Lihatlah Anakmu, Dukunglah Mereka di Segala Situasi


Tuesday, 28 Aug 2018


Hallo... Sejak aku tau ada komunitas yang bagus ini, baru pertama kali ini aku mau ceritain sekilas tentang diriku dan keluargaku. 

Kita memang tidak bisa memilih kita dilahirkan di dalam keluarga yg seperti apa... Tapi kita bisa memilih mencintai mereka, apapun kondisinya :)

Meski dalam keluarga, kamu dianggap bukanlah siapa-siapa. Pemikiranmu dianggap aneh jadi suatu hal yang biasa. Jangankan explore passion kita, bersuara dikit saja dicela. Nyanyi sedikit dihina fals. Gerak sedikit dibilang kaku :'). Tapi saat itu aku masih bertahan. Keyakinan aku akan membentuk aku menjadi yang sekarang ini. 

Saat itu aku masih ingat, aku minta uang saku untuk beli flash disk yg sangat aku butuhkan dalam rangka lomba tingkat propinsi. Tapi, mungkin itu seperti dianggap hal sepele bagi mereka (orang tua). Pun ketika aku pergi ke sekolah, tetanggaku pernah melihat uang saku untukku dilempar begitu saja ke lantai dan aku memungutnya sambil segera pergi :'). Sekali lagi, tak apa... Aku masih kuat menatap masa depanku.

Namun, sekuat apapun hati kita, respon otak kita akan berbenturan. Ini bukan hal biasa lagi. Keluarga lain tak memperlakukan anaknya seperti ini. Banyak aku lihat teman-temanku dapat bercengkrama hangat dengan ayah ibunya, tapi aku tidak mendapatkan itu dalam atapku. Kekecewaanku memuncak ketika mereka mematahkan mimpiku. Kepala sekolahku siap mendanai kuliahku, tapi mereka menolak "biar anaknya kerja saja, biar mandiri" kilahnya. Mereka tak pernah tau apa cita-citaku. Aku dipaksa masuk sekolah kejuruan kelak setelah lulus dapat bekerja dan melepaskan diri dari beban mereka, kata Mamaku saat itu yang suranya masih terngiang di telingaku samapai sekarang.

Mereka tidak bangga, aku membawa pulang piala hasil lomba yg diselenggarakan seminggu setelah Ujian Nasional itu (yg berarti aku tak tidur demi kemenangan ganda tersebut). Sampai kukembalikan piala itu ke sekolah dengan alasan "dirumah tak ada lemari yg nampung itu piala". Atau ucapan selamat karena aku bisa menjadi siswi unggulan disekolah. Ya... Tak pernah ada bahasa yg membangkitkan semangatku :')

Sampai pada saat aku tersadar bahwa hidup kita adalah tanggungjawab kita sendiri. Sedih atau bahagia yg kita rasakan adalah hasil dari apa yg kita olah dalam diri kita. Dan aku memilih BAHAGIA. Aku yakin, suatu saat mamaku akan membutuhkan aku. Aku nanti yg akan rawat ketika ayahku sakit. Aku akan tetap ada disisinya apapun kondisinya. Aku tak pernah benci dengan mereka. Aku mengerti keadaannya. 

Kumulai mimpi itu dengan sekuat hati...  Semesta akan membantuku. Walau seribu orang tak menginginkan aku sukses, jika itu sudah jalannya, maka bisa saja terjadi. Hingga saat ini aku bisa membuktikan kepada mereka. Aku bisa menjadi apa yang aku mau, bekrkarir sesuai dengan passionku. Selama aku tau apa yang aku tuju. Aku mencintai apa yg aku pilih. Aku hanya minta kepada mereka, "restuilah aku dimanapun kakiku melangkah, dimanapun aku bernafas, sebab aku selalu menjaga amanahmu untuk menjadi orang baik walau itu tak mudah. Dan semua yg aku lakukan adalah untuk keluarga". 

Mamaku menangis ketika aku bisa berkontribusi banyak untuk keluarga. Mamaku menyesal telah memperlakukan aku seperti itu. Mamaku minta maaf karena telah menyulitkanku. Mamaku bertanya apakah aku membencinya? Tentu saja TIDAK. Bagaimana aku bisa benci dengan orang yg telah merelakan siangnya menjadi malam, dan malamnya menjadi siang demi aku yg selalu merasa kurang dengan pemberiannya. 

Lalu bagaimana dengan ayahku? Aku memang tidak dekat dengannya. Entah karena aku anak sulung, rasanya berat ingin mengucapkan kata - kata sayang kepada ayahku. Tapi akupun tahu, beliau juga rela bekerja keras demi keluarga dan anak-anaknya. 

Pada akhirnya... Kemanapun kita pergi, ketika kita sulit keluargalah yg akan menerima kita dengan tangan terbuka. Lalu bagaimana aku bisa semudah itu memaafkan mereka yg jelas tidak mendukungku bekembang di alurku? Aku selalu melakukan "do one kindness everyday". Aku punya achievement dalam sehari aku wajib melakukan satu kebaikan. Apapun itu. Sebagai bentuk pengingatku setiap hari apa kebaikan yg sudah kulakukan hari ini. Dan pada suatu hari aku mendapatkan pandangan tentang orang tua yg membuat aku bersyukur. Bersyukur karena aku masih memilikinya, melihat senyumnya, mendengarkan keluh kesahnya.

Thanks Urban Women untuk kesempatannya dapat menulis dan berbagi cerita berdasarkan pengalamanku dahulu.

  



Park Yoo Ahn

No Comments Yet.