Ketika Aku Salah Mengambil Keputusan


Wednesday, 19 Jul 2017


Hai urbanesse, saya ingin berbagi pengalaman tentang memaafkan diri sendiri. Setiap orang pasti melakukan kesalahan entah sengaja atau tidak. Tapi apakah dengan membuat keputusan yang salah menjadikan orang yang jahat? Tidak ladies, good people always be good people. Mungkin ada yang mengatakan “kesalahan yang saya buat sangat besar”, “hidup saya hancur”, “orang yang saya cintai pergi meninggalkan saya” dan bla bla bla. Okey, saya sangat paham dan bisa merasakan hal itu. I don’t want to judge. Karena saya juga pernah berada di posisi itu. Yang ingin saya sampaikan ladies apa pun yang terjadi, apabila Tuhan masih memberimu kesempatan untuk menjalani hidup, bersyukurlah artinya Tuhan ingin kita memperbaiki hidup.

 

Hingga usia 30 tahun saya sangat banyak membuat kesalahan dalam hidup. Oke, kita hitung saja 18 tahun terakhir, karena usia 1 -12 tahun saya memang belum mengerti apa – apa. Usia 12 – 18 tahun adalah usia peralihan dari anak – anak ke remaja, dalam fase ini 80% kontrol masih dipegang orang tua. Sepertinya keputusan penting yang saya buat pada fase ini hanyalah jurusan atau minat kuliah yang ingin dimasuki. Itu saja. Kemudian di usia 18 – 23 tahun, orang tua sudah mempercayakan tanggungjawab kepada saya meskipun masih berada dalam pengawasan ketat dan “wajib lapor”. Nah, di usia 23 sampai sekarang lah masa paling penting bagi hidup saya. Pada rentang usia ini lah saya belajar banyak mengambil keputusan karir, keuangan, asmara dan beberapa hal penting dalam hidup. Trial and error. Terkadang ada beberapa yang tepat. Terkadang ada juga yang salah. Dinamika kehidupan benar – benar saya alami, khususnya di 5 tahun terakhir. I learn too much. Dan yang ingin bagi tentang beberapa pelajaran yang didapat dari right and wrong pengaturan keuangan.

 

Oke ladies, saya akan menceritakan tentang cashflow. Saya seorang ASN, jadi income saya berasal dari gaji beserta tunjangan kinerja dan honor lapangan. Ya, income saya hanya dari situ. Akan tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan hidup, apalagi saya single mingle dan tinggal di kota kecil. Jarak kantor dari rumah bisa ditempuh 10 menit dengan menggunakan motor. Nah, dari situ saya ingin belajar mengelola keuangan. Pertama saya ikut asuransi. Yeah, walaupun sudah punya bpjs menurut saya asuransi lain juga perlu. Dan akhirnya saya membeli produk asuransi unit link yang meng-cover asuransi jiwa dan kesehatan sekaligus, kebetulan teman saya juga menjadi agen asuransi tersebut. Fix saya daftar. Namun, teryata tawaran asuransi lain datang. Ini juga dari teman saya, sesama ASN yang baru bergabung menjadi agen asuransi (beda perusahaan). Kebetulan beliau senior saya. Dengan alasan tidak enak menolak, akhirnya saya pun membeli polis tersebut. Biaya premi dari kedua asuransi ini mendapat anggaran 40% gaji saya.  

 

Tidak hanya disitu, kesalahan selanjutnya terjadi ketika teman saya menawarkan bisnis jaringan dengan modal yang dia bilang “kecil”. Sebenarnya saya tidak tertarik namun teman saya selalu menghubungi. Dia itu teman baik dan akhirnya untuk mengakhiri aksi “terror”, saya pun ikut gabung. Sayangnya, modal tersebut diambil dari uang honor yang saya kumpulkan sebagai dana darurat. Mengapa saya begitu mudah saja yaa...menghabiskan dana darurat demi membeli produk yang sebenarnya saya sendiri tidak butuh.

 

Sebenarnya masih banyak lagi kesalahan – kesalahan saya dalam mengatur keuangan, diantaranya gaya hidup “ikut – ikutan” belanja ketika ada teman yang mengajak. Ya harus saya akui pada rentang 2 – 3 tahun awal bekerja saya masih belum bijak dalam mengelola keuangan. Untungnya saya sudah ikut asuransi. Meskipun jumlahnya berlebihan.

 

Saya menyadari bahwa air susu yang sudah tumpah tidak bisa ditangisi lagi. Menyesal banget iya kala itu, sempat menyalahkan diri sendiri mengapa saya bodoh banget dan tidak bisa mengontrol diri seperti orang-orang, sampai harus mengalami kondisi keuangan seperti ini. Saya jadi takut banget berurusan yang namanya ada penawaran apapun yang kaitannya sama uang, jadi underestimate tiap ada orang yang nawarin ini itu, ngeri saya melakukan kesalahan yang berulang.  Berhubung saya tidak mau berlarut dalam kemarahan pada diri saya sendiri yang tidak bisa sekali mengatur dan merencanakan keuangan dengan baik akhirnya saya pun berusaha memperbaiki kedaan tersebut. Yaa diawali dengan memaafkan diri sendiri, bahwa saya hanya manusia biasa seperti yang lainnya juga pasti khilaf dan salah itu akan terjadi dalam kehidupan kan yang terpenting adalah “Saya tetap adalah saya, tidak mengulangi kesalahan adalah hal yang paling bijak yang bisa saya lakukan saat itu” Oleh karenanya saya bertekad untuk memperbaiki keuangan saya dan mengubah sikap dalam “perilaku ekonomi”. Saya membaca dan menonton video beberapa pakar keuangan baik lokal maupun dunia. Setiap tips keuangan yang mereka bagi, saya praktekkan sesuai dengan kondisi finansial saya. Dan inilah beberapa tips keuangan modifikasi versi saya:

 

  1. Dana amal. Setiap mendapatkan income, yang pertama kali saya lakukan adalah menyisihkan dana untuk amal (sedekah). Ini berdasarkan nasehat teman saya “kalau mau rejeki lancar, kamu jangan hitung – hitungan sama Tuhan”. I think he’s right.
  2. Dana darurat. Ya, prinsipnya saya harus memiliki dana diluar tabungan, yang bisa saya gunakan disaat genting atau keperluan mendesak.
  3. Dana kebutuhan hidup. Ini yang paling penting. Dana kebutuhan hidup berbeda dengan dana gaya hidup. Kebanyakan yang membuat kita menghabiskan uang adalah di dana gaya hidup. Kebutuhan hidup menurut saya adalah sesuatu yang apabila terpenuhi membuat kita aman seperti biaya rumah, tagihan listrik/pdam, makanan, perawatan kendaraan dan lain – lain. Kebutuhan setiap orang berbeda. Dan usahakan membuat anggaran yang selalu kita tepati.
  4. Dana asuransi. Asuransi bagi saya seperti sedia payung sebelum hujan. Sangat membantu ketika terjadi hal – hal tidak terduga. Saya pernah setelah pulang dari tugas lapang, mengalami sakit DBD dan harus dirawat di rumah sakit sampai 1 minggu. BPJS tidak meng-cover semua biaya perawatan rumah sakit. Jadi sisanya dibayarkan oleh asuransi.
  5. Dana investasi. Banyak sekali pilihan investasi sekarang dan produknya pun macam – macam. Yang baru saya lakukan sekarang, saya memulai dengan deposito. Ya memang nilainya returnnya kecil dan masih kalah dengan inflasi tiap tahun. Tapi untuk saya, bukan itu yang dikejar. Saya ingin membiasakan diri untuk berinvestasi. Jadi setiap dana tabungan saya mencapai nominal tertentu, maka akan saya kunci dan masukan deposito. Ini melatih otot mental saya dalam menyediakan dana investasi. Selain deposito, saya juga belajar untuk investasi di logam mulia. Biasanya dananya bukan dari income yang rutin tiap bulan, tapi dari dana “kagetan” misalnya gaji ke-13 atau honor lapangan. Jadi setelah dipotong dana amal, maka saya akan menyisihkan untuk membeli 1 – 2,5 gr logam mulia. Dan sisanya untuk yang lain. It’s work!
  6. Dana modal bisnis. Bagi kamu yang masih karyawan dan bercita – cita one day mau resign dan membuka bisnis. Saya sarankan membuat tabungan khusus modal bisnis. Yes, berdasarkan pengalaman saya yang menghabiskan dana darurat untuk berbisnis, ini penting. Cukup 5% per bulan asal rutin. Karena itu juga yang saya lakukan. Di awal bisnis kemungkinan kita belum mendapatkan untung yang luar biasa. Untuk kebutuhan hidup dapat diambil dari dana darurat. Kalau dana darurat dijadikan modal bisnis, terus kita makan apa?
  7. Dana fashion dan beauty care. Sesama wanita pasti paham banget tentang ini.
  8. Dana hobi. Iyup, kita perlu menyediakan dana untuk hobi, misalkan yang hobi membaca perlu dana untuk membeli buku, yang hobi travelling apalagi. Jangan sampai setelah pulang liburan kita malah harus puasa 1 bulan.
  9. Dana entertainment. Ini termasuk buat nonton, nongkrong cantik, nonton konser dan apa pun yang sifatnya membuat kita merasa senang dan terhibur. Masalahnya, dana ini bisa menjadi salah satu pengeluaran besar dalam anggaran tiap bulan. Dan terkadang harus mengambil dana kebutuhan hidup. Saya juga pernah sih berada fase itu. Karena saya sadar ada yang lebih penting, akhirnya saya membuat anggaran tersendiri dan berusaha menggunakan dana ini dengan bijak.
  10. Dana gift. Ini dana yang saya peruntukan khusus untuk orang – orang tersayang, misalnya hadiah untuk orang tua, sahabat ulang tahun, traktir teman dan lain – lain. Ingat kita tidak bisa sukses tanpa dukungan orang – orang terdekat yang menyayangi kita. Memberikan hadiah salah satu cara mengekspresikan bentuk penghargaan dan perhatian kita kepada mereka.

 

Nah ladies, itu yang saya lakukan untuk memaafkan diri saya yang kerap kali khilaf sama yang namanya mengelola keuangan Pribadi saya. Sekarang saya sudah menutup asuransi yang menurut saya tidak diperlukan. Jadi fokus hanya pada satu produk dengan benefit yang sama. Sehingga dana tersebut dapat saya alihkan ke anggaran lain. Apa kamu pernah juga mengalami rasa bersalah tehadap pengelolaan keuangan yang salah seperti saya Ladies? Semoga cerita pengalaman saya disini bisa menginspirasi Urbanesse yang mungkin saat ini sedang mengalami hal sama seperti yang pernah saya alami.

 

 

 

sumber gambar: Created by Pressfoto - Freepik.com



Selvya Mulyani

Kelahiran 9 maret 1987 di Kalimantan Selatan. Bekerja sebagai analis laboratorium Kimia Fisika Gas di BBTKLPP Banjarbaru. Penggemar buku Dan Brown, Dewi Lestari, JK Rowling, dan novel serial Trio Detektif. On process, being better person, healthy, happy, lucky, peace and blessed. Remember the path, keep the faith, walk on track.

No Comments Yet.