Kuciptakan Bahagia, Di karirku Saat Ini


Tuesday, 30 Jan 2018


Mendefinisikan sukses dan bahagia dalam konteks karir tidak harus menunggu pada saat kita mencapai hasil yang terdengar luar biasa buat orang lain. Terkadang, makna sukses bisa sesimpel memetik pelajaran berharga dalam melalui proses mencari pekerjaan yang pada akhirnya, kita berhasil mendapatkan pekerjaan yang kita benar-benar inginkan.  Bukan sekedar melihat gajinya, tapi juga melihat team dan organisasinya. Dengan kata lain, sukses pun bisa dirayakan di awal karir.

Pekerjaan full time pertama saya sebagai guru adalah pengalaman berharga yang kurang mengenakkan. Saya baru lulus dari program Master of Teaching for Early Childhood di Sydney, Australia. Childcare centre tempat saya magang untuk tugas akhir menyukai saya, dan Manager langsung memberikan penawaran kerja fulltime sebagai guru, tetapi di centre lain yang juga mereka miliki.

Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan, karena saya pun suka dengan centre mereka. Tetapi, sayangnya, manajemen di centre tempat saya diposisikan sangat berbeda. Cara mereka dalam menangani day to day operational kurang professional, dan banyak guru-guru yang menjelek-jelekkan satu sama lain. Setiap hari, walaupun situasi negative, saya berusaha enjoy dan focus pada pekerjaan saya, tanpa ikut-ikutan dalam drama tersebut. Sampai suatu ketika, room leader di kelas tempat saya bekerja mengundurkan diri, dan pihak manajemen tidak mengambil room leader baru, tetapi juga tidak mengangkat saya menjadi room leader dengan alasan saya masih baru lulus dan kurang pengalaman.

Tetapi, saya satu-satunya guru fulltime yang bekerja di kelas itu, sedangkan guru yang lain hanya casual atau part-time. Mau tidak mau, untuk sementara waktu tanggung jawab sebagai room leader tetap di tangan saya, walaupun tanpa status. Saya melihat ini tidak benar, dan saya memberanikan diri untuk berbicara pada pemilik Centre langsung. Pada akhirnya, dia memberikan saya kesempatan untuk menjadi room leader, tetapi intuisi saya mengatakan bahwa centre dan organisasi ini bukanlah komunitas yang cocok bagi saya untuk bertumbuhkembang menjadi seorang guru sesuai dengan visi saya, dan saya tidak bisa melihat masa depan saya di sini. Jadi, saya pun mengundurkan diri dengan baik-baik.

Saya kembali kepada agency terdahulu dimana saya menjadi casual childcare educator selama saya kuliah. Mereka menerima saya kembali dengan antusias. Setiap jam 6 pagi, saya dibangunkan oleh telepon dari agency yang menyuruh saya untuk pergi ke childcare centre yang berbeda-beda setiap harinya. Saya berpikir menjadi guru casual itu ibarat dating, saatnya dimana saya membuka mata lebar-lebar, mengamati dan membandingkan segala aspek dari berbagai centre yang saya datangi. Sedangkan menjadi guru full-time itu ibaratnya menikah, harus berkomitmen dan berdedikasi kepada perusahaan. Ternyata, kinerja saya mendapat feedback yang positif dari beberapa centre tempat saya bekerja dalam mewakili pihak agency. Hingga suatu hari, pihak agency memberikan saya kesempatan untuk interview sebagai full time teacher di sebuah childcare centre client mereka. Childcare centre itu for profit family owned dan baru berjalan kurang dari 5 tahun. Saya menolak kesempatan itu, karena berdasarkan analisa saya selama bekerja secara casual, saya lebih menyukai culture dan teaching practices di non-for profit, bigger and well-established organisations, dan gajinya pun memang lebih besar. Tetapi, pihak agency meyakinkan saya beberapa kali bahwa organisasi ini berbeda dengan stereotype for profit private organisations pada umumnya. Akhirnya, saya pun mengiyakan kesempatan buat interview.

Ternyata, organisasi itu sangat menyukai saya dan memberikan saya penawaran kerja sebagai fulltime teacher. Tetapi, ketika bernegosiasi gaji, kami tidak ketemu di satu titik dan saya memutuskan untuk tidak menerima tawaran kerja tersebut. Pihak agency meyakinkan saya bahwa nilai yang saya minta tidak wajar sebagai fresh graduate. Namun, saya tegaskan pada mereka saya sudah melakukan research. Bukan sekadar Google, melainkan bertanya pada beberapa teman saya, baik yang baru lulus seperti saya maupun yang sudah berpengalaman. Pihak agency berkata kalau orientasi saya adalah uang, pendidikan bukanlah sector yang tepat buat saya. Saya lantas berkata kalau orientasi saya adalah uang, saya tidak akan menjadi guru, melainkan menjadi sales property atau setidaknya menjadi desainer grafis, dimana saya memang sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun dan gajinya lebih besar daripada guru. Saya jelaskan saya mau balance antara kesuksesan dalam finansial dan passion fulfilment. Lucunya, selang beberapa hari, boss dari pihak agency menelepon saya secara langsung dan dia bersedia untuk membantu saya dalam mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan preferensi saya. Di sini saya baru sadar, meskipun pendidikan adalah sektor yang baru buat saya, tetapi  8 tahun bekerja di industri lain dan pengalaman memimpin volunteer team memberikan bekal kepercayaan diri, critical thinking dan keyakinan dalam bernegosiasi untuk meraih hal yang benar-benar saya inginkan secara realistis dan objektif, tanpa dimanipulasi pihak lain.

 Pada saat yang saja, saya juga melamar ke beberapa organisasi non-for profit lain yang saya minati. Saya beruntung mendapatkan tiga panggilan interview dalam kurun waktu yang berdekatan. Dalam interview, saya benar-benar menjadi diri saya sendiri tanpa melebih-lebihkan. Interview ibarat speed dating. Bukan hanya pihak organisasi menilai kita, kita juga menilai mereka. Jadinya nggak desperate dan objektif. Ternyata, ketiga organisasi ini memanggil saya untuk interview lebih lanjut dan saya benar-benar berpikir keras dan bertanya pada Tuhan mana yang harus saya ambil. Hasil akhirnya? Ternyata, saya bukan memilih organisasi yang memberikan gaji paling besar, melainkan yang saya merasa paling sreg dengan teamnya, selain gajinya pun masih cocok dengan permintaan saya.

 Saya memilih yang job descriptionsnya paling saya minati, yang menghargai saya dengan kualifikasi, karakter dan pengalaman saya detik ini, yang memberikan saya kepercayaan untuk membantu berubah ke arah yang lebih baik, yang sejalan dengan apa yang saya omongkan dan saya yakini. Saya memutuskan untuk menjadi preschool room leader di salah satu organisasi non-profit. Organisasi lain yang menawarkan gaji lebih besar pun menghargai kejujuran saya ketika saya menolak penawaran mereka, dengan alasan saya lebih merasa nyaman mengajar di preschool dengan jumlah anak lebih sedikit.

Bahagianya saya kemarin, saya menandatangani kontrak baru dan saya akan mulai bekerja Senin ini. Menurut saya pribadi, ini adalah awal yang sukses buat karir saya di awal tahun, karena saya sudah berusaha yang terbaik dalam mendapatkannya. Ini cerita tentang kebahagiaan dan sukses versi saya.  Let’s celebrate!

 



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.