Karena Alasan Cinta, Aku Bergantung Pada Kekasihku


Sunday, 18 Feb 2018


Seringkali, saat kita bicara soal seberapa besar wanita bergantung pada pria, adalah soal romansa - yang tertafsir di kepala kita. Betul tidak, Urbanesse? 

Kalau boleh mengajak flashback, bertahun - tahun lalu saat saya sedang duduk di bangku kuliah, saya mengalaminya. Sekonyong - konyong karena 'merasa cinta', lalu saya seperti tidak punya kaki sendiri; kemana - mana harus ditemani atau menunggu approval dari sang pacar yang kini statusnya berubah menjadi mantan saja. 

Saya ingat, saya merasa menjadi lemah lalu sangat bergantung padanya. Kalau bisa diprosentasikan mungkin mencapai angka 80% (whoa!). Akan pergi kemana saja, merasa harus diantar, perlu ditemani, dan lain sebagainya. Hingga pada suatu saat, saya yang memiliki passion di bidang radio broadcasting sedang mengikuti seleksi penyiar radio kampus, tersadar akan sesuatu.

Siang itu, saat saya sedang menghabiskan waktu bersama teman - teman baru di studio radio, pacar saya menjemput, mengajak untuk pulang. Saya yang masih ingin berada di studio untuk berdiskusi dan sharing dengan para senior menolak. Singkat kata Ia menjadi marah dan melontarkan ungkapan yang tidak masuk akal, sekaligus membuat saya terhenyak. "Kamu pilih saya atau radio ini?", tanyanya. 

Dengan yakin lalu saya sampaikan bahwa tidak seharusnya Ia menyampaikan pertanyaan itu. Tanpa mengurangi respect saya kepadanya, saya katakan, saya lebih memilih untuk tinggal di studio. 

Saat dengan legowo Ia berlalu, saya kemudian berpikir. Apakah efek ketergantungan selama ini membuatnya berpikir bahwa saya tidak bisa hidup tanpanya? Lalu menjadikan saya bisa dengan mudahnya menghapus mimpi selama ini?

Peristiwa itu menjadi flash back moment yang masih terngiang hingga saat ini, terutama jika bicara soal seberapa besar wanita bergantung pada pria? 

Saya pikir, wanita adalah makhluk yang diciptakan Tuhan sangat tangguh, mampu mengatur prioritas dan melakukan lebih dari satu aktivitas atau multitasking, dan lebih kuat (baca: fleksibel) dalam menghadapi stres. Tetapi wanita juga dianugerahi ragam hormon yang dalam jumlah lebih banyak dari pria, membuat kita menjadi makhluk yang lebih sensitif. Sehingga sering "termenye - menye" saat sedang dimabuk cinta. 

Menurut saya, wanita mampu tidak bergantung pada pria. Bergantung disini saya terjemahkan ke dalam skala aktivitas maupun tujuan pribadi ya, Urbanesse. Seperti aktivitas sehari - hari maupun impian yang ingin dicapai. Kita mampu, kok, dengan usaha dan keyakinan terus - menerus, melakukan berbagai hal positif yang mendukung perkembangan diri. 

Tanpa mengesampingkan posisi dan peran pria, saya lebih ingin menyoroti kedudukan keduanya yang saling bertaut, beriringan, dan dapat memberi support satu sama lain serta masukan untuk tujuan pribadi maupun bersama yang lebih baik. 

Jika kamu merasa tidak mampu untuk tidak lagi terlalu bergantung pada pria, bertanyalah pada hati kecilmu, apakah hal ini baik untuk dirimu? Jika ini baik maka tetap jalani, namun jangan sampai jadi menghambat karir atau cita-citamu/impianmu tetap seimbangkan, tetapi Jika tidak baik, tidak ada salahnya untuk segera melakukan perubahan, Ladies.. It takes time to make a change, but its all worth to try. 

 



Nathalie Indri

No Comments Yet.