Iri Tanda Tak Mampu ?


Friday, 20 Apr 2018


Pepatah lama yang sepertinya harus di dengungkan kembali dengan melihat fenomena iri hati yang kini kerap terlihat di lampiaskan dengan bersikap nyinyir ke orang lain. Apakah kita tahu ketika kita sedang nyinyir, itu menunjukkan pelampiasan dari ke-TIDAK beruntungan atau ke-TIDAK mampuan diri kita yang tidak sama dengan orang yang kita nyinyirin tersebut ? bisa tanya ke hati kita masing-masing.

Kalau  tidak memiliki rasa iri dan dengki, tentunya kita tidak akan punya waktu untuk bersikap nyinyir ke orang lain. Pernah beberapa bulan yang lalu saya sempat bertemu dengan seorang teman lama ia berbicara tentang bentuk tubuh saya yang katanya kurusan katanya, sambil nyeletuk mungkin maksudnya candaan dia bilang saya “nggak bahagia, makanya kurusan.  Maaf  Teman saya itu bisa dibilang “bertubuh gempal” jadi cukup di sayangkan mengapa dia bisa berucap demikian pada saya di depan pasangan saya pula.  Saya paham, mungkin teman saya maksudnya bercanda, Saya pun menjawab enteng, iya nih kurusan abis gimana pasangan saya lebih senang saya kurus daripada gemuk. Saya pun lebih nyaman kurus karena semua ukuran baju S dan M jadi nggak susah nyari ukuran heehee”. 

Pasangan saya kala itu yang juga mendengar ucapannya tersebut langsung berseloroh ikut menjawab juga “kamu kali yang nggak bahagia, nggak apa-apa kok kurusan emang saya yang minta dia biar kurus, yang penting sehat nggak penyakitan, gemuk juga kalau penyakitan nggak bagus” tandas pasangan saya menimpali. Padahal kalau boleh jujur pasangan saya termasuk orang yang anti banget untuk mengomentari orang lain, tapi mungkin karena menurutnya teman saya itu komentarnya sudah terkesan “nyinyir” sampai meng-judge dengan mudahnya bahwa saya dibilang tidak bahagia, jadi menurut pasangan saya dengan kita komentarin balik seperti itu setidaknya membuat dia berpikir bahwa sikap tersebut tidak baik, iri tanda tidak mampu, apalagi ke sesama perempuan. Bukankah sesama perempuan harus saling mendukung?. Sontak saya pun kagum suami saya berucap seperti itu, bayangkan ladies, cowok aja nggak suka dengan perempuan yang iri sampai harus berlebihan nyinyir ke sesama perempuan lainnya.

Betul nggak sih orang iri itu nggak sadar kalau dirinya sedang merasa iri ke orang lain ? mungkin akan ada yang jawab iya dan akan ada juga yang menjawab belum tentu, tetapi dari beberapa cerita teman dan yang saya alami sendiri seperti salah satu pengalaman yang saya ceritakan diatas, saya pribadi akan menjawab IYA sikap “nyinyir” ke orang lain adalah bagian dari rasa iri. Ketidakmampuan, ketidakpunyaan dan ketidakberdayaan itulah yang membuat rasa iri pada akhirnya diwujudkan dengan bersikap “nyinyir” ke orang lain yang memiliki kemampuan dan kelebihan dari diri sendiri. 

Orang bisa dengan mudahnya kelepasan gitu aja untuk mengomentari bentuk tubuh orang lain, tanpa memikirkan efek baik dan buruknya untuk diri mereka terutama diri orang lain yang mereka “nyinyirin”. Alangkah bagusnya jika memang “perlu atau penting banget” mengomentari orang lain, carilah kata-kata yang baik tanpa disisipin kalimat tendensius. “Kamu kurusan ya sekarang, nggak bahagia ya ?” kalimat ini sejujurnya sangat Judgement dan tendensius. Alangkah lebih baik jika kalimatnya di ganti seperti “kamu langsingan ya, duuuh...saya jadi pengen langsing juga nih seperti kamu apa resepnya”, Bagaimana nyaman kan di dengarnya juga ? tidak ada kesan nyinyir yang memojokkan didalamnya.

Saya sendiri jujur memang pernah merasakan iri hati juga, tapi nggak sampai pada titik punya niatan buruk ke orang lain apalagi sampai harus “nyinyir” dan menjatuhkan orang lain  yang akan berdampak menyinggung perasaan mereka. Saya kerap membalikkan segala sesuatunya ke diri saya sendiri “saya aja ada rasa kurang nyaman jika di “nyinyirin”, begitupun orang lain pasti juga sama dengan yang saya rasakan”.  Pikirkan kembali sebelum kita ingin mengomentari diri dan hidup orang lain, khususnya kepada sesama perempuan. Jangan sampai rasa iri membuat kita menjadi “komentator kehidupan orang lain”.

Kita pasti sering membaca komentar-komentar netizen (pengguna sosial media) yang saat ini sedang hits adalah Instagram, Disitu kita bisa rasakan bagaimana gaya netizen yang dengan mudahnya mengomentari orang lain/selebiritis tanpa tahu dan melihat sisi lain kehidupan nyata orang yang sedang domentarinya. Netizen hanya tahu bagian luar yang nampak dalam sebuah foto atau video di Instagram mereka, namun bisa dengan gampangnya mereka menghakimi orang lain. Sebenarnya sikap nyinyir ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan teman saya yang mengomentari bentuk tubuh saya, hanya beda wadah saja. Yang saya alami adalah dunia nyata sedangkan komentar netizen ada di dunia maya, yang bahkan dibaca dan dilihat oleh banyak orang. Bayangkan saya aja dikomentarin nggak di depan orang banyak aja tidak nyaman, bagaimana ya selebiritis yang selalu di nyinyirin oleh netizennya di sosial media yang dibaca jutaan mata ?

Rasa iri yang kemudian di wujudkan ke level nyinyirin orang lain mungkinkah kini sudah menjadi budaya masyarakat kita? setuju atau tidak ini realitanya. Saya memulainya di diri saya sendiri, untuk tidak mau mengomentari kehidupan pribadi orang lain baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Saya mundur perlahan dari lingkungan yang senang bergosip, tidak lagi menonton tontonan televisi yang tidak mendidik saya menjadi pribadi yang baik, Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki visi kedepan, positif dan memotivasi (tidak membuang waktu untuk mengomentari kepribadian dan hidup orang lain) dan lebih banyak membicarakan tentang pengembangan diri sendiri. Beberapa bulan ini saya coba lakukan. Hasilnya hidup  dan pikiran saya lebih positif yang berimbas pada kehidupan yang positif juga (karena pikiran dan keseharian yang positif akan bersinergi).

Sebagai manusia saya sempat merasakan iri hati juga, itu saya rasakan ketika melihat teman yang bisa pergi berwisata religi ke luar negeri, ada rasa pengen banget bisa seperti mereka. Tapi di sisi lain saya sadar bahwa saat ini saya memang belum memiliki kemampuan untuk bisa kesana, jadi yang saya lakukan untuk mengusahakan supaya bisa pergi berwisata religi  adalah dengan menabung heehee. Rasa iri pun musnah ketika saya tahu anak saya juga masih bayi, gimana jadinya juga kalau saya harus berwisata tanpa bayi saya. Itu mungkin juga alasan Tuhan mengapa saya belum diizinkan bisa berwisata religi, setidaknya sambil tunggu tabungan saya cukup, juga sambil nunggu anak saya tumbuh besar.

Saya percaya selalu ada alasan mengapa setiap orang masih harus ada yang ditunggu di dalam hidupnya, karena hidup itu memang seni-nya menunggu.  “menunggu bisa berwisata religi, menunggu datangnya jodoh, menunggu memiliki momongan, menunggu punya rumah sendiri, menunggu kepastian, menunggu datangnya rezeki, menunggu dapatnya pekerjaan, menunggu mimpi  terwujud, menunggu janji  dan menunggu hal-hal baik lainnya. Karena  jika tidak ada yang ditunggu, maka tidak ada manusia yang mau berusaha dan bekerja untuk memenuhi ketidakmampuan, ketidakpunyaan dan ketidakberdayaan yang belum dimiliki/diraih dalam hidupnya.

Dari pengalaman saya tersebut berikut yang saya lakukan untuk menjauhkan rasa iri hati hingga tidak menjadi dengki (punya niatan buruk ke orang lain) :

  1. Berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar ketidakmampuan yang saya miliki, namun ingat harus tahu kemampuan diri dan nggak ngoyo karena tiap orang itu tidak bisa benar-benar sama, semua yang terjadi di dalam hidup kita selalu memilki alasan, tetap berpikir positif.
  2. Mendekatkan diri pada Sang pemilik hati, TUHAN karena DIA Maha membolak balikan hati. Sifat iri dan dengki berkaitan dengan penyakit hati, saya percaya bahwa ketika kita sudah berusaha menyembuhkan penyakit tersebut bagaimanapun ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Berdoa dan beribadah harus menjadi yang utama untuk menghindari rasa iri hati ini.
  3. Mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan di dalam hidup saya sampai dengan hari ini merupakan cara ampuh setelah doa dan ibadah saya lakukan. Dengan selalu bersyukur kita jadi tahu banyak berkat yang sudah kita dapatkan. Saya menghindari untuk Mengeluh kemudian membandingkan capaian yang di dapat orang lain dengan diri saya, karena itu sama saja memberi makan penyakit dengan nutrisi akan semakin subur, bersyukur dengan segala yang kita miliki adalah cara terbaik menghapusnya.
  4. Mendukung apa yang di capai orang lain dengan senyuman tulus, ucapan selamat dan membantunya jika diperlukan serta tidak berpikiran negatif (melihat segala sesuatu dari beragam sisi). Oh iya karena sekarang zaman sosmed jadi rasa iri yang biasanya timbul ketika melihat postingan orang lain bisa saja lho kita kikis dengan cara memberi Like atau tanda suka terhadap postingan apapun yang berisi capaian orang lain, ini saya rasakan sendiri malah lebih membuat rasa iri itu hilang, malah jadi termotivasi.
  5. Bayangkan saja dulu itu diri saya, saya pasti bahagia jika capaian atau kemampuan saya di dukung orang lain pastinya. Ini sangat efektif sekali sudah saya lakukan, malah nggak jadi iri melainkan jadi lebih tenang dan ikut senang aja tanpa beban. Toh tiap orang itu sudah ada bagiannya, syukuri saja bagian kita.

Saya ingin menutup artikel saya dengan quotes  yang sempat dikirim oleh seorang teman,  kalimatnya seperti ini “ Jealously is when you count someone else’s Blessings Instead of your own” quotes ini saya pikir benar banget.  Menurut kamu gimana Urbanesse ?.



Libra

No Comments Yet.