Melukis Pelangiku


Thursday, 16 Mar 2017


Kalau ditanya apa cita-citaku sejak kecil, terus terang aku tidak pernah punya gambaran apapun mengenai satu profesi. Tetapi, yang pasti, aku punya keinginan bekerja di perusahaan asing . Dalam bayanganku, bekerja di perushaan asing akan lebih menyenangkan dengan lingkungan multibangsa dan mungkin akan membuatku merasa seperti tinggal di luar negeri. Maklum, dengan latar belakang keluargaku yang sederhana, aku tidak pernah mimpi punya kesempatan untuk ke luar negeri. Orangtuaku dua-duanya dosen. Ayahku Dosen Bahasa Belanda, Ibuku Dosen Bahasa Inggris. Mereka harus membesarkan empat orang anak. Pergi ke luar negeri? Hmm, rasanya gak mungkin.

 

Setelah lulus SMA, aku  kuliah di sebuah akademi sekretaris di Jakarta. Dengan kuliah D3, aku berharap dapat segera lulus dan bekerja sehingga tidak lagi memberatkan orangtua. Aku juga berpikir kuliah sekretarisi bukan hal yang sulit terlebih karena aku sudah menguasai bahasa Inggris sejak SMA.

 

Selama studi sekretaris, aku juga rajin ambil kursus lainnya. Misalnya kursus pajak, kursus steno, kursus ekspor-impor, sampai kursus bahasa Inggris juga tetap ku lakukan untuk menambah materi yang sudah diberikan di tempat kuliah. Nilai-nilai kuliahku baik dan akhirnya aku lulus.

 

Sudah siap-siap mau bekerja, ternyata satu hal berjalan tidak sejalan dengan perencanaan  karirku. Aku menikah dan segera punya anak. Karirku mendadak  berubah haluan menjadi Ibu Rumah Tangga yang harus membesarkan dua orang anak. Selesailah rencana karir di perusahaan asing.

 

Setidaknya, itulah awalnya yang ada di pikiranku. Akan tetapi , tuntutan ekonomi  kemudian membuatku harus turut membantu suamiku dengan bekerja demi mencukupi kebutuhan kami. Suamiku bekerja sebagai pekerja seni di sebuah rumah produksi film layar lebar yang penghasilannya bergantung seberapa banyak produksi film yang dibuat. Pada saat aku bekerja, anakku kutitipkan di rumah orangtuaku, atau diurus suamiku kalau sedang tidak bekerja. Aku baru sadar, rupanya ini yang namanya pengorbanan wanita karir yang  tidak bisa setiap waktu mengikuti pertumbuhan anak-anaknya.

 

Karir yang Kuharapkan

Mulailah perjalanan karirku bekerja 9 to 5. Aku beberapa kali pindah kerja pada awal karirku. Posisikupun beragam, mulai dari sekretaris manager sampai sekretaris Presdir dalam kurun waktu sekitar empat tahun. Sampai akhirnya aku bekerja di sebuah perusahaan leasing  asing asal Amerika. Boss-ku adalah Senior Lease Manager, posisi marketing tertinggi di kantor tersebut.

 

Aku bersyukur dapat bekerja di perusahaan tersebut. Aku merasa inilah perusahaan yang Tuhan sudah berikan untukku, sesuai dengan keinginanku dari kecil untuk bekerja di perusahaan asing. Hal yang baik dari perusahaan ini juga adalah aku bisa mendapat dua kali loan atau pinjaman untuk membeli rumah dan mobil  yang segera  kulunasi ketika suamiku mendapatkan rejeki di kantor barunya.

 

Sebagai karyawan, aku termasuk tipe karyawan yang selalu menjauhi konflik. Aku memilih untuk tidak ikut-ikutan dan selalu memperlakukan orang lain dengan baik. Tambahan lagi, aku dikenal sebagai karyawan yang rajin sampai-sampai dapat sebutan “bayi sehat” karena beberapa tahun berturut-turut aku tidak pernah tidak masuk kecuali  cuti.  Dan aku juga terkenal lembut berbicara, tidak pernah marah  (it’s true!) dan tidak pernah punya masalah dengan siapapun di kantor. Good reputation, itu targetku di manapun bekerja.

 

Sepuluh tahun bekerja di perusahaan leasing tersebut, lalu terjadilah sesuatu yang tidak pernah dibayangkan. Perusahaan akan ditutup. Alias, akan ada PHK besar-besaran. Pada saat itu banyak temanku yang segera mengambil paket pensiun. Mungkin mereka kuatir kalau terlambat tidak akan dibayarkan pensiunnya.  Aku tidak terpengaruh. Aku bertekad untuk menyelesaikan tanggungjawabku sampai perusahaan benar-benar tutup. Dalam keadaan banyak karyawan yang sudah keluar, banyak posisi penting kosong. Aku terpilih menduduki salah satu posisi manajerial sebagai Lease Administrator Manager selama enam bulan sampai perusahaan tutup. Buatku ini adalah rejeki  karena posisiku dinaikkan dengan sendirinya, tanpa aku minta. Aku bersyukur kepada Tuhan. Tanpa tuntunanNya, mungkin aku juga sudah keluar dari perusahaan ini masih dengan posisi yang sama sebagai sekretaris.

 

Berkat Tuhan tidak sampai di situ. Perusahaan tempatku bekerja ini ternyata berafiliasi dengan salah satu bank asal Amerika di Jakarta yang sedang membuka lowongan pekerjaan. Jadi, ketika perusahaan tutup, kami yang masih bertahan ditawarkan untuk bekerja di bank asing tersebut selain juga mendapat paket pensiun. Dengan standar gajiku yang sudah naik ke level manajerial, maka aku mengambil kesempatan tersebut dan diterima di posisi Audit dengan gaji yang bahkan lebih baik lagi. Allah mahabesar...

 

Bank asing tersebut, Bank of America (BOA), kemudian menjadi tempat terakhirku bekerja sampai waktunya pensiun. Selain di posisi Audit, aku juga sempat menangani  bagian Credit sebelum kembali lagi sebagai Audit. Yang tidak disangka lagi, aku sempat dipilih menjadi Ketua Serikat Pekerja di bank tersebut. Aku bersyukur dengan posisi tersebut karena membuatku belajar tentang  ketenagakerjaan dan berhasil menjalankan tugas hingga terpilih tiga periode.

 

Antara Karir dan Prioritas

Saat ini aku sudah pensiun dan menikmati hari tua bersama suami dan anak-anak. Aku selalau mendorong anak-anak untuk mempersiapkan karir dengan baik, menambah pengetahuan dan keterampilan sebanyak-banyaknya terkait dengan karir yang ingin dituju, seperti yang pernah aku kerjakan dahulu.

 

Akan tetapi, harus kuakui, selain persiapan karir tersebut ada hal yang tak kalah penting . Tidak lain adalah mempersiapkan mental yang baik, belajar setia  dan selalu bersyukur. Mempersiapkan mental yang baik termasuk didalamnya adalah belajar disiplin, bertanggungjawab, tidak menunda-nunda pekerjaan, tekun dalam bekerja dan rajin. Itu  bagian dari pembentukan karakter yang berjalan di sepanjang hidup kita, yang akan sangat berpengaruh dan menentukan karir kita.

 

Kalau ada kritik yang ingin aku berikan pada diriku, mungkin kurangnya passion dalam mengejar karir yang lebih tinggi. Aku pensiun di level middle manager. Kalau karyawan lain mengejar karir dengan ikut  berbagai  tes kenaikan tingkat dan banyak training yang ditawarkan perusahaan yang waktunya after office , aku hanya mengambil training seperlunya dan tidak terlalu berambisi mendapat kenaikan  karir. Aku lebih fokus pada kenaikan gaji. Ambisi karirku dikalahkan oleh prioritasku untuk segera pulang ke rumah dan bertemu anak-anak. Aku termasuk karyawan yang selalu pulang teng and go...

 

Jadi, jelas bahwa perencanaan karir kita tidak lepas tujuan hidup kita, juga  banyak hal yang terjadi di luar rencana kita, intervensi Tuhan yang baik untuk kita. Tujuan hidup kita dapat dilihat dari prioritas kita, mana yang utama, mana yang penting dan seterusnya. Buat aku pribadi, betapapun pentingnya karir , ia akan tetap sebatas menjadi bagian dari hidup;  bukan keseluruhan hidup kita. Hidup kita adalah waktu kita dan bagaimana kita mempergunakannya sesuai tujuan hidup kita. Sesuai nilai-nilai  kita,  dengan siapa kita menjalani hidup  dan prioritas kita.

 

Epilog

Pertanyaannya, apakah aku merasa sudah cukup sukses dengan karirku? Bila dinilai dari level rasanya kurang maksimal, tetapi sudah sesuai dengan ekspektasi dan target yang aku buat semasa masih bekerja. Targetnya adalah kestabilan karir dan tetap memprioritaskan keluarga. Ini ukuran kesuksesan bagi hidupku sepenuhnya. Akhirnya, apakah aku sudah sudah mencapai sukses dalam hidup?

 

Untuk menjawab itu, aku kembali melihat prioritas utamaku yaitu keluarga. Saat ini anak-anakku sudah besar dan menjalani karir masing-masing. Anakku yang sulung bekerja sebagai Account Director, sedangkan yang bungsu menjadi Brand Manager. Masa tuaku dan suami diisi dengan kegiatan pelayanan di gereja. Aku bersyukur  kami mampu menghidupi masa tua tanpa bergantung pada anak-anak. Kami sekeluarga dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun.

 

Aku teringat  Maya Angelou’s quote:

 

Try to be a rainbow in someone’s cloud.

 

Itu serupa dengan tujuan hidupku, menjadi busur pelangi untuk keluargaku. Membawa kebahagiaan dan harapan yang indah di hidup mereka.  Itu tugasku yang belum selesai selama aku masih hidup. Itulah ukuran kesuksesanku, yang rasanya masih belum bisa aku jawab.

 

Aku masih terus melukis pelangiku untuk mereka, sampai akhirnya nanti.  

 

*By Cicilia. It’s my mom’s story. She’s my rainbow of hope and happiness in  life.

 

 

 



Ce Cile

No Comments Yet.