Iri Hati Itu Penyakit, Semoga Cepat Sembuh


Wednesday, 11 Apr 2018


Urbanesse pernah mempunyai perasaan iri pada orang lain ?

Kalau saya sih pernah, jujur ya heehee... Mustahil kalau ada yang mengatakan tidak pernah memiliki rasa iri di hati kecil terdalamnya. Namun, jika ditanya bagaimana kamu bersikap ketika sedang iri ke orang lain? Baru saya akan menjawab yaa...di depan orang yang saya iriin biasa aja, nggak gimana-gimana bahkan saya nggak pernah punya niatan buruk ke orang yang saya iriin tersebut, karena saya tahu rasa iri hati itu merupakan masalah yang ada dalam diri saya bukan orang lain. Jadi sayalah pemilik otoritas terbesar yang mampu membenahi penyakit iri hati yang mampir di dalam diri.

Manusia adalah makhluk sosial yang saling berhubungan satu sama lain. Sangat wajar kalau kita memiliki perasaan tersebut. Karena ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kita selalu akan melihat dan mendengar  kelebihan dan kekurangan yang di miliki orang sekitar kita. Namun, cara menyikapi rasa iri hati yang ada dalam diri itulah yang seharusnya kita belajar benahi agar tidak membuang waktu, pikiran dan energi yang akan menggerogoti diri sendiri.

Mengapa sifat iri identik dengan perempuan, padahal laki-laki juga punya sifat tersebut ? menurut saya sifat iri lebih menonjol pada diri perempuan karena perempuan lebih banyak menggunakan perasaan daripada laki-laki. Kalau berdasarkan apa yang saya lihat laki-laki kalau lagi merasa iri, mereka lebih banyak actionnya ketimbang bersikap nyinyirnya. Misalnya seperti Frans teman saya ketika ia merasa iri karena temannya naik gaji hampir 50% dari dirinya, maka ia memilih untuk santai saja, nggak mau ambil pusing dan berusaha melakukan kerja dengan baik  seperti biasa supaya performancenya bisa lebih bagus lagi, syukur-syukur akhirnya bisa naik gaji juga, kalau nggakpun yang berarti rezekinya baru sampai tahap itu, belum waktunya, asik-asik saja. “Tetap baik tapi nggak munafik malah saya jadiin semangat buat kerja lebih giat lagi tapi nggak ngoyo juga musti tahu kemampuan diri kita dan orang lain itu nggak sama” terangnya. So, simple  jalan berpikirnya. Nggak ada nyinyir, nyindir atau niat menjatuhkan temannya.

Saya sempat pelajari ketika dibangku kuliah dulu saat mata kuliah Sosiologi, ada yang di sebut dengan istilah Ujian Sosial. Iri Hati itu ternyata merupakan satu dari sekian macam ujian sosial yang akan dihadapi oleh setiap pribadi dari kita. Maka saya percaya ketika diri saya sedang menghadapi ujian sosial seperti perasaan iri hati maka disanalah terdapat pembersihan dan sarana merefleksikan diri yang akan membentuk diri saya akhirnya menjadi pribadi yang tumbuh lebih baik lagi, lebih banyak bersyukur dengan apa yang saya miliki saat ini dan tidak mau lagi membandingkan hidup saya dengan orang lain di atas saya. Karena, saya tahu kemampuan saya sampai sejauh mana dan capaian serta berkat apa saja yang sudah saya terima dari Tuhan selama saya hidup sampai detik ini. Itu yang menjadikan diri saya bersyukur dan menghilangkan rasa iri di hati. Apa yang saya punyai saat ini adalah yang paling baik yang Tuhan berikan untuk hidup saya.

Inilah cerita saya.

Dulu zaman sekolah saya sempat punya perasaan suka membandingkan diri saya dengan beberapa orang teman disekolah. Saat itu lagi trend handphone (HP) keluaran terbaru, Seperti anak-anak sekolah pada umumnya sempat terbesit punya perasaan iri melihat teman-teman saya pada berlomba saling nunjukin HP terbaru mereka. Pengen deh punya hp kaya mereka tapi apa daya saya hanya di bekali hp jadul dari Ayah. Saat itu mungkin kalau saya merengek ke Ayah pasti di belikan tapi saya mikir lagi, kasihan sama Ayah dia sudah baik ngasih saya alat komunikasi, buat apa saya harus merengek memaksa minta dibelikan hp yang notabene masih belum penting-penting banget. Lalu untuk membuang rasa iri pada teman yang pada saling unjuk merk hp baru, saya lebih memilih belajar lebih tekun supaya saya bisa lulus sekolah dengan nilai yang baik. Dengan saya mengalihkan pikiran dan perasaan iri dengan hal lain seperti belajar dengan giat ini dan berhenti terlalu ingin memiliki apa yang dipunyai orang lain toh akhirnya rasa iri ingin punya hp baru hilang dengan sendirinya. Namun, saya pikir rasa iri saya sudah hilang ternyata belum heehee... ada kejadian yang cukup membuat saya belajar tentang bagaimana menghadapi rasa iri di dalam diri sendiri dan bagaimana menghadapi mereka yang bersikap nyinyir pada saya. 

Saya sempat terpancing dengan ledekan teman satu gank. Jika mereka tidak memancing komentar nyinyir saat itu, saya tidak akan mengganggu mereka dengan menyinyirin balik. Jadi ceritanya saat itudi sekolah ada teman yang bertanya pada saya “kok loe nggak beli hp baru juga kaya kita? nggak mampu ya? udah jangan nangis yaa..nanti juga kebeli kok. Haahaaa...sambil tertawa ramai-ramai mereka menggoda saya, ada nyeletuk juga “sorry, sorry bercanda”. Maklum namanya satu gank “perempuan” nyinyir seakan menjadi hal yang biasa menurut mereka saat itu. Sejujurnya ada perasaan kesal dengan ucapan mereka yang “seolah” meledek saya walau itu hanya candaan. Tapi karena mungkin saya sedang merasa iri dan rasa iri itu dipancing dengan candaan yang saya rasa kelewatan dari mereka. Sayapun menjawab dengan nada sinis dan nyinyir juga “Iyaaa.. gue emang nggak mampu kaya kalian dan gue juga bukan seperti kalian yang kerjaanya nyusahin orangtua, tapi setidaknya gue nggak mau nyusahin orangtua gue karena kata Ayah, gue masih SMA belum perlu HP bagus-bagus. Tapi Ayah gw janji kalau sampai lulus SMA dia akan ngasih hadiah HP buat gue” dan ketika saya ngucap itu semua dari mereka hanya diam. Saya pun puas.

Entah apa yang mereka pikirkan mendengar ucapan saya. Pada detik itu jujur saya merasa puas banget karena sudah berhasil membungkam mereka. Tapi entah kenapa, karena saya orang yang sensitif beberapa menit kemudian setelah mengatakan itu, ada perasaan menyesal. Menyesal mengapa harus saya jawab dengan kalimat seperti itu, bukankah itu malah menunjukkan kalau saya iri pada mereka?. Menyesal karena ternyata rasa iri hati membuat saya malah ikut-ikutan menjatuhkan atau meledek orang lain jadi saya merasa nggak ada bedanya dengan mereka yang meledek saya. Bahkan saat itu mereka bilang bercanda tapi saya menanggapinya malah serius. Itu yang membuat saya menyesal, karena di selimuti rasa iri saya jadi nggak memikirkan dulu apa yang ingin saya ucapkan. untuk berkata-kata.

Saat itu saya tidak sadar kalau masih memiliki perasaan iri ke teman-teman saya, sadar-sadarnya yaaa... setelah berkata-kata kurang baik pada mereka. Karena yang saya rasakan ketika kita sedang merasa iri ke orang lain kita tidak menyadarinya dan malah beranggapan bahwa orang lain yang merasa iri pada kita padahal sebenarnya kita yang sedang memiliki perasaan iri hati tersebut. Saya beryukur dari kejadian ini saya mendapat pembelajaran tentang bagaimana seharusnya saya menghadapi rasa iri hati didalam diri.

Belajar Mengikis Perasaan Iri, Bukan Jadi Pembenci

Kemudian pada usia 20 tahunan saya sempat memiliki perasaan iri pada teman kuliah saya, namanya Leni. Entah saat itu apakah ini perasaan iri atau kagum pada Leni yang bisa bekerja sambil kuliah. Ada perasaan ingin sekali bisa seperti Leni, bisa bekerja menghasilkan uang sendiri sambil kuliah. Saya sempat membandingkan diri saya dengan Leni saat itu. “Enak banget ya jadi Leni sudah bisa cari uang sambil kuliah. Sedang saya nggak bisa menghasilkan apapun cuma kuliah aja. Usia Leni lebih tua dari saya memang wajar saja kalau dia sudah bekerja dan saat itu ia baru bisa meneruskan kuliah S1-nya bareng saya.  Namanya anak kuliahan pasti keinginan terbesarnya adalah bisa bekerja dan dapat uang dari hasil bekerjanya. Belum mikirin tuh gimana prosesnya ketika harus bisa bagi waktu antara kerja dan kuliah yang saya tahu saat itu hanya mengatakan pengen banget bisa seperti Leni.

Namun rasa iri di hati coba saya kesampingkan. Bagaimana caranya ? ketika saya memiliki perasaan iri hati saya tidak melampiaskannya dengan bersikap buruk seperti yang saya lakukan dulu saat masih sekolah. Saya tidak mau menumbuhkan perasaan benci atau berburuk sangka pada Leni. Apa hubungannya iri hati dengan jadi pembenci/seseorang yang mempunyai prasangka buruk ? saya sadar ketika saya ingin bisa seperti Leni, akan ada celah dimana Leni akan meminta bantuan saya. Di beberapa mata kuliah Leni jarang masuk, dia selalu ketinggalan catatan perkuliahan dia pun kadang nggak tahu kapan ujian perkuliahan kapan Ujian Praktek di kampus. Leni juga tidak terlalu banyak teman dekat, karena memang hampir semua teman satu kelasnya tidak ada yang benar-benar dekat dengan dia. Saat itu teman dekat dia di kampus hanya saya. Hampir semua mata kuliah kita berdua barengan, jadi Leni selalu mengandalkan saya untuk bantu dia mengisi absen, bantu dia membuat catatan dan tugas kuliah. Kalau saya jadi pembenci Leni, bisa saja saat itu saya tidak membantu dia atau pura-pura membantu tapi hanya di mulut saja tidak saya realisasikan, karena saya merasa iri tidak bisa seperti dia. Saya pasti akan berburuk sangka juga pada Leni “ngapain juga capek-capek bantuin dia, dia kan sudah enak bisa kerja ngapain saya musti bantu dia pinjamin catatan kuliah saya dan bantu dia buat tugas kuliah, Enak di dia nggak enak di saya dong. Lagian siapa suruh kerja sambil kuliah, Dia pasti juga kalau sudah sukses nggak bakal ingat sama saya” Itu pikiran saya BILA saya jadi pembenci Leni.

Kenyataanya, Saya bersyukur bahwa saya tidak menumbuhkan perasaan benci dan berprasangka buruk pada Leni sebagai pelampiasan rasa iri hati saya. Terus terang saat itu saya malah membantu Leni, saya yang diandalkan Leni untuk membantunya mengisi absen, mengerjakan catatan kuliah untuk dia belajar dan belajar bersama mengerjakan tugas kuliah. Justru dengan saya berdamai pada perasaan iri ini, dengan cara membantu Leni saya mampu mengikis perasaan iri hati yang sempat mampir di dalam diri saya.

Sejujurnya saat melihat Leni Hectic beberapa kali karena harus menyelesaikan tugas kuliah setelah pulang kerja dengan sangat tergesa-gesa, saya jadi berpikir sepertinya memang Tuhan itu adil. DIA sudah memberikan tugas pada saya sesuai dengan waktu dan kemampuan saya. Saya percaya saat itu memang sudah jalannya saya musti kuliah dulu baru setelah itu  bisa kerja. Coba kalau saat itu saya ada di posisi seperti Leni kerja sambil kuliah, pastinya saya yang tidak pandai mengatur waktu ini bisa kelabakan dan tertekan sendiri.Bisa-bisa salah satu ada yang nggak jalan. Dari situ saya bersyukur pada Tuhan dengan segala kemampuan yang saya punya, walaupun saya hanya kuliah saja saya bisa lebih banyak menyerap ilmu di kampus, lebih banyak kenal dosen, lebih bisa punya waktu untuk kenal dengan teman-teman di fakultas lainnya dan ini yang nggak Leni miliki.

Sayapun mendukung Leni agar bisa menyelesaikan skripsinya tepat waktu agar kita berdua wisuda barengan. Akhirnya pada 2008 kita-pun wisuda bareng dan berkat yang saya dapatkan adalah nilai cumlaude dari kampus. Saya bahagia banget bisa menjadi Mahasiswa Terbaik saat itu. Leni-pun memberi selamat ke saya sambil berkata, “Kamu teman terbaik saya selama di kampus dan kamu sudah banyak membantu saya, kamu juga memotivasi saya untuk menyelesaikan skripsi. Kamu pantas menjadi mahasiswa terbaik” Sambil ia memeluk saya. Bahkan lucunya ternyata Leni baru cerita pada saya kalau ia sempat memiliki rasa iri pada saya karena saya bisa kuliah full tanpa harus kepotong kerja, tapi katanya apa daya karena ia anak pertama dan harus bantu untuk membiayai sekolah adiknya di kampung, Jadi ada pasrah saja katanya.

Sampai sekarang saya dan Leni tidak putus komunikasi, kami bersahabat. Kita berdua sering menyisihkan waktu untuk bertemu kangen di tengah kesibukan. Saya pun kini sudah bekerja, Leni merekomendasikan saya untuk bekerja di kantor cabang salah satu perusahaan telekomunikasi. Awal berkarir di kantor tersebut pada 2009 saya sebagai customer relation, tapi kini saya di percaya menjadi kepala pengawas (supervisor) Customer Relation sampai sekarang.

Bertumbuh Menjadi Lebih Baik

Kisah yang saya ceritakan adalah bagian kecil dari perasaan iri yang pernah saya alami dulu dan yang saya ceritakan adalah yang paling banyak pembelajaran yang saya dapatkan tentang bagaimana menghadapi perasaan iri hati yang notabene merupakan penyakit yang hanya diri kita sendiri yang bisa menyembuhkannya. Kita lah yang memilih mau menjadikan rasa iri hati itu menjadi seperti penyakit kanker-kah yang akan terus menggerogoti diri kita dan mengotori hati yang berujung merugikan diri sendiri. Hati yang memiliki rasa iri dan membenci apa yang didapatkan /dimiliki orang lain akan terealisasi dengan sikap dan kata-kata buruk yang akan di keluarkan, Dengan atau tanpa kita sadari.

ATAU kita memilih untuk berdamai dengan rasa iri terhadap kemajuan orang lain yang bersarang di hati  kita dengan cara seperti yang saya lakukan :

  1. Jika perasaan iri hati ini muncul saya langsung dengan cepat mengalihkannya dengan hal yang lebih membuat hati saya bersyukur seperti dengan menghitung lagi segala berkat yang sudah banyak Tuhan berikan ke dalam hidup saya. Dengan banyak bersyukur dengan capaian dan berkat yang sudah kita raih maka bukan rasa iri yang kita miliki melainkan rasa syukur terhadap diri kita. Jika berkat atau capaian yang saya miliki saya rasa kurang, saya pun berhenti membandingkan/melihat kehidupan orang lain di atas saya tetapi melihat hidup orang lain yang masih berada di bawah saya.
  2. Saya Selalu berkaca diri sebagai bagian mengukur kemampuan diri sebelum melampiaskan kenyinyiran saya ke orang lain, karena nyinyir atau berkata pedas yang mampu menyinggung orang lain adalah realisasi pelampiasan dari rasa iri hati (seperti cerita saya di sekolah dulu) itu menurut saya berdasarkan pengalaman saya. Kini ketika saya mau nyinyir ke orang lain saya pikirkan lagi kata-kata atau bahasa yang ingin dilontarkan, jangan sampai sifat iri menjadikan kita seseorang yang antagonis.
  3. Seperti cerita saya dengan Leni, saya lebih memilih untuk merealisasikan rasa iri hati yang saya miliki ke hal yang lebih positif karena dampaknya pasti akan positif juga.
  4. Iri merupakan penyakit hati dan ujian sosial, diri sayalah yang bisa menyembuhkannya, maka saya memilih untuk menjadikan rasa iri hati menjadi motivasi untuk saya bisa berusaha lebih baik lagi. Tidak harus sama hasilnya seperti orang yang saya iri-kan tersebut tetapi setidaknya saya bisa mengukur kemampuan yang ada di dalam diri. Jika memang kelihatannya saya mampu saya pasti akan berusaha terus, yang pelampiasannya tidak dengan cara menjatuhkan orang lain. Jika memang saya tidak mampu saya pun nggak “ngoyo” dan memilih melakukan hal baik untuk diri saya sendiri seperti yang saya lakukan pada Leni  dan nggak jadi pembenci pada orang yang saya iri-kan tersebut karena saya tahu itu hanya menyiksa diri sendiri. (susah melihat orang lain senang, sennag melihat orang lain susah).
  5. Mengalihkan rasa iri hati yang saya miliki dengan sikap saling mendukung. Hasilnya malah lebih berkualitas.

Saya terus bertumbuh menjadi perempuan yang bisa selalu mendukung perempuan lainnya, termasuk dengan menulis cerita saya ini. Agar kita bisa mulai memutus pelampiasan sifat iri hati bukan dengan saling menjatuhkan lagi tetapi dengan saling mendukung perempuan lainnya. So, Ladies.. Yuuk, sembuhin penyakit hati ini dengan rasa syukur dan menghargai apa yang telah kita miliki hingga detik ini.    



Rika

No Comments Yet.