Liburan Bukan Untuk Pamer, Tapi Memuaskan Batin Kita


Tuesday, 19 Dec 2017


Liburan yang dinikmati generasi jaman sekarang dan jaman kami,  saya rasa lebih berqualitas liburan pada jaman kami yang kami aplikasikan terus sampai saat ini.

 Saat ini banyak orang liburan untuk selfie-selfie dan men-display pengalaman liburannya Instagram, FB dan media lain.  Selain mendisplay di sosmednya tempat-tempat yang dikunjungi, mereka juga tergoda untuk mendisplay makanan yang mereka makan, dan….biasanya keren – keren….dan… ini butuh biaya extra. Tulisan ini adalah tulisan dari cerita teman-temanku dengan memberikan pandanganku berdasarkan pengalamanku tentang cara mengapresiasi diri sendiri ketika liburan atau cuti sebagai seorang pimpinan perusahaan dan sebagai seorang Ibu di rumah.

Sebut saja salah satu teman muda ku yang melakukan hal ini bernama Agnes. Agnes adalah seorang istri yang tidak bekerja, ia diberi uang bulanan dari suaminya yang bekerja pada perusahaan keluarga dengan digaji. Memang suaminya dikenal dari keluarga mampu dan terkenal di kota kami. Justru dari cerita Agnes lah kami tahu bahwa suaminya digaji oleh perusahaan keluarganya dan dari ceritanya juga kami jadi tahu bahwa ia hanya diberi uang bulanan Rp 1,5 juta saja selain biaya sekolah anak-anaknya di sekolah bergengsi.

Dengan uang Rp 1,5juta, Agnes selalu mengeluh tidak cukup karena ia harus membayar biaya bahan bakar mobilnya, makan dan minum di kafe-kafe terkenal dan selfie selfie serta memamerkan makanan dan minuman yang ada disana. Tidak seorangpun yang mengetahui bahwa ia kekurangan jika ia sendiri tidak mengeluh.

Demikian juga jika mereka ke luar negeri, ia harus berfoto dengan semua fasilitas mewah dari hotel – hotel berbintang dan tentu makanan dan minuman yang mereka nikmati. Sekilas kalau ia tidak bercerita, kita akan melihat kehidupan yang wah tapi kehidupan itu adalah kehidupan yang dipaksakan meskipun real hanya untuk kelihatan keren di sosmed.  Sebenarnya tidak ada yang salah dengan cara hidup Agnes, tapi menjadi kurang sempurna karena ia mengeluhkannya.

Kisah temanku lainnya sebut aja namanya Sisi, ia staf sebuah perusahaan dengan gaji Rp  5juta/ bulan . Ia juga melakukan hal yang sama, setiap hari berselfie di tempat yang keren-keren, foto-foto makanan yang mereka makan dan display di sosmednya. Sangat mudah sekali memantau aktifitas mereka di sosmed.

Jika sisi keluar negeri, sisi lebih keren lagi membagi kisah perjalanannya di sosmed, sampai foto kamar hotelnya, bath up hotel, meja hiasnya semua di masukkan dalam IG dan sosmednya seperti artis yang dibayar untuk promosi, ia tuliskan semuanya secara detail. Demikian juga dengan makanan yang mereka makan, ia tulis detail. Hm…begitu beruntung hotel dan restoran yang dikunjunginya, mendapatkan promo gratis.

Sisi cerita ke saya bahwa tidak lama kemudian, Sisi yang merasa gajinya tidak cukup, meminta tambahan pada pimpinan perusahaannya dan tidak dikabulkan karena pekerjaannya tidak terlalu memberi kontribusi pada perusahaan dimana ia bekerja.  Karena tidak dipenuhi, akhirnya Sisi memilih tidak lagi bekerja di sana.

Setelah keluar dari perusahaan itu, Sisi berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya dan semuanya tidak mecukupi gaya hidupnya. Akhirnya Sisi pulang ke kampung, bak selebriti yang pulang kampung, dari medsosnya sekarang sering terbaca Sisi mengeluhkan tetangganya yang kepoin dia, yang menganalisa dirinya. Menurut saya yang melihat dari sisi lain sih wajar saja dia dikepoin karena ia bukan siapa-siapa di kampungnya, tapi sisi malah terus dipandang masih seperti Sisi yang dulu masih bekerja dan hidup di kota.

Selanjutnya teman saya lainnya sebut saja namanya Titi, ia hidup hanya dari jualan warung yang tidak seberapa, kadang untuk membayar uang sekolahnya, ia harus berhutang kesana kemari bahkan terkadang berhutang ke tengkulak dengan bunga 5% per bulan. Tapi  pada saat anaknya liburan, mereka sekeluarga berlibur ke kota-kota lain dengan berhutang. Katanya pada saya :” biar anak saya tidak ketinggalan gaya, Bu, biar anak saya tidak kuper. Dan lagian bu, kasihan anak saya, teman-temannya posting makanan enak, tempat liburan yang keren-keren, anak saya tidak punya hal yanga bisa diposting, Bu ..bla bla bla.”

Benar bahwa niatnya baik tapi  Titi lupa dengan bahwa ia tidak mampu membiayai keinginan baik itu. Kemudian saya sarankan demikian (sebagaimana saya sendiri menghidupinya) :” adalah baik bahwa kita ingin anak kita tidak kuper, mengetahui banyak hal baru  dan berlibur seperti teman-temannya. Hal ini sangat baik. Justru karena baik, maka sebagai orang tua kita harus bekerja lebih giat untuk mencapai niat baik itu. Kita harus bisa menata diri, menata pendapatan dan pengeluaran dan menata cara kita hidup agar kita memiliki tabungan yang mampu kita sisihkan untuk membawa anak kita berlibur. Inipun harus sesuai dengan budget.

Saya dari dulu selalu membibit anak-anak saya yang kini masuk kategori anak zaman sekarang (millenials) Kalau kita mampunya cuma makan di warung, tidak ada salahnya posting makanan warung yang merupakan kuliner asli Indonesia. Malah kita harus bangga bahwa kuliner kita sangat menarik dan tidak kalah dengan kuliner negara-negara lain. Lagian kita tidak perlu harus menginap di hotel-hotel mewah jika kita menikmati liburan itu jalan-jalan sambil berkuliner dan balik ke hotelnya malam hari. Betapa sayangnya kita bayar mahal hotel mewah yang mahal karena fasilitasnya, tapi kita tidak menikmati fasilitas yang sebenarnya telah kita bayar.

Kalau kita tidak mampu berlibur, kita harus sedih karena artinya kita belum cukup kerja keras untuk membawa keluarga kita jalan- jalan, kita harus kerja lebih keras lagi. Jika belum juga mampu, cukup didik anak kita nanti menjadi lebih baik, agar kelak dengan semua kecerdasannya anak kita mampu berlibur kemana saja, makan makanan enak apa saja karena memang ia mampu membiayainya. Jika Titi memaksakan berlibur dalam ketidak mampuan, kapan Titi bisa fokus memberikan yang terbaik pada anak Titi sementara Titi harus meng-angsur hutang bersama bunganya ? Percayalah, anak kita akan menikmati liburannya kelak dengan cara mereka. Bantu mereka untuk menggapai hidup yang lebih baik daripada hidup standar itu cara mengapresiasi diri sendiri dengan mengatakan pada mereka bahwa kita Liburan tidak harus untuk dilihat orang di sosial media melainkan lebih kepada bagaimana cara kita bisa menikmati liburan tersebut. Itu juga saya tanamkan ke anak-anak saya.

Untunglah Titi berkenan menyadarinya dan sekarang Titi dan suami bekerja lebih semangat dan sudah tidak terbebani hutang. Anak sulungnya pun sudah selesai kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan dan berpenghasilan masih di batas cukup. Anak bungsunya baru masuk bangku kuliah. Saya yakinkan Titi, sebentar lagi yang bekerja bukan hanya Titi dan suami tapi juga kedua anaknya. Nah saat itu, ketika penghasilan sudah lebih dari cukup, kalian bisa berlibur dengan sukacita. Ok kita contohkan satu lagi, sebut saja namanya Chintya, ia seorang wanita pengusaha pemilik banyak usaha.

Chintya berbeda dengan kedua temanku diatas, ia tidak  mau memiliki FB, IG atau medsos karena beberapa pertimbangan ,katanya , tidak pantas aktifitasnya terpantau dan mudah ditebak teman dan saingan bisnisnya, Ya dengan meng-expos kegiatan liburan, makan dan lainnya, kata chintya akan memancing instansi untuk memeriksa sumber dananya, karena mereka bisa berasumsi bahwa kita menikmati kemewahan dari hasil kerja, padahal terkadang kita melakukannya untuk entertaint business atau business trip dan sesekali family trip.

Beda orang tentu berbeda pemilihan cara hidup. Saya sering sampaikan pada team kerja, kalau mau jalan – jalan atau liburan, sebelumnya bekerja lah optimal sehingga dana yang ditabung cukup untuk menikmati liburan cuti tanpa harus terbebani uang yang kurang dan pekerjaan yang masih mengganggu aktifitas liburan. Liburan cuti yang hanya belasan hari dalam setahun, sebijaknya  dinikmati sungguh-sungguh sebagai refreshing sukacita melepaskan penat kerja, stress kerja dan untuk menambah wawasan agar sekembali dari liburan cuti, kalian bisa menjadi manusia baru yang lebih energik, bersemangat dan punya visi yang lebih jelas. Dengan demikian kalian merasakan betapa indahnya kehidupan ini.

Saya katakan ke mereka, “coba pikir bagaimana bisa indah menikmati liburan jika liburan itu dipaksakan karena uang yang terbatas (sedikit) sedangkan yang dilihat banyak, yang berbeda dari keseharian juga banyak, atau bahkan pulangnya uang terkuras habis, kemudian hidup dalam keprihatinan atau bahkan mencari hutang untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari ?. Di jaman kami, berlibur dipakai untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga atau teman-teman untuk merasakan kebahagiaan, melepaskan Lelah kerja sejenak dan menambah wawasan dan ide baru agar sepulang liburan tumbuh semangat baru untuk menumbuh kembangkan diri meraih kehidupan yang lebih baik lagi”.

Biasanya sepulang liburan banyak hal dan peluang baru yang bisa di-adopt, minimal mempunyai ide baru untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik, bagi yang bekerja, akan semakin memotivasi diri bagaimana bekerja lebih baik, lebih cerdas, lebih cepat, lebih tepat, lebih mudah dan lebih bahagia setelah melihat orang-orang lain bekerja di tempat tujuan liburan itu hasil dari  meng-analisa sekeliling dan pengalaman liburan misalnya di sebuah tempat yang dikunjungi, pelayanannya sangat lelet melayani maka pengalaman itu kita jadikan refleksi bahwa kita tidak boleh lelet melayani customer, atau jika mengalami bahwa cara kerja pelayan itu membuat rugi usahanya karena memberi peluang mudah dimanipulasi, maka bagaimana kita membuat usaha kita tidak mudah dimanipulasi dstnya.

Bagi pengusaha, liburan seringkali bukan sekedar liburan saja , biasa mereka melihat peluang dan membuka usaha yang menarik perhatian mereka. Liburan harus bisa menjadikan orang yang berliburan pulangnya menjadi semakin semangat, menjadi semakin bergairah untuk bekerja atau berusaha lebih baik, dan sebijaknya tidak hanya berorentasi pada meng-expos foto-foto makanan wah untuk mendapatkan apresiasi dari yang melihat medsos kita.  Betapa sangat sayang biaya yang dikeluarkan untuk liburan malah KHUSUS dipakai untuk mempromosikan usaha orang lain secara gratis (meng-endorse usaha orang lain secara gratis padahal mereka biasa membayar pemilik IG yang banyak follower untuk mempromosikan usaha mereka).

Demikian juga jika medsos kita diisi  dengan foto-foto hotel berfasilitas mewah untuk menunjukkan kelas kita, kita memancing orang lain untuk menilai diri kita, seperti kisah Sisi , Agnes dan Titi diatas. Toh kita harus kembali pada realita kehidupan kita sepulang dari liburan karena itulah kehidupan kita yang sesungguhnya. Tidak ada yang salah jika kita ingin meng-expos, memposting pengalaman liburan kita di medsos kita untuk menyampaikan kegembiraan hati kita, tapi tentu kita juga bijak berpikir tentang dampaknya bagi kehidupannya nyata kita. Coba perhatikan kehidupan Chintya, ia benar-benar dapat menjadi wanita mampu, ia  malah tidak berani meng-expos kehidupan realnya karena kuatir menimbulkan penilaian orang lain dan membangkitkan asumsi orang lain.

Jika menerima saran Chintya,  bahwa kelas kehidupan kita dinilai  bukan dari apa yang digambarkan melalui postingan kita melalui  sosial media tapi kehidupan sehari – hari. Itu juga yang aku terapkan pada anak-anakku agar kelak mereka tidak memiliki pola pikir seperti Sisi, Titi dan Agnes.

Jika demikian, liburan tentu akan lebih bermakna jika kita bisa memaknai TUJUAN berlibur lebih kepada cara kita menghargai diri sendiri dengan menikmati liburan tersebut tanpa harus terlalu showoff di sosial media. Saya sendiri pun tiap liburan atau cuti memilih untuk tidak mempostingnya langsung, Tapi biasanya saya lakukan setelah liburan itu usai. Karena itu cara saya menghargai diri saya sendiri agar bisa menikmati liburan dengan sempurna dan puas. Jadi ketika kembali bekerja lebih “cling dan ON”.



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.