Keep on Moving and Jauhi Iri Hati


Thursday, 19 Apr 2018


Suvivors – Destiny Child

Thought I couldn't breathe without I'm inhaling

You thought I couldn't see without you Perfect vision

You thought I couldn't last without you But I'm lasting

You thought that I would die without you But I'm living

Thought that I would fail without you But I'm on top

Thought it would be over by now But it won't stop

Thought that I would self destruct But I'm still here Even in my years to come

I'm still going be here

Jam tangan menunjukkan pukul 10.15 pagi waktu Singapore, ketika lagu tersebut terdengar dimobil yang saya naiki menuju kantor hari ini. Senin yang produktif ketika saya harus memulainya sejak jam 5 pagi menuju bandara Soekarno Hatta kemudian melanjutkannya dengan morning flight to Singapore.

Awalnya saya masih sibuk membalas email kantor dan pesan singkat di whatapps ketika untuk sesaat bahwa saya memahami, saya pernah menjadi salah satu dari wanita survivor. Survive atas berbagai macam kejadian pahit, hitam tapi memberikan makna bagi hidup. Kali ini saya akan berbagi cerita untuk bisa menjadi survivor dalam lingkungan pekerjaan dan pertemanan yang dipenuhi dengan gejala iri hati.

Saya yang terlahir sebagai wanita Aquarius dengan tipikal cuek, independen dan awalnya selalu merasa bahwa setiap orang adalah “baik” atau “sangat baik” agaknya telah lama mengubah hal itu. Being an independent career woman memberikan sisi positif dan negatif. Salah satu sisi negatifnya bisa dikatakan menjadi korban iri hati, yang dalam hal ini saya sendiri awalnya tidak menyadarinya. Karena jujur, saya selalu menganggap orang lain memiliki sisi kebaikan, atau istilahnya saya begitu naif.

Di dunia kerja, kita pasti pernah mendengar “the shining star”. Ya, saya pernah berada diposisi itu, beberapa kali. Gemerlap pujian, benefit yang menjanjikan serta promosi jabatan untuk menghandle posisi regional asia pasific pernah saya alami. Apakah menyenangkan, ya tentu saja. Siapa yang akan menyangka dapat mengemban tugas berharga mewakili Indonesia dalam meeting presentasi Asia Pacific.

Well, tentu saja semua tidak seindah kenyataannya. Ketika kembali ke kantor Jakarta, saya harus menjadi individu yang tidak bisa mempercayai rekan kerja lain begitu saja. Terlebih lagi rekan kerja wanita, ya tidak sedikit yang mengatakan bahwa para lelaki juga akan berlaku yang sama. Namun saya jadi dapat memetakan siapa yang harus saya jadikan kawan dikantor.

Apalagi ketika saya harus menjamu CFO maupun CEO regional diJakarta, tidak sedikit yang menganggap bahwa saya menempuh hal lain untuk menggolkan karir saya. Saya percaya bahwa tujuan dan impian yang kita ingin raih tidak serta merta menjadi hilang akibat rasa iri hati dan gosip yang disebarkan oleh mereka yang sebenarnya tidak sanggup meraih hal yang saya dapatkan. Saya tetap berlaku wajar dan menganggap bahwa mereka ada untuk memberikan kekuatan bagi saya untuk tetap kuat dan tersenyum dalam menjalani segalanya.

Lately, hal ini tidak hanya terjadi didunia kerja, namun dalam pergaulan sehari hari yang bahkan melibatkan inner circle pertemanan kita. Beruntung, inner circle saya adalah sahabat yang menemani saya sejak belasan tahun yang lalu. Tidak jarang, saling tikung teman, tidak mau kalah bersaing (misalnya teman satu membeli tas bermerk A, besoknya teman B membeli tas bermerk B dengan harga yang lebih mahal).

Maraknya penggunaan media sosial juga tidak jarang menimbulkan rasa iri hati, jika melihat orang lain berlibur ke Maldives, so pasti kita sekarang langsung cek tiket dibeberapa online travel agent terpercaya.

Siklus iri hati tidak akan ada habisnya, akan terus melingkari hidup kita jika kita tidak mampu menjaga diri dari penyakit-penyakit hat, sekarang disini yang mau saya sharing adalah tentang bagaimana saya terbiasa mengelola dalam menghadapinya. Daripada terjerumus dalam hal yang tidak memberi kebaikan dan manfaat dalam hidup, lebih baik melakukan hal dibawah ini untuk mencapai hidup yang lebih baik, ini yang saya lakukan :

  • Eliminasi teman teman yang menyumbangkan aura negatif
  • Sibukkan diri dengan kegiatan yang berpositif, salah satunya adalah mengikuti kegiatan komunitas Urban Women. Menambah teman baru dan pengalaman baru yang pasti lebih positif.
  • Ikut serta dalam kegiatan amal, bisa dengan mengunjungi panti asuhan, menyumbangkan pakaian bekas.
  • Syukuri hidup, tidak perlu membandingkan hidup saya dengan orang lain. Karena tiap orang sudah memiliki porsi masing-masing dalam hidupnya. Syukurilah bagian kita Ladies.
  • Don’t give up and keep on moving

Ditemani secangkir teh chamomile hangat ini, saya ingin menutup cerita malam ini.

Night, Urbaneese.

  



Risa

No Comments Yet.