MEDIA SOSIAL: Ajang Pamer?


Wednesday, 16 May 2018


Sejak kenal Friendster (ouch, apa ini?) pada era tengah tahun 2000-an saya bisa bilang sekarang bahwa separo hidup saya ini seakan sudah saya serahkan untuk bisa dikepoin Minimal data pribadi macam nama lengkap dan tanggal lahir sudah saya publikasikan di luar kepentingan urus tabungan di bank, misalnya. Atau – ini mutlak hukumnya – foto-foto, dan sebaiknya dalam pose yang paling menawan.

Facebook, salah satu dari sedikit raksasa media sosial zaman kiwari, sampai di Indonesia sekitar tahun 2006. Seperti manusia fana nan lemah yang tak sanggup melawan kuasa kegelapan saya pun takluk di dalam gemerlapnya dunia tampil-menampilkan diri yang disodorkan dengan gemilang oleh dagangan Mark Zuckerberg ini. Sedikitnya dalam bentuk status tertulis. Apa yang saya pikirkan (sambil bete di jebakan macet jalanan), apa yang saya ingat (sambil mengingat pacar-pacar yang melarikan diri – atau yang saya putus tali asanya), atau apa yang saya bayangkan (sambil kembali membayangkan para mantan pacar itu). Mengingatkan tentang lagu lawas pun boleh, dengan sepenuh kesadaran bakal di-bully oleh para Friend generasi lebih muda. Tak apalah. Toh memang itu maksud dan tujuan media sosial, bukan? Sebagai substitusi tempat di alam nyata saat kita duduk berhadapan muka, ngobrol ngalor-ngidul, bercanda, termasuk di-bully oleh sahabat-sahabat sendiri, terkait apa saja.

Sayangnya, dan ini pendapat saya pribadi yang rasanya mulai diamini oleh banyak orang, makin kemari kian kita lupa alasan dulu-dulunya memanfaatkan teknologi jejaring sosial: Cari teman baru sekaligus menjaga silaturahmi dengan kawan atau kenalan lama. Untuk apa kita bikin akun media sosial? Sungguhan untuk bersosialisasi, atau buka lapak? Pamer harta benda, atau sarana menertawakan orang lain? Berapa banyak dari daftar Friend atau follower (yang bisa ribuan jumlahnya itu) yang kita ajak “ngobrol” dengan cara baku balas komen? Bertengkar, gara-gara status soal paham politik atau apalagi agama? Atau semata agar diri ini populer, moncer alias terkenal? 

Dari status saya sebagai homo homini socius, saya yang manusia ini adalah teman bagi sesama manusia. Saya butuh orang lain untuk bersosialisasi, berinteraksi, sekaligus butuh dipandang baik oleh orang lain melalui status sosial saya, reputasi, dan bahkan termasuk juga popularitas. Teknologi jejaring sosial memenuhi kebutuhan saya yang manusia ini akan itu semua: Memajang diri, demi anggapan baik, yang datang dalam simbol jempol atau tanda hati berwarna merah. Para Friend atau follower, yang sebetulnya sebagian besar sudah kenal siapa saya, jadi lebih menyukai saya dari unggahan foto-foto atau entah apa lagi yang saya bagikan yang menggambarkan interes saya pada hal-hal tertentu.  

Kegelisahan yang melanda dunia belakangan hari ini soal isu politik, agama, dan ras tidak masuk kategori topik menarik bagi saya. Teruma perkara-perkara di dalam negeri, Tanah Air ini. Jujur, terus terang banget, saya lebih senang pajang foto cantik (atau yang saya sendiri meyakininya sebagai “cantik”) ketimbang masuk dalam isyu politik, apalagi agama. Saya tidak pandai di situ… dan buat apa, kalau ujung-ujungnya ribut, berantem, lantas putus pula tali silaturahim? Bukankah itu mengingkari hakekat media sosial? Apapun yang harus saya pajang atau pamerkan agar saya bisa dikenali lebih jauh buat saya adalah jelas selainnya isyu-isyu yang cuma bikin renggang tali pertemanan...meski soal foto sekalipun tidak lepas dari risiko saya menjadi tidak disukai.

Preferensi masing-masing orang pasti berbeda-beda, belum soal standar kepantasan atau entah apa lagi yang tidak bisa dipaksakan. Pernah saya mengunggah foto masa balita dengan kostum bikini lucu (menurut saya), lantas ada teman yang protes dengan alasan jangan menarik perhatian kaum pedofil. Pernah saya mengunggah foto masa balita dalam posisi tanpa busana duduk di pispot, lantas ada teman menganggapnya tidak pada tempatnya. Herannya sewaktu saya mengunggah foto masa dewasa dalam posisi di tepi kolam renang (pastinya pakai swimsuit) tak ada protes, selainnya simbol jempol. Itu belum soal foto atau unggahan lain seputar isyu politik, apalagi agama, yang sedapat mungkin saya tidak kerap melakukannya kecuali sudah merasa mangkel kebangaten, atau marah dan prihatin, pada kondisi umum yang sedang terjadi dan dirasakan (sebagian) masyarakat.

Gaya Bersosial Media Ala Saya

  1. Selalu Usahakan postingan saya tersebut memiliki cerita Secara umum apapun yang saya unggah di akun-akun media sosial saya selalu saya usahakan agar punya cerita. Agar ada kisah. Bisa pula fiksi, berupa cerita pendek yang ilhamnya datang mengalir deras tanpa bisa saya bendung. Syukur-syukur cerita atau kisah-kisah pendek itu bisa menginspirasi, sedikitnya menghibur. Semisal unggahan-unggahan saya itu miskin Like pun ya sudah, tak usah dibikin baper.

Apakah dengan demikian saya masuk golongan haus popularitas di media sosial? Rasanya sih iya, dari sudut pandang tertentu alias bila ditilik dari sisi mereka yang menganggap kegiatan pajang-memajang diri di media sosial sebagai tanda kurang kerjaan. Tapi saya tidak pernah ambil pusing. Selama unggahan saya tidak merugikan orang lain, kenapa tidak. Saya bukan selebgram dengan jumlah follower ribuan, sekadar berbagi cerita kecil yang lucu dan menghibur, semua dalam pagar-pagar kepantasan bernetiket, saya anggap sebagai salah satu saja dari upaya saya “menjangkau” teman-teman di luar sana yang tidak bisa saya temui di alam nyata.

  1. Pikir dua kali sebelum memposting segala sesuatu Tapi, betul, bahwa dari pengalaman selama ini rem di kedua jempol tangan ini memang harus selalu pakem. Apa yang rasanya pantas saya unggah, foto pamer kain batik baru atau foto-foto cucu sekalipun tetap harus melalui pertimbangan ketat di dalam benak sebelum akhirnya jadi juga saya publikasikan.  

Kita yang manusia biasa ini butuh penghormatan terhadap diri sendiri oleh diri sendiri (self respect) seperti perasaan yakin, kepemilikan akan kompetensi, perolehan hasil, penguasaan akan suatu hal, kemandirian, dan kebebasan. Ini kebutuhan yang sudah termasuk “tinggi”, kalau kata pakar psikologi. Untuk mencapai penghormatan pada diri sendiri itu manusia butuh orang lain untuk memberikannya. Senyatanya malah kebutuhan akan harga diri sudah muncul sejak kita masih bayi. Itu sebabnya seorang balita, dengan warna kulit dan dari ras apapun, menunjukkan perkembangan dini kepribadiannya lewat fase egois, mementingkan diri sendiri, senang menjadi pusat perhatian, dan orang dewasa di sekelilingnya memenuhi harapannya akan perhatian dan penerimaan.

Sekarang, untuk menutup obrolan maya ini, sekaligus mencegahnya agar tidak perlu ngalor-ngidul, baiknya saya ingatkan lagi diri sendiri dan kawan-kawan semua agar pasang rem pakem di kedua jempol tangan. Pasang juga pagar sepantasnya di benak, lengkap dengan alarm yang nyaring bunyinya, sebagai alat pertimbangan sebelum mengunggah-unggah di media sosial. Dunia nyata punya etiket, ada etika. Internet punya netiket (atau mungkin juga netika). Ranah Internet adalah jagad luar biasa besar tak berbatas yang banyak mendatangkan kejutan tak terduga-duga, dan sebaiknya kita mengaktifkan segenap kecerdasan diri agar kita dapat hidup nyaman, aman, tenteram di dalamnya, sambil tetap menjaga perasaan banyak orang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Tatyana

Kelahiran Jakarta 4 Januari 1966, pekerja kantoran sebagai praktisi kehumasan, nenek seorang cucu, dan masih tinggal di Jakarta. Pernah menulis beberapa buku berupa kumpulan cerpen dan pengalaan sebagai orangtua tunggal, sesekali menyanyi di kesempatan-kesempatan sastra, sesekali memandu acara, dan terkadang juga memberi kelas kecil untuk karya-karya kerajinan berbasis peduli lingkungan. Tetap, dan terus, berencana untuk membuat buku-buku lainnya, entah apa, di sela-sela jadwal kantor dan bantu-bantu mengasuh cucu.

No Comments Yet.