LDR Nggak Selalu Bikin Baper Kok


Friday, 25 Aug 2017


Pagi ini ditemani dengan segelas air lemon hangat, saya memilih tema Long Distance Relationship (LDR) atau hubungan cinta jarak jauh. Hal apa yang terbersit ketika kita mendengar kata LDR, rasanya hampir semua orang pasti akan berujar “Oh ya” atau “serius” dan ada lagi yang akan bergumam “hmm, sepertinya sulit”. Well, hal tersebut wajar jika mengingat LDR adalah suatu fase hubungan yang terbentang karena jarak tertentu, ada yang terpisah hanya antar kota, antar Negara sampai beda benua.

 

Jika bicara soal cinta, siapa yang tidak ingin jatuh cinta. Cinta adalah hal paling wajar dan murni bagi setiap manusia, tidak ada satu bagian dari hidup kita yang terlepas dari cinta. Terlepas karena urusan karir, pendidikan, dan lainnya beberapa pasangan akan berada pada zona LDR. Ketika memutuskan untuk melanjutkan hubungan baik pacaran maupun pernikahan dalam zona LDR, tentunya kedua belah pihak harus benar benar yakin akan keputusan yang diambil dan satu hal yang paling penting : yakin pada pasangannya masing masing. Karena jika salah satu dari pasangan tersebut mulai tidak yakin akan pasangannya  yang lain, hal lain akan dengan mudah menjadi pemicu kemungkinan retaknya hubungan yang sudah dibina. Tentunya kita tidak ingin “investasi” waktu dan kasih sayang yang sudah kita curahkan terbuang tersisa begitu saja.

 

Setiap orang yang saya temui akan menatap dengan penuh keheranan, kok bisa saya bertahan dengan pola LDR dalam fase pacaran hingga ke pernikahan. Ya, saya adalah seorang LDR survivor, dengan total waktu 12 tahun (2 tahun pacaran dan 10 tahun pernikahan). Sepanjang karir saya dibeberapa perusahaan, saya adalah satu satunya perempuan yang menikah secara LDR, tentunya kolega, atasan dan rekan kerja akan jarang sekali bertemu dengan suami saya dibeberapa acara yang saya datangi, bahkan beberapa mengatakan ingin bertemu dengannya. Pertanyaan sangat lazim adalah “ Suaminya mana, kenapa tidak diajak kesini”.

 

Fase hubungan LDR bukanlah sesuatu yang mudah, karena membutuhkan kepercayaan, dan disatu sisi pihak perempuan harus dituntut untuk menjadi mandiri karena mengingat pasangannya tidak akan selalu berada disisinya terus menerus.  Saya juga sempat di awal pacaran mengalaminya tapi semuanya lewat sejalan dengan komitmen yang saya dan pasangan bangun. Sempat ada yang bertanya ke saya “Mbak apa tidak merasa galau dan punya perasaan negatif ke pasangannya yang jauh di mata?” saya jawab “Tidak, karena kan dekat dihati  haahaa..saya tambahkan jokes dikit ya biar nggak garing, saya jawab tidak, karena dari pacaran hingga akhirnya kita berdua memutuskan menikah saya dan pasangan sudah bulat komitment untuk saling percaya, komunikasi terbuka dan jujur. Jadi nggak ada saya rasakan yang namanya perasaan galau, negatif dan pikiran lebay lainnya yang saya pikir hanya akan membuat kita badmood sendiri.

 

Yaa..mungkin beberapa orang ada yang tidak sekuat saya, tapi cara pengelolaan emosi saya ini sebenarnya bisa kok bertahap diterapkan oleh Urbanesse juga yang mungkin saat ini sedang mengalami yang namanya LDR dengan orang yang dikasihinya. Kali ini saya akan memberikan beberapa cara yang saya lakukan dengan pasangan dan ini wajib saya jalankan. untuk para ladies yang akan atau sedang menjalani LDR, supaya hubungan yang dibina tetap langgeng dan emosi batinnya bisa terkelola dengan baik ketika berjauhan.

 

  1. Komunikasi 

Poin yang terlihat mudah tetapi sangat penting karena menjadi landasan setiap hubungan. Saya dan pasangan selalu membiasakan untuk berkomunikasi setiap hari, terlebih saat ini media komunikasi sangat banyak seperti WhatsApp, Skype, Facebook, Line. Jadi tidak ada alasan untuk berhenti berkomunikasi.

 

Jadikan, dia sebagai tempat pertama curhat kita.  Karena saat ini saya pikir jarak sudah bukan lagi penghalang untuk saya dan pasangan tetap bisa menjaga komunikasi. Ketika lagi kangen banget saya atau pasangan putuskan untuk video call atau skype itupun saya lakukan diluar jam kerja saya dan dia. Ini penting karena inilah cara saya beerkomunikasi dengannya.

 

  1. Bicarakan masa depan

Seperti halnya hubungan yang lain, tentunya kita tidak ingin membuang percuma waktu yang sudah dihabiskan dalam membina hubungan. Jadi frase “mau dibawa kemana hubungan kita” adalah hal yang wajar. Jika ingin melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih lanjut maka hal penting untuk mendiskusikan poin ini. Itu saya lakukan ketika masih masa-masa pacaran.

 

Ketika sudah menikah membicarakan masa depannya lebih kepada jadwal bertemu dan menghabiskan waktu bersama, saya bertemu dengan pasangan 1,5 bulan sekali, dulu sih waktu masih pacaran bisa ketemu 2 minggu sekali tapi berhubung sekarang dia berkantor cukup jauh dari Jakarta alias beda pulau jadi tekor juga kalau saya atau dia harus bolak balik ketemu tiap 2 minggu, lebih baik uangnya saya tabung untuk kebutuhan kami kedepan, kan bekerja itu pasti ada lelahnya toh ada saat kita merencanakan untuk hidup bersama berdekatan satu kota. heehee

 

Rencana menambah momongan hingga target ked epan saya dan pasangan bisa hidup berdekatan jadi tidak berjauhan lagi adalah rencana kita selanjutnya, berharap hingga akhir hayat. Itupun kami sudah diskusikan. Jadi jelas segala sesuatunya akan dibawa kemana. Saya dan pasangan sudah komit akan hal ini, karena kalau salah satu nggak pegang komitmentnya maka nggak akan jalan.

 

  1. Miliki karir dan aktivitas positif

Ingat Ladies, LDR tidak akan berjalan dengan nyaman dan baik jika kita memiliki pengelolaan emosi yang tidak cerdas dan stabil. Saat ini pasti sebagian besar perempuan memiliki karir masing masing dan segudang aktifitas positif. Tidak jarang banyak perempuan yang ada dipuncak pimpinan suatu organisasi atau perusahaan.

 

Fokus pada pekerjaan atau bisnis yang dimiliki. Selain itu bergabung dengan beberapa aktivitas seperti keanggotaan olahraga : lari, sepeda hingga yoga. Hal hal positif tersebut akan menambah poin kita sebagai perempuan mandiri dan menjadikan kita tidak harus selalu memikirkan mengenai pasangan dan emosi kita pun bisa terkelola dengan baik (jadi tidak mudah baper, galau dan drama meski LDR dengan pasangan kita) karena emosi dan energi kita teralihkan dengan aktivitas-aktivitas tersebut.

 

Tiga hal yang saya sebutkan itu merupakan poin yang paling penting untuk menjalani hubungan LDR, selain Komitment tetap saling percaya, jujur, terbuka dan saling setia pastinya. Cara tersebut juga saya bagi ke beberapa sahabat saya yang juga  dalam membina hubungan pacaran dan pernikahan dengan pasangan yang ada diluar kota bahkan luar negeri. Sahabat saya pun, saya tawarkan 3 cara saya ini dan mereka berhasil membina hubungannya. Pernikahan merekapun bertahan hingga sekarang semoga seterusnya.

Urbanesse cara saya ini Semoga dapat membantu kamu yang mungkin saat ini sedang menjalani hubungan LDR dengan pasangan ya.



Risa

No Comments Yet.