Ketika Pacar Banyak Menuntut, Aku Kehilangan Jati Diri


Thursday, 11 Oct 2018


Pertanyaan 'Apakah kamu sudah mencintai dirimu sendiri?' sungguh bagi saya adalah pertanyaan besar yang perlu mendapat renungan.

Dulu, saya termasuk wanita yang easy going & cenderung menuruti keinginan orang lain karena merasa tidak punya tujuan dan keinginan spesifik tentang diri sendiri. Saya merasa selalu terombang - ambing dan bisa saja mengiyakan permintaan orang lain terhadap saya, karena merasa tidak enak menolak dan ingin menyenangkan mereka. Rasanya tidak enåk sekali, terkungkung dengan kekhawatiran sepanjang waktu yang berbuntut pertanyaan panjang: Kenapa aku melakukan ini, ya?.

Dulu itu saya dapat dengan mudahnya menuruti keinginan pacar saya untuk mengganti model rambut sesuai dengan maunya pacar saya (yang kini menjadi mantan saya heehee). Dulu saya menurut saja ketika pacar saya meminta saya menunggunya menelpon saya, padahal ujung-ujungnya dia juga tidak menelpon saya, kembali saya yang akhirnya menelpon dia. Dan saat itu saya jadi kerap menunggu dalam ketidakjelasan pacar saya, dia menarik ulur hubungan, ada salah sedikit saja berujung bukan dia yang meminta maaf tapi saya yang jadi meminta maaf. Saya merasa “kok gw begini banget ya, saya jadi merasa buka diri saya” .

Di perjalanananya beberapa kali saya menjalin hubungan dengan beberapa pria dengan permasalahan yang tetap sama saya menjadi orang lain, menjadi bukan diri saya. Saat itu seakan saya tidak mengenal diri saya sendiri. S.aya hidup dari tuntutan apa kata pacar saya’saya musti begini, harus begitu’ dan saya nurut. Karena saat itu saya takut hilang kenyamanan, saya cemas kalau saya tidak punya pacar apa kata orangtua saya, teman-teman saya. Tahun-tahun tersebut merupakan tahun yang benar-benar membuat saya tidak jelas, saya tidak bisa mencintai diri saya seutuhnya.

Semuanya Berubah Setelah Pola Pikir Saya Ubah, Untuk lebih Loving My Self

Akhirnya tahun berganti belajar dari pengalaman, tempaan hidup dari barisan para mantan pacar itulah, pola pikir saya pun saya ubah. Saya tetap easy going namun semakin jeli lihat keadaan dan saya makin pintar memposisikan diri di depan pacar, saya list apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan saya dalam menjalani love relationship. Saat itulah saya lebih memprioritaskan apa yang benar-benar bisa membuat saya bahagia. Jadi sebelum saya membahagiakan mereka (pacar, keluarga ataupun teman) saya carai tahu apa yang menjadi kesukaan saya dan membuat saya bahagia. Jadi ketika pacar saya nggak menelpon pun saya tidak akan menunggu-nunggunya lalu bete sendiri. Saya lebih memilih pergi ke toko buku dan membeli buku kesukaan saya dengan begitu saya mendapatkan kebahagiaan sendiri untuk diri saya. Untuk apa bete dan kesal hanya karena pacar saya nggak jadi menelpon atau nggak jadi datang kerumah hanya karena ia tidak menjadikan saya prioritasnya ? toh saya pun sudah memiliki prioritas utama untuk kebahagiaan diri saya sendiri. Istilah lainnya, “nggak ada kamu pun aku bahagia dengan hidupku”.

Tapi tentu saja saya mengalami character journey. Sejak saya mengenal dan mempraktekkan yoga, meditasi, dan mempelajari konsep mindfulness, saya pun juga mulai membentuk inner circle yang hanya berisikan beberapa teman dekat untuk saling berdiskusi tentang hal - hal fundamental: yaitu tentang ‘Hidup’. 

Nah, berikut adalah langkah yang saya lakukan agar dapat lebih memberi makna dan mencintai diri sendiri:

  1. Luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan diri sendiri. Hal ini penting untuk dilakukan untuk saya. Walaupun awalnya buat saya ini terkesan remeh, kapan lagi kamu akan mengetahui hal - hal mendasar yang kamu inginkan dalam hidup jika tidak menanyakannya? Saya biasanya menuliskan hal - hal yang ingin saya lakukan, yang saya sukai dalam secarík kertas dalam bentuk pointer.
  1. Meditasi & fokus pada jiwa. Saya merasakan sendiri, ricuh sosial media membuat kita menjadi pribadi yang tidak fokus. Saya kadang bingung, kenapa pikiran kita bisa tersedot maksimal memikirkan hal - hal duniawi seperti penampilan dan eksistensi. Tapi kita melupakan rasa. Ketentraman batin. inilah yang kini saya cari. Saya berjalan ke dalam jiwa, tidak lagi keluar ini saya lakukan, hasil akhirnya ‘psitif’ yang saya dapatkan ‘pikiran positif, suasana hati yang positif’ dan itu membuat saya lebih ringan menjalani hari.  
  1. Berdoa & berserah. Urbanesse, saya membayangkan, bentuk cinta terbesar dalam diri seharusnya bisa dirasakan dalam bentuk rasa damai dalam hati. Belakangan saya baru menyadari, sekeras apapun kita berusaha, jika tidak punya sandaran dalam hidup, tidak ada artinya. Kita akan lelah dengan usaha - usaha tersebut tanpa tahu kemana tujuan akhirnya. So yes, saya berserah, dan yakin Tuhan punya jalan untuk membahagiakan umatnya.  

Jadi Urbanesse begitulah saya memaknai cinta ke diri saya sendiri adalah yang pertama dan utama, sebelum saya mulai mencintai hal lain (baik dalam relationship maupun di pekerjaan). ‘Love your self as musch as you want to be loved’.

 



Nathalie Indri

No Comments Yet.