Ketika Aku Tidak Enak Menagih Hutang


Monday, 17 Sep 2018


Apakah Urbanesse pernah melihat postingan status sosmed yang berisi keluhan, cacian sambil sindir menyindir pada teman mereka yang dipinjamkan uang namun tak kunjung melunasi ?. Bahkan ada lho yang sampai diputus komunikasi sosmed dan nomor hp oleh rekannya yang meminjam uang. Atau mungkin Urbanesse pernah juga mengalami kejadian seperti pengalaman pribadi yang saya alami beberapa tahun lalu ?.

Saya pernah juga punya pengalaman seputar masalah pinjam meminjami uang dengan seorang teman dan pacar saya dahulu. Saya ini orangnya suka nggak enakan dan mudah percaya sama teman maupun dengan orang lain, bahkan pada orang yang baru saya kenal. Mungkin ini yang menyebabkan saya kerap di pergunakan orang lain, karena belum apa-apa saya sudah senang ngasih-ngasih pinjam barang, uang atau perhatian. Saya pikir saat itu hal tersebut nggak apa-apa ya karena itu kan bagian dari diri saya jadi alami agak sulit buat saya kontrol.

Dulu Berkali-kali saya sering di pergunakan teman sendiri. Pernah waktu itu teman kantor dan teman kuliah meminjam baju saya beberapa kali nggak di kembalikan bahkan nggak ada omongan sama sekali ke saya, entah untuk bilang maaf, lupa atau lasan lainnya. Ketika ketemu pun dia biasa aja seperti tidak pernah meminjam apa-apa.  Salahnya saya saat itu adalah terlalu membiarkan saja orang lain mempergunakan saya dengan alasan nggak enak, takut di cap buruk dan lainnya. “Biarin saja deh nanti juga dipulangin bajunya, nggak enak ngomongnya kalau saya tagih baju ke teman sendiri nanti di bilang pelit, terlalu hitung-hitungan sama teman” dan beragam pikiran saya lainnya bila harus menagih baju-baju yang dipinjam teman saya itu. Sampai sekarang bajunya nggak kembali dan mereka masih biasa saja seperti tidak pernah meminjam sesuatu dari saya.

Belum lagi ketika perhatian saya di salah gunakan oleh mantan pacar saya dulu. Saya terlalu naif dan tulus sampai tidak bisa membedakan mana yang beneran suka dan mana yang hanya berpura-pura suka hanya untuk memanfaatkan saya. Padahal saya bukan anak orang kaya tetapi memang perhatian saya bisa sampai 90 persen ketika suka dengan laki-laki. Jadi mungkin saat itu laki-laki yang sedang dekat dengan saya pun melihat bahwa saya mudah di pergunakan. Dekat dan kenal juga belum lama tetapi saya bisa dengan mudah mempercayai bahwa pacar saya tersebut sedang butuh uang untuk biaya kuliah dan modal membuka usaha, saya pun memberi pinjaman padanya dengan jumlah yang saat itu cukup besar.  Pikiran saya saat itu polos sekali, sama pacar sendiri kenapa musti pelit. Dan karena saya sudah khawatir di cap pelit, jadilah laki-laki itu mempergunakan kebaikan saya. Diapun pergi meninggalkan saya tanpa kabar dan saya tidak tahu rumahnya dimana, nomor hpnya pun tidak ada yang dapat di hubungi. Kecewa pasti, sedih iya tapi bagaimana lagi semua sudah terjadi. Setelah kejadian tersebut saya merenung tentang apa yang saya alami. Mengapa saya selalu dipergunakan orang lain, padahal niat saya memang benar-benar hanya ingin bantu mereka secara spontan.

Tak lama setelah kejadian demi kejadian tersebut, Kali ini sahabat saya sebut saja namanya Rubi (bukan nama sebenarnya) yang butuh pinjaman uang pada saya. Rubi sudah menikah, saya sudah tahu latar belakang Rubi seperti apadari zaman SMA dulu. Saat itu dia datang kepada saya untuk meminjam uang yang katanya akan dia gunakan untuk membayar tunggakan listrik dirumahnya yang belum ia bayar selama 3 bulan hingga berakibat diputus aliran listriknya oleh PLN dan suaminya pun sedang tidak bekerja karena baru saja di PHK. Lagi-lagi saya merasa iba dan nggak enak, ya teman lagi kesusahan dan minta bantuan kita masa iya nggak kita bantu apalagi saya melihat anaknya yang juga masih kecil, kebetulan memang saat itu saya sedang punya uang juga. Belajar dari kejadian yang lalu akhirnya saya beri Rubi uang sesuai dengan kebutuhan dia untuk membayar tunggakan listrik, sebutannya bukan pinjam tetapi saya beri saja uang untuknya. Karena saya pikir ini akan lebih baik untuk Rubi. Saya tidak mau mengorbankan persahabatan saya dengannya hanya hutang piutang. Aku katakan pada Rubi, ini uang aku kasih aja buat kamu tidak usah kamu ganti.

Rubi saat itu merasa tidak enak pada saya, dia pun menangis dan mengatakan segera kalau ia punya uang akan membayarnya. Tapi aku menjawab tidak, lebih baik tidak usah pinjam dan berjanji jika kita tidak bisa menepati dan tidak tahu pasti apakah kita bisa bayar atau tidak, pakailah. Dan ternyata benar Urbanesse, hidup malah lebih nyaman ketika kita berbicara to the point dengan orang yang ingin kita bantu, Orang yang kita bantu pun tidak merasa terbebani namun pastikan kita tahu profile orang yang kita bantu. Kini setiap kali ada orang yang mau pinjam barang atau uang pada saya, saya lebih memilih bicara to the point dan mengesampingkan perasaan nggak enak  Karena saya pun ketika meminjam barang atau uang ke orang lain, ada rasa nggak nyaman kalau nggak buru-buru di kembalikan takutnya orangnya butuh cuma karena nggak enak ngomong/menagihnya pada saya jadi urung buat nagih, saya nggak mau itu sampai terjadi. Saya memposisikan diri saya jadi orang lain yang meminjamkan uang/barang.

2 Bulan berselang Suami Rubi akhirnya mendapatkan pekerjaan kembali, dan saat itu Rubi datang kerumah saya untuk mengembalikan uang yang waktu itu sempat saya kasih untuknya, betapa terenyuhnya saya, ketika Rubi mengatakan bahwa ia ingin mengganti uang yang ia pinjam pada saya. Saya malah sangat menghargai Rubi, saya katakan pada Rubi, kamu simpan aja uangnya buat anak kamu Rubi. Dalam hidup kita nggak akan pernah tahu sekrang saya bisa membantu Rubi, siapa tahu suatu hari aku yang di bantu Rubi. Kita nggak akan pernah tahu kehidupan kita kedepannya makanya aku selalu belajar untuk terus besikap baik namun tetap jeli, karena dunia itu berputar.

Dari pengalaman tersebut saya belajar, Untuk menjadi baik dan tulus membantu orang lain memang terpuji namun diri saya lah yang harus tetap jeli melihat karakter orang-orang tersebut. Dulu hanya karena saya tidak ingin di cap pelit dan tidak baik sampai akhirnya di pergunakan oleh orang lain yang membuat saya pada akhirnya berpikir dan melakukan ini sampai sekarang  :

  1. Menjadi Pribadi Yang Juga Tidak Melupakan Pinjaman/Hutang

Ketika beberapa kali aku di kecewakan oleh teman dan mantan pacarku, aku beberapa kali merenung. Kenapa ya mereka seperti itu kalau aku bantu atau aku pinjami uang selalu meleset dan hilang. Padahal saya sendiri beberapa kali pernah meminjam uang dari teman, ada rasa tidak nyaman bawaanya Ingin buru-buru melunasi. Karena saya tahu posisi orang yang memberi pinjaman. Takutnya teman saya juga butuh tapi dia nggak enak nolak atau menagih ke saya. Maka dari itu tiap kali minjam uang atau pinjam barang teman saya nggak berlama-lama. Bahkan saya catat reminder di hp. Saya ini juga pelupa, kadang saya yang minta teman saya untuk mengingatkan/menagih jika saya lupa membayar. Sejujurnya saya nggak akan baper atau kesal karena memang itu sudah kewajiban saya untuk mengembalikannya sesuai dengan kesepakatan. 

  1. Berbicara Terus terang (Komunikasi dua arah)

Dulu itu aku anti pati untuk berbicara blak-blakan ketika ada orang yang ingin meminjam uang/ barang padaku. Hati aku rela tidak rela sebenarnya saat temanku meminjam baju dan uangku, karena antara nggak enak nagihnya kalau meminjamkan dan rasa takut di cap pelit jika tidak meminjamkan, Tapi memang pada dasarnya kalau aku ada aku senang membantu. Yang aku khawatirkan adalah ketika aku juga lagi tidak punya uang, karena perasaan tidak enak aku jadi usahain mencarikan pinjaman untuk mereka.

Sekarang tiap kali ada orang yang ingin meminjam uang atau barang padaku aku lebih memilih untuk berbicara terus terang “meminjam digunakan untuk apa, batas waktu pembayarannya sampai kapan dan aku beri gambaran jika meleset dari batas waktu yang disepakati, aku mengingatkan takutnya lupa dan aku tagih langsung. Aku minta juga ke mereka untuk tidak marah atau terbawa perasaan ketika aku menagihnya. Jika memang belum bisa bayar, aku sarankan ke mereka untuk berbicara terus terang padaku, bukan malah menghilang atau berpura-pura seolah melupakan pinjamannya. Bukankah lebih baik berbicara jujur daripada harus memberi harapan pada orang yang meminjami uang/barang? Orang yang meminjamkan uang atau barang juga akan lebih respect pastinya pada kita.

  1. Menyingkirkan Perasaan tidak enak Untuk Menagih hutang/Pinjaman & berhenti untuk takut di cap pelit

Mungkin karena dulu sering di pergunakan orang, sekarang aku kesampingkan perasaan tidak enak menagih apa yang memang menjadi hak-ku.  Berdasarkan keyakinan agama yang aku anut pula seseorang yang berhutang pada kita itu wajib hukumnya kita tagih, karena itu akan menjadi beban dosa berat yang harus ia tanggung di akhirat jika ia tidak melunasinya. Jadi, lebih baik aku kesampingkan perasaan tidak enak dan takut di cap pelit ini semata-mata untuk kebaikan bersama, untukku dan untuk mereka yang meminjam uang atau barang padaku. Sekarang jika ada yang meminjam uang atau barang padaku, aku pasti menagihnya sesuai dengan waktu yang telah disepakati. 

  1. Memastikan Tujuan Mereka Meminjam

Dulu aku meminjamkan uang atau barang tanpa aku memastikan untuk tujuan apa mereka meminjamnya. Karena Sempat beberapa kali aku temui orang yang meminjam uang padaku sebenarnya hidupnya malah lebih berkecukupan daripada aku. Yaa..walau aku tidak tahu kehidupan sebenarnya mereka dan aku sudah tidak mau tahu, tapi setidaknya ini memberiku pelajaran bahwa menolong orang yang sedang kesulitan untuk kita pinjamkan uang boleh banget selagi kita juga ada. Namun kini aku pastikan lagi seberapa urgent ia harus aku pinjami uang atau barang dan aku lihat lagi seberapa besar keuangan ia sehingga ia sanggup membayarnya tepat waktu.  Jika nggak urgent banget harus pinjam uang padaku, aku lebih memilih untuk tidak membantunya. Karena belajar dari pengalaman aku tidak mau membiasakan orang meminjam jika nggak perlu-perlu banget atau mendesak.

Pengalaman dulu aku jadikan pelajaran dan keempat hal diatas sudah aku lakukan, hasilnya malah membuat hidupku lebih tenang, pertemananku tidak tergadaikan dan dengan berbicara blak-blakan malah menguntungkan kedua belah pihak, untukku yang meminjamkan dan untuk mereka yang meminjam uang atau barang padaku. Nah Urbanesse, setelah baca tulisan dari pengalaman saya ini Mari, Yuk...kita ingat-ingat kembali apakah saat ini kita punya pinjaman uang atau barang yang belum sempat dikembalikan ?. So Ladies, Yuk..Berhenti untuk baper dan berpura-pura tidak tahu ketika ditagih hutang.



Clara Marisa

No Comments Yet.