Jangan Terlalu Jaim Berat, Jadi Diri Sendiri Saja


Wednesday, 19 Sep 2018


Urbanesse pernah tidak ketika pacaran atau PDKT (masa pendekatan) terlalu jaim (Jaga Image) baik-baik di depan pasangan ? seperti kita yang biasanya bersama teman bisa tertawa sekeras-kerasnya saat nonton film komedi, lalu di depan pacar atau pasangan bisa jadi seseorang yang manis bahkan ketika menonton film bersamanya kita tidak bisa tertawa lepas seperti pada saat bersama teman-teman kita? Atau ketika kita suka dengan laki-laki yang hobbinya nonton pertandingan sepak bola, kita jadi orang lain yang biasanya nggak suka nonton pertandingannya, malah jadi ikut-ikutan seolah suka sama pertandingan sepak bola padahal kita nggak suka tapi kita paksakan demi pria yang kita sukai?. Atau ketika pacar kita suka dengan orang yang dandan rapi, kita berusaha untuk mengikuti keinginan pacar. Tiap waktu dandanan kita ON karena kalau tanpa make up ada rasa khawatir pacar kita itu kecewa dan berpindah ke lain hati ?

Di artikel ini saya ingin cerita pengalaman saya ketika tidak menjadi orang yang apa adanya di depan laki-laki yang saya sukai. Saya ini sebenarnya tipe orang yang terbuka, ekspresif dan apa adanya. Tapi dulu di depan pria yang saya taksir (sukai) saya tidak bisa menjadi diri saya sendiri. Saya kerap berperilaku tidak apa adanya saya, karena saat itu ada rasa ketakutan kehilangan orang yang saya sukai. Di kepala saya ada perasaan cemas kalau-kalau pacar saya berpindah ke lain hati, maka saya lakukan dengan maksud memberikan yang “terbaik” meski harus tidak menjadi diri saya sendiri.

Pacar saya saat itu senang dengan pertandingan balap motor, sampai-sampai motornya di modifikasi sedemikan rupa dan bolak balik ke bengkel untuk modifikasi motor. Saya yang saat itu masih kuliah sejujurnya sangat tidak suka menunggunya di bengkel (tahu sendiri kan bengkel motor itu seperti apa heehee panas dan aroma bensin, oli menyengat kemana-mana) belum lagi suara bising knalpot yang di perdengarkan, itu bukan saya banget. TAPI demi orang yang saya sukai, saya bisa menjadi orang yang seolah-olah suka dengan dunia otomotif dan balap motor (motoGP). Saat itu bisa saja saya menunggu di tempat yang lebih sejuk bahkan pacar saya sendiri waktu itu pernah menyuruh saya untuk nunggu di mall atau pergi ke salon daripada berpanas-panasan di bengkel. Tapi karena saya ada perasaan takut kehilangan, takut mengecewakan pacar saya karena dianggap tidak bisa berbaur dengan teman-teman dan dunia otomatifnya, jadilah saya memaksakan diri untuk tidak menjadi orang lain yang bukan diri saya.

Saat itu saya tidak bisa menjadi apa adanya saya di depan pacar, kemanapun pacar saya melangkah ke bengkel disitu saya ada, romantis ? yaa..awalnya saya mikirnya seperti itu. Tapi lama-lama di jalani ada perasaan lelah bayangkan setiap waktu di depan pacar harus bersikap berbeda dari adanya diri saya. Ketika nonton film di bioskop sama pacar saya saat itu pun saya menjadi orang lain, saya yang tidak suka sebenarnya di film action bisa jadi seolah menyukai film action, padahal saat itu saya gemar menonton film thriller maupun film komedi. Tapi lagi-lagi karena takut dia mendua karena dianggap tidak bisa mengimbangi hobbi nonton film action kesukaan pacar saya, jadilah saya memaksakan diri untuk berperilaku dua muka (lain di depan pacar lain di belakang).

Sekalinya pernah ada waktu kumpul sama teman-teman kampus saat itu buat nonton film bergenre komedi di bioskop, saya merasa nyaman banget, bisa tetawa terpingkal-pingkal sekeras-kerasnya sampai saya merasa “kok lega banget ya bisa melepas tawa seperti ini, kok enak banget ya nonton film kesukaan sama teman-teman di bioskop. Kok beda banget ya rasanya tidak seperti saat saya nonton dengan pacar saya”. Saya ini introvert, jadi selalu mikirin lagi sikap-sikap saya yang sekiranya pantas atau tidak untuk saya lakukan. Saat itu saya berpikir apa ini yang namanya hubungan percintaan yang tidak sehat ? Saya merasa lebih lepas dan nyaman bersama teman-teman saya ketimbang sama pacar sendiri. Apakah saya berlebihan, terlalu jaga image agar nampak terlihat baik dan pacar saya tidak pindah ke lain hati?. Padahal semuanya akan tetap baik-baik saja, Tanpa saya harus melakukan jalan pintas seperti itu, mendua muka di depan pacar sendiri, sungguh pengalaman yang membuat saya belajar banyak.

Sejak saat itu, saya coba menjadi diri saya sendiri, apa adanya saya. Ketika pacar saya ke bengkel saya memilih untuk menunggunya di rumah saja, sambil nonton tv atau saya pergi ke mall atau ke salon yang memang menjadi hobbi saya juga (dan ini pasti salah satu hobbinya urbanesse juga bukan? Heehee). Setelah saya bersikap seperti itu beneran lho saya merasa lebih nyaman, lega dan lepas. Tapi sayangnya hubungan saya dengan pacar saya saat itu harus berakhir setelah 1 tahun kami pacaran, karena dia menduakan saya. Apa ini karena saya yang telah menjadi apa adanya ? BUKAN, tetapi karena pria tersebut memang sudah memiliki tabiat suka gonta ganti pacar dan Tuhan menunjukkannya kalau memang pria ini tidak bisa menyukai saya apa adanya. Sedih sih saat itu manusiawi, tapi saya bersyukur tidak berlanjut dengannya, kalau berlanjut pun pasti saya akan kebawa lagi menjadi seseorang tidak apa adanya. Dan saya gak mungkin dipertemukan oleh pasangan saya yang kini jadi suami saya sekarang heheee...saat itu saya juga mendengar bahwa mantan pacar saya tersebut memang track recordnya sebagai “playboy’ di kampusnya dulu, jadi saya bersyukur bisa lepas darinya.

Sejak saat itu tiap kali pacaran saya selalu memulai dengan menunjukkan diri saya yang orisinil, apa adanya di depan teman-teman maupun di depan pasangan. Yaaa saya tetap jadi diri sendiri yang hobbi ke salon hanya buat creambath, yang suka nonton film thriller dan komedi. Yang jika tertawa bisa lepas. Belajar dari kejadian yang lalu tiap kali pacaran saya selalu mengenalkan pasangan saya dengan tema-teman dan memperkenalkan mereka juga dengan dunia saya. Jadi kita sama-sama saling tahu kesukaan masing-masing, tetap ya menjadi apa adanya. Kalau nggak suka pedas saya akan bilang nggak suka, kalau nggak suka film action saya juga akan bilang nggak suka. Jadi pasanganpun tahu hal yang kita sukai dan tidak, karena hidup hidup dengan bukan menjadi diri sendiri sangat melelahkan Ladies.

Kini saya sudah menikah Ladies dan pasangan saya ini benar-benar di datangkan Tuhan untuk melengkapi kekurangan yang ada di diri saya dan begitupun sebaliknya. Pasangan yang kini menjadi suami saya sekarang juga memiliki karakter serupa yang apa adanya. Dengan bersikap apa adanya dalam mencintai pasangan atau seseorang yang kita sukai /sayang tidak lantas kok membuat kita menjadi sosok yang pantas untuk di kecewakan. Dulu sebelum menikah pun sikap apa adanya sudah kami tunjukan, ketika pasangan saya yang hobbi main video game, tidak lantas membuat saya jadi ikut-ikutan jadi pecinta video game. Saya memilih nonton DVD film thriller jadi saya tidak harus merasa bosan nungguin dia yang sedang main video game dari handphonenya. Begitupun sebaliknya ketika ia sedang ingin berkumpul dengan teman-temannya saya pun lebih memilih juga kumpul dengan sahabat-sahabat saya. Kita berdua sama-sama saling mengerti bahwa kita juga punya kehidupan lain selain hanya untuk pacaran selama hobbi dan kesukaanya masih dalam batasan normal dan tidak merugikan diri kita masing-masing.

Pasangan yang kini jadi suami saya ini memang terbuka dan jujur sekali, bagus ia katakan bagus, jelek ia katakan jelek. Sakit hati nggak? Tentu tidak karena yang saya rasakan ucapannya memang benar. Seperti ketika ia tidak suka saya make up berlebihan, sayapun demikian jadi kalau lagi ngedate nih saya makeup natural aja bahkan kadang nggak pake make up dan dia juga nggak complain. Justru dia complain kalau saya makeupnya terlalu ON. Makeup terlalu ON pun juga bukan diri saya, jadi untuk hal ini kita cocok karena memang saya nggak terlalu suka dandan yang berlebihan.  Ini nih kelebihannya jika kita bersikap jujur apa adanya diri kita, hidup pun di penuhi dengan keterbukaan dan jika yang kita temui memang orangnya benar-benar baik, pasti juga akan lebih menghargai kejujuran seperti ini.

Pokoknya pasangan yang sekarang jadi suami saya ini benar-benar memberikan saya kebebasan untuk bisa tetap menjadi diri saya sendiri. Dia pernah mengatakan begini pada saya “kalau bisa tetap jadi seperti kamu yang sekarang aja, yang apa adanya, jujur dan terbuka aku malah lebih senang kamu yang seperti ini”. Jadi meski sudah menikah kita tetap jadi diri kita di depan dan di belakang masing-masing dari kami. Ketika lagi ada temannya dia datang atau teman saya yang datang kerumah, kamipun tetap jadi diri kami, ketawa lepas tanpa jaim-jaiman. Percaya atau tidak Ladies, ketika kita sudah menjadi wanita yang apa adanya, orang lain pun juga bisa melihatnya bahwa kita jujur terhadap diri kita sendiri. Kita adanya seperti ini ya sudah seperti ini tidak perlu di paksakan atau berpura-pura baik di depan pasangan hanya karena ketakutan pasangan meninggalkan kita.

Jika misalnya ketika kita sudah bersikap apa adanya lalu pacar sampai meninggalkan kita dan berpaling ke perempuan lain? itu bukan hal yang menjadi tanggung jawab kita karena mungkin hal tersebut merupakan cara Tuhan menunjukkan bahwa pria tersebut tidak benar-benar mencintai diri kita apa adanya.

Ketika suatu love relationship dan pernikahan sudah di jalani dengan hubungan yang saling terbuka dan apa adanya maka hubungan tersebut akan terasa kehangatannya dan jauh dari rasa curiga, prasangka dan cemas karena takut kehilangan. Curhat mengenai apapun juga leluasa, yaa seperti sama sahabat sendiri. Jadi tidak ada kepura-puraan di dalamnya. Bukankah kita mencari hubungan yang memang membuat kita nyaman dan dapat terus bertumbuh bersama menjadi pribadi yang selalu lebih baik tiap harinya ?

Dari pengalaman di masa lalu saya belajar

  1. Tidak merasa takut atau khawatir kehilangan pasangan dan teman hanya karena menjadi diri yang apa adanya

Dulu saya beranggapan seperti ini “Aduh kalau saya takut tertawa keras-keras nanti si dia bakal marah nggak atau bakal jadi ilfeel dan pergi meninggalkan saya dengan orang lain”. ATAU ketika teman saya mau ngajak bertemu saya ada rasa cemas kalau teman saya akan marah atau menjauhi saya hanya karena saya lebih memilih untuk mengajak bertemu teman saya itu makan bakso di dekat rumah ketimbang harus jalan dan betemu di mall

Kini tidak lagi merasa takut dan khawatir kehilangan pasangan dan teman , karena kalau memang mereka baik dan tulus mereka juga akan hanya menerima kelebihan saya tetapi juga kekurangan yang ada di diri saya apa adanya, begitupun sebaliknya anatara saya dan pasangan serta teman-teman saya.

  1. Tidak Mendua Muka Pada Diri Sendiri, Hati orang lain memang penting TETAPI Hati kita itu yang lebih penting , Jadi Tidak Perlu Takut Berkata Tidak.

Dulu itu saya kerap mengutamakan hati/perasaan orang lain, saya selalu mengutamakan mereka karena ada perasaan takut kehilangan pasangan dan teman. Ada perasaan gulity sendiri ketika aku merasa tidak enak kalau menolak ajakan/perintah teman atau pasangan. “Duh nanti kalau saya bilang tidak, dia bakal mutusin saya nggak ya atau kalau saya bilang lagi nggak bisa ketemu teman saya bakal kesal nggak ya” jadi ada rasa sulit mengatakan Tidak, bawaanya sellau bilang “iya aku ikut” dan bener ikut meski sebenarnya nggak suka.

Pasangan yang kini menjadi suami saya pernah mengatakan begini “Menjadi diri yang apa adanya kamu itu bagus, tapi kamu musti cerdik dikit. Jangan mendua muka untuk menyenangi orang lain, dengan mengatakan Iya padahal kamu nggak suka hanya karena ingin menyenangkan hati orang lain. Katakan Iya adalah iya karena memang kamu suka, katakan tidak kalau memang tidak kamu sukai. Jangan terlalu mengorbankan hati kamu hanya untuk membuat orang lain senang, karena kamu takut aku pergi atau takut teman kamu pergi. Jangan seperti itu. Pikirkan juga diri kamu” Terangnya.

Dari ucapannya tersebut saya jadi mikir lagi, iya juga saya dari dulu memang selalu mengorbankan hati saya demi membuat senang orang lain. Kini fokus saya adalah apa yang membuat saya nyaman dan tenang itu yang akan saya lakukan. Kalau saya tidak suka saya berusaha katakan tidak suka dan sebaliknya. Karena mengatakan tidak ketika saya tidak suka juga bukan suatu malapetaka yang pada akhirnya harus kehilangan teman atau pasangan. Jikapun itu terjadi saya sudah harus berpikir kembali bahwa itu semua bukan menjadi tanggung jawab saya melainkan memang tanggung jawab orang tersebut.

Urbanesse, kini saya merasakan sekali bagaimana lebih tenang dan nyaman hidup menjadi diri kita sendiri yang apa adanya tanpa harus merasa takut kehilangan baik pasangan ataupun teman. Karena yang benar-benar baik dan tulus tidak akan pergi meninggalkan kita meski tahu kekurangan kita. Saya dan Urbanesse sama-sama bertumbuh untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, menjadikan kejadian lalu menjadi sebuah pelajaran untuk menjalani kehidupan sampai hari ini. Grow through what you grow through, let’s grow up togther.

 



Libra

No Comments Yet.