Jadi Cewek Tangguh Siapa Takut...


Friday, 29 Sep 2017


Papa mendidik saya untuk menjadi mandiri dan tidak cengeng sejak kecil. Saya sudah tidur di kamar sendiri sejak usia dua tahun, mengerjakan semua tugas pekerjaan rumah sendiri bahkan pergi dan pulang sekolah sendiri (memang jarak rumah dan sekolah tidak jauh). Karena sikap mandiri inilah, saya memutuskan untuk mengambil kursi Universitas Negeri di luar kota. Walaupun Papa telah mendaftarkan saya disalah satu universitas swasta terbaik di Jakarta.

 

Berpuluh tahun lalu gender memang memegang peranan penting pada pemisahan urusan pencari nafkah dan domestik rumah tangga. Perempuan diharuskan berada di rumah, mengurus anak dan suami serta memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik. Tidak ada yang salah memang, namun seiring dengan berjalannya era globalisasi dan kesamaan gender serta pola pikir yang lebih terbuka, tidak sedikit pasangan yang mengijinkan istrinya untuk berkarir. Saya selalu bersyukur memiliki pasangan yang sangat memahami karir yang saya jalani.

 

Kemandirian yang dipupuk sejak kecil inilah yang membawa saya melanglang ke beberapa negara untuk keperluan pekerjaan. Setiap kesempatan yang datang dalam hidup ini tidak boleh disia siakan karena mungkin tidak akan ada kesempatan kedua. Dan setiap orang yang kita temui dalam hidup kita pasti akan mengajarkan hal, yang terpenting adalah kita harus mengambil poin positifnya. Yang utama adalah pastikan pasangan kita mendukung aktivitas karir yang kita jalani, kemudian set target goal karir yang ingin kita capai dan kemudian ambil pendidikan tambahan atau lanjutan untuk menyesuaikan dengan karir tersebut. Satu hal yang tidak kalah penting adalah rajin membaca buku baik tentang self motivation, karir, bisnis, dll.

 

Saya percaya bahwa setiap perempuan bisa menjadi tangguh dengan alami,  karena perempuan memegang peranan penting dalam keluarga. Perempuanlah yang akan mendidik anak anak menjadi sosok yang baik, bahkan tidak sedikit perempuan yang harus menjadi orangtua tunggal dan berperan ganda sebagai ayah dan ibu dalam mendidik dan membesarkan anak anaknya. Sangat salut !!. Karena apapun yang akan terjadi dalam kehidupan rumah tangga, perempuan harus memiliki amunisi yang siap seperti kemampuan untuk bekerja/wirausaha, pendidikan dan lainnya. Sehingga jika terjadi hal hal yang tidak diinginkan dalam rumah tangga, perempuan dapat mengambil alih kendali dengan tetap berdiri tegak.

 

Kemandirian dan ketangguhan ini pula yang menjadi dasar bagi saya untuk selalu bahagia dalam menjalani hubungan long distance relationship (LDR) dengan pasangan saya. Tidak mudah bagi orang lain untuk memahaminya namun inilah yang sudah saya lakukan sepanjang 10 tahun usia pernikahan saya. Seperti tulisan saya di edisi Urban Women Agustus lalu LDR yang saya jalani dalam pernikahan ini adalah bagaimana kita harus bersikap menjadi dewasa dan mandiri dalam menghadapi kemungkinan masalah yang ada. 

 

Namun memang keadaan yang menuntut harus seperti ini untuk sementara waktu, yaaa..tentu saja saya dan suami bersedia menjalaninya karena kita tahu semua ini kita lakukan adalah untuk keluarga kecil kami kedepannya. Suami saya bekerja di Offshore dan karena pekerjaan tersebut menuntutnya untuk tinggal berjauhan dari saya. Alasan terbesar saya LDR dengan suami ini karena saya musti mendampingi Ibu saya yang sakit, usianya yang kini telah senja dan seorang single Mom sepeninggal Ayah saya itu yang membuat saya tidak tega meninggalkannya seorang diri di rumah.

 

Saya memiliki 1 orang adik perempuan kebetulan dia di luar negeri sedang menyelesaikan studinya, kelak studinya beres dia akan kembali dan bergantian menjaga Mama. Suami saya yang meminta saya untuk tetap stay di Jakarta sampai dia kembali. Syukurnya suami memahami bahwa Mama membutuhkan saya di sisa usianya. Akan sangat merasa bersalah pastinya jika saya harus meninggalkan mama demi ikut suami yang berdinas di daerah. Suami saya pun mengatakan bahwa ini juga bagian dari menabur pahala juga sesuai dengan ajaran yang agama saya anut.

 

Terlebih juga saya memiliki karir cukup baik di Jakarta dan suami saya tahu akan itu. Sebenarnya suami kebebasan untuk memilih mau ikut atau stay di Jakarta. Well..Dari hasil bekerja kami kini sudah memiliki rumah, walau rumah sederhana tapi yang terpenting rumah sendiri jadi tahun berikutnya ketika suami sudah dipindah tugaskan lagi bekerja di Jakarta, dia bisa pulang ke rumah sendiri. Jika ada yang bertanya nggak pingin apa kumpul bareng suami ? mereka yang bertanya itu mungkin tidak pernah tahu rasanya menjadi Saya. Saya sama saja seperti mereka memiliki keinginan juga untuk nggak LDR –an seperti ini, tapi yaa lagi-lagi keadaan yang akhirnya membuat kami harus memutuskan LDR kami tahu rasanya, dan kami tahu ke depannya kelak tahun berikutnya saya dan suami akan bersama satu atap setelah pekerjaan dia di kota orang selesai.

 

Kalau tujuan menikah karena sama-sama ingin membangun keluarga  intinya dua orang menjadi satu. Untuk kasus saya, saat ini Tuhan memberikan rezeki di kota yang berbeda. Saya tetap harus mensyukuri itu. Lalu bagaimana dengan pertanyaan rekan saya “Apa nggak takut kalau jauh gitu suaminya di sana macem-macem?” jawaban saya adalah, mau  dekat atau jauh peluang untuk macem-macem itu memang besar, saya pun demikian. Tapi lagi-lagi komitmenlah yang membuat hati saya dan suami besar hati.  Kepercayaan, keterbukaan , kejujuran dan komunikasi yang sudah cukup besar yang selama ini kita lakukan menutup pikiran-pikiran tersebut. Jika ada pikiran ke situ kami selalu diingatkan, “suami dan saya bekerja itu demi masa depan keluarga kecil kami” jadi rasa lelah yang dihasilkan sampai membuat kami tidak terpikir untuk menjurus ke fokus lain selain mencari uang untuk masa depan setelah kita nanti berkumpul lagi satu atap. Pahitnya jika hal yang tidak diinginkan terjadi yaa..saya harus siap karena memang terbiasa Independen.

 

Di luar dari kewajiban saya sebagai seorang anak yang mengurus Ibunya yang sakit seperti Membantu membersihkan badan mama, beresin tempat tidurnya dan mengganti sprei tidurnya, menyuapinya makan, mengajaknya jalan-jaan keliling komplek rumah hingga mempersiapkan kebutuhan mama lainnya ketika saya selesai berkantor.  Untuk pekerjaan rumah tangga saya pun mengerjakan segala sesuatu sendiri, dia sampai pernah bilang ke saya “nanti kalau saya sudah pindah dinas di Jakarta lagi pekerjaan itu saya yang handle” ciyeeee!..biasanya pengecekan mobil di bengkel saya handle, urusan lampu ke dinas pertamanan, macam-macam urusan di dalam rumah, itu juga sudah tiap hari saya handle selepas pulang ngantor atau ketika weekend.

 

Jadi, jangan heran lihat penampilan saya ketika kerja di kantor dan di rumah itu sangat amat berbeda 180 derajat karena di rumah sebisa mungkin saya berusaha tetap jadi Ibu rumah tangga yang baik untuk keluarga. Mungkin juga karena bawaan saya yang sedikit tomboy jadi memudahkan saya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga yang ekstreem sekalipun termasuk membersihkan langit-langit rumah yang debunya super tebal. Menjadi Working Women sekaligus Housewife ibarat memiliki 2 project dalam rumah tangga, jadi saya buat perencanaan sendiri dalam membagi waktunya. Ini saya share aktivitas saya di hari kerja :

 

  1. Bangun pagi dari Subuh, sudah On Start urus rumah tangga (dari mulai cuci piring, rendam pakaian, buat sarapan sampai mempersiapkan kebutuhan keluarga)
  2. Memastikan semua beres dirumah baru saya mandi, siap-siap berangkat kerja
  3. Dikantor tetap profesional bekerja (tahu sendiri kan Jakrta macetnya kaya apa, saya mengendari mobil sendiri melewati macetnya jalanan jakarta dan tetap fresh dikantor saya jaga mood saya dengan melakukan kesukaan saya yaitu kerja sambil mendengarkan musik).
  4. Balik kantor sore jam 5, kalau mood saya di sore itu buruk biasanya saya belum buru-buru balik kerumah karena saya berusaha agar sampai rumah musti fresh seperti ketika berangkat, jadi saya biasanya berdiam diri dulu di coffee shop entah itu sambil browsing internet atau baca buku yang penting biar mood jelek saya lepas dulu baru kalau sudah fresh back to home (bergulat lagi dengan macet dan untuk mempertahankan mood saya agar tetap baik, di mobil sambil nyanyi-nyanyi mendengar musik kesukaan saya “Jazz” .!

 

Dengan kesibukan di rumah dan di kantor jadi kapan saya Me timenya ? di hari kerja Me time saya lakukan di malam hari noton acara favorit, Saya memang gemar menonton olahraga otomotif seperti F1, Motocross, NASCAR. Kalau sudah lelah banget biasanya skype-an bareng suami dulu lanjut tidur buat recharge lagi energi buat keesokan harinya.

 

Saya berlebihan jika menyebut diri saya sendiri tangguh seperti Working Women kebanyakan, karena ketangguhan itu standarnya beda-beda tiap orang. Saya hanya bisa menyebut diri saya tangguh pada porsi saya sendiri. Karena gimanapun saya bangga bisa menjadi diri saya sekarang, karena setidaknya dari LDR pernikahan ini saya jadi banyak belajar

 

  1. Jadi perempuan tangguh adalah perempuan yang bisa mengerjakan/handling segala sesuatunya sendiri selagi suami jauh dari saya. Jadi saya tidak manja nantinya, belajar bahwa kehidupan itu keras dan butuh
  2. Tangguh berarti tetap menyeimbangkan hidup (bisa bekerja dengan performance baik, tetap bisa hangout bareng teman di waktu weekend, bisa punya waktu untuk berolah raga, tetap bisa menjalani rumah tangga dan tetap bisa berbagi cinta dengan Mama dan khususnya pasangan  saya lewat jarak jauh dan menjaga rumah tangga tetap berjalan di relnya).
  3. Jadi perempuan tangguh adalah perempuan yang bisa tetap tenang dan dalam menyelesaikan segala sesuatu dengan sabar satu per satu biarpun keadaan sekelilingnya membuatnya
  4. Dan dari sini saya belajar, menjadi tangguh itu adalah tetap optimis dan tidak berubah arah menjalani hari meski orang lain melihatnya tidak logis menjalani pernikahan LDR.

 

Yang terpenting bagi kami adalah kelak tahun berikutnya suami akan mengajukan untuk dipindahtugaskan dinas kembali di Jakarta, jadi itu harapan terbesar saya detik ini untuk tetap positif menjalaninya. Daaan, itulah cerita saya. Pastinya jadi cewek tangguh itu memang rumit awal yang saya rasakan, lelah ? itu sudah pasti tapi ketika kita bertahan dan tidak goyah dengan keadaan yang ada kita tetap jaln di relnya seperti biasa, disitulah letak ketangguhan kita sebagai perempuan. Jadi tangguh, Siapa takut...



Risa

No Comments Yet.