Membuktikan Pada Orangtua, Bahwa Pilihan Kita Baik


Friday, 24 Aug 2018


Saya mengenang ada masa-masa dimana saya merasa apapun yang saya putuskan atau saya sukai koq berbeda kontras ya dengan keinginan dan harapan keluarga. Itu saya alami khususnya pada saat saya berumur 14-27 tahun, di mana saya sedang mengeksplorasi dan mencari jati diri saya seutuhnya. Pada saat saya lulus SMU di Surabaya, saya mau tetap kuliah di kota yang sama biar tetep bisa kumpul dengan teman-teman. Namun, keluarga bersikeras saya kuliah di Malaysia untuk mengikuti jejak anak dari teman Mama, yang akhirnya harus saya turuti.

Pas kuliah di Malaysia, saya malah berkenalan dengan dunia malam, padahal keluarga saya sangat tradisional dan anti hiburan malam. Pas lulus kuliah dan pulang ke Samarinda, saya disuruh menikah, sedangkan saya benar-benar mau berkarir dulu. Karena tidak tahan dengan tekanan keluarga di Samarinda, kaburlah saya ke Jakarta dengan hanya bermodalkan uang pas-pasan dan satu koper kecil berisikan barang keperluan sehari-hari untuk berkarir sebagai desainer grafis. Rasanya campur aduk, ya marah, sedih, bersalah, merasa jadi anak tidak berguna.

Tetapi, keputusan saya ke Jakarta nggak salah. Di saat saya merasa sendirian, saya banyak ketemu new likeminded friends yang juga menjalani passion, mengejar mimpi mereka dan mengerti apa yang saya alami. Hidup sendiri sebagai wanita single di Jakarta tanpa keluarga inti maupun kerabat jauh memang tidak mudah.

Selain isu keamanan, Jakarta punya semua. Banyak sekali godaan yang bisa saja membuat saya keluar jalur dan menyia-nyiakan hidup saya. Namun, 8 tahun malang melintang di Jakarta sendirian ternyata membuat saya lebih tegar dan realistis, juga mengasah keberanian dan keuletan saya dalam merealisasikan mimpi saya dalam berkarir. Apalagi saya bertemu dengan komunitas Urban Women yang memperkenalkan saya dengan konseling keluarga yang pada akhirnya berhasil menjembatani saya, Papa, Mama dan saudara-saudara saya. Butuh waktu cukup lama bagi saya dan anggota keluarga untuk benar-benar menerima bahwa kita bisa berbeda pendapat dalam mengambil keputusan dan menjalani hidup, tetapi kita bisa tetap saling mencintai, menghargai dan mendukung satu sama lain.

Tapi, itu harus dimulai dari diri saya dulu yang menurunkan ego untuk meminta maaf kalau saya menecewakan keluarga dan pada saat yang sama saya tetap persistent dalam mengejar mimpi pribadi. Lama-lama keluarga bisa menilai dan melihat keseriusan saya. Mereka melihat karakter saya pun berubah perlahan-lahan ke arah yang lebih baik. Saya yang dulunya sangat impulsif, kurang bertanggung jawab, maunya happy happy aja, perlahan-lahan berubah menjadi pribadi yang lebih dewasa, mau di didik dan mendengarkan masukan dari pihak lain, serta bijak finansial.

Saya sekarang berdomisili di Sydney, tapi statusnya bukan lagi anak kabur lho hehehe.. Saya dapat dukungan penuh dari keluarga, yang menimbulkan rasa damai. Saya sadar pertentangan pendapat di dalam keluarga tidak bisa dihindari. Tiap anggota keluarga punya kepentingan sendiri-sendiri, dan karakter yang berbeda. Kuncinya adalah bagaimana cara kita menunjukkan respect secara proaktif kepada anggota keluarga lainnya dalam situasi apapun, tanpa menuntut balik kita harus dihargai dengan cara yang sama dari pihak satunya. Kita juga sebaiknya mindful untuk tidak didikte dalam kehidupan pribadi. Dan sebaliknya kita juga nggak bisa mendikte kehidupan pribadi anggota keluarga kita.  Mari berikan ruang bagi kita untuk dapat menetapkan batasan personal yang sehat. Hidup kita dan setiap persoalannya. Jangan sampai kita menyalahkan anggota keluarga lainnya karena keputusan yang kita ambil hanya untuk menyenangkan mereka tapi sebenarnya bukan yang benar-benar kita inginkan. Dengan demikian, kita bisa benar-benar mencintai anggota keluarga kita seutuhnya tanpa menuntut validation dari mereka, karena personal life kita sudah fulfilled.

Skill sets dan perubahan karakter ini benar-benar membantu saya dalam menjalani karir dalam pendidikan anak-anak yang saat ini sedang saya geluti, juga dalam menghadapi suami dan keluarga dari pihak suami. Be loving, but firm. Selamat menikmati dinamika keluarga masing-masing, Urbanesse!

 



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.