Love your self, then shine bright like a diamond


Thursday, 18 Oct 2018


Terlahir sebagai perempuan Jawa, sudah dari kecil saya diharuskan menaati aturan dan perintah yang diberikan oleh sosok pemimpin dalam keluarga (Ayah atau Eyang).

Tidak ada yang salah memang, justru saya memiliki rasa hormat yang sudah tertanam sejak kecil. Namun saya tidak diajarkan bagaimana cara berargumen sebagai seorang perempuan.

Argumen atau pendapat adalah pola pikir dasar yang dimiliki oleh setiap orang.

Perempuan Jawa dikenal sebagai pengurus keluarga, Family minded, akan mendahulukan kepentingan kaum sepuh terlebih dahulu baru kepentingan pribadi. Semua hal yang terjadi dalam hidup saya adalah sebagai bentuk keputusan Ayah. Seperti melanjutkan pendidikan sebagai Akuntan, sampai dengan urusan percintaan.

Saya memahami bahwa semua hal yang dipilih oleh Ayah adalah untuk kebaikan putrinya. Ayah ingin saya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari beliau. Sebagai gadis Jawa, saya harus menurutinya. Apakah saya menyesal, tidak

Hal tersebut terjadi karena saya selalu mendahulukan kepentingan Ayah dan sebagai bentuk rasa hormat saya terhadap keluarga. Selama ini saya selalu membuktikan cinta saya kepada keluarga, teman, pekerjaan, dsb.

Hal ini berubah ketika saya mengalami berbagai hal dalam hidup saya. Saya kehilangan sahabat saya yang harus menyerah karena kanker yang dideritanya, saya mengalami keguguran atas kandungan yang masih berusia beberapa minggu. Seakan akan kejadian berharga itu membuka mata saya bahwa ada satu hal yang saya lupa untuk saya cintai, yaitu diri saya sendiri.

Saya bahkan tidak pernah mengambil cuti dari pekerjaan, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk karir, saya selalu mendahulukan kepentingan teman saya, dan lain-lain. Namun apakah saya memberikan yang terbaik untuk diri saya sendiri. Belum.

Sayapun menarik mundur hal hal yang terjadi, dan akan lebih indah jika kita bisa mencintai diri kita terlebih dahulu sebelum kita mencintai berbagai hal maupun  orang lain. Mengapa perlu untuk mencintai diri sendiri.  Agar kita mendapatkan kebahagiaan dan kenyamanan yang selama ini kita inginkan.

Diri kita sendirilah yang tahu, mana yang penting dalam hidup kita. Mana yang akan bisa membahagiakan diri kita. Sesederhana ini, jika kita saja belum bisa mencintai diri kita, bagaimana kita bisa mencintai orang lain dengan sepenuhnya.

Karena itu saya mulai dengan merawat diri, menjaga kesehatan, memprioritaskan apa yang baik dan berharga untuk diri dan hidup saya. Hidup yang kita jalani ini bukanlah tentang orang lain, namun tentang kita sendiri. Jika saya sakit, siapa yang akan menanggung rasa sakit suntikan jarum atau pahitnya rasa obat. Tentu bukan orang lain, namun diri saya sendiri.

Sejak saat itu saya mencoba untuk menerapkan work life balance, dan mengutamakan quality dalam hidup saya. Seperti pertemanan yang berkualitas. Saya tidak lagi mengikuti setiap ajakan teman maupun menuruti apa yang mereka katakan. Saya akan berargumen dan jika perlu memutuskan pertemanan tersebut apabila sudah dalam level yang mengganggu.

Apakah ini egois. Tidak, saya jawab.

Karena pada akhirnya, kita akan berada dalam satu fase dalam hidup kita dimana kita akan sendiri.  Bagi saya cara mencintai diri sendiri bukan hanya sekedar memberikan yang terbaik untuk raga saya saja, tetapi juga untuk jiwa, hati dan pola pikir saya, buat saya ini kaitannya dengan penerimaan diri dengan segala kekurangan yang saya miliki. Misalnya, Walau Tuhan belum memberikan saya buah hati namun saya memiliki anak buah dikantor dan mampu menghandle mereka dengan dengan baik (ini yang membuat saya cinta terhadap diri saya, saya bersyukur Tuhan memberi saya talenta kepemimpinan ini). Saya pun memiliki suami yang sangat memahami diri saya dan tahu betul diri sayadan selalu mendukung pencapaian-pencapaian terbaik dalam hidup sebagai bentuk aktualisasi diri saya. Mencintai diri sendiri erat kaitannya dengan rasa syukur pada Tuhan. Ketika saya mampu bersyukur ketika itulah selalu ada jalan dan kesmepatan terbuka di kehidupan diri saya.

Sebagai perempuan, saya selalu mengingatkan sesama perempuan untuk menjaga penampilan dan merawat diri sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi atas diri kita. Ya, kita sudah bekerja keras sehari hari. Tentunya perlu untuk menyumbangkan segala sesuatunya, seperti pergi ke spa, merawat kuku di nailshop, creambath di salon dan berolahraga.  Atau jika hal tersebut sekiranya tidak bisa saya lakukan saya memilih membaca buku di coffeeshop favorite saya, hanya sendirian saja. Menikmati kesendirian di coffeeshop, atau di kamar sambil di temani secangkir wedang jahe hangat dan musik favorit saya, memberi  saya peluang untuk merenungi makna  mencintai diri saya lebih dalam “Eh ternyata aku pintar juga, eh ternyata aku cantik juga walau tanpa make up” karena kadang saya dan mungkin beberapa teman saya yang lain suka tidak sadar bahwa dirinya itu cantik, dirinya itu pintar atau dirinya itu sangat jauh lebih baik dari rekannya yang lainIa jadi kurang mengenal dan mencintai dirinya sendiri karena terlalu banyak tuntutan dari sekitarnya yang menginginkan mereka jadi a, b dan c hingga lupa cara mencintai diri sendiri.

Biasanya orang yang memprioritaskan dirinya sendiri akan lebih bahagia dan bersinar. Tentunya kita tidak ingin kehilangan sinar dalam hidup kita bukan ladies.

So, love your self and shine bright like a diamond.

Risa

 



Risa

No Comments Yet.