Karena Materi, Aku Menjadi Orang Ketiga


Saturday, 16 Mar 2019


Dari judul tersebut mungkin beberapa orang akan menyebutku perempuan yang tidak bisa mandiri, bergantung dnegan pria yang sudah beristri, Yaa...seperti beberapa sahabatku juga yang sering menyebutku seperti itu. Mereka bilang aku jahat, ‘morotin’ suami orang padahal mereka bilang aku menarik secara fisik, aku bisa mendapatkan hubungan yang lebih baik daripada harus menjadi duri rumah tangga orang lain. Tetapi mereka tidak tahu saat itu aku sedang mengalami kesulitan ekonomi. Aku memang saat itu sudah bekerja sebagai Project  Assistant di salah satu perusahaan di Jakarta. Tetapi gajiku sebagai Project Assistant sejujurnya belum bisa menutup hutang orangtuaku di kampung.

Jadi, karena Bapakku pernah sakit parah, Ibuku meminjam uang di Bank dengan bunga yang cukup besar aku sebagai anak pertama yang juga sudah bekerja merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka, Ibu dan bapakku bekerja sebagai petani di kampung. Sejujurnya uang gaji bulananku tidak cukup untuk memenuhi kebutuhanku sendiri tinggal di Jakarta, karena harus dibagi-bagi juga untuk membayar hutang orangtuaku.

Di Jakarta saat itu, aku menjalin hubungan baik dengan seorang pria  yang sudah menikah. Dia teman baik atasanku namanya Pak Berto (Bukan nama sebenarnya). Sebenarnya kami tidak pacaran tetapi Pak Berto sangat baik padaku. Setiap kali atasanku pergi dinas keluar kota aku selalu ikut, karena memang tugasku adalah sebagai Assistantnya. Pak Berto selain berteman ia juga rekan kerja atasanku hanya beda kantor. Atasanku tidak mengetahui hubunganku dnegan Pak Berto, karena memang aku snagat menjaga agar tidak terlihat orang.

Semua kebutuhanku selama tinggal di Jakarta Pak Berto lah yang menanggungnya makan, sewa apartemen dan lainnya. Jujur walau ia baik padaku, namun aku tidak pernah meminta ia membelikan ini itu tetapi selama ini ia lah yang sellau memberikannya padaku, mengajakku beberapa kali liburan dalam negeri. Ia sempat mengajakku liburan ke luar negeri tapi aku tolak dengan alasan aku tidak suka liburan jauh, karena aku tidak tega dnegan keluargaku di kampung. Mereka hidup sulit tetapi aku malah berlibur, inginnya aku liburan ke luar negeri suatu hari nanti dengan Bapak Ibu dan adikku bukan dnegan suami orang. 

Istilah pepatah bilang ‘tidak ada makan siang yang gratis’, itu benar. 1 tahun aku menjalani hubungan yang sebenarnya terlarang ini diam-diam, selama itu juga aku harus menemani Pak berto curhat dan melayaninya, mengenai kehidupan rumah tangga bersama istrinya yang katanya tidak bahagia karena istrinya terlalu sibuk dengan kegiatannya di luar rumah. Anak-anak Pak Berto di urus oleh baby sitter. Katanya ia masih bertahan karena anak, ia tidak mau keluarga besar malu karena adanya perpisahan. Dan disitulah aku tahu bahwa hubungan ini tidak akan mungkin sampai ke jenjang yang lebih tinggi lagi apalagi harus sampai menikah. Setiap malam aku masih berdoa pada Tuhan agar bisa di beri kemudahan menyelesaikan segala urusan ini.

Setiap Pak Berto curhat aku selalu mengatakan padanya untuk bicara dengan istrinya jika memang sudah bosan atau ada hal yang membuat ia tidak nyaman. Tetapi pak Berto menolak katanya ia malas berdebat di rumah, karena istrinya yang mendominasi dirinya. Aku pikir aku salah besar berada di hubungan mereka, tetapi Pak Berto baik ia mencukupiki secara materi dan ia nyaman denganku katanya. Aku sebanrnya tipe orang penggalau, dalam artian aku melakukan ini karena Pak Berto baik dan aku memang membutuhkan uang saat ini.

Aku bimbang, aku kerap tarik menarik antara hati dan pikiran. Pikiranku kerap mengatakan tinggalkan Pak Berto dan cari pekerjaan baru yang gajinya lebih besar aku pasti bisa, hatiku menolak ia mengatakan bahwa aku harus tetap dengan Pak Berto selama hutang orangtuaku belum lunas lagipula saat ini aku masih butuh dicukupi secara materi. Begitulah tarik menarik antara logika dan hatiku setiap harinya. Hidupku tidak tenang takut kalau istri Pak Berto datang dan melabrakku. Sisi lainnya aku ingat orangtuaku di kampung, mereka akan sangat marah mengetahui anaknya menjalin hubungan dnegan pria beristri, padahal Bapak tidak pernah mendidikku agar menjadi seperti ini. Ia menguliahiku bukan untuk menjadi orang ketiga di rumah tangga orang lain tetapi menjadi sukses seperti anak-anak temannya Bapak.

Sampai pada suatu hari aku harus menerima kenyataan Bapakku tutup usia karena penyakitnya, aku merasa sangat bersalah pada Bapak karena belum bisa menjadi anak yang baik untuknya. 1 minggu aku di kampung dalam kedukaan. Kata Ibuku, bapak pernah mengatakan kalau ia ingin melihatku menikah dan sering menanyakan siapa pria yang saat ini sedang dekat denganku agar aku bisa bawa kerumah, tapi sampai ajal menjemput aku belum bisa mewujudkannya. Dari sinilah titik awalku untuk memikirkan kembali mengenai hubungan dengan Pak Berto. Ketika di kampung aku memiliki banyak waktu luang untuk berdoa dan ibadah pada Tuhan, meminta petunjuk terbaiknya mengenai hubungan ini dan menguatkan aku dan ibuku agar bisa di beri  jalan keluar paling baik untuk menyelesaikan urusan utang piutang kami.

Sekembalinya dari kedukaan di kampung aku kembali bekerja, namun entah kenapa hari itu aku merasa ingin menjauh dari Pak Berto. Sudah beberapa hari sejak di kampung aku tidak menjawab telepon darinya. Dan hari itu adalah hari dimana aku berani mengambil keputusan besar, aku bertemu Pak Berto seperti biasa. Ia menanyakan tentang kedaanku saat itu aku juga bicara padanya kalau ingin menudahi hubungan dengan Pak Berto aku katakan pada Pak Berto kalau aku ingin pulang ke kampung halaman dan tinggal disana menemani ibu dan adik-adikku, aku katakan juga bahwa aku akan menikah dengan jodoh pilihan orangtua (bagian ini aku sengaja berbohong agar ia tidak terus mengejarku).

Aku mengucapkan terimakasih padanya karena selama ini sudah banyak membantu. Awalnya ia menahanku, tidak ingin melepaskan aku tetapi aku katakan padanya untuk kembali ke keluarga adalah jalan terbaik untuk saya juga untuknya. Ia hanya diam, kelak jika saya sudah mendapatkan pekerjaan kembali saya akan mengganti uang yang pernah ia kasih ke saya. Jujur ini di luar dugaanku, reaksi Pak Berto bukan merayuku ia malah mengatakan bahwa aku sudah dianggap seperti anaknya sendiri jadi semua pemberian darinya tidak perlu aku ganti katanya.

Sebenarnya ia sangat terkejut mendengarnya, ia mengatakan bahwa akan berpisah dari istrinya dan menikahiku. Tetapi aku menolaknya dengan tegas, aku katakan bahwa aku ingin menikah, namun bukan dengan suami orang. Walaupun aku tahu ia berpisah bukan karena aku tetapi karena ia memang sudah tidak betah dengan istrinya itu yang aku dengar dari atasanku sebelum dekat dengan Pak Berto.  Di hati kecil aku tidak ingin seumur hidupku merasakan label ‘perebut laki orang’ tersemat, bukan takut dengan apa kata orang, tetapi aku takut pertanggung jawabannya pada Tuhan, pada keluargaku dan terutama pada diriku sendiri.

Aku tahu bagaimana sendainya ini terjadi pada diriku ketika nanti sudah menikah, aku tidak ingin pasanganku nanti juga berselingkuh dengan perempuan lain sepertiku. Di agamaku aku tahu menjadi perempuan seperti ini dosanya seumur hidup mengalir dan ketika aku tahu itu aku tidak mau menjadi munafik terus menerus. Aku rasa ini saatnya aku sudahi urusanku dengan Pak Berto guna menyelesaikan urusanku yang lain.

Pengalaman Memberiku Pembelajaran Hidup

Sejak saat itu Pak Berto tidak pernah menemuiku lagi, aku pun pindah kini aku menyewa kosan 1 kamar sajayang bulanannya hanya berkisar 800ribuan karena sekarang aku harus siap mencukupi kebutuhanku sendiri dan membaginya untuk bayar hutang orangtua.  Kebetulan juga saat itu adikku yang nomor 2 juga sudah bekerja di daerah Bandung, jadi setidaknya aku bisa bagi dua tanggung jawab dengannya.

Ternyata yang aku pikir gajiku elama ini nggak cukup, sekarang malah bisa dibilang sangat cukup. Aku masih bisa beli pakaian kerja dan kosmetik sendiri, makanpun aku kini jarang beli, aku memilih memasak di kosan karena kebetulan kosanku ada dapurnya dibawah jadi aku bisa masak saja daripada beli ini bagian dari caraku hemat uang, toh makan mie instant sesekali juga gak akan jadi bikin aku mati heehee. Gaya hidup, untungnya dari dulu aku bukan perempuan yang fashionable dan senang hura-hura jadi aku nggak masalah kalau sudah nggak bisa lagi nongkrong di warung kopi mahal  dan pergi jalan-jalan karena bagiku keluarga lebih penting daripada sekedar ngopi dan jalan-jalan. Walau memang berat rasanya ketika awal menjalani, bayangkan biasanya hidup enak ada yang menyokong kini harus berusaha sendiri. Tetapi ada yang berubah, hidupku jauh lebih tenang dari sebelumnya. Tidak ada rasa bersalah.

Hingga kini aku masih tetap bekerja di Jakarta, aku membuka diri dengan menjadi sosok perempuan yang memiliki pasangan sah kini tanpa harus ada lagi yang ditutup-tutupi seperti dulu. Pasanganku yang sekarang mengetahui masa laluku, namun ia tidak mengahakimiku, baginya semua orang memiliki masa lalu termasuk dirinya dan yang terpenting baginya adalah mau jujur mengakui dan melepaskan keadaan tersebut demi kebaikan diri sendiri. Akupun di minta pasanganku menceritakan ini untuk Urban Women bukan untuk buka aib melainkan agar perempuan lainnya yang pernah mengalami posisi sepertiku dulu tidak merasa sendirian menghadapinya dan mau lebih jujur pada diri sendiri bahwa apa yang kita lakukan akan ada pertanggung jawaban, resikonya dan ketika kita sudah tahu itu tanyakan ke diri kita apakah ini memang tujuan saya hidup  di dunia ?.

Urusan harta/materi memang tidak ada habisnya jika saya mau turutin, tetapi kembali saya katakan pada diri saya bahwa jika saya masih di beri nafas mengapa saya tidak menjadi orang yang baik saja, karena memilih menjadi orang ketiga atau bukan adalah pilihan kita sendiri. Hanya Diri saya lah yang harus memutuskannya.

 

 



Anonim

No Comments Yet.