Ketika Aku Membiarkan Pacar Mengatur Hidupku


Tuesday, 16 Oct 2018


Ketika itu juga aku belum mencintai diriku sendiri. Siapa diantara Urbanesse yang pernah mengalami moment tidak menyenangkan seperti yang pernah aku alami berikut?

Beberapa tahun yang lalu ketika saya belum menikah, setiap pacaran pasti saja saya selalu mengutamakan kebutuhan pacar saya. Bukan hanya mengingatkannya makan tetapi sampai membawakannya makan ke tempat dia bekerja, bahkan karena saya merasa dulu pacar saya juga mencintai saya, sayapun rela mencuci dan menyetrikakan pakaiannya. Saat saya itu nurut saja ketika pacar saya meminta untuk mengganti model rambut, saya ini suka dengan rambut panjang. Tapi dulu saya sampai rela memangkas habis rambut saya jadi model bob gitu, walaupun kata orang-orang sih cocok. Tapi jujur saya tidak suka dan nggak nyaman dengan potongan rambut tersebut. Tetapi karena pacar saya itu katanya lebih menyukai perempuan berambut pendek jadi saya mengabulkan permintaannya untuk mengganti model rambut.

Sedih banget ketika rambut saya yang panjang harus saya relakan untuk di pangkas, saat itu saya seperti dibutakan oleh cinta yang terlalu mengada-ada yang saya buat sendiri,  saat itu saya  ingin selalu membuat pacar saya bahagia, hingga ada rasa takut kalau saya nggak nurut sama dia, dia akan pergi meninggalkan saya dan selingkuh di belakang saya, lalu saya hidup sendiri lagi. Itu pemikiran buruk saya yang kalau diingat-ingat kembali ini cukup berlebihan, padahal belum menikah dan belum tentu juga dinikahin  tetapi perlakuan saya ke pacar saya tersebut selalu saya nomor satukan melebihi yang lain bahkan untuk diri saya sendiri.

Puncaknya  adalah ketika saya tidak tahu lagi kemana saja gaji saya dari hasil bekerja saat itu, bahkan saya yang waktu masih jomblo suka pergi ke salon hanya untuk sekedar perawatan rambut dan tubuh serta merapikan kuku dan senang belanja pakaian. Lalu pada saat punya pacar, hal tersebut urung saya lakukan lagi. Lho kenapa ? karena setiap weekend saya selalu mengikuti kemana pacar saya pergi dan saya selalu ada rasa takut pacar saya pergi meninggalkan saya ketika saya harus pergi ke salaon atau belanja, hanya karena pacar saya pernah mengatakan bahwa ia tidak suka perempuan yang terlalu feminine dan banyak gaya (memakai rok, pergi ke salon dan belanja di mall). Saat itu saya berpikiran, kalau ini bagian dari rasa sayangnya pada saya hingga ia tidak ingin saya terlihat lebih cantik karena takut saya di sukai banyak pria.

Uang yang biasanya saya anggarkan untuk ke salon dan belanja pakaian malah saya berikan padanya untuk membelikannya pakaian, sepatu bahkan hanphone baru, sayapun sampai rela membantu ia membayar biaya kuliahnya. Sungguh saat itu adalalh titik dimana saya memprioritaskan pacar saya hingga melupakan dan tidak bagaimana mencintai diri saya sendiri. Dengan melakukan itu semua meski tidak rela Apakah saya bahagia ?Saat itu saya katakan Iya saya “bahagia’, menginvestasikan kebahagiaan yang saya pikir akan saya dapat kan balik dengan buah kebahagiaan sejati dengan akhir yang happy ending, menikah, punya anak, punya keluarga kecil. Ternyata endingnya tidak sesuai ekspektasi yang aku investasikan di kepalaku. Pacarku pergi, menghilang ia berpindah tempat tinggal kata teman-teman kampusnya ia pulang kampung dan nggak balik lagi karena mau menikah dengan wanita yang di jodohkan orangtuanya di kampung.

Patah hati, galau, kacau, kecewa marah ? iyaa sangat pastinya, itu saya rasakan dulu. Saya pikir itu manusiawi, bayangkan berkali-kali pacaran endingnya nggak menyenangkan kalau nggak di putusin, di selingkuhin dan yang terkahir ditinggal menikah heehee..

Well, setelah kejadian demi kejadian tersebut, saya pun move on meski cukup lama saya merasa takut pacaran lagu hampir 2 tahun. Saya sempat merasa trauma pada laki-laki. Selama perjalanan move on banyak yang saya pelajari, tentang bagaimana cara mencintai diri sendiri. Saya sempat mengalami penolakan terhadap segala sifat dan karakter saya. Apalagi dulu dia awal-awal ada beberapa teman yang mengatakan bahwa saya kelewatan bodoh katanya, terlalu baik dan gampang percaya aja sama cowok, kelewatan tulus sampai tidak bisa bedain mana yang pura-pura suka untuk memanfaatin dan mana yang beneran suka.  Di perjalanan move on tersebut saya curhat juga pada Ibu saya, yang kebetulan beliau  Guru Bimbingan konseling untuk anak-anak SMA salah satu sekolah di Jakarta. Saya pun menceritakan semua yang terjadi, Ibu hanya mengatakan ‘nggak apa-apa masa muda seperti itu untung belum sampai nikah, coba kalau sudah menikah lalu keadaanya seperti ini, nggak kebayang Ibu sama keadaan kamu’ ungkap Ibu dengan bijaknya. Ibu meminta saya untuk tidak meninggalkan ibadah pada Tuhan dan sellau berdoa, Meminta segala sesuatu dalam hidup agar mendapat diberi keberkahan, kemudahan, kelancaran. Yang pertama adalah cintai Tuhanmu terlebih dahulu, karena ketika kita sudah menomorsatukan Tuhan, maka segala jalan akan dimudahkan. 

Ibu bilang aku tidak perlu menjadi orang lain sampai harus mengubah karakter baik jadi jahat dan sebaliknya. Kata ibu karakter baik itu alamiah, dia akan keluar dengan sendirinya, respon spontan tubuh tanpa kita perintah. Hal yang dapat aku lakukan adalah dengan menerima keadaan diri dengan segala kekurangannya.

Tidak perlu menjadi sosok lain, jadilah apa adanya dirimu NAMUN kamu musti pintar, belajarlah dari pengalaman masa lalu untuk tidak mudah melakukan hal yang seharusnya belum kamu lakukan ketika belum menikah. Tidak perlu memberi apa yang seharusnya belum kamu beri ketika masih berpacaran. Mencucikan pakaiannya, membawakan pacarmu makanan dan meberikan pelayanan sperti istri kepada suaminya. Tidak perlu karena kalau sudah saling menyayangi, bukan itu lagi pembuktiannya. Ada hal yang lebih besar ketika kamu memilih pacaran untuk di jadikan pasangan hidup atau suami. ‘Perilaku dan ucapannya padamu, tanggung jawab dan komitmentnya bukan hanya kamu yang harus menghormati dia tetap dia juga harus menghormati dirimu dengan segala kebutuhan, kekurangan dan hal yang membuatmu bahagia. Saat itu aku bersyukur karena memiliki orangtua yang bijaksana seperti Ibu. Ia tidak memojokanku atas semua yang terjadi, ia malah memberiku semangat dan menerima keadaanku saat itu. Ini yang memang aku butuhkan saat itu, dukungan dari orang-orang terdekatku.

Mulai Mencintai dan Menerima Segala Kekurangan Dalam Diri

Sejak curhat dengan Ibu, aku pun mulai mempraktekkannya, Dulu aku pikir ucapan ibu itu sulit aku lakukan, tetapi bertahap tahun pun berlalu, aku pun mulai jelas memaknai arti kebahagiaan sesungguhnya. Aku harus terlebih dahulu memprioritaskan apa yang menjadi kebahagiaanku, kebutuhanku dan keinginanku. Ketika aku sudah menerima diriku dengan segala kekurangannya. Saat itu aku mulai bangkit dari patah hati yang berkepanjangan. Selain bekerja kantoran aku juga memilih berkegiatan positif yang mampu memberi kesehatan untuk mentalku yang sempat drop dari mulai ikut senam bareng sahabat, mengikuti kegiatan komunitas club sepeda motor perempuan, kelompok belajar keagamaan bareng Ibu saya,  hingga menjadi anggota pecinta alam, aku pun  dulu sempat ikut menjadi relawan saat Tsunami yang terjadi di Pangandaran. Aku juga bisa dengan bahagiannya pergi ke salon, belanja untuk melengkapi dan menunjang penampilanku dan melakukan segala hal yang aku suka, dimana saat dulu ketika punya pacar aku tidak bisa melakukannya. Saat-saat itulah aku menemukan diriku. Aku tahu apa yang menjadi kebahagiaanku, yaitu bisa merawat dan mencintai diriku dengan segala kekurangannya.

Aku memang polos, aku memang baik, aku memang orangnya mudah iba so what ? yang penting aku bisa jaga diri sekarang untuk tidak kedua kalinya harus jatuh pada kesalahan yang sama. Bukan curiga, buka juga egois tetapi lebih mawas diri dan pintar untuk tidak mudah memberi hal yang belum seharusnya aku berikan ketika masih sebatas pacaran ? Lalu bagaimana kalau cowok yang aku taksir itu menghilang dengan sikapku yang seperti ini sekarang ? anggap saja memang belum jodohnya. Setelah move on di tahun-tahun itu aku sempat merasakan kembali menjalin hubungan dengan seorang pria, walau masih gagal lagi tapi aku tetap kuat karena aku sudah belajar dari pengalaman masa lalu. Benar lho setelah kita sudah mencintai Tuhan dan kebahagiaan diri sendiri kita utamakan semua berkat pun di bukakan oleh Tuhan,.

Singkat cerita 2009 saya pun menikah, mungkin ini alasannya mengapa dulu saya harus merasakan kepahitan dengan pria, Tuhan mempertemukan saya dengan pria yang kini menjadi suami saya sekarang, ia mampu menjadi penyeimbang diri saya. Dia perwujudan dari tiap malam di doa dan ibadah yang saya panjatkan. 1 tahun saja kami menjalin hubungan pertemanan, setelah itu ia melamar saya dan hingga kini pernikahan saya sudah memasuki tahun ke sembilan. Dalam berumah tanggapun Suami saya selalu mengutamakan agar saya dapat telebih dahulu memproritaskan apa yang saya perlukan yang dapat membuat saya bahagia. Karena ketika Istri dan Ibu bahagia maka keluarga pun akan merasakan dampaknya, ini yang menjadi alasan isaya selalu mengagendakan waktu 2-3x dalam sebulan untuk pergi ke salon, bertemu dengan sahabat saya dan membeli pakaian yang saya senangi tanpa harus merasa bersalah karena ini demi kebahagiaan dan perwujudan bahwa saya pun butuh waktu untuk merawat dan mencintai diri saya, suami saya pastinya mendukung.

Dari cerita ini saya mendapat pembelajaran :

  1. Mencintai terlabih dahulu Tuhan sebelum mulai mencintai diri sendiri dan orang lain. Karena menurut saya akarnya dari sini. Ketika kita sudah mendekatkan diri dan mengutamakan Tuhan maka otomatis cinta dan penghargaan pada diri sendiri sebagai makhluk ciptaan-NYA pun akan berjalan juga. Mencintai diri sendiri sebagai wujud mencintai Tuhan yang telah mencinptakan saya dengan beragama kekurangan dan kelebihannya.
  2. Mencintai Diri Sendiri dan memprioritaskan hal yang mebuat kita bahagia. Sebelum diri saya mencintai orang atau hal lain, saya lebih memilih fokus pada kebahagiaan diri saya terlebih dahulu. Saya jadi tahu mana yang menjadi kebutuhan dan keinginan saya. Dengan memprioritaskan segala hal yang membuat saya positif dan senang lalu menyingkirkan segala hal yang dapat merusak mood saya. Baik teman maupun lingkungan yang kurang sehat.
  3. Tidak melemahkan diri sendiri dan selalu mengundang pikiran positif ke diri sendiri. Dulu saya sering bilang ke diri saya “kok gw jelek ya, kok gw gampang banget ya di bodohin dan dimanfaatin, aduh kok saya terlalu polos dan tulus banget ya sampai harus di kecewain lagi, dia selingkuh pasti karena saya tidak menurut padanya” setelah saya sadari ternyata kata-kata/kalimat yang cenderung menjatuhkan dan meratapi diri hanya membuat diri saya makin lemah dan akhirnya diri sayapun mengamini bahwa saya jelek, saya bodoh dan sebagainya. Sekarang saya malah lebih memilih untuk mengatakan hal yang positif kepada diri saya sendiri “gw bisa kalaupun nggak gagal coba lagi karena hidup adalah proses belajar sampai menutup mata, saya cantik makanya saya rawat dan sebagainya.
  4. Terbuka terhadap kritik tidak menolaknya namun mencerna mana yang baik dan buruk untuk diri saya. Kalaupun ada yang menjatuhkan mental saya dengan kritikan pedas yang tidak benar/tidak berbukti tentang saya biasanya saya memilih untuk diam dan tidak mau terlalu dekat dengan orang-orang yang sedikit-sedikit menjatuhkan personality saya. Saya terbuka terhadap kritik namun yang membangun dan memberi solusi, untuk perbaikan diri saya. Saya malah lebih suka seperti itu.

Urbanesse, itulah cerita perjalanan saya mengenal dan mencintai diri sendiri. Selalu ingat Ladies, “Cintai diri Sendiri terlebih dahulu karena diri kita sejatinya berharga dan di butuhkan oleh mereka”.



Rika

No Comments Yet.