Kebahagiaan Batin Mengalahkan Kesenangan


Thursday, 25 May 2017


Kalau ditanya soal kesenangan, maka saya akan jawab jalan-jalan, apapun bentuknya itu, mau ala-ala "koper" ataupun ala-ala "ransel" alias backpaker. Kesenangan ini mulai bisa direalisasikan semenjak saya kerja dan punya uang untuk membiayai perjalanan sendiri. Ngga bisa diukur rasa senangnya ketika saya dan sahabat-sahabat seperjalanan merencanakan perjalanan kami, membuat itinerary, mencari informasi soal kota atau negara yang dituju sebanyak-banyaknya, berburu tiket tengah malam demi mendapatkan harga promo yang ramah banget buat kami para officer muda yang masih merangkak menuju tangga yang lebih tinggi lagi (ciyyeee, hehe), mencari penginapan dan sederet persiapan lainnya yang bikin muka senyum-senyum sepanjang waktu menyambut hari keberangkatan.


Rasa senang itu muncul bukan hanya di awal persiapan perjalanan, tapi juga ketika jalan-jalan itu benar-benar terjadi. Perasaan senangnya membuncah ketika berada di tempat baru yang sudah lama diimpikan, bertemu dengan orang-orang baru, menggila bareng teman-teman, nyasar bareng, mencoba makanan unik dari tiap kota, dan sederet pengalaman unik lainnya yang sungguh membuat saya ingin terus mengulang perjalanan lagi dan lagi. 

 

Bisa dibilang 2014 adalah tahun terbaik untuk urusan jalan-jalan. Dua perjalanan trip jarak jauh dilakukan pada waktu itu. Pertama Mei 2014, backpaker trip 9 hari ke Jepang bareng sahabat-sahabat saya, dan 9 hari voluntery trip ke Cebu bareng teman kantor. It was an amazing experience. Banyak hal dari perjalanan tersebut yang membuat saya senyum-senyum sendiri dan hati menjadi penuh dengan segala rasa. Perjalanan yang selalu akan saya ingat dan sebuah doa dilantunkan, agar saya bisa mengulang lagi perjalanan ini bersama partner hidup nanti, Amin :).


September 2014, tepat di hari kepulangan saya ke Indonesia dari Filipina, kabar duka menyambut. Ayah saya meninggal dunia pagi itu karena sakit jantung yang dideritanya. Jangan tanya bagaimana kejadiannya karena saat itu saya masih di pesawat. Sampai ke rumah, kedua adik saya sedang ke pemakaman sedangkan Ibu saya menunggu saya dalam kondisi setengah sadar. Pada waktu itu, saya merasakan apa yang dinamakan pasrah se pasrah pasrahnya atas kondisi yang terjadi, selain menerima dan saling menguatkan, apa lagi yang bisa dilakukan?.



Semenjak kepergian ayah saya, banyak perubahan terjadi, salah satunya adalah mengerem kuat-kuat keinginan untuk jalan-jalan. Kehilangan ayah, menyadarkan diri ini betapa saya kurang menghabiskan waktu bersama keluarga, oleh karenanya saya niatkan untuk bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan mama dan adik-adik saya dibandingkan pergi trip bareng sahabat-sahabat saya.


Ngga jarang Saya merasa rindu untuk pergi trip tapi ditahan terus karena sekarang prioritasnya bukan lagi kesenangan diri sendiri tapi keluarga. Kami bukan tipe keluarga yang bisa menunjukan rasa sayang lewat perhatian atau kata romantis seperti keluarga lainnya. Namun, berusaha untuk ada dan saling support satu sama lain adalah bentuk dari kasih sayang itu sendiri. Momen tersebut menjadi awal mula saya merasa kebahagian yang saya rasa akan lengkap dan komplit ketika mama dan adik-adik saya juga bahagia. 


Melihat mama sehat & merasa aman meski telah ditinggal oleh partner in crime-nya, memastikan adik bungsu bisa sekolah dan memberikan support terbaik sebagai kakak untuk pendidikannya, menghabiskan waktu bersama, melakukan perjalanan yang sebelumnya ngga pernah dilakukan, lebih banyak ngobrol dan berbagi, dan hal lainnya, merupakan hal yang membuat hati ini menjadi lebih lega, membuat saya merasa lebih berarti sebagai seorang anak dan kakak. Meski belum bisa memberikan yang terbaik, saya berdoa agar apa yang saya lakukan saat ini bisa menciptakan kebahagiaan tiada tara pada akhirnya, bagi diri saya, ibu saya, adik-adik saya, kami sebagai keluarga.


Saya berusaha untuk selalu percaya bahwa selalu ada hikmah dibalik tiap peristiwa, tinggal kita aja yang mau menerima atau menjadi abai. Kalau rasa egois itu muncul (maksudnya pengen jalan-jalan), saya akan ingat-ingat lagi, bahwa dulu Ibu dan ayah saya akan memastikan anak-anaknya tercukupi semua kebutuhannya, memastikan lagi bahwa anak-anaknya bahagia, sekarang waktunya saya melakukan hal yang sama kepada Ibu dan adik-adik saya. Saya sadar, kesenangan pribadi yang cuma didasarkan oleh ego ga akan bertahan lama, tapi kebahagiaan yang tercipta bersama orang-orang tercinta akan menjadi memori yang tahan sampai kapanpun juga.


Lalu Din, sekarang udah ngga pernah jalan-jalan lagi dong? Ya ngga juga, sekali dua kali masih suka pergi jalan-jalan bareng temen-temen cuma ya ngga jauh-jauh amat, sekadar pelepas rindu dan penghilang jemu. Bonus dari kesabaran menahan trip tadi, saya malah bisa pergi umroh bareng Ibu saya 2016 yang lalu, sesuatu yang ngga pernah terpikirkan akan terjadi dalam waktu dekat. Ibu Bahagia, saya Bahagia, semua keluarga ikut bahagia :). Tinggal menunggu saya menikah dan punya anak, lengkaplah kebahagiaan itu (curhat colongan, hehehe).

Menutup tulisan kali ini, saya pengen ngutip kata-katanya Goerge Burn, American comedian,actor

“Joyful is having a large, loving, caring, close-knit family in another city”




Dini Anggiani

No Comments Yet.