapa ia bisa sedemikian tenang dan seakan tidak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi di sekitarnya.  Ternyata menurut kak Ingga kuncinya adalah tetap selalu berpikir positif meski keadaan nampaknya negatif.  Misalnya saat suami kak ingga belum mendapat pekerjaan, kak ingga merasakan betul bagaimana tekanan keluarga, tetangga dan rekan-rekan kerjanya yang menanggapi keadannya tersebut. “pernah ada yang mengatakan kok yang kerja keras istrinya memang suaminya nggak disuruh kerja, wah enak suaminya dong nggak ngapa-ngapain kak Ingga tidak mau fokus berpikiran buruk kepada suaminya. Yang terpenting bagi kak Ingga adalah bagaimanapun ia tidak akan membuat suaminya down dan terus menyemangatinya untuk mencari pekerjaan, mendukungnya membuka usaha jual beli motor di rumah. Bagi kak Ingga fokus pada mendukung suami dan tetap bekerja untuk keluarganya adalah yang paling penting daripada harus mendengarkan asumsi negatif orang lain pada dirinya.

“Kita tidak dapat menutup mulut mereka satu per satu tetapi kita bisa menutup telinga kita dan tetap menjaga hati dan pikiran kita untuk menjauhi prasangka buruk orang lain pada kita. Lambat laun yang namnya nyinyiran akan reda sendiri, tidak perlu kita terlalu memikirkannya dan malah ikutan berasumsi negatif ke suami dan diri kita sendiri. Itu malah menjauhkan kebaikan yang ingin masuk ke dalam hidup kita” Kata Kak Ingga sembari memberi saya masukan untuk mengurangi prasangka buruk yang berlebihan terhadap orang lain.

Dari kata-kata kak Ingga tersebut lah akhirnya saat itu saya belajar untuk mulai berpikir positif terlebih dahulu. Dengan memunculkan prasangka baik terhadap segala sesuatu yang saya lihat dan saya rasa, dengan berpikiran bahwa tidak semua orang yang mendekati saya sama seperti teman-teman SMP yang pernah membully saya. Ketika ada teman saya yang tiba-tiba diam pada saya, asumsi negatif saya dia diam karena saya sempat meninggalkannya ketika dia sedang menerima telepon dari pacarnya padahal saat itu saya sudah menginfokannya. Lantas saya tidak langsung berpikiran negatif. Saya kini lebih memilih menanyakannya karena dengan kita bertanya, kita jadi tahu dan tidak berasumsi negatif berlarut-larut tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Karena sebelumnya tiap ada ketidaknyamanan saya lebih memilih diam dan berasumsi negatif sendiri dan itu sangat membuat saya lelah hati. Benar saja ketika saya memilih untuk bertanya pada rekan saya yang tiba-tiba diamin saya ternyata rekan saya itu sedang ada masalah di relationshipnya. Dia bukan marah pada saya melainkan dia baru saja putus dari kekasihnya. Jadi suasana hatinya sedang tidak menentu.  Ada perasaan lega dan ternyata benar juga apa yang dikatakan Kak Ingga bahwa segala sesuatu baiknya kita lihat lagi dari segala sisi, jangan gengsi atau malu untuk bertanya segala hal yang akan memunculkan asumsi negatif itu yang saya rasakan. Dan selalu berpikir positif terhadap apa yang saya lihat. Seperti misalnya ada cowok mendekati saya, saya tidak perlu capek-capek untuk berprasangka buruk, berandai-andai “kalau dan kalau” berpikir positif dengan mengatakan pada diri saya bahwa “semua orang boleh dekat dengan saya, boleh mencintai saya dengan cara mereka itu hak mereka. Saya tetap baik dengan mereka selama mereka masih dalam lingkup menghargai dan berbuat baik pada saya, kecuali mereka sudah dengan jelas mengecewakan saya barulah saya ambil sikap untuk menjauhi mereka. Sayapun berhenti dari lingkungan yang senang membicarakan orang lain, saya lebih memilih jaga jarak dnegan mereka karena ternyata lingkungan yang membwa pengaruh negatif maka pikiran kitapun jadi terbawa negatif. Dengan begitu pikiran saya lebih tenang dan hati lebih terjaga.

Dari kejadian-kejadian tersebut kini saya memilih untuk lebih banyak bertemu dengan orang baru dengan ikut kegiatan komunitas seperti Urban Women bookclub dan komunitas membatik perempuan Jakarta. Dengan demikian saya bertumbuh dengan saling menularkan semangat yang positif guna mengurangi prasangka buruk dan membantu rekan-rekan lainnya di komunitas yang mungkin saja sedang mengalami seperti yang pernah saya alami. Buah hasil dari saya lebih banyak berprasangka baik ke diri saya dan berpikir positif terhadap sekeliling saya adalah kini sayapun mendapatkan pekerjaan yang jabatannya lebih baik dari sebelumnya J. Saya juga kini mendapatkan rekan-rekan baru di komunitas yang saya ikuti kami sama-sama bertumbuh menjadi perempuan yang mudah berprasangka baik terhadap segala sesuatu. “Setidaknya dengan saya menulis ini saya pun ingin menularkan pada Urbanesse bahwa kitalah yang memilih ingin berasumsi negatif terhadap segala sesuatu dalam hidup kita ATAU tetap berasumsi positif dan berprasangka baik terhadap segala hal yang terjadi. Karena kita tidak bisa mengubah hati orang lain untuk tetap berpikiran positif pada kita NAMUN kita bisa latih hati kita untuk berbaik sangka dan berasumsi positif kepada orang lain”.

 

 



Clara Marisa

No Comments Yet.