Liburan Waktu Untuk Bertukar Pikiran Dengan Mereka Tersayang BUKAN Dengan Sosmed


Monday, 18 Dec 2017


Dulu waktu masih single, liburan berarti 100% me time. Saya bebas memilih destinasi liburan yang sesuai dengan kemauan dan budget saya. Entah itu seru-seruan bersama teman, atau self-enrichment seperti ikut seminar yang saya minati sekalian contemplating time. Saat saya sudah menikah, tentu saja situasi berbeda. Saya tidak bisa cuma memikirkan diri sendiri, karena harus diskusi dengan suami dan menyesuaikan jadwal dan preferensi kedua belah pihak…dan terkadang ketiga belah pihak, karena suami saya memiliki seorang anak perempuan yang beranjak remaja dari pernikahan sebelumnya, yang tinggal bersama mantan istri dia di kota lain. Suami saya memiliki jadwal rutin menghabiskan liburan bersama sang anak, yang sekarang otomatis menjadi anak saya juga. Liburan dari konteks single and free career woman menjadi seorang stepmom….wah awal-awal ini sangat tricky buat saya.

Pengalaman pertama dalam liburan bertiga kami tepat satu tahun lalu di bulan Desember. Saya menyukai anak ini, karena kami memiliki kemiripan, yaitu cuek alias tidak terlalu girly, menyukai musik, menggambar, dan membaca buku. Pada saat suami saya bekerja, saya membawa dia ke museum dan beberapa café. Dari beberapa kali menghabiskan waktu bersama, saya sadar bahwa anak ini bukan penggemar outdoor, dan dia tidak suka berjalan terlalu jauh apalagi di cuaca yang sangat panas. Jadi, lupakan tempat sightseeing seperti pantai, pegunungan, yang sebenarnya amat saya sukai. Masalahnya, karena jadwal kerja, suami saya cuma bisa spend summer holiday sama dia.

Jadi, suami berencana untuk membawa kita ke kota lain dan memesan kamar hotel persis di depan pantai. Kota ini sangat sepi dari keramaian, dan banyak memiliki sightseeing spots seperti pantai dan tebing yang sangat indah. Kalau saya dan suami saja yang pergi pasti bakal happy, tapi saya tau jelas anak ini tidak suka tempat seperti itu. Saya mengutarakan hal ini kepada suami saya, tetapi dia tetap keukeuh pada rencana dia. Dan seperti yang saya bayangkan sebelumnya, liburan itu menjadi bencana. Bagaimanapun saya berusaha membuat sang anak happy, dia mengomel-omel tanpa henti, kemanapun kita pergi. Dia hanya mau tinggal di kamar hotel. Saya tidak tahan mendengar omelannya, dan saya pun lepas kendali dan balik marah. Kita balik ke kamar hotel dan tidak berbicara satu sama lain. Saya pun marah pada suami, karena tidak mendengarkan saya dan akhirnya liburan menjadi berantakan. 

Karena kejadian ini, saya jadi benar-benar trauma liburan bertiga. Saya takut gagal lagi dan rasanya benar-benar tidak enak. Padahal, esensi liburan kan untuk recharge. Lalu, saya dan suami berbicara pada konselor pernikahan. Saya bilang, saya tidak siap menghabiskan waktu bertiga lagi. Saya benar-benar dengan senang hati memberikan suami dan anak waktu berdua untuk liburan, jadi pada saat itu saya bisa pergi ke tempat lain dan semua sama-sama happy. Konselor kami tidak menyarankan saya untuk melakukan hal itu, karena menurut dia justru kekompakan kami berdua dalam menghabiskan liburan bersama sang anak akan menginspirasi anak itu dan memberikan contoh yang baik sebagai orang tua yang memiliki hubungan yang sehat dan solid. Lantas, kami berkomitmen untuk berusaha untuk mendengarkan satu sama lain dalam merencanakan liburan yang selanjutnya. Starts from the child’s interests, yang kita berdua juga enjoy. Saya bilang sama suami saya, kalau anak itu sangat menyukai aktivitas yang simple. Sekadar main game bersama, pergi ke toko buku, dan ke toko ice cream, dia senang sekali. Akhirnya, suami saya pun mendengarkan masukan saya.

Tapi saya pikir, rencana summer holiday yang sesuai dengan minat kita bertiga saja tidak cukup. Saya benar-benar ingin mengenal anak ini, karena saya hanya punya kesempatan menghabiskan waktu bersama dia satu bulan dalam setahun. Saya setuju pada opini suami bahwa everything takes time, tetapi lebih dari itu, kita juga musti usaha, karena tidak semua orang yang tahu satu sama lain lebih lama menjadi lebih dekat. Jadi, saya membuat Skype group, yang isinya kami bertiga, dan rutin Skype video call every week. Dari conversation di Skype ini, saya menyadari bahwa pada masa ini, teman-teman sangat penting dalam kehidupan anak ini (jadi ingat saya sendiri). Jadi, saya juga berkeinginan mengenal teman-teman dia. Terlebih, saya juga ingin mengenal orang rumah dimana anak ini tinggal, mulai dari mamanya sampai grandparentsnya. Karena, saya percaya, walaupun sudah bercerai, pihak saya sebagai istri baru, suami, dan mantan istri sebaiknya tetap menjalin komunikasi yang respectful dan dalam healthy boundaries, for the sake of the child’s wellbeing and healthy development. Jadi, pada liburan ini, saya berinisiatif untuk menemani suami mengunjungi kampung halamannya dimana anak ini tinggal. Kami berdua yang menjemput anak itu ke rumah dia, berkenalan dengan orang-orang rumah dia, menghabiskan waktu bertiga di rumah ayah suami saya dan merencanakan Christmas playdate bersama teman-teman dia. Suami dan ayah suami sangat mendukung ide ini. Saya dan anak ini juga sangat senang dengan rencana ini.

Sekarang, pada saat saya mengetik artikel ini, saya lagi liburan sama mereka. It was much greater than the last holiday. Saya kenalan sama mamanya, yang menyapa saya dengan ramah. Si anaknya bahkan membawakan saya buku dia yang dulu belum selesai saya baca. Kita main game bersama sepupu dia, dan si anak juga membantu saya membuat origami untuk dekorasi resepsi pernikahan saya yang baru akan berlangsung tahun depan. Dan kami amat sangat menantikan Christmas playdate lusa. Saya belajar, selain untuk me time, liburan bisa sangat bermanfaat untuk mendekatkan hubungan kita dengan orang-orang tercinta.Menurut saya ini cara saya mengapresiasikan diri saat liburan.  After all, life is not only about me, but sharing with others .



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.