Jangan Iri Hati “Berat”, Bersyukur Saja


Wednesday, 18 Apr 2018


Hi Urbanesse! Ada yang manggut - manggut nggak begitu baca tema artikel Urban Women bulan ini? Saya salah satunya. Entah mengapa, perasaan itu terus menghantui sejak kecil. 

Jadi begini, saya adalah anak kedua dari 2 bersaudara. Kakak saya perempuan, berbeda usia 4 tahun. Singkat cerita, ia adalah siswi yang populer di sekolah sejak duduk di Sekolah Dasar sampai SMA.

Saya? Kebalikannya. 

Kakak saya cantik, berkulit putih, berhidung mancung, selalu ranking di kelas, dan terpilih menjadi mayoret (pemimpin drum band group) di sekolah. 

Saya? Kebalikannya. 

Saya cenderung tumbuh menjadi anak yang pendiam dan introvert, sehingga tidak menjadi siswi yang populer, sekalipun di kalangan teman - teman sekelas. 

Maka bicara soal iri hati, saya jelas pernah mengalaminya. Sejak kecil, perasaan itu spontaneusly terbawa ke lingkungan pertemanan. Sering sekali saya merasa 'diam - diam iri' dengan kesuksesan teman - teman yang mendapat pujian atau berhasil akan sesuatu. Tapi, apa benar hal itu selalu identik dengan wanita? Saya pikir, kalau dibandingkan dengan pria, i must say yes. 

Coba bayangkan saja.. karakteristik pria terlalu gampang ditebak. Mereka easy going, santai, dan nggak ambil pusing. Sementara wanita? Sebagian besar (saya tidak generalisasikan semuanya, ya) terlalu sibuk memikirkan pendapat orang lain, lebih fokus pada appereance, atau kadang saling menjatuhkan dalam kehidupan karir. Opsi terakhir ini nih yang paling sering saya dengar. Bahkan, ada seorang teman yang mengaku dipecat dari kantor karena mendapat fitnah dari sesama teman wanitanya. 

Saya akui, perasaan itu datang karena terus dipupuk; karena saat kecil saya tidak paham bagaimana cara mengatasinya (Mungkin karena juga tidak pernah mengungkapkan keluhan ini kepada orang tua), sehingga ia terus menyertai kapanpun dan dimanapun saya berada dan tumbuh dewasa. 

Lalu, apakah sekarang saya terus merasa iri terhadap kakak saya? Tidak. Setelah dewasa, saya melihat dunia dari perspektif lain; untuk tidak saling menjatuhkan tetapi menguatkan. Saya sendiri yang membunuh perasaan iri itu, karena menyadari bahwa kakak saya juga memiliki kekurangan. She's not born to be real, not to perfect. Begitu juga dengan saya.  

Begini caranya saya membunuh rasa iri hati dalam diri: 

  1. Memahami dari sudut pandang yang berbeda. Sama seperti koin, ada sisi atas dan bawah, begitu juga dengan segala hal yang ada di dunia ini, bukan? Luangkan waktu untuk berpikir bahwa orang lain juga memiliki kelemahan. Sama seperti kita.
  2. Selalu bersyukur dan melihat orang yang ada dibawah kita karena itu membuat kita lebih “Legowo” saya sudah lakukan itu dan benar membuat batin lebih ringan rasanya. Nggak ada tuh kesempatan rasa iri ke orang lain.
  3. Lebih banyak berkumpul dengan komunitas dan melakukan aktivitas positif. Agar terhindar dari segala pemikiran negatif seperti iri hati. 
  4. Butuh waktu. Apakah semua pencerahan ini saya dapatkan ketika masih anak - anak? Tentu tidak. Saya membutuhkan waktu untuk menelaah apa yang sedang terjadi dalam diri. Lalu saat remaja, konsentrasi itu mulai hilang dan tergantikan dengan hal - hal positif yang lain. 

Memahami kelemahan orang lain dan tidak memanfaatkannya sebagai senjata untuk saling menjatuhkan adalah kunci unthk menciptakan lingkungan yang lebih positif. Bagaimana menurut kamu? 

Damai sekali setelah tidak merasakan iri. Tanpa prasangkatanpa keinginan untuk berbuat tidak baik. Saya rasa itu semua tergantung mindset dan cara pandang hidup. Selalu ada cara positif untuk menghadapi prasangka. Dan, yang saya pelajari, nggak ada untungnya kok merasa iri. Namun, bisa kita kelola bagaimana rasa iri tidak mengakar di dalam diri kita, caranya ? yaa..seperti yang sebutkan diatas yang sudah saya lakukan. Apakah perasaan itu bisa membangun diri kita menjadi pribadi yang lebih baik? Go ask yourself :) Kalau saya sih Iya. Kalau Urbanesse?

 



Nathalie Indri

No Comments Yet.