Ketika Aku Merasa Hidupku Banyak Kekurangannya


Friday, 23 Nov 2018


Urbanesse pernah tidak mengalami seperti yang pernah saya alami “merasa kehidupan kita ini banyak kekurangannya dan tidak tahu apa kelebihannya ?  usia saya saat itu masih 20-tahunan, saya kerap mempertanyakan kepada diri sendiri kok saya  banyak banget ya kekurangannya, sambil membandIngkan diri sendiri dengan teman saya si A, dan B. Dimulai dari fisik, wajah saya tidak terlalu menarik penuh dengan jerawat, saya pun memiliki kekurangan dalam hal dialog, saat itu saya gagap. Tiap kali berbicara dan ingin bercerita ke orang lain saya terbata-bata. Gagap saya semakin menjadi-jadi ketika dalam keadaan panik dan grogi sampai saya frustasi rasanya karena dari gagap ini saya jadi selalu di bully dan di tertawakan, sempat ada teman kuliah saya melabeli nama saya ‘Si Gagap’. Julukan konyol bisa menjadikan seseorang stress dan frustasi (atau memang saat itu saya yang belum benar-benar mengenal diri saya dengan baik?) Awalnya saya anggap itu lelucon, tetapi makin kesini mereka malah menjadikan itu julukan saya ‘eh si gagap mana kok nggak nongol’, kalau diingat lagi masa-masa itu konyol, tertekan dan sedih dirasakan.

Dulu saya juga termasuk orang yang mudah terpengaruh apa kata komentar orang,  Ketika saya di bilang saya gagap dan jelek saya percaya kalau saya gagap dan jelek dan itu bisa membuat saya down dan jadi nggak mood. Saat itu saya merasa diri saya banyak sekali kekurangannya. Hingga pada suatu hari ketika baru lulus SMA saya nggak langsung kuliah, saya memilih untuk off dulu 3 bulan. Karena ingin ikut kursus saja dengan tujuan supaya saya nggak jadi perempuan yang penakut. Saya mengikuti pelatihan kaligrafi di salah satu kampus di Jakarta saya berkenalan dengan seorang perempuan namanya Gladis. Padahal saya baru saja mengenalnya tetapi ketika bertemu terasa seperti sudah lama kenal, karena pembelajaran hidup yang saya dapatkan dari dirinya sunggu luar biasa dan membukakan pikiran saya. “Kita harus mencintai diri kita dulu yang pertama dan utama dengan segala kekurangan yang kita miliki, kekurangan harus diterima bukan di tolak apalagi sampai harus membuat kita jadi down dan merasa tertekan” ungkapnya.

Gladis dia seumuran dengan saya, seorang tuna daksa, kakinya mengalami kelumpuhan sejak usia 1 tahun. Sehari-hari dalam menjalankan aktivitasnya kuliah dan bekerja freelance sebagai seorang designe grafis di salah satu percetakan Buku dia menggunakan kursi roda. Saya takjub dengannya semangatnya dalam mengikuti workshop menulis kaligrafi sangat besar, rumahnya di Tangerang Selatan dan dia dengan semangat menghadiri workshop tersebut yang diadakan di daerah Jakarta Selatan, sungguh ini bukti bahwa kekuatan passion-nya mampu mengalahkan jarak dan kendala/kekurangan yang ia miliki secara fisik namun tidak menjadikannya patah arang untuk terus mengembangkan diri.

Ketika ngobrol dengannya saya nggak fokus di kekurangan fisik yang dimilikinya melainkan saya fokus pada isi obrolan yang ia sampaikan pada saya, bakat yang ia punya cukup jauh diatas saya ia pun cerita segala pengalaman hidup yang ia sudah lewati. Dari mulai pernah di bully hingga penolakan di beberapa perusahaan karena fisik dia yang terbatas. Tapi saya lihat dia yang sekrang jauh sangat percaya diri, sangat berbakat dengan kelebihan yang ia miliki, bahkan tulisan kaligrafinya sudah sangat bagus sampai saya bilang ke dia untuk apa ikutan pelatihan lagi, kamu kan juga sudah punya bakat di situ harusnya kamu malah yang jadi mentornya. Dengan rendah hati ia jawab “hidup itu belajar secra terus menerus, saya nggak mau puas dengan bakat saat ini siapa tauhu saya punya gaya lain dalam membuat seni kaligrafi, kebetulan mentor di acara ini adalah guru saya jadi saya ingin terus memperbarui pengetahuan saya akan kaligrafi, siapa tahu juga ada hal baru yang bisa saya dapatkan dari pertemuan kali ini” terang Gladis.

Ketika dia katakan “siapa tahu juga ada hal baru yang bisa saya dapatkan dari pertemuan kali ini” saya pun jadi mikir, mungkin ini cara Tuhan mempertemukan saya dengan orang-orang yang positif, yang pada akhirnya menginspirasi dan membuka mata hati dan pikiran saya untuk melihat dan mengenal kelebihan yang sebenarnya saya miliki, namun karena dari dulu itu saya fokus pada kekurangan yang saya miliki,  dan terlalu mendengar apa komentar orang berkaitan dengan diri saya, saya jadi nggak bisa melihat kelebihan /bakat yang saya punya.

Gladis meskipun dia memiliki kekurangan fisik (kakinya lumpuh) ia bisa terus menggapai passionnya, saya yang Tuhan sudah berikan fisik yang lengkap malah merasa tertekan hanya karena wajah saya tidak menarik karena berjerawat dan gagap ketika berbicara. Saya mengikuti cara Gladis, dimana dulu ketika ia down dan merasa tidak nyaman dengan dirinya karena bullying dan penolakan ia catat semua kekurangan dan kelebihan serta kesukaan dia dalam satu buku harian (buku catatan diri). Di akhir Buku ia sematkan tulisan cukup besar “Aku Ingin Menjadi Seorang Designe Grafis dan Animator” yang merupakan impiannya, impian kedua adalah “Aku Ingin memiliki usaha percetakan sendiri”.

Dan sedikit banyak Gladis berhasil mewujudkannya, katanya dengan cara itu ia jadi mengenal dirinya sendiri, tahu tujuan untuk apa kerja keras ini ia lakukan dan ia jadi lebih mencintai dan menghargai diri dan hidupnya bukan dari kacamata orang lain katanya, melainkan dari kaca spion yang ada di dalam dirinya yaitu hati dan pikiran.

Saat itu 2008, saya pun menerapkan cara Gladis dalam mengatasi ketifdakpercayaan diri sendiri dan menganggap diri saya terlalu banyak kekurangan ketimbang orang lain. Saya catat hal-hal apapun yang menjadi kesukaan saya, Saya catat kekurangan diri saya (ternyata setelah saya catat kekurangan saya ini berkaitan dengan fisik saya yang berjerawat lalu membuat saya nggak percaya diri/minder ketika komunikasi dengan orang lain, karena rasa cemas, panik, takut di hakimi orang lain yang buruk-buruk karena saya kelewatan dalam memikirkan apa kata orang, yang pada akhirnya saya baru tahu kalau itu yang menyebabkan saya menjadi gagap ketika berbicara dengan orang lain).

Saya tahu kekurangan yang ada di diri saya. Beberapa pelatihan saya ikuti dan saya baru sadar kalau saya ini orangnya senang menata kamar, ruang tamu dan meja kerja saya selalu saja ada suatu benda yang membuat orang lain terkesima ketika sedang datang ke meja sekat milik saya. Ternyata saya memiliki passion designe artistik interior. Pantas saja dari dulu saya tuh gak betah lihat rumah mama saya berantakan bawaanya pengen menghias-hias dan memposisikan benda-benda unik yang saya letakan di ruang tamu dan kamar saya selalu saya rombak ulang penataanya setiap bulan. Makanya saya senang kalau berkegiatan di dalam kamar ketimbang di luar rumah.

Benar apa kata Gladis ketika kita sudah mengenali diri kita dengan segala kekurangan yang kita miliki dan menerimanya tanpa harus membandingkan bakat kita dengan orang lain, saya pun jadi tahu bahwa saya sangat beruntung dan Tuhan memang baik mempertemukan saya dengan  Gladis yang sudah memantik saya semangat dengan memberitahu cara ia hingga ia ada ada dis atu titik sudah mencintai dirinya sendiri dan sayapun mendapatkan percerahan tersebut.

2009 saya pun melanjutkan kuliah dan mengambil jurusan Designe Interior. Jalan pun Tuhan lancarkan saya lulus S1 hanya dalam waktu tiga setengah tahun. Berbekal ilmu di bangku kuliah dan memang saya ada passion disini, seakan segalanya dimudahkan oleh Tuhan saya pun mendapat tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan Interior Consultant di Jakarta. Hingga saat ini saya masih bekerja di perusahaan tersebut sebagai Interior Designer Consultant. Kepercayaan diri saya kini sudah sangat jauh lebih baik dari sebelumnya, saya sudah nggak merasa minder lagi. Dari gaji yang saya terima saya berobat ke dokter kulit untuk mengobati jerawat di wajah saya, karena saat itu saya baru menyadari kalau fisik adalah bagian dari tanggung jawab saya yang harus saya syukuri dan saya rawat bagaimanapun keadaanya, karena saya ingin kulit wajah saya bisa kembali sehat dan saya merasa nyaman.

Setali tiga uang, mungkin karena saya sudah lebih fokus pada kemampuan dan passion yang saya miliki, gagap saya pun kini sudah berkurang. Mau tahu kenapa ? saya ini orangnya memang senang ikut-ikut pelatihan pengembangan diri, saya pun ikutan kelas public speaking. Dan disitu di ajarkan tentang bagaimana agar saat berbicara di depan umum diri saya tidak tegang. Gagap yang saya alami terjadi disebabkan karena saya terlalu tegang dan cemas. Maka sebelum saya ingin berbicara di depan orang lain saya musti rileks dan usahakan untuk tidak berpikir negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Saya mulai untuk tidak berpikiran orang akan bilang begini dan begitu tentang wajah saya, tidak berpikiran buruk kalau nanti saya ngomong akan di sanggah atau di salah-salahkan, tidak berpikiran berlebihan dulu kalau orang lain akan menertawakan/menyepelekan apa yang kita utarakan. Intinya saya saat itu belajar lebih berani dan menerobos benteng ketakutan dan kecemasan yang ada di otak saya.

Saya tanyakan ke diri saya apakah dengan saya panik dan berpikir terlalu berlebihan akan membuat saya nyaman ?, Apakah benar orang lain akan melakukan hal negatif ke diri saya ketika saya berbicara? Sambil saya katakan ke diri saya kalau saya pasti bisa, orang lain tidak akan peduli dengan jerawat saya, tidak akan peduli dengan penampilan fisik saya. Mereka akan mendengarkan apa yang saya bicarakan, kalaupun sampai kejadian mereka tidak suka denganapa yang saya bicarakan, itu bukan urusan saya melainkan itu menjadi urusan mereka. Yang terpenting pointnya adalah di diri saya yang harus saya kuasai agar bisa lebih tenang.

Akhirnya, sekali 2 kali 3 kali saya coba praktekan hal tersebut berkelanjutan, dan saya dapatkan bukti bahwa apa yang saya pikirkan berlebihan sebelum tampil saat bicara adalah salah. Apa yang saya pikirkan tidak ada yang terjadi. Semua orang menerima pendapat saya kalaupun ada yang menyanggah mereka tetap tidak menyerang fisik saya, mereka fokus pada topik yang dibicarakan. Saya bahagia sekali, gagap saya berangsur-angsur berkurang. Hingga saat ini saya dipercaya oleh beberapa rekan kerja untuk menjadi moderator saat meeting dengan client.

Pertemuan dengan Gladis saya anggap adalah bagian dari cara Tuhan untuk membuka mata hati dan pikiran saya bahwa ketidapercayaan diri dan kekurangan di diri saya tidak harus membuat saya down yang hanya akan menghambat kesmepatan-kesempatan yang seharusnya datang. Gladis membuka pikiran saya untuk menerima dan meluhat dengan jelas kekurang yang ada di diri saya bukan untuk di keluhkan melainkan menjadi acuan saya menggali kekuatan di dalam diri, dari sini saya akhinya mampu mengenal dan menerima diri saya setelah itu bersyukur dan tidak lagi membandingkan diri saya dnegan diri orang lain. Karena tiap manusia diciptakan oleh Tuhan dnegan keunikannya sendiri.

Saya yang introver ini, yang dulunya minder karena jerawat kini malah jadi sering tampil di kantor untuk menjadi moderator pada saat meeting-meeting dnegan client. Lihat saja ketika saya sudah bisa mengenal dan lebih mencintai diri saya, pintu-pintu berkat pun terbuka.

Dari pengalaman ini saya belajar :

  1. Menerima dan tidak menolak segala kekurangan yang ada di dalam diri saya. Menjadikan kekurangan adalah bagian dari berkat, jadi ini musti dikelola. Menerima berarti mau mengelolanya hingga menjadi kekuatan baru. Seperti saya dulu saya menolak dikatakan bahwa saya ini gagap. Yaa, saya memang dulu gagap tapi sekarang karena gagap ini, saya jadi terpacu untuk mengolahnya bahwa si gagap juga bisa menjadi moderator acara ketika meeting, si gagap juga kini menjadi seorang Interior Designe. Si gagap yang dulu kini bertumbuh menjadi pribadi yang memahami bahwa dirinya memang mmeiliki kekurangan tetapi juga memiliki kelebihan nah fokus saya di kelebihan tersebut.
  1. Tidak Membandingkan diri dan hidup dengan milik orang lain. Semua orang termasuk saya memiliki kekurangan, dulu saya sadar saya merasa tidak memiliki kelebihan dan banyak kurangnya karena saya kerap membandingkan hidup dan fisik diri saya dengan kepunyaan orang lain, makanya rasanya kurang terus. Kini saya jadi lebih menghargai apa yang Tuhan sudah anugerahkan untuk diri saya.
  1. Berbicara hal positif pada diri sendiri, Ketika sedang merasa tidak percaya diri dengan keadaan fisik saya mislanya, saya tanyakan apakah memang saya beneran sejelek itu ?atau ini hanya perasaan saya saja yang belum terbukti kebenarnannya. Saya dikatakan bodoh oleh orang lain itu nggak mmebuat saya down sekarang, kenapa ?karena kini tiap kali ada yang menjatuhkan saya, saya tanyakan lagi ke diri saya, apakah benar saya bodoh seperti yang orang lain katakan. Saya catat kelebihan saya ternyata lebih banyak daripada kelebihan orang yang mengatakan diri saya bodoh. Berarti yang dikatakan orang lain tentang diri saya adalah keliru. Saya tidak sebodoh yang dikatakan mereka. Saya lebih bahagia pastinya dari mereka. Dan dari bicara dengan diri sendiri otak dan sikappun akan berperilaku positif, ini beneran lho saya sudah mengalaminya sendiri.
  1. Apa yang saya pikirkan itu yang akan terjadi. Dulu ketika saya hanya fokus pada kekurangan diri pintu-pintu kebaikan dan kelebihan saya pun tidak terbuka dan saya tidak bisa melihat sedikitpun lelebiha ndi diri saya, yang saya lihat kekurangan saya saja. Samapi mata saya tertutup dan fokus pada kekurangan. Jika saya berpikir positif maka hasilnya yang saya alami pun positif dan sebaliknya. Karena otak mampu memberi sugesti pada keadaan. Maka dari itu hingga saat ini apa yang saya lihat dengar rasakan dan lakukan positif dulu saja ke diri saya. Gimana kalau keadaan memburuk ? kembali ke point 3 sisanya saya serahkan pada Tuhan, karena mau bagaimanapun rencana saya serapi mungkin, tetap Tuhan berperan dalam hidup saya hingga detik ini.

So Ladies, tetap semangat mengelola kekurangan agar menyatu dengan kekuatan/kelebihan kita. Karena Bahagia adalah milik kita yang bangga menjadi dirinya sendiri tanpa mencemaskan apa yang dipikirkan orang lain.



Clara Marisa

No Comments Yet.