Kini Aku Memilih Bahagia, Meski Pernah Kecewa


Tuesday, 25 Apr 2017


Sebut saja namanya Yong Yong, seorang wanita berumur 72 tahun saat ini.  Ia adalah wanita yang memilih pilihan yang tepat yang berbuah kebahagiaan saat ini. Ia menunjukkan kepadaku sebuah “power kehidupan “ bahwa apa yang ditanam itu yang tumbuh, kebahagiaan kita ditentukan oleh pilihan cara menjalani kehidupan ini.

 

Pada usia Yong Yong 34 tahun dengan anak 4 orang yang masih kecil – kecil, suatu ketika, Yong Yong terkejut mengetahui bahwa suami yang selama ini dianggapnya begitu mencintainya,  ternyata telah memiliki selingkuhan selama 8 tahun di rumah yang sama dengannya. Selingkuhan  suaminya adalah karyawannya , yang sudah dianggap keluarga sendiri, sebut saja namanya Yenny. 

 

Bagaimana Yong Yong tidak terkejut karena Yongyong begitu sayangnya pada Yenny, sudah dianggap seperti adik sendiri, bahkan keluarga Yenny yang miskinpun dibantu Yongyong. Adik – adik Yenny diberi pekerjaan sebagai staff di setiap cabang usaha Yongyong. Mama dan papa Yenny juga dibantu buka usaha warung makan.

 

Selama keluarga Yenny bekerja pada Yongyong, banyak keluhan dari karyawan terhadap sikap anggota keluarga mereka yang suka meremehkan orang lain, mengganggap rendah orang lain.  Tapi sebagai pimpinan yang bijak Yongyong selalu membuat mereka berdamai lagi dengan karyawan. Krena hatinya yang baik Yongyong juga memberi tumpangan pada ipar – iparnya di rumahnya yang sederhana. Berkali – kali iparnya membisikkan ada hubungan tidak wajar suaminya pada Yongyong, dia tidak percaya.

 

Meski demikian Yongyong didorong untuk membuktikannya. Ipar-iparnya mengatakan bahwa ada wanita yang sedang mendekati suaminya, mereka sering selingkuh ditiap hari menjelang pagi. Yongyong pun mencoba bangun subuh hari tapi tidak menemukan suaminya berselingkuh, akhirnya Yongyong tidak lagi mempercayai isu itu dan mengganggap bahwa itu hanyalah isu yang dihembuskan karena ketidak cocokan mereka.

 

Yongyong bahkan tidak pernah berpikir mengapa suaminya selalu memintanya untuk tidak bangun pagi – pagi dengan kata – kata romatis ” tidurlah lebih siang karena kamu kan cape kerja, cukupkan istirahat. Aku bisa melayani diriku sendiri.” Begitulah, selama ini, Yongyong tidak pernah melayani suaminya sarapan pagi hari karena berpikir bahwa suaminya sayang padanya. Sikap suaminya memang sangat perhatian, care, romantis dan seakan penuh cinta. Yongyong sangat – sangat mempercayai suaminya, bahkan tidak percaya apapun cerita orang tentang suaminya. Suami Yongyong bebas ke mana saja dan pulang jam berapa saja ke rumah, tidak pernah dicurigai Yongyong. Karena Yongyong percaya bahwa Karena cintalah seseorang menikah. Inilah yang tidak selamanya benar. Orang menikah  karena cinta tapi cinta harus dirawat, ditumbuhkan terus dan berbuah. 

 

Pada suatu hari, Yongyong sangat terkejut mengetahui bahwa ternyata suaminya telah selingkuh dengan karyawannya sejak awal karyawan itu bekerja. Mama dan keluarga Yenny tahu, maka tidak heran mereka semena – mena di tempat usaha Yongyong Karena mereka merasa punya kuasa. Saat itu, hati YongYong begitu hancur. Suami yang ia percayai ternyata mencintai wanita lain. Yenny yang ia sayangi seperti adik sendiri ternyata adalah istri simpanan suaminya di rumah yang sama. Keluarga suaminya mengejek dan menyalahkannya karena selama ini sudah sering diberitahu tapi YongYong tidak percaya. Tidak ada sisi hati yang tidak hancur  Karena kejujuran dan keikhlasannya dibayar dengan kecurangan.

 

Meski demikian, Yongyong memilih tetap mempertahankan keluarganya demi 4 orang anak – anaknya. Yongyong sangat sadar tugas mulia seorang ibu adalah membesarkan anak – anaknya dengan penuh kasih dan tidak mengijinkan anaknya terluka atas  pilihan sikap papanya. Pertengkaran – pertengkaran berbasis ketidakperdayaan sering terjadi dan terkadang secara tidak sadar terjadi di depan anak – anaknya.  Yongyong sering menyesal jika telah terjadi demikian. Yongyong kemudian menjelaskan pada anak – anaknya bahwa pertengkaran papa dan mama tidak ada hubungan dengan mereka, bahwa itu ini hanya masalah ketidak cocokan papa mama dalam komunikasi, maafkan papa dan mama.

 

Yongyong harus sampai  meyakini  bahwa tidak terjadi luka batin di hati anak – anak. Yongyong sangat sadar bahwa kesalahan mereka tidak boleh membekaskan luka batin yang akan membawa anak- anaknya kelak memilih cara hidup yang salah.  Demikianlah tahun berlalu demi tahun. Yongyong menjalani keluarganya bukan lagi dengan cinta seperti awal pernikahan mereka melainkan menjalaninya sebagai pengabdian, khususnya pada ke 4 anak – anaknya.

 

Tidak sedikit godaan datang saat hati sudah begitu dingin terhadap suami yang ternyata tidak mencintainya. Setiap suaminya bersamanya, yang terbayang adalah cinta suaminya pada Yenny bukan pada dirinya. Hari  - hari ia lalui dengan bayangan seperti itu. Selalu ada perih di hati saat mengingat itu semua. Yongyong mulai tidak lagi sedih jika suaminya pulang atau tidak pulang , berkomunikasi atau tidak berkomunikasi romantic. Yongyong sudah MR alias 'mati rasa' meskipun ia menjalani hidup berkeluarganya secara wajar.

 

Umur 34 tahun adalah usia ranum – ranumnya seorang wanita mapan. Yongyong yang dulu kurang memperhatikan penampilan sekarang telah berubah,  kecantikannya yang tertutup kesibukan dan kepercayaan total bahwa suaminya mencintai dirinya sehinga ia kurang berdandan, telah berubah. Godaan sering datang meski tampak luar Yongyong punya suami. Mungkin memang jaman sudah edan, istri orangpun ternyata laris manis.

 

Pernah ketika masih mengalami luka hati itu, Yongyong mulai tertarik pada seorang pengusaha yang memberikannya perhatian padahal pengusaha ini juga memiliki istri. Awalnya dimulai dari hati yang sepi, mereka sering bertemu layaknya orang pacaran (jaman mereka masih malu – malu buat berelasi lebih jauh). Sampai Yongyong mulai serius dan ingin lari dari suaminya dengan memilih hidup bersama suami orang, apalagi si pengusaha memberikan harapan ”Koko sangat sayang pada YongYong, Tidak bisa lagi koko sembunyikan perasaan itu.” Koko pengusaha yang sangat romantis dan perhatian. Ia mampu mengisi sepinya hati Yongyong.

 

Yongyong bergulat dalam batinnya antara melepaskan suaminya dengan membawa serta 4 orang anak -anaknya , yang kata si koko pengusaha, ia siap dan sayang pada ke 4 anak  Yongyong seperti anaknya sendiri. Hal tersebut membuat Yongyong mabuk kepayang sampai pada saat akan memutuskan, Yongyong merenungkan kembali apa yang terjadi selama ini. Ia menjadi sadar bahwa selama ini ia menjalin hubungan dengan si koko pengusaha, ia telah menempatkan dirinya sebagai Yenny meskipun tidak sejahat Yenny.

 

Ya, akhirnya Yongyong sadar bahwa jika ia hidup bersama sang koko pengusaha, bagaimana terlukanya hati istri koko pengusaha ? Apa bedanya suaminya yang berkhianat dengan Yenny dengan sang koko pengusaha ini, yang jika istrinya tahu bahwa ia mencintai Yongyong hati istrinya pasti akan terluka seperti diriny. Ia bisa membuat wanita lain seperti dirinya. Saat itulah, hati Yongyong kembali dingin bahwa jika sang koko adalah laki -laki yang  benar, ia pasti menjaga hatinya buat istri dan anak – anaknya, bukan malah ingin mencari kebahagiaan bersama wanita lain dengan menyakiti wanitanya (istrinya).

 

Sejak saat itu meski godaan datang , dari yang masih bujang , suami orang lain, duda cerai dsbnya, tidak membuat hati Yongyong terbuka. Yongyong menyadari bahwa cinta harus dipertahankan, bukan dilepaskan. Cinta harus dipupuk, ditumbuhkan, dirawat dan buahnya adalah kebahagiaan.

 

 Ia mulai belajar mencintai suaminya yang pernah melukainya, ia berpikir bahwa laki – laki lainpun jatuh sebagaimana suaminya dengan cara mereka masing – masing. Jika ia kabur dengan laki -laki lain, apakah ada jaminan laki – laki itu tidak menyakitinya , sedangkan suaminya yang begitu romantis dan perhatian saja, bisa berbagi, apalagi laki  - laki lain yang akan hidup dengannya bersama 4 orang anak tiri laki -laki itu? Bagaimanapun suaminya adalah bapak kandung dari ke -4 anak – anaknya. 

 

Yongyong mengatakan pada saya bahwa kesadaran dan PILIHAN CARA MENJALANI KEHIDUPAN ini menentukan kebahagiaan seseorang. Jika kita memilih rapuh maka akan bertumbuh pohon kehidupan yang rapuh, yang mudah terserang hama kehidupan, kita bisa tidak berbahagia dengan kerapuhan itu. Hidup mengeluh akan mengurangi kekuatan rahmat TUHAN terserap bagi kehidupan kita. Pilihan hidup yang benar akan mempermudah datangnya rahmat, akan membawa kebahagiaan, akan membawa kesehatan mental – spiritual – jasmani sehingga kuat menjalani hidup ini dan menjadikannya bahagia. Bahagia itu adalah sebuah perasaan lega yang mendatangkan rasa syukur. Makanya dirinya bisa sekuat itu, yaa karena berpikiran seperti itu.

 

Yongyong tidak memilih membalas sikap jahat orang lain dengan kejahatan karena di dalam kejahatan itu tidak ada kebahagiaan sejati, mereka melarikan diri dari kesejatian. “Jika kamu membalas kejahatan dengan kejahatan , apakah bedanya kamu dengan mereka” terangnya. Pilihan kita adalah kelanjutan dari kehidupan kita. Apa kita pilih terpuruk meratapi perselingkuhan yang pernah terjadi itu atau memilih memaafkan dengan lapang yang berbuah batin bahagia. Hidup kita itulah dari apa yang kita pilih.

 

Yongyong tetap menjadi wanita pengusaha sukses sampai hari ini. Ia berhasil mengantar ke 4 anaknya menjadi pengusaha sukses yang berbeda bidang dengannya. Anak – anaknya hidup dengan harmoni bercermin dari kesalahan pilihan cara hidup papanya. Yang laki – laki begitu mencintai istrinya karena khawatir menyakiti istri mereka seperti mama yang tersakiti. Anak perempuannya merawat perkawinannya dengan lebih bijak belajar dari sikap mamanya yang hanya percaya pada cinta tanpa berusaha merawat cinta itu.  Ia tetap hidup bersama suaminya dengan rasa bahagia yang dia munculkan sendiri tiap menit, detik, jam dan tiap waktu hingga menutup mata di usia tua mereka, yang terpenting adalah Yongyong dan suaminya hidup sehat untuk ukuran seusia mereka, jantung sehat, tekanan darah normal , sesekali kolesterol tinggi karena faktor usia yang sudah cukup tua, sendi masih kuat Karena berolahraga Taichi.

 

Hidup adalah pilihan dan pilihan menentukan kebahagiaan.

 

*saya menulis kisah ini dengan terlebih dahulu meminta ijin kisah Yongyong ditulis. Yongyong adalah Tante Saya.

 



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.