Membiasakan Menjaga  Barang Yang Dipinjamkan Pada Kita


Friday, 21 Sep 2018


 

Urbanesse, pernah tidak merasa kesal karena barang yang mati-matian kita rawat dan jaga dipinjam oleh orang lain namun dikembalikan dalam bentuk yang sudah lusuh, terkena noda, sobek atau yang lebih parah tidak dikembalikan dan si peminjam acuh responnya ketika kita minta kembalikan?

Let me tell you a story.

Masa kuliah, sudah tuntutan sesuai bidang ilmu yang saya pelajari (Ilmu Sejarah) untuk banyak membaca, secara tidak langsung saya ataupun rekan-rekan lainnya jadi punya hobby dadakan: beli buku. karena sudah terbiasa dengan membaca banyak buku atau jurnal, kami juga jadi mudah asyik dengan bacaan lainnya seperti komik, novel, majalah, baik yang berkaitan dengan materi kuliah ataupun diluar konteks ilmu tersebut.

seringkali harus menabung uang jajan atau memangkas biaya hidup demi bisa membeli buku yang kami mau. meski begitu, tidak semua mahasiswa/i sepemikiran dengan kami. Sebut saja Abi, salah satu adik kelas yang cukup akrab dan saking akrabnya, dia sempat meminjam satu-satunya buku Pramoedya Ananta Toer kesayangan saya dengan dalih untuk sumber tugasnya. awalnya saya ragu hendak meminjamkan, karena ya menurut saya Abi cukup teledor. namun siapa yang sangka, setelah saya pinjamkan, seminggu, dua minggu, sebulan, sampai setahun bahkan sampai detik inipun buku tersebut tidak kembali pada saya. berkali saya tegur coba menanyakan, Abi selalu saja berkilah dengan seribu alasan.

Entah lupa diletakkan dimana, entah tidak dibawa, entah apalagi bahkan saya sampai lupa alasannya. tidak perlu cemas, saya masih berteman kok dengan Abi, dan saya percaya buku tersebut pasti dirawat baik meski tidak dikembalikan. terakhir kami bertemu pun, saya sempat singgung namun dia hanya mesem. Saya pikir  Ya sudahlah, ini saya jadikan pelajaran buat saya untuk lebih hati-hati meminjamkan barang. padahal saya selalu berusaha menjaga apapun barang oranglain yang saya pinjam, terutama buku.

Karena saya tahu betul rasanya ketika buku yang kita pinjamkan, kembali dalam keadaaan rusak, lusuh atau bahkan hilang (tidak dikembalikan). Sejak kejadian tersebut, ada trauma tersendiri bagi saya untuk meminjamkan buku koleksi saya pada siapapun. bahkan ketika adik saya meminjam pun saya selalu bertanya "Bukunya dimana? Sudah dikembalikan ke rak buku aku belum? Jangan dilipat kertas bagian dalamnnya, nanti lecek. Kalau sudah dibaca buruan kembalikan ke tempat asalnya."

Ini Yang Saya Lakukan Hingga Saat ini, Saya Belajar untuk :

 

Berusaha menerapkan satu hal, bila di hadapkan pada pinjam meminjam barang atau uang :  Jika tidak ingin orang lain berbuat seperti itu pada kita, maka kita juga sebaiknya tidak berlaku demikian.

Sayapun kini jadi orang yang terus terang, jika ada yang meminjam buku saya katakan boleh saja, namun saya kasih batas waktu peminjaman (ini buat patokan duedate saya aja, meski terlihat sadis heehee seperti perpuastakaan saja) namun ini cara efektif supaya orang lain mengharagian dan merawat buku kita.  Kalau misalnya belum beres baca pun ya bisa infokan ke saya, saya nggak masalah kok. Andaikata hilang misalnya saya lebih memilih untuk lagi-lagi terus terang mengambil jalan tengahnya, memilih mengganti buku yang hilang tersebut atau mengganti dalam bentuk uang. Jadi mereka ketika minjam pun ingat dan tidak meremehkan buku-buku saya. Karena saya sendiri sangat apik menyimpan buku-buku milik saya. Makanya sedih kalau buku yang saya sayangi dipinjamkan namun dibikin rusak, lusuh atau hilang.

Saya juga jadi lebih selektif melihat teman yang sekiranya ia memang serius ingin baca buku atau hanya pinjam lalu menunda baca bukunya. Jadi ketika saya tagih mana bukunya, mereka bingung jawab karena memang buku tersebut belum di bacanya sama sekali.

 

Sejak saya menerapkan hal tersebut, setiap ada teman yang saya pinjamkan buku, mereka malah lebih apik dan menghargai juga usaha saya untuk merawatnya. Karena ketika buku seseorang kita pinjamkan itu sama halnya kita memberi kepercayaan penuh kepada orang lain untuk juga merawatnya seperti yang kita lakukan.

 

Hal ini membuat saya selalu berhati-hati dalam bersikap, terkait pinjam meminjam buat saya ini hampir sama dengan disiplin waktu, saya lebih baik menunggu daripada ditunggu, karena disiplin itu membuat diri kita terlatih dalam bersikap profesional dibidang apapun.

Jika tidak ingin dirugikan oleh orang lain, maka sebaiknya kita juga tidak merugikan siapapun. jika masih dirugikan orang lain, positif thinking saja, mungkin itu peringatan agar kita lebih berhati-hati kembali. Semua saya mulai dari diri saya sendiri dulu yang saya tularkan ke orang lain.

 

 



Nesiana Yuko Argina

No Comments Yet.