Keluar Dari Zona Nyaman ? Siapa Takut !


Wednesday, 15 Feb 2017


Di artikel sebelumnya, saya pernah menulis tentang bagaimana saya belajar memperbaiki diri dalam mengatasi konflik dengan keluarga saya. Setelah melalui 8 tahun perjalanan hidup dibarengi dengan konseling, akhirnya kami bisa berdamai satu dengan lainnya. Dengan latar belakang seperti itu, saya bertekad dalam urusan cinta, sebisa mungkin saya akan memilih pasangan yang sesuai dengan kriteria saya dan masuk dalam kategori “aman” di mata keluarga, dalam artian tidak pernah bercerai, dan jarak umur tidak terlalu jauh.

 

Tetapi, namanya cinta selalu datangnya tiba-tiba dan kadang meleset dari rencana. Tiba-tiba saja saya tertarik dengan seorang pria yang pernah bercerai, sudah memiliki satu anak dan berusia 8 tahun lebih tua dari saya. Ini jelas bukan pilihan “aman” buat keluarga saya dan di luar comfort zone saya, mengingat background keluarga besar saya yang sangat keras dan traditional Chinese.

 

Di keluarga saya tidak pernah ada sejarah perceraian, maka mereka menganggap perceraian itu haram hukumnya. Mereka berpikir bahwa orang yang bercerai pada umumnya bertabiat buruk dan tidak bertanggung jawab. Memang banyak contoh nyata di sekeliling saya di mana orang bercerai belum tuntas beresinnya, tapi sudah berpacaran dengan orang lain, jadi hubungannya semakin complicated. Selain itu, cara berpikir saya sendiri juga masih judgemental dan hati saya sejujurnya belum cukup besar untuk menerima pria dengan status duda “sepaket”, karena saya tidak pernah gagal menikah dan saya pikir yang sudah gagal sama yang sudah gagal aja, jadi sama-sama “I feel you, you feel me”.

 

Belum lagi bisikan-bisikan dari sekeliling yang berkata saya masih muda, cantik dan pintar, jadi pikir-pikir dulu dan jangan cepat-cepat membuat keputusan dalam hal ini. Jadi, jelas kalau mau main aman, bisa saja saya clear cut dari awal karena ketakutan-ketakutan, ego sebagai perempuan dan asumsi negatif itu. Tapi, saya putuskan untuk keluar dari comfort zone saya. Toh, selama ini pacaran sama pria yang sesuai standard ortu juga gagal terus karena nggak cocok. Untungnya saya sudah baikan sama papa dan sekarang saya bisa curhat apapun sama dia termasuk urusan percintaan. Kepercayaan sudah terbentuk sangat solid dalam hubungan saya dan papa, jadi kami bisa mendengarkan dan mendukung satu sama lain. Respon papa sangat bijak, dia menyuruh saya untuk do background check dan menggali karakternya. Setelah saya mengerjakan checklist dari papa dan saya merasa positif dengan hasilnya, saya memutuskan untuk menjalin hubungan dengan dia.

 

Bulan-bulan awal pacaran, saya sering mengalami dilema. Di satu sisi, semakin lama saya semakin jatuh hati karena orangnya jujur, apa adanya, pinter, nggak malas, pengertian, dan paling penting mau bertumbuh bareng dalam iman. Tektok banget rasanya sama dia, dan no drama. Tapi di sisi lain, pas sedang sendiri, saya selalu kepikiran, am I doing the right thing? Apa iya saya bakal tambah serius sama dia? Trus ntar gimana ntar saya menghadapi dia secara “sepaket”? Tapi, saya juga sadar, buah karakter positif yang dia miliki sekarang ini memang tidak lepas dari hardship dia post cerai. Apalagi dia juga ternyata udah konseling buat his own emotional health.
Jarang-jarang saya nemu laki mau invest his money and time in counselling. Bahkan dia jauh lebih apa adanya dan positif daripada laki-laki yang belum pernah menikah yang pernah saya temui sebelum-sebelumnya. Saya harus menerima kenyataan bahwa bercerai merupakan bagian dari self-improvement dia. Terlepas dari situasi dia yang tidak sesuai kriteria saya, karakter dia itu kriteria saya banget dan saya bisa grow respect ke dia, yang jarang saya dapati dari laki-laki lain.

 

Maka, saya belajar untuk mengesampingkan bisikan-bisikan negatif dan menerima dia apa adanya. Selain memperbesar kapasitas hati saya, saya memutuskan untuk meningkatkan pengetahuan saya tentang bagaimana berada dalam hubungan dengan seorang duda dengan membaca beberapa buku tentang hal itu yang membahas tuntas mulai dari masalah hukum, keuangan, emosi dan bagaimana menjadi orangtua.

 

Karena, ketidaktahuan bisa membuat kita berasumsi yang bukan-bukan. Waktu summer holiday, dia mempertemukan saya dengan anaknya. Dalam satu bulan itu, saya belajar untuk melihat anaknya bukan sebagai competitor dalam berbagi waktu dan resources dengan bapaknya, tetapi melihat bapaknya sebagai partner saya dalam membuat liburan itu menjadi menyenangkan buat kita bertiga. Saya belajar untuk mengamati tentang parenting practice pacar saya. Liburan ini membuat kami banyak bertukar pikiran tentang konsep keluarga. Saya mau tidak mau dituntut untuk lebih cepat dewasa dan tidak manja hanya mikirin diri sendiri. Saya juga belajar untuk bernegosiasi dengan baik dan tetap menyediakan waktu untuk me time agar saya sendiri nggak kering.

 

Karena kami sama-sama berusaha belajar satu sama lain, hubungan terasa semakin solid. Hingga suatu hari, pada hari Imlek, dia memutuskan untuk mengunjungi kampung halaman saya dan bertemu dengan keluarga saya. Saya senang berarti dia serius tapi batin saya ciut, mengingat budaya keluarga saya. Saya takut tidak kuat menerima response negative dari keluarga besar kalau mereka tahu latar belakang pacar saya. Saya belajar untuk focus on what matters most. Saya tidak bisa control reaksi orang tapi saya bisa manage pikiran dan perasaan saya. Ya saya hanya bisa berdoa, minta support dari papa dan brief pacar saya. Bagaimana meraih hati orang tua saya 'dengan melakukan gerakan sederhana yang menghormati budaya bagi mereka.

 

Begitu kami tiba di kampung halaman saya, saya sangat lega ketika respon mereka jauh lebih menyenangkan daripada asumsi saya. Bahkan, nenek saya yang paling garang, bisa berkata sama pacar saya, “Banyak yang mau sama cucu saya, tapi Tuhan menyediakan dia buat kamu.” Saya juga belajar untuk mengkomunikasikan sesuatu secara netral dan kepala dingin ketika paman saya meminta saya untuk meminta bukti surat cerai kepada pacar saya. Pacar saya mengerti dan semua berakhir dengan baik tanpa drama.

 

Dari hubungan ini saya belajar bahwa zona nyaman tidak akan membawamu kemana-mana. Kita harus berani untuk mengejar apa yang benar-benar kita mau. Butuh komitmen untuk mau belajar mengesampingkan ego, jujur, berkomunikasi dengan baik, dan menerima kenyataan. Kritikan dari sahabatmu  dalam perbaikan diri mampu diterima dengan cara cerdas, apa  motif yang mendasarinya & isu-isu utama, mengambil sisi positif dari mereka dan menghilangkan sisi negatifnya.

 

Belajar untuk tidak sok pintar, mengakui kesalahan, menghargai cara pandang orang lain yang berbeda dan mendengarkan orang lain seutuhnya tanpa berasumsi dulu sebelumnya. Belajar untuk berpikir dan bertindak objektif, dan fokus pada hal-hal penting tanpa membuat emosi seperti rasa takut, marah, sedih atau cinta yang berlebihan mendikte dan menurunkan harga diri kita. Keluar dari comfort zone memang tidak mudah, tapi hasilnya layak untuk diperjuangkan.



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.