Karena Sesal Membawa Hikmah Yang Begitu Besar


Thursday, 27 Jul 2017


Enam bulan sudah berlalu semenjak Mama pergi meninggalkanku. Mama pergi akibat penyakit kanker ganas yang dideritanya. Aku masih ingat di tanggal 18 Desember tahun lalu aku baru saja menikmati perayaan hari besar keagamaan ikatan pemuda daerahku di Jakarta. Sebenarnya saat itu hatiku tidak sepenuhnya menikmati perayaannya. Hati dan pikiranku hanya tertuju pada Mama. Aku hancur setiap kali aku mendapat kabar tentang keadaan Mama. Ingin rasanya segera bertemu dengan Mama dan merawatnya. Apa dayaku, aku baru saja memulai pekerjaan pertamaku di Jakarta. Biar bagaimanapun aku harus bisa bersikap profesional. Satu-satunya yang bisa kulakukan selain berdoa untuk Mama, aku rutin menanyakan perkembangan kesehatan Mama pada keluargaku.

 

Aku menyesali semua kebodohanku, keegoisanku. Mama pernah memintaku untuk pulang ke kota kelahiran setelah selesai merayakan kelulusanku. Mama ingin sekali mengadakan syukuran atas kelulusanku sebagai seorang sarjana. Berkali-kali Mama mengajakku untuk pulang, berkali-kali Mama berkata rindu menikmati masa-masa bersamaku. Sayang, aku terlalu egois dengan menolaknya. Aku begitu keras untuk terus melanjutkan keinginanku. Aku tahu, hati Mama begitu terluka. Aku tahu Mama menangis dalam hatinya. Aku tahu. Tapi, bukan karena aku tidak ingin pulang bersamanya. Aku begitu menyayanginya. Aku tidak ingin membebaninya lagi. Aku akan pulang setelah pekerjaanku di Jakarta beres, aku bekerja juga agar bisa meringankan bebannya. Penolakanku membuat beliau mengalah. Jujur, aku sedih. Diam-diam aku menangis dan memohon ampun pada Tuhan.

 

Setiap pagi, siang, dan malam ada saja alasan Mama untuk mendengar suaraku. Puluhan panggilan tak terjawab, puluhan sms yang menanyakan kabarku, pekerjaanku, kesehatanku, atau sekedar memberitahu apa yang sedang Mama lakukan sepanjang hari ini memenuhi layar handphone-ku. Sering aku mengabaikannya. Terkadang karena aku sudah lelah sepulang kerja atau aku sedang tidak ingin berbicara dengan beliau.

 

Senin, 19 Desember 2016….

Aku baru saja membuka laptop untuk memulai rutinitasku di kantor. Tiba-tiba handphone-ku berdering, panggilan whatsapp dari saudara laki-lakiku membuatku bertanya-tanya. Aku tidak berani mengangkat telepon karena aku baru saja memulai aktivitasku waktu itu. Dan sebuah pesan gambar dari abangku membuat dadaku sesak, airmataku jatuh bercucuran. Badanku terasa lemas tak berdaya. Untuk bangkit berdiri saja rasanya kakiku begitu kaku. Mama sudah tidak sadarkan diri dan kondisinya sangat kritis. Sarafnya sudah tidak berfungsi dan sebuah pesan berisi “hanya mukjizat yang bisa menyelamatkan Mama”.

 

Aku menutup laptopku cepat-cepat dan segera mencari tiket pesawat dengan bantuan seorang sahabatku. Aku sudah tidak bisa menahan diri untuk bertemu dengan Mama. Langkahku begitu cepat menuju kosan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantorku. Aku hanya bisa menyebut Mama dan berdoa agar aku diberi kesempatan untuk bertemu, menjaga dan mendampingi Mama dalam masa-masa tersulitnya. Bahkan, aku sudah memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku demi Mama. Ini saatnya aku melakukan sesuatu untuk Mama. Ya, untuk perempuan luar biasa yang telah memperjuangkanku dalam mewujudkan cita-citaku. Cita-cita yang selalu kuharapkan bisa membuat Mama bangga dan bahagia disaat aku berhasil meraihnya.

 

Sepanjang perjalanan aku tidak bisa menahan airmataku. Kupandangi foto Mama di layar handphone-ku. Aku tidak peduli dengan orang-orang sekitarku yang mungkin bertanya-tanya mengapa aku menangis. Dua jam didalam pesawat membuatku gerah, terlalu lama rasanya. Tidak sabar ingin menumpahkan kerinduan dan penyesalanku di kaki Mama. Tidak sabar ingin bertemu dengan keluarga yang aku cintai. Mereka adalah alasan terbesar untuk tidak menyerah memperjuangkan cita-citaku.

 

Lagi-lagi aku harus kembali ke gedung putih. Gedung Rumah sakit di mana aku pernah nyaris kehilangan orang-orang yang kusayangi. Aku pikir aku tidak akan menginjakkan kaki lagi disini. Namun, musibah itu kembali terjadi. Kali ini aku harus menemui Mamaku disini. Sedikit trauma aku memaksakan kakiku melangkah mencari ruangan dimana Mama terbaring lemah. Rasanya seperti mengulang kembali masa-masa menyedihkan itu.  Tak berhenti kupanjatkan doa setiap kali aku melewati ruangan rumah sakit. Berharap Mama menyambutku dengan senyum dan sapaannya yang khas. Aku yakin, Mama pasti sangat bahagia saat mengetahui kepulanganku. Berusaha berpikir positif untuk menguatkan diriku saat melihat kondisi Mama nanti. Aku sudah terlalu lelah menangis sepanjang hari itu. Semakin mendekati ruangan Mama, semakin aku tidak siap menerima kenyataan.  Sampai akhirnya kakiku berhenti melangkah.

 

Dan…

 

Aku seperti berada dalam drama yang selama ini hanya bisa kusaksikan di layar televisi. Tubuhku berasa bergetar hebat, mataku nanar, aku menjerit kencang melihat kondisi Mama yang begitu kritis. Aku berusaha untuk tidak percaya dengan apa yang kulihat saat itu. Mama selalu mengatakan dirinya akan baik-baik saja, akan segera pulih. Tak ada yang bisa kuperbuat selain meratapi, memeluk, dan menciumnya. Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri, betapa egoisnya aku membiarkan Mama menahan rindu dan menahan sakitnya sendirian. Tak ada yang bisa kuperbuat untuk keselamatan beliau selain berdoa dan membacakan firman di telinganya setiap hari. Bukan aku tidak rindu, aku bahkan sangat terlalu rindu pada Mama. Kubisikkan sepatah kata yang belum pernah kuungkapkan pada Mama, ‘Mama, maafin aku. Aku sangat mencintaimu. Alasanku berjuang demi kebahagiaanmu. Mama, ampuni aku.’ Aku tidak seperti anak perempuan lainnya, yang bisa menceritakan semua hal pada Mamanya. Aku lebih suka menuliskan kisahku pada sebuah buku diary.

 

Seminggu aku merawat Mama, mendampinginya. Tak ingin semenitpun kulewati tanpa disampingnya. Saat itu aku merasa rindu yang tersimpan selama hampir empat tahun akhirnya terlampiaskan juga. Perlahan aku mulai tenang ditambah dengan kehadiran Ayah, abang, adik, dan kakak iparku. Aku merasa kembali seperti dulu, berkumpul bersama keluarga yang sangat aku rindukan. Pelukan Ayah selalu membuatku kuat dan tetap berharap untuk kesembuhan Mama. Dan setiap kali dokter masuk ke dalam ruangan dan selesai memeriksa kondisi Mama, setiap kali itu pula aku mengharapkan mukjizat kembali terjadi. Namun, apa yang disampaikan nyaris sama setiap harinya, ‘apakah keluarga sudah berkumpul semua disini? Tetap berdoa ya.’ Bosan sekali mendengarnya. Harapanku untuk mendengar kalimat positif dari hasil pemeriksaan selalu nihil.

 

Memang, Tuhan berkehendak lain. Vonis dokter tentang kesembuhan Mama menuntutku untuk lebih kuat dan lebih tegar. Mama pergi pada tanggal 27 Desember 2016  jam 1 siang saat aku membantunya memberikan Mama makan siang melalui sebuah selang. Nafasnya berhenti. Tak akan ada lagi sakit yang dideritanya. Belum sempat Mama menyapaku, melihatnya tersenyum bahagia seperti di mimpiku, Mama pun pergi dengan damainya.

 

Dua minggu berlalu saat itu sejak kepergian Mama, aku menyendiri di kamar, rasa menyesal dan kecewa terhadap diriku terus merundungku. Di hati hanya ada kalimat seandainya dulu aku tidak ke Jakarta, seandainya dulu Mama tidak kutinggalkan terus bekerja, seandainya-seandainya dan seandainya yang membuatku dirundung marah atas apa yang kulakukan.

 

Namun Ayah memberitahuku untuk tidak berlarut dalam penyesalan. “Semua yang terjadi sudah atas rencana Tuhan,  Mama sudah tenang dan bahagia disana. Sekarang kita ayang disini harus bisa melanjutkan hidup seperti biasa lagi. Jangan membuat Mama Sedih dengan kamu mengurung diri dikamar. Mama Bahagia dan bangga melihatmu kini telah bekerja, jadi kembalilah bekerja, gapailah cinta-citamu karena Mama pasti melihatnya” terang Ayah.

 

Dari situlah aku terus menyemangati diriku dan mengembalikan diriku menjadi sosok seperti dulu. Awalanya sulit memaafkan diriku sendiri, namun kalimat Ayah yang mengatakan bahwa Jangan Membuat Mama sedih dan beliau bahagia dan bangga dengan melihat aku telah bekerja, membuatku bersimpuh memohon maaf pada Tuhan karena telah meragukannya dan menyalahkan diriku sendiri. Ini saatnya aku memperbaiki diri, memaafkan diriku dimasalalu untuk membuat Mama dan orang-orang yang masih bersamaku bahagia terutama Ayah.

 

Kini 7 Bulan berlalu sejak kepergian Mama, rasa menyesal, perlahan-lahan sirna berubah menjadi semangat untuk kembali bekerja dan membahagiakan Ayah di sisa usianya. Rasa cinta terhadap keluargaku semakin besar. Aku belajar untuk semakin peka dan peduli. Kepergian Mamaku memberi hikmah yang begitu besar pada diriku. Dan aku berjanji akan selalu mengingat pesan-pesan beliau yang menjadi pedoman hidupku selama ini. Semakin aku mengerti bahwa selama ini aku terlalu benci dengan masa lalu yang pernah membuatku terpuruk telah menjadikanku seorang yang ambisius dan terkesan egois. Ini cara Tuhan menyapaku.

 

Kata orang, penyesalan tidak ada artinya. Tapi seseorang berkata padaku, 'sebuah penyesalan akan menjadikan seseorang menjadi lebih baik lagi. Jadi, berhentilah mempersalahkan dirimu. Cara terbaik untuk memperbaikinya, ingatlah selalu pesan orangtuamu dan terapkanlah dalam hidupmu. Karena semua terjadi atas kehendak_Nya. Itu karena Tuhan sangat menyayangi dan merindukanmu, jadi kembalilah pada_Nya.' Semakin aku merenungi semuanya, semakin aku belajar untuk bisa menerima diriku, berhenti memojokkan diriku sendiri. 

 

Kini aku sudah di Jakarta dan kembali bekerja seperti biasa, Beberapa waktu yang lalu saya baru saja mendapat berkat dari Tuhan, rencananya di kantor aku mendapat kesempatansebagai salah satu kandidat karyawan yang akan mendapat promosi di kantor. Yaa..walaupun baru wacana tapi setidaknya kalau itu benar terjadi, Ini semua berkat dari Tuhan bahwa meskipun aku bekerja aku harus tetap mengingatnya dan mengingat keluarga yang menyayangiku Ayah dan adik-adikku. 

Note : Nang/Boru= panggilan (sayang) untuk anak perempuan dalam adat Batak

 



Suqesy

Ada sisi terbaik yang perlu kau lihat di dalam dirimu saat berada pada titik terendah.

No Comments Yet.