Komunikasi Dua Arah, Itu Kuncinya


Monday, 27 Aug 2018


Beberapa orangtua memiliki itikad baik untuk anak-anak mereka, dalam hal pendidikan, pergaulan, sampai ke urusan perjodohan. Beberapa orangtua bahkan cederung bersikap sangat over protektif menyangkut masa depan anaknya. Meskipun orangtua saya tidak sampai bersikap demikian, namun saya merasakan ada masa-masa orangtua punya andil cukup dominan terhadap pilihan saya.

Setelah lulus kuliah dan menjadi sarjana, orangtua saya berperan dalam jenis pekerjaan yang saya dapatkan. Obsesi orangtua, saya bekerja di perbankan. Alasannya banyak: background pekerjaan ayah saya di perbankan, jenjang karir cepat, fasilitas mudah, dan otomatis mengangkat derajat sebagai seorang fresh graduate. Saya lulus sarjana di usia 25 tahun, sedikit terlambat memang untuk mulai bekerja dengan nyaris tanpa pengalaman sebelumnya. Saat itu saya menginginkan pekerjaan lain, meski pada akhirnya saya tetap bekerja sesuai keinginan orangtua. Entah bagaimana, saya menyetujuinya walau dengan berat hati. “ya sudah deh, saya mencobanya pikir saya saat itu. Nggak terpikirkan kalau aku sebagai anak punya hak juga untuk memilih sesuai pilihan yang aku yakini benar. Tapi karena pada waktu itu aku masih punya mindset “Kalau aku nggak nurut, aku nanti dianggap bukan anak yang berbakti” pikirku, makanya saat itu aku jalani saja apa kata mereka tanpa mikir resiko yang bakal aku jalani kedepannya.

Berpikir Ulang Apakah Pilihan Orangtua Adalah Baik Untuk Saya ?

Menjalankan suatu pilihan dengan setengah hati memang selalu berdampak kurang baik. Selama bekerja, tingkat stress saya cukup tinggi. Dalam kurun waktu 4 bulan saja berat badan saya sudah turun 8kg. Saat itu saya berpikir ulang apakah pilihan pekerjaan mengikuti sesuai keinginan orangtua ini adalah yang terbaik, kalau terbaik mengapa saya merasa terbebani menjalaninya?. Saat itu saya pikir jangan-jangan saya keliru, saya seharusnya bisa memilah lagi mana karir terbaik menurur versi saya. Karena berkarir sama halnya dengan memilih pasangan hidup, kalau yang memilihkan adalah orang lain lalu kitanya nggak suka bisa nggak nyaman. Karena berkarir dan memilih pasangan hidup adalah kita yang menjalaninya setiap hari bukan orangtua.

Dari situ saya mulai bergegas untuk mulai berpindah haluan karir, aku komunikasikan ini ke orangtua. Bahwa apa yang baik menurut mereka belum tentu baik untukku. Melihat hal tersebut,orangtua saya terutama  Ibu cukup khawatir. Beliau sempat berkata jika memang pekerjaan tersebut memberatkan saya, saya diperkenankan mencari pekerjaan lain yang saya suka namun tetap dengan batasan yang jelas baik dari jenis pekerjaannya dan baik untuk diri saya.

Akhirnya setelah resigne dari pekerjaan yang lama itu dan berangkat dari restu orangtua tersebut ditahun 2017 saya mendapat pekerjaan yang sangat membuat saya betah dan tentunya ini murni pilhan saya: Customer Experience. Masa awal bekerja memang Ayah sempat meragu, karena Call Centre bukanlah sebuah pekerjaan yang patut orangtua banggakan dari anaknya. Namun saya mampu membuktikan, 4 tahun bekerja semua hal yang diragukan orangtua saya itu tidak benar. Saya tetap bisa mandiri dengan gaji yang cukup baik dan yang terpenting saya tidak terbebani karena ini pekerjaan murni pilihan saya, dan saya suka dengan pekerjaan tersebut. Saya mampu membuat orangtua bangga, kini saya sudah diangkat sebagai Supervisor tim call center  dengan gaji yang sangat baik dari sebelumnya.  Saya kini bisa  bertanggung jawab dengan pilihan saya dan membuktikan pada orangtua saya bahwa inilah pilihan karir yang tidak membebani saya.

Belum lama ini Ibu saya berpesan: “jika memang kamu suka dan betah dengan pekerjaanmu sekarang, ditelateni saja. Siapa tau memang rejeki dan jodohmu di sana.” Aamiin ujar saya.  Ayah sayapun mulai mengerti bahwa saya sudah cukup dewasa untuk bertanggung jawab dengan sebuah pilihan. Orangtua saya belajar, bahwa keinginan mereka tidak bisa dipaksakan ke anak. Cita-cita mereka yang tidak terwujud dahulu, juga tidak bisa mereka lemparkan ke anak, karena anak-anak ada masanya, orangtua juga ada masanya. Orangtua saya kini menyadari bahwa mereka sebagai orangtua tidak bisa memaksakan keinginan mereka untuk membentuk anak-anaknya seperti mau mereka, Orangtua saya kini memberikan saya ruang untuk memilih segala sesuatu termasuk urusan jodoh saya. Mereka tidak mematok dan menekan  saya untuk mendapatkan pasangan yang seperti apa dan bagaimana yang terpenting saya menemukan pasangan yang bisa sama-sama membentuk diri masing-masing menjadi pribadi lebih baik dan mau sama-sama saling melengkapi” ujar ayah dan Ibu saya.

Dari cerita ini saya dan orangtua kini sama-sama belajar untuk saling mengkomunikasikan keinginan kita dengan baik-baik, orangtua akan mengerti dan mungkin menghargai pilihan yang kita ambil. Jika mereka tidak jua memahami, sabar adalah sikap yang harus saya lakukan sebagai anak, sabar menjelaskan dan memahami mereka. Komunikasi dua arah itu kuncinya, bagaimana orangtua mengerti apa yang kita mau tentunya bergantung dari bagaimana kita menjelaskan dengan baik mengenai pilihan tersebut. Jika kita mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri terlebih dahulu, maka orangtua tidak akan ragu mempercayai setiap keputusan dan pilihan yang kita ambil.



Nesiana Yuko Argina

No Comments Yet.