Bahagia Itu Sederhana?


Friday, 19 Jan 2018


Sukses itu apa ? bahagia itu apa ? itu yang saya tanyakan pada diri saya ketika dulu sempat mengalami down karena dulu saya kerap mengukur Kesuksesan dan kebahagiaan dengan melihatnya dari orang lain. Seperti pada waktu itu sepupu saya berhasil mendapatkan pekerjaan impian “orangtua”nya sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS) Yang notabene orangtua saya pun juga menginginkan saya sebagai anak pertama bekerja sebagai PNS. Saya lihat keluarga sepupu saya bahagia banget ayah dan ibunya dan seluruh keluarga besar sayapun memujinya, sebagai sepupu saya bahagia melihatnya, tidak ada perasaan iri karena sejujurnya memang PNS bukan pekerjaan impian saya pada saat itu.

Tapi dari situ juga saya sedih karena orangtua jadi kerap membandingkan saya dengan sepupu saya “tuh lihat anaknya Om A (bukan nama sebenarnya) anaknya sukses hidupnya sudah dijamin pasti membahagiakan kedua orang tuanya. Kamu daftar juga dong, ikutan juga siapa tahu lolos seperti anaknya Om A” tandas mereka kepada saya, dan kalimat itu keluar berulang tiap kali saya kumpul keluarga selepas pulang kerja. Padahal saat itu saya sudah bekerja sebagai staf di salah satu Non Goverment Organization(NGO) di Jakarta, dan menurut saya pekerjaan saya yang saat itu saya tekuni dari segi penghasilan dan jenjang karir cukup baik. Bahkan ada tawaran beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2 tapi kebetulan saat itu saya tidak ambil karena masih berpikir ingin mencari uang dan merasakan karir pemula di NGO.

Memang orangtua tetaplah orangtua yang selalu menanamkan ukuran sukses dan kebahagiaan dilihat dari orang lain, saya tidak menyalahkan kedua orangtua saya. Yaa..mungkin memang dalam keluarga saya dari dulunya memang mengukur sukses dan bahagia dari jabatan, ekonomi dan status sosial dan mungkin mereka seperti itu karena masyarakat dan lingkungan juga demikian melihatnya. Sayapun sempat terpengaruh,  Jadi tiap kali saya lihat orang lain misalnya punya gaji dan jabatan besar sudah punya mobil dan membeli rumah, di pikiran saya saat itu “itu orang enak banget ya hidupnya sudah bahagia dan sukses punya jabatan bagus, gaji besar dan sudah punya rumah sendiri. Saya ingin seperti dia” saat itu saya hanya melihat sisi kesuksesan dan kebahagiaan dari kulit luar orang lain yang saya lihat saja, tanpa menelisik lagi makna kebahagiaan dan kesuksesan menurut versi saya. Padahal orang yang saya lihat sukses dan bahagia tersebut belum tentu bahagia dalam hidupnya, dan belum tentu juga dia menganggap bahwa dirinya sudah sukses dalam hidup.

Barulah setelah saya menginjak usia 25 tahun (lama ya tersadarnya heehee) pada waktu itu saya baru paham bahagia dan sukses itu, yaaa...saya sendiri yang menciptakan, ukurannya bukan dari orang lain. Karena sepanjang menuju usia 25 tahun saya merasakan kok lelah ya dan bikin pusing ya seperti mengejar sesuatu tetapi nggak nyampe-nyampe, nggak dapat-dapat (karena saya mengejar kebahagiaan dan kesuksesan dari teman-teman saya). Teman saya ada yang pindah kerja akhirnya bisa membeli rumah saya pun ikutan pindah kerja mencari pekerjaan yang gajinya besar supaya bisa kebeli rumah tapi akhirnya tetap aja nggak kebeli saat itu, dan merasakan kok teman saya enak banget ya hidupnya nemuin bahagianya gampang banget kenapa saya sulit? itu saya pertanyakan terus pada saat itu.

Lalu giliran teman saya nikah yang katanya nikah menemukan kebahagiaan, sayapun jadi kepingin nikah juga tapi apa daya saat itu belum ada calonnya bahkan baru aja di kecewain dan ditinggal nikah, alhasil saya hanya bisa mengeluh dan bertanya lagi pada Tuhan “Tuhan, mengapa sulit sekali ya, saya hanya ingin bahagia dan sukses seperti mereka itu aja Tuhan”. Kalimat “saya hanya ingin bahagia dan sukses” saat itu adalah “ingin bahagia punya rumah, sukses dapat jabatan bagus, gaji bagus dan pasangan hidup yang sesuai keinginan saya” dan ketika saya sadari saat ini, kalau diingat lagi jalan pikiran saya tentang konsep bahagia dan sukses jaman old, itu sih bukan kebahagiaan. Karena kebahagiaan dan kesuksesan yang sesungguhnya bukanlah tujuan melain action kita dalam menjalani prosesnya.

Dan benar, ketika saya pada waktu itu sudah tidak lagi mengukur kebahagiaan saya dengan tidak melihat kebahagiaan dan kesuksesan orang lain (teman-teman saya) saya tidak lagi merasakan lelah, pusing karena memikirkan kok nggak bahagia ya saya dan kok belum juga berhasil ya saya seperti teman-teman. Hati sayapun saat itu jadi jauh lebih tenang tidak terburu-buru, kalau di pikir-pikir lagi siapa yang mengejar hingga saya harus terburu-buru mengejar kebahagiaan supaya seperti orang lain, hidup saya pun jadi lebih santai toh tidak membandingkannya dengan kehidupan sekitar saya. Kini saya sudah menikah dan definisi bahagiapun sudah tidak lagi saya ukur dengan melihat orang lain, karena saya sudah mempunya kebahagiaan batin tersendiri. Kebahagiaan saya yang merasakan dan saya pula yang menciptakannya.

Kebahagiaan itu saya yang ciptakan sendiri. Salah satu contoh kecil kebahagiaan versi saya, seperti pada saat seorang teman sampai mengungkapkan pada saya begini “ih apa sih cuma bisa Me Time dengan minum teh manis sambil nonton tv aja ketika anaknya tidur kok bisa merasa bahagia banget sih ?” saya jawab IYA ini Kebahagiaan versi saya karena sebagai seorang Ibu walaupun baru beranak 1 punya waktu me time cuma untuk sekedar ngeteh santai, itu perjuangannya super banget Sist heeheee.

Pulang ngantor beres-beres rumah dulu, masak makan malam buat saya dan suami dan nyiapin buat makan anak besok pagi (kadang sambil dibantu suami juga hiiihiii), lalu nidurin baby yang nggak buru-buru tidur kadang minta main-main dulu di tempat tidur (karena memang saya tidak memakai asisten rumah tangga kalau urusan ini). Makanya kalau anak tidur bisa me time ngeteh sambil nonton film favorite itu bahagianya sudah seperti menang undian berhadiah heehee... lelah? pasti. Tapi Bahagia karena bisa memegang semua pekerjaan rumah ini. Jadi waktu luang sepele yang dulu ketika single saya sempat abaikan kini jadi berharga banget. Tiap waktu baik detik, menit, jam, hari jadi punya pola sendiri buat seorang ibu untuk mendefinisikan kebahagiaannya. Karena tiap waktu ada saja hal yang membahagiakan yang saya rasakan. Kalau kata Ibu saya Bahagia dimulai dengan cara bersyukur karena belum tentu esok, lusa kita bisa menjalaninya lagi.     

Nah, kalau definisi kesuksesan buat saya tidak melulu tentang karir ataupun bisnis tetapi ketika kita sudah bisa mengontrol diri kita itu sudah termasuk Sukses versi saya, misalnya yang dulunya mungkin kita termasuk orang yang nggak sabaran, emosional, ngoyo, terlalu tergesa-gesa dan memiliki obsesi yang terlalu berlebihan ketika mengejar sesuatu kini bisa lebih sabar, tenang, bijak (serius tetap santai) dan berpikir kalau segala sesuatu yang terlalu dikejar berlebihan mau itu jabatan, uang maupun pasangan hidup maka yang ada mereka akan lari, hilang dan kita yang rugi nggak akan dapat apa-apa dari itu semua. Yaa...kalau belum mampu membeli rumah bisa ambil dulu rumah dengan cara mencicil, Yaa kalau saat ini saya belum mampu seperti teman-teman saya yang bisa liburan ke Singapura, Bali saya bersyukur dan bahagia bisa liburan bareng keluarga kecil saya akhir tahun kemarin ke Lembang. Intinya Bahagia itu kita yang menciptakan dengan apa? Dengan cara bersyukur, dengan tetap melihat kebawah. Karena kalau kita melihat keatas (ke oarang lain yang lebih dari kita) makayang harusnya cukup jadi nggak akan pernah cukup, bawaanya kurang terus.

Kebahagiaan itu buat saya berarti kenyamanan dengan rasa syukur menjalaninya. Kalau kita nggak nyaman menjalaninya yaa..berarti kita kurang bahagia. Jadi, buatlah nyaman dulu diri kita maka itu akan tertular ke orang lain yang ada di dekat kita Urbanesse. Ini Kebahagiaan versi saya, bagaimana dengan kamu ? Jangan lupa Bahagia yaa...!

 



Libra

No Comments Yet.