Kesenangan VS Kebahagiaan


Tuesday, 23 May 2017


Sebagai wanita pengusaha dari usia muda, saya tentu berelasi dengan banyak wanita dengan bermacam cara mereka menjalani kehidupan mereka.

Dalam sharing ini, saya tidak bermaksud menilai teman-teman saya tapi selalu menjadikan teman -teman saya sebagai inspirator, sebagai teman-teman yang melengkapi hidup ini, membangun hidup saya menjadi lebih baik dan lebih bahagia.

Saya memiliki beberapa teman yang hampir tiap hari bersama, dari mereka saya belajar banyak hal baru yang membuat hidup saya semakin bahagia. Saya akan cerita beberapa teman dekat ini dan bagaimana mereka membuat hidup saya semakin bahagia.

Sebut saja A (bukan nama sebenarnya). A adalah seorang wanita pengusaha tapi bekerja pada perusahaan keluarga dengan gaji setara UMP. Kedengaran aneh ya, seorang pemilik perusahaan meskipun milik keluarga besar, tapi bergaji UMP, tapi itulah kisahnya padaku. 

Dengan gaji setara UMP, A memang hidup selalu penuh keluhan. Anehnya dalam keluhan - keluhan itu, A hidup dengan gaya jetset ala kota provinsi, tiap 2 hari sekali rambutnya harus masuk salon terkenal di kota kami atau mengajak mantan karyawan salon terkenal tersebut untuk ke rumahnya dan mendapatkan harga murah.

Baju yang dipakai juga bukan baju murah, mobil dari kelas menengah brand new, setiap keluar brand new biasanya selalu ganti mobil. Rumah tinggal sangat sederhana  di atas tanah keluarga (termasuk miliknya sebagai anggota keluarga). Makan selalu enak-enak, ngafe dll yang ber-lifestyle tinggi tapi selalu dibayari. Hampir tidak pernah mengeluarkan uang jika sedang makan enak, nge-ngafe atau hang out, namun dia nyaman dengan situasi itu.

B adalah wanita pengusaha dengan lifestyle tinggi, setiap hari hidup dengan suplement ratusan ribu sekali konsumsi demi menjaga keawetan, cukup boros untuk ukuran pendapatannya, menurutku , karena kebetulan usahaku ada yang sama dengan usaha yang dilakukannya.  Menurut A, si B sering meminjam uang dari teman buat memutar cash flow, terkadang dari kartu kredit dsbnya. B sangat royal dalam mentraktir teman-teman jika sedang makan, ngafe bersama.

C adalah wanita super kaya buat ukuran kami karena memiliki banyak sekali usaha dari perkebunan sampai jenis usaha lain. Lifestylenya seberapapun hebatnya pasti sesuai dengan pendapatan usahanya. C tidak kalah keren dengan artis Syah**ni yang melegenda dengan barang super mewah dan branded. Bedanya C tidak terexpos seperti artis beken tersebut.

Dan masih banyak lagi tentang teman - teman kerenku tapi aku sharing secukupnya karena mereka hanyalah contoh yang mempengaruhi kebahagiaan dalam menjalani hidup ini.

A,B,C dan mungkin masih banyak orang lainnya, mereka semua bahagia dengan cara hidupnya, baik melalui keluhan-keluhan mereka ataupun kepura-puraan mereka untuk membiayai semua hal yang membuat mereka bahagia tersebut (aku anggap saja itu kebahagiaan karena bukan bagianku untuk menilai bahwa itu mungkin adalah kesenangan bukan kebahagiaan, namun bisa jadi aku salah, karena bisa saja mereka bahagia, maka aku anggap itu kebahagiaan)

Sekarang bagianku. Aku membedakan diriku dengan bahagia dan kesenangan. Bagiku, aku selalu memilih sikap pilihan hidup, pilihan keputusan dsbnya based on "AKU BAHAGIA". Aku jarang sekali memilih untuk kesenangan karena bagiku kesenangan adalah kebahagian palsu yang sesaat.

Aku tidak memilih gaya hidup seperti teman-temanku meski aku berada di tengah - tengah wanita bergaya hidup jetset, keren dan dikagumi. Apakah aku tersingkir? Ternyata tidak.  Teman- temanku tetap memilih berteman denganku meskipun pilihan gaya hidupku berbeda, mungkin mereka tahu bahwa itu hanya pilihan cara hidupku karena apa yang mereka pilih, mereka yakini aku juga mampu memilikinya.  Memang sering kali aku dihina, dianggap remeh teman lain yang baru mengenalku karena mereka anggap aku hanyalah karyawan, (maaf) miskin dan berbeda kelas dengannya. Aku pernah diusir dari meja teman karena penilaian itu. Apakah aku tersinggung. Tidak. Aku lebih mengenal diriku daripada dia, yaa sebagai seorang profesional dengan jabatan branch manager harusnya dia tidak bersikap demikian meskipun menganggapku karyawan. Bukankah dengan baik pada semua orang, kemungkinan dia mendapatkan customer buat perusahaan yang dia pimpin? Seluruh pengusaha di wilayah pecinan, kenal kesombongannya. Setelah ia mengusirku, mungkin, akhirnya ia tau bahwa aku pemilik usaha, ia pun bersikap manis. 

 

Apakah aku kapok dengan hinaan? Tidak pernah. Aku mengenal diriku dan aku bahagia, karena apa yang aku capai ini justru membawa kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan barang-barang branded, lifestyle jetset dsbnya. Kebahagiaanku adalah saat aku bisa melihat kebahagiaan orang lain yang se team bekerja bersama buat penghasilan kami bersama (staff dan karyawan), hasil yang aku peroleh, bisa aku persiapkan buat membantu anak-anakku kelak jika usaha mereka mengalami kesulitan (semoga tidak pernah, semoga mereka sukses selalu). Bagiku, sesuai ajaran nenekku dan mamaku : "Uang tidak pernah basi dan berlaku di mana saja dan kapan saja."

 

Bagiku, kesenangan (mungkin bahagia bagi ukuran teman-temanku, sampai mereka memaksakan diri) itu berumur pendek karena akan terus ditawarkan kesenangan lainnya, yang bisa saja memaksa diri untuk memenuhi semua lifestyle itu sedangkan bahagia adalah saat aku mampu memiliki apa yang menjadi keinginan terukurku kapanpun aku kehendaki TANPA BEBAN kepuraan-puraan agar DINILAI HEBAT orang lain.

Aku diajarkan keluargaku bahwa ukuran hebat seseorang bukan dinilai dari gaya hidup yang jetset melainkan "KAMU SIAPA". Ketika kamu menjadi seseorang yang bernilai, dengan penampilan sederhana pun, kamu tetap akan bernilai di mata orang lain. Hinaan orang lain atas pilihan cara hidupmu juga akan menjadi refleksi bagi yang menghinamu, menjadikannya malu bahwa memilih teman berdasarkan gaya hidup adalah tidak selamanya benar. Saat dia tau bahwa dia telah salah menilai, ada rasa bahagia bahwa ternyata kita pantas di matanya, kedengaran lucu kan tapi itulah RASA, rasa yang menimbulkan bahagia.

 

Nah akhirnya, kesenangan atau kebahagian bermuara pada kita ingin menunjukkan diri "KAMU SIAPA". 

Semua orang jika mendapatkan penghargaan pasti akan bahagia. Penghargaan itu, bisa dengan cara diciptakan seakan-akan bahagia yang kita sebut dengan kesenangan dan juga bisa diciptakan untuk ukuran jangka panjang yaitu dengan bekerja untuk memiliki apa yang ingin kamu miliki secara bebas waktu.

Kebahagian sejati bagiku adalah saat hatiku merasa bahagia (bisa haru, bisa sukacita, bisa bersyukur saat apa yang aku kerjakan menghasilkan VALUE = nilai bagi kehidupanku). Temanku A,B,C,D dll juga pasti senang dan bahagia dengan cara mereka maka sampai detik ini, mereka masih tetap sama. Setiap kita, memiliki kebebasan memilih kebahagiaan dengan cara kita sendiri, kita yang maknai apakah itu senang (bersifat sementara) atau bahagia yang bersifat jangka panjang dan lebih holistic.

Memilih menjadi orang sukses dan bermakna juga bagi sesama adalah kebahagiaan yang lebih sejati karena bersifat holistic.

 



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.